Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Kios Kecil


Mark melajukan mobil dengan kecepatan di atas rata-rata. Kedua pria itu terlihat seperti agen rahasia yang sedang menjalankan misi.


"Mark itu mobilnya!" ketus Arsen bersemangat.


Mark memelankan kecepatan mobil. Mereka melihat mobil yang Amey kendarai berhenti di depan apartemen. Seorang wanita yang tidak asing di mata Arsen masuk ke dalam mobil Amey.


"Wanita itu!" gumam Arsen.


"Tuan mengenalinya?"


"Tidak!" jawab Arsen. "Mark! Ayo cepat, mobil mereka mulai melaju Mark!" menepuk kepala kursi yang Mark duduki untuk menyetir.


Mark pun segera menginjak pedal gas dengan sangat kencang. Mereka membuntuti Amey dan Jen dari belakang.


"Mark, lebih cepat lagi. Mobil ini seperti siput!" ketus Arsen.


"Tuan, ini sudah sangat cepat. Jika kita menambah kecepatan maka kita akan melanggar tata tertib lalu lintas," membuang napasnya.


"Tidak perduli, aku bisa membayar petugas lalu lintas."


Tuan ... Tuan! Kau sangat aneh malam ini. batin Mark.


Jelas saja Mark merasa kesal, bosnya saat itu sudah tidak waras. Mark menyetir mobil sudah sangat cepat, bahkan banyak kendaraan lain yang membunyikan klakson akibat mobil mereka yang ugal-ugalan di jalanan.


Mereka melambung beberapa mobil di tengah kemacetan dan itu membuat para pengendara lain murka.


"Tuan, mereka berhenti di kios itu," menunjuk kios kecil di sebelah kiri.


"Stop! Jangan sampai dia melihat kita."


"Baik Tuan."


"Mark, kau pakai ini." memberikan sebuah topi dan masker.


"Untuk apa Tuan?" tanya Mark mengerutkan kening.


"Buat apa lagi kalau bukan untuk menutupi wajah kita!"


"Tuan, kita akan terlihat mencolok menggunakan ini."


"Lantas?"


"Cara satu-satunya agar Nyonya tidak mengenali kita adalah dengan cara bersikap tenang dan jangan ada gerakan tambahan yang membuat kita terlihat menonjol dari antara pelanggan-pelanggan itu," jelas Mark.


"Baiklah, kali ini aku ikuti perintahmu."


Keduanya berjalan mengendap-endap layaknya maling. Seketika Arsen tersadar dengan tingkah mereka. Ia menepuk bahu Mark dengan keras. "Mark! Kenapa kita berjalan seperti ini? Bukankah ini sangat mencolok?"


"Oh iya, kau benar Tuan," tutur Mark tersenyum kaku.


Arsen memutar bola matanya. "Stupid!"


Kedua pria itu memasuki kios kecil yang sangat ramai. Mereka menjadi pusat perhatian para pelanggan yang sementara menikmati hidangan di tempat itu. Tentu saja menjadi pusat perhatian, jarang-jarang ada bule tampan mampir di kios kecil dan kumuh seperti itu.


Amey dan Jen bergabung dengan ketiga wanita yang telah duduk menunggu kedatangan keduanya. Mereka juga menjadi pusat perhatian orang-orang di situ. Amey dan beberapa temannya memakai gaun yang elegan hanya untuk mengunjungi kios kecil yang hampir mirip dengan warung kopi.


Bedanya di kios itu tersedia berbagai macam makanan seperti nasi ayam lalapan, mie bakso, mie ceplok, sate ayam, nasi goreng, pisang goreng, dan lain-lain.


Arsen dan Mark memandangi tempat itu dengan seksama. Untuk pertama kalinya kedua pria itu mengunjungi tempat seperti itu. Biasanya Arsen sering mendatangi restoran bergengsi dan elit untuk mengisi perutnya.


Seorang pelayan mendatangi Arsen dan Mark. "Excuse me, Sir?" ucap wanita paruh baya dalam bahasa inggris.


"Kau bisa menggunakan bahasa Indonesia." tutur Mark.


"Maaf, saya kira kalian tidak bisa bahasa Indonesia," melemparkan senyuman centil.


Arsen mendengus. Ia tidak menggubris dan membiarkan Mark yang berbicara dengan pelayan wanita itu. Arsen terlalu sibuk menatap Amey yang terlihat asik berbicara dengan teman-temannya.


"Apa yang ingin kalian pesan?"


"Kau memiliki air putih?" tanya Mark.


"Ma--maaf?"


"Kami ingin memesan air putih saja."


Pelayan itu terperangah. Ia menatap kedua pria di depannya dengan tatapan heran. Pelayan itu mengumpat dalam hatinya. Dari tampangnya sih terlihat tajir dan high class! Kok pesan air putih doang? Gayanya selangit, tapi ternyata rakyat jelata seperti aku.


