
Lagi-lagi Jen tak kuasa menahan tangannya yang gatal untuk menyentuh benda-benda terlarang milik Tuan dasi merah. Entah apa yang akan dilakukan Mark pada gadis itu jika ia mendapati Jen sedang menyentuh kepunyaannya yang sama sekali tidak boleh disentuh oleh siapa pun kecuali dirinya.
Mata Jen berhenti di sebuah lemari pajangan yang di dalamnya tertata rapi berbagai robot sebagai benda koleksi kesayangan milik Mark. Jen menyentuh salah satu robot berwarna hijau yang memegang pedang. Ketika ia mencoba menarik benda tersebut tiba-tiba lemari itu bergerak.
"Oh God! A--apa ini?!" gumam Jen kaget.
Lemari yang tadinya berdiri tegap kini terbelah menjadi dua bagian. Jen menganga melihat lemari itu yang ternyata adalah pintu yang terhubung ke ruangan lainnya.
"Ruangan rahasia?"
Dengan rasa penasaran yang tinggi Jen memasuki ruangan itu, karena ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam dan melihat isi dari ruangan itu, dengan cerobohnya ia menyenggol robot-robot kecil dengan lengannya sehingga terjatuh berserakan di lantai.
Brukkkk!
"Siapa itu?!" teriak seorang pria dari luar kamar. Pria itu tak lain adalah Arsen.
Jen membungkam mulutnya dengan tangan. Ia terbelalak dan segera mengatur benda-benda itu dan meletakkannya kembali di lemari pajangan.
"Matilah aku!" gerutu Jen. Setelah selesai merapikannya Jen melanjutkan penelusurannya di ruangan rahasia milik Mark.
Sementara di luar sana, Mark mencoba menahan Arsen agar tidak menuju kamarnya.
"Kau dengar?" tanya Arsen.
"Tidak Tuan."
"Aku yakin aku mendengar sesuatu dari dalam kamarmu," beranjak dari duduknya.
Mark menghalangi langkah Arsen.
"Minggir!"
"Bukan apa-apa Tuan. Mungkin itu Garfield."
"Garfield? Siapa dia?"
"Kucingku Tuan."
"Bukannya kau alergi kucing? Sejak kapan kau memelihara kucing?"
"Sejak tadi Tuan."
"What?!"
"Baru saja Tuan. Aku menemukan anak kucing yang terlantar dan basah kuyup di luar sana. Jadi aku membawanya pulang dan memberinya pakaian."
"Memberi pakaian? Wow! Murah hati sekali," ledek Arsen dengan dahi yang berkerut. "Mark!"
"Iya Tuan?"
"Kau tau 'kan apa hukumanmu jika berbohong padaku?"
"Iya Tuan."
Arsen kembali mendudukkan tubuhnya di sofa. Sebenarnya Arsen merasakan keganjalan di tempat itu. Mulai dari sepatu wanita, tas wanita dan sekarang suara bunyi yang aneh berasal dari kamar Mark. Ia lebih curiga karena Mark yang dikenalnya paling tidak suka dengan kucing, kini sedang memelihara kucing.
Arsen kembali berdiri. Mark langsung merentangkan tangannya di depan Arsen.
"Hey! Ada apa denganmu? Minta di pukul?!"
Mark mulai berkeringat. "Maafkan aku Tuan."
"Minggir!"
"Tuan mau ke mana?" tanya Mark panik.
"Toilet!"
Mark bergeser dari hadapan Arsen. Ia bernapas legah karena Arsen tidak jadi mengecek kamarnya. Saat Tubuh Arsen sudah berada dekat pintu kamar mandi, Mark teringat akan sesuatu. Ia terbelalak dan segera berlari mengejar Arsen.
"TUAN, BERHENTI!!" teriak Mark lantang.
Arsen terkejut mendengar teriakan Mark. "Mau mengajakku berkelahi?!" ketusnya mulai naik darah.
"Iya Tuan!"
"WHAT!" Arsen menjadi jengkel. Ia melonggarkan dasinya dan memasang kuda-kuda untuk menonjok wajah Mark. "Kemarilah Mark! Kita lihat saja apa kau akan sanggup menahan pukulan mautku kali ini!"
Mark bingung. Ia tidak mungkin memukul Arsen. Aku memang sudah tidak waras! Kenapa juga aku mengajaknya berkelahi! Ahhhh sial!
Ketika Arsen hendak melayangkan tinjunya, tiba-tiba perutnya terasa sakit. "F*uk! Sebentar Mark, aku pipis dulu!" berlari menuju kamar mandi.
"TUAANNNN! AKU INGIN MEMUKULMU! KAU SANGAT PAYAH BERKELAHI!" celutuk Mark agar Arsen emosi dan tidak jadi menuju toilet.
"Bedebah gila! Tunggu kau! Aku akan mengirimu ke neraka setelah aku selesai buang air kecil!" teriak Arsen dari dalam kamar mandi.
Mark tidak sanggup lagi berdiri. Tubuhnya lemas tak berenergi. Ia menekuk lututnya di lantai sembari membuang napasnya kasar. "Tidak ku sangka jika akan seribet ini," gumamnya lemas.
Di dalam kamar mandi, Arsen sudah tidak sabar untuk memukul Mark. Emosinya sudah di ubun-ubun. Bisa-bisanya Mark berkata seperti itu pada seorang Arsen yang dikenal memiliki tempramen buruk dan emosianal.
