
Beberapa menit semenjak kepergian Arsen, Kaisar memperhatikan tingkah laku Edzel. Pria itu membuang napasnya legah saat melihat sikap Edzel yang tenang.
Hari itu, Kaisar sudah tidak memiliki jadwal lagi. Namun karena melihat beberapa dokumen yang menumpuk di atas meja kerjanya, ia pun memutuskan untuk menyelesaikannya agar besok pekerjaannya tidak terlalu menumpuk.
Edzel menatap sekelilingnya dengan seksama. Sebuah permen lolipop di masukkannya ke dalam mulut, beberapa detik kemudian di tariknya kembali. Wajahnya terlihat masam saat lidahnya menyentuh permen itu. Ia pun membuangnya di lantai.
"Ada apa, Edzel?" tanya Kaisar.
"Permennya tidak enak, Uncle."
"Benarkah? Tapi itu permen yang sangat enak pas jaman Uncle umuran sepertimu."
"Pantas saja rasanya kuno!"
"Masa sih?" mengernyitkan dahi.
"Uncle, aku mau Pizza," pintah Edzel.
"Baiklah, tapi setelah Uncle selesai mengerjakan ini semua," ucap Kaisar.
"Okee baik, Uncle," mengangguk cepat.
"Anak pintar!" lirih Kaisar. Untunglah anak ini tidak meresahkan! batinnya.
Beberapa menit kemudian, Edzel merasa bosan di ruangan itu. Ia pun mulai berkeliling tanpa sepengetahuan Kaisar.
Menyadari sosok Edzel telah menghilang dari peradaban ruang kerjanya, ia pun melonjak. Dengan segera ia mencari makhluk kecil itu dengan eksprsi wajah yang panik.
"Edzel? Kau di mana?" panggil Kaisar.
Mendengar tak ada jawaban dari Edzel, Kaisar langsun keluar dari ruangannya. Ia mendapati tas robot kecil Edzel yang terjatuh di lantai.
Kaisar berlari menuju ruangan cctv, dan menyuruh pegawainya untuk melacak keberadaan makhluk yang kasat mata itu.
"Cepat kau cari ponakanku!" teriak Kaisar.
"Saya melihatnya masuk ke dalam lift, Pak," ujar seorang pria berewokan.
"Tunjukkan!" ketus Kaisar.
"Sekarang anak kecil itu menuju lobi."
"Hubungi aku jika anak itu berganti posisi." Kaisar berlari dengan capat meninggalkan pegawainya.
"Baik Pak."
Sementara Kaisar sedang panik, tampak Edzel yang sedang berjalan sambil menikmati udara di siang menjelang sore hari itu.
"Aku lapar! Huhh! Sampai kapan aku harus menunggu Uncle menyelesaikan tugasnya!" gerutu Edzel.
Ketika sampai di halaman depan, Edzel melihat seorang anak perempuan yang sedang memakan manisan di pinggir jalan. Cacing-cacing dalam perutnya tiba-tiba mengadakan konser dadakan. Ia tak kuasa lagi menahan rasa laparnya. Edzel pun memutuskan untuk menghampiri gadis kecil berpakaian merah muda dan bertopi kelinci itu.
Terlihat gadis sebaya dengan Edzel, menikmati cemilannya. Ia tersenyum lebar sembari menatap gedung pencakar langit itu. Saat hendak menggigit manisannya, tiba-tiba sebuah tangan merampas makanan itu dengan paksa.
"Berikan padaku!" ketus Edzel.
"Ahhhhhh! Siapa kamu?" tanya gadis kecil itu.
"Aku Edzel. Aku sangat lapar. Sekarang makanan ini menjadi milikku!" celutuknya.
Gadis kecil itu tertegun. Pipinya mulai memerah, matanya pun tampak berkaca-kaca, menahan tangisan. "I--itu punyaku, hik-hik! Ayahku membelikannya untukku. Dan kau merebutnya dariku," lirih gadis kecil itu.
"Siapa namamu?" tanya Edzel.
"Ze--zeyra."
"Sekarang kau temanku, Zeyra. Karena kita bertemen, jadi manisan ini menjadi milikku. Anggap saja kau memberikannya padaku karena kita berteman."
Zeyra terbelalak. "Te--teman?" lirihnya.
"Iya. Kalau begitu aku pergi dulu. Bye!" berjalan meninggalkan gadis itu.
"Tunggu!" teriak Zeyra.
Edzel menengok ke belakang. "Ada apa?"
"Namamu, Edzel?" tanya Zeyra memastikan.
Edzel mengangguk.
"Apa betul kita berteman?"
"Memangnya kenapa?" tanya Edzel heran.
"Kau orang pertama yang menganggapku sebagai teman," ucap Zeyra dengan suara lirih.
"Benarkah? Berarti aku teman satu-satumu?"
"Ya," ucap Zeyra mengangguk.
"Baiklah Zeyra. Aku akan kembali ke pamanku."
"Apa kita bisa bertemu lagi?" tanya Zeyra.
"Tentu saja. Aku bisa menemuimu, kapanpun aku mau."
"Bagaimana caranya? Aku bahkan belum memberitahu alamatku."
"Jangan meragukanku. Kau cukup memberitahu tempat ayahmu bekerja," tutur Edzel seraya mengunyah makanannya.
Zeyra berjalan dua langkah ke depan. Ia mengarahkan telunjuknya ke arah seberang yang menunjukkan seorang pria dengan mengenakan pakaian berwarna putih dan dongker. "Ayahku bekerja di sana."
"Oh jadi ayahmu satpam di kantornya, Uncle?" tanyanya kembali.
