
Semua orang yang berada di gedung itu menikmati pestanya. Apalagi setelah Soffy dan kawan-kawannya selesai menampilkan aksi ekstrim mereka di atas panggung, para tamu undangan menjadi sangat terhibur. Namun tidak untuk satu orang, yang sedari tadi yang tampak tak nyaman berada di sana.
"Ayo pulang," ucap Arsen tiba-tiba.
"Eh, kenapa?" terkejut.
"Aku tak suka dengan situasi ini!"
"Apa kau sakit, Sayang?" tanya Amey menyentuh jidat Arsen.
"Ya! Aku sakit." Tatapan Arsen dingin menatap Amey.
"Lah kok tiba-tiba? Tapi kelihatannya kamu baik-baik saja. Lagi pula kita baru saja tiba."
Arsen terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Rion yang terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang. Arsen sangat geram ketika Rion sesekali menatap Amey dari kejauhan.
"Mr. Winston?" panggil seseorang.
Lamunan Arsen buyar. Ia mengadah ke sumber suara yang memanggil namanya.
"Aku menunggu kedatanganmu, Mr. Winston," tutur George.
"Kau juga datang rupanya."
"Ya! Ini merupakan pesta perdana keluarga Collin. Bukankah pesta ini sangat seru, Tuan Arsen?"
"Tidak sama sekali!"
George mengernyitkan dahinya. Ia menggoyangkan gelas yang berisi anggur dengan tangan kanannya, dan tangan kirinya ia masukkan ke dalam saku celana. Ia kemudian beralih menatap Amey yang berdiri di samping Arsen. "Halo, Nyonya Amey."
"Halo Mr. George. Bagaimana kabarmu?"
"Aku baik. Oh btw, selamat bergabung di Prestigious Club."
"Thank you, Mr. George."
"Kau bisa memanggilku, George."
"Baiklah, George."
Percakapan singkat itu lebih membuat Arsen merasa panas di ruangan ber-ac itu. "Aku mau ke toilet sebentar. Tunggulah di sini, Memey."
"Baiklah."
Arsen meninggalkan Amey dan George.
"Sepertinya suasana hati suamimu sedang buruk. Apa yang membuat Tuan Winston tak nyaman?" tanya George.
"Entahlah. Sedari tadi rautnya datar," ucap Amey. "Ohya, George. Boleh aku bertanya sesuatu padamu?"
"Apa pun. Silahkan."
"Aku dengar tadi, jika keluarga Collin baru kali ini merayakan pesta. Aku penasaran akan hal itu."
"Kau benar Nyonya. Keluarga Collin untuk pertama kalinya mengadakan acara. Dan ini cukup menarik perhatian para pebisnis berpengaruh di belahan dunia. Itulah mengapa banyak sekali tamu penting yang mengahadiri pesta ini."
"Permisi, Tuan dan Nyonya," ketus Rion tiba-tiba.
"Mr. Collin. Selamat ulang tahun dan selamat atas pertunanganmu," ucap George, menjabat tangan Rion.
"Trima kasih, George." Tatapan Rion beralih menatap Amey. "Bertemu lagi, Nyonya Amey."
"Halo Rion. Eh maksudku, Tuan Collin."
"Santai, Amey. Aku teman lamamu, jadi kau bebas memanggilku dengan sebutan apa saja, Hehe."
"Permisi sebentar. Aku menerima telepon penting," tutur George.
"Silahkan, George."
"Rion, di mana tunanganmu?"
"Oh tadi dia berbincang dengan teman-temannya," memandangi bagian selatan gedung itu.
"Aku mengagumi bakat tunanganmu. Dia sangat hebat," puji Amey.
"Kau juga sangat hebat, Amey. Kau sekarang menjadi direktur utama di Alganda Group. Bukanlah perusahaanmu itu, di bawah naungan WS Group?"
Amey mengangguk. "Ya! Suamiku yang merekrutnya."