Arsen menuju wastafel untuk mencuci tangannya. Namun ketika hendak membuka kran air, ia melihat ada sebuah blazer wanita dan rok berwarna hitam. Pria itu mengangkat pakaian wanita itu dengan telunjuknya.
"Sudah kuduga, ada yang tidak beres!" gumam Arsen menuju keluar dengan membawa sepasang pakaian itu. Arsen mendapati Mark tersungkur di lantai dengan tatapan nanar.
"Mark!"
"Iya Tuan?" sahutnya lirih.
"Kau memang bencong atau ..."
"Iya Tuan, aku bencong," lirihnya menunduk kepala, pasrah.
"Sepertinya tidak! Kau ...?" Arsen membuang pakaian itu dan bergegas menuju ke kamar Mark.
"Tuan jangan! Aku bencong! Iya, aku memang bencong," mencegah Arsen masuk ke kamarnya.
Pria itu tidak perduli dengan ucapan Mark. Ia membuka pintu kamar Mark dan mendapati kamar itu sangat berantakan. "Jangan beralasan lagi Mark! Aku yakin kau tidak memiliki peliharaan yang kau beri nama Garfu--garpu..."
"Garfield Tuan."
"Masa bodoh dengan namanya! Tapi yang pasti ini bukan ulah kucing!"
Mark memandangi ruangan itu dengan seksama. Ia sama sekali tidak melihat sosok Jen di kamarnya.
"Jangan-jangan ..." gumam Mark menatap koleksi robotnya yang sudah berpindah posisi.
Mark mengeratkan rahangnya. Tatapannya berubah menjadi beringas. Ingin sekali ia meneriaki Jen di dalam sana, namun ada Tuan Mudanya yang saat ini berada di hadapannya.
"Mark di mana kau sembunyikan kucingmu itu, hah?!"
Mark masih berdiam sambil menahan luapan emosinya. Gadis sialan! Kau sudah melewati batas! Jangan harap kau bisa lolos setelah ini! batin Mark menggeram.
Tak lama kemudian lemari yang tadinya utuh kini bergerak dan terbagi menjadi dua bagian. Pandangan mata Arsen dan Mark tak bergeming dari lemari pajangan itu.
"Tuan, siapa yang datang?" tanya Jen yang tiba-tiba muncul dari balik pintu rahasia.
Ketiga orang itu terperanjat bukan main. Apalagi Arsen. Mulutnya menganga melihat sosok perempuan yang mengenakkan kaus milik Mark yang tampak besar di tubuhnya, yang keluar dari dalam ruangan rahasia Mark.
"Inikah kucing liar peliharaanmu, yang kau pungut di luar sana, Mark?"
Mark tidak dapat berkata-kata lagi. Dirinya terasa malu bercampur marah karena situasi yang ia hadapi saat itu. Jen pun demikian. Ia hanya bisa menunduk diam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
Tiba-tiba keheningan itu pecah, "HAHAHAHAH!" gelak tawa Arsen meledak memenuhi ruangan itu. "Mark! Ternyata kau tidak sepolos yang aku bayangkan! Hahahah! Kau ternyata suka bermain di belakang. Haha! Aku kira kau memiliki kelainan dan tidak menyukai wanita semenjak peristiwa itu."
"Tuan to--tolong dengarkan aku. Tuan salah paham. Aku dan gadis ingusan ini tidak memiliki hubungan apa-apa. Aku tidak mengenalnya dan aku tidak menyukainya seperti yang Tuan pikirkan," jelas Mark, frustasi.
"Tidak usah mengelak lagi Mark. Jelas-jelas kucing peliharaanmu ini mengenakan pakaianmu. Dan ... apa itu? Kau menyembunyikan Gar--gar ..."
"Garfield Tuan," timpal Mark.
"Ya! Kau menyembunyikan Garfield di ruangan rahasia, yang bahkan aku sendiri baru tau jika apartemenmu memiliki ruangan seperti itu. HAHAHA!"
Jen memandangi Arsen yang sedang terbahak. Baru kali itu ia melihat sang bos dingin, tertawa terpingkal-pingkal. Bos besar ternyata bisa juga tertawa lepas sepert ini. Aku baru tau. batin Jenifer.
"Hey kau, Garfield!" panggil Arsen menatap Jen.
"Kau memanggilku Tuan?"
"Ya. Kau temannya istriku 'kan?"
"Iya Tuan. Aku Jenifer."
"Siapa pun namamu, selamat! Kau pemecah rekor telah mendapati hati Mark. Baru kali ini Mark membawa seorang perempuan di apartemennya dan memberikan pakaiannya. Kau sangat beruntung, Garfield!"
"Maaf Tuan, namaku Jenifer. Bukan Garfield," tutur Jen polos.
"Ya aku tau. Tapi Mark memberimu nama panggilan sayang-sayangnya, yaitu Garfield."
"Bukankah itu kucing dalam kartun, Tuan?"
"Aku tidak tau! Tapi yang pasti itu nama yang diberikan Mark padamu."
Mark masih bungkam. Namun pandangannya tajam menatap Jen seolah ingin menelannya. Gadis itu pun menelan saliva dengan kasar saat pandangan matanya dan Mark bertemu.
"Keluar!" lirih Mark. "KELUAR KALIAN DARI RUMAHKU!!!!" teriak Mark tak tahan menahan emosinya.
"Persetan dengan kau, Mark! Kau berani mengusirku?!" tukas Arsen mulai naik darah.
"Baiklah ... baiklah! Aku saja yang keluar dari rumahku!" gumamnya sembari berjalan meninggalkan kedua orang itu.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
Follow ig : @stivaniquinzel