"Uncle Kaisar, teman baik Daddy."
Sepertinya dia anak orang kaya. Hmm, mana mungkin aku berteman dengannya? Di sekolahku saja, aku sering dijauhi karena bukan anak orang kaya! Ucap Zeyra dalam hati. "Edzel, kau yakin mau berteman denganku?"
"Tentu. Memangnya kenapa? Apa kau tak mau berteman denganku?"
"Bukan begitu. Hanya saja aku tidak pernah berteman dengan orang kaya sepertimu," celutuk Zeyra menundukkan kepala.
"Hahahah! Aku lebih senang berteman denganmu, daripada berteman dengan teman-temanku yang aneh di sekolah."
Lekukan senyum di pipi gadis itu melebar. Ia pun menyodorkan tangannya pada Edzel sebagai tanda perkenalan mereka. Edzel yang melihat itu langsung berjabat tangan dengan Zeyra sambil tersenyum.
"EDZEL!!!" teriak seorang pria dari kejauhan. Pria itu tak lain ialah Kaisar.
"Uncle?" lirih Edzel.
"Tunggu di sana dan jangan menyeberang. Ini sangat berbahaya!" ketus Kaisar, panik.
Edzel mengangguk pelan sembari menatap Kaisar.
Setibanya Kai di tempat Edzel, ia langsung membuang napasnya legah. Kekhawatirannya pun hilang saat ia menemukan bocah lincah itu. "Ed, kau hampir saja membuat nyawaku berada di ujung tebing!" tukasnya.
"Aku bosan, Uncle! Lagi pula, kau lama sekali mengerjakan pekerjaanmu, dan aku sangat lapar!"
"Baiklah, maafkan Uncle. Ayo kita ke restoran," ajak Kaisar menarik tangan Edzel.
"Tunggu sebentar!" ucap Edzel.
"Ada apa?"
"Bolehkah aku mengajak Zeyra?"
Kai mengernyitkan dahi. "Zeyra? Siapa dia?"
"Teman baruku," ucap Edzel.
"Halo Om," sapa Zeyra menunduk.
"Halo gadis kecil."
"Zeyra perkenalkan ini Uncleku, dan Uncle perkenalkan, ini Zeyra teman baruku."
"Zeyra, maukah kau ikut bersama kami?" ajak Kaisar.
"Tidak Om. Nanti ayahku mencariku. Lagi pula aku tidak biasa bergaul dengan orang kaya seperti kalian."
"Hahaha! Siapa yang melarangmu?" tanya Kai penasaran.
"Tidak ada yang melarangku, Om. Hanya saja aku merasa tidak nyaman. Teman-temanku di sekolah menjauhiku karena aku anak orang miskin."
Kaisar terharu mendengar ucapan Zeyra. Ia pun berjongkok di depan Zeyra sambil menatap gadis kecil yang cantik itu dengan seksama. "Zeyra, kau sangat polos. Tapi tidak semua orang kaya bersifat seperti itu. Boleh Om tau di mana orangtuamu?"
"Ayahku satpam di kantor Om."
Kaisar menatap sebuah pos di depan gedung perusahannya. "Ohya?"
Gadis kecil itu mengangguk.
"Zeyra? Apa kau berbuat ulah?" tutur seorang pria bersuara besar dengan tiba-tiba.
"Ayah?" ucap Zeyra.
"Maafkan anak saya Tuan. Saya mohon ampuni Zeyra jika dia telah berbuat salah pada Tuan," ucap pria tua itu yang merupakan ayah Zeyra.
"Tidak Pak Angga. Anakmu tidak berbuat salah," tutur Kaisar sambil menatap papan nama yang menmpel di dada bagian kanan pria itu.
"Benar, Om. Malahan anak om memberikanku makanan tadi," kilah Edzel.
"Pak, Angga, Apa saya boleh mengajak anak bapak ikut makan bersama saya dan Edzel?" tanya Kaisar.
"Trima kasih banyak atas tawaran Tuan. Tapi maafkan saya Tuan, saya tidak bisa mengijinkan Zeyra karena saya tidak ingin merepotkan Tuan."
"Tidak merepotkan. Lagi pula Edzel sepertinya suka berteman dengan anakmu," tutur Kaisar mengedipkan mata sebelahnya.
"Om, aku tidak ingin ikut. Aku mai makan siang saja bersama ayah."
"Ohya? Kalau begitu ayo sekalian kita makan bersama. Pas sekali ini sudah jam makan siang para staf dan pegawai."
"Tidak usah Tuan. Saya harus mengantar Zeyra pulang rumah. Maafkan saya Tuan," ucap Pak Angga menunduk kepala.
"Hmm, baiklah kalau begitu. Tapi lain kali Pak Angga harus menerima tawaran saya!"
"Baik, Tuan."
"Sangat-sangat tidak seru!" celutuk Edzel dengan mimik yang kecewa.
"Edzel, kau sudah menjadi temanku. Kita akan bertemu lagi di lain waktu. Dahh Edzel," melambaikan tangannya.
"Byeee Zeyra," tutur Edzel membalas lambaian tangan Zeyra.
Kaisar dan Edzel pun berjalan meninggalkan tempat itu. Sesekali Edzel memalingkan wajahnya ke belakang, seperti tak rela berpisah dengan teman barunya itu. Baru pertama kali Edzel mengajak seorang gadis berteman dengannya. Biasanya ia sering mendorong dan mengusili semua gadis sebaya dengannya saat berada di sekolah.
To be continued ...
.
.
.
follow ig @syutrikastivani