"Kau tuli?" ucap Arsen tiba-tiba.


"Hah? Maaf?" tersadar dari lamunanya.


"Kenapa bengong! Kami memesan air putih. Apa kurang jelas?" tanya Arsen menaikan nada.


Pelayan itu langsung melonjak kaget. Ia pun berjalan meninggalkan meja Arsen dan Mark sembari memutar bola matanya. "Sudah miskin, sombong banget lagi. Cihh! Untung tampan, kalau tidak udah aku usir!" gumam pelayan wanita itu.


Arsen masih memperhatikan Amey yang sedang tertawa lepas di ujung sana. Ia tidak pernah melihat istrinya itu tertawa seperti itu. Jelas saja, karena Arsen dan Amey jika bertemu layaknya Tom and Jerry.


Seorang pria tinggi yang cukup tampan tiba-tiba menghampiri Amey dan teman-temannya. Melihat itu, tanduk Arsen muncul. Hatinya terasa panas melihat laki-laki itu yang duduk di sebelah Amey.


"Maaf aku terlambat, Jakarta sangat macet," tutur Gio yang merupakan teman kerja Amey.


"Tidak apa Gio, yang penting kau sudah sampai dengan selamat." ucap Jen.


"Ohya, apa kalian sudah lama tiba?" tanya Gio menatap Amey.


"Belum lama. Sepuluh menit yang lalu mungkin." ucap Amey tersenyum.


"Ohyaya."


"Kuy kita foto. Biasa, abadikan momen, Haha," Ajak Jen.


"Iya nih, kan ada anggota baru yang join. Ayo Mel foto bareng kita. Kamu jangan sungkan, kita semua sudah menjadi satu keluarga," ucap Amey.


Jen meminta tolong seorang perempuan yang kebetulan lewat. "Permisi mbak, bisa tolong ambilkan foto kami?"


"Iya."


Semuanya berpose sesuai dengan gaya mereka masing-masing.


"Ehh tambah lagi dong. Sekarang kita gaya bebas," ucap Jen.


Mereka pun berpose dengan gaya yang konyol. Ada yang menjulurkan lidah dan menyilangkan pupil mata, ada yang memonyongkan bibir. Tapi Amey sedikit terkejut saat ia merasakan tangan Gio menyentuh pundaknya. Memang mereka sangat dekat, namun Amey tersadar jika ia wanita yang telah bersuami. Tidak seharusnya Gio memperlakukannya seperti masih lajang.


Gio belum sadar dengan perilakunya. Amey yang merasa risih pun melepaskan tangan Gio. Namun pria itu tetap saja mengulangi perbuatannya. Mungkin ia lupa jika Amey sudah memiliki suami.


Sedangkan di sudut kios itu, tatapan membunuh menyoroti Amey dan Gio. Arsen mengepalkan tangannya dengan geram. Ketika melihat Gio merangkul Amey, pria itu reflek berdiri dan melangkahkan kakinya mendatangi Amey dan Gio, namun secepat kilat Mark menahan Arsen.


"Lepaskan aku Mark! Aku akan menghancurkan pemandangan yang merusak mataku!" pekik Arsen murka.


"Jika Tuan ke sana, maka Nyonya akan tahu jika Tuan membuntutinya," jelas Mark.


"Aku tidak perduli Mark! Tangan ini terasa sangat gatal. Sepertinya ia haus akan darah." Arsen ingin sekali melemparkan tinjunya di wajah Gio sampai berdarah.


"Tuan. Jangan," mencengkeram tangan Arsen dengan kuat.


"Mark, jika kau tidak ingin wajahmu yang menjadi tumbal, maka jangan halangi aku!" ucap Arsen semakin emosi.


"Jika Tuan ke sana, Tuan akan menyesal. Tuan akan mempermalukan diri Tuan dan harga diri Tuan akan anjlok di depan Nyonya dan teman-temannya," jelas Mark.


Arsen pun terdiam saat mendengar ucapan Mark. Ia segera menyadari jika ia hanya akan mempermalukan dirinya. "Ahhh shit!" mengacak rambutnya. "Baiklah kali ini laki-laki itu selamat! Tapi lain kali, aku akan langsung memasukkannya dalam lubang kuburan dengan hidup-hidup!"


Tubuh Arsen kembali memanas. Emosi yang membara seperti api kini menggerogoti seluruh tubuhnya. Ia mencoba menahan diri demi harga diri yang ia junjung mati. Untunglah Mark memperingati ia. Jika tidak ia akan mempermalukan dirinya dengan menunjukkan jika ia mulai perduli pada Amey. Dan pria yang bernama Gio paling sudah tewas mengenaskan.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