"Hebat sekali. Kolaborasi yang sangat menarik."
"Trima kasih Rion."
"Apa kau punya waktu besok malam?" tanya Rion tersenyum tipis.
"Entahlah. Memangnya kenapa?"
"Aku ingin mengundangmu untuk makan malam bersama keluarga Collin. Anggap saja reuni kita berdua. Bukan begitu kawan lama?" Rion sengaja menguatkan suaranya karena ia melihat Arsen yang sedang mendekat ke arah mereka.
"Baiklah, aku akan memberitahu suamiku."
"Kita tidak akan pergi!" ketus Arsen membuat kedua orang itu langsung menatapnya.
"Apa kau sibuk besok malam?" tanya Amey.
"Ya. Aku sangat sibuk."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kau saja yang hadir, Nyonya Winston?"
Deg!
Arsen kembali mengepalkan tangannya. "Kalau aku tidak bisa datang, berarti istriku juga tidak bisa!"
Amey hanya berdiam. Ia paham jika suaminya mulai naik pitam. "Maafkan aku Rion. Sepertinya aku tidak bisa."
Arsen tersenyum sinis menatap manik Rion. "Kau dengar itu, Mr. Collin?"
"Hmm, baiklah. Di lain waktu saja."
"Akan lebih baik kalau tidak sama sekali!" gumam Arsen lirih.
Tatapan Rion dan Arsen semakin tajam. Kedua pasang manik itu seolah memberi arti, persaingan yang panas antara kedua keluarga terpandang.
"Sayang, aku mencarimu," tutur Kinan, tunangan Rion.
"Maafkan aku, Sayang."
Rion memutar bola matanya malas. "Tuan dan Nyonya Winston, perkenalkan ini tunanganku, Kinan. Kalian pasti sudah mendengar tentang Kinan."
"Halo, Kinan. Senang bertemu denganmu," sapa Amey.
"Trima kasih Nyonya. Senang juga berjumpa dengan Tuan dan Nyonya Winston."
Raut wajah Rion tiba-tiba berubah saat memandangi seorang wanita yang baru saja berjalan menuju toilet. Ia mengikuti bayang gadis itu dengan ujung matanya.
"Sayang, apa yang kau lihat?" tanya Kinan.
"Aku permisi sebentar." Rion
langsung meninggalkan ketiga orang itu dan melajukan langkahnya menuju toilet.
Rion tak lagi memperdulikan orang-orang yang menyapanya. Ia melewati tamu-tamu itu, bahkan menabraknya.
"Jangan halangi jalanku!" celutuk Rion, membuat orang-orang itu mengernyitkan dahi.
"Sial! Ke mana perginya gadis itu?!" memandangi sekelilingnya.
"Mencariku, Sayang?"
Rion menatap ke sumber suara. "Di situ kau rupanya," tersenyum licik.
Rion langsung menerkam bibir wanita bergaun merah itu dengan penuh nafsu. Tangan Rion meremas tempurung kembar milik wanita itu. Ciumannya kini menjalar ke leher.
"Sayang, hentikan! Bagaimana kalau ada yang melihat kita?"
"Tidak ada yang bisa mengganggu kita," melanjutkan kecupannya.
"Apa Kinan tidak akan mencarimu?"
"Dia sedang berbicara dengan keluarga Winston. Berhenti bertanya dan lakukan tugasmu!" kilah Rion penuh nafsu.
Rion menarik tangan wanita itu menuju ke sebuah kamar khusus di hotel itu. Ada sebuah jalan rahasia yang bisa menembus kamar Rion, sehingga mereka tidak perlu melewati banyak orang.
"Aku tidak tau kalau kau memiliki pintu seperti ini."
"Ini Hotelku. Aku masih memiliki banyak jalan rahasia."
Sesampainya di kamar, Rion dengan ganasnya mendorong tubuh wanita bergaun merah itu ke atas ranjang. Ia dengan beringas merobeknya dan mulai melakukan aksi panasnya.
Tangan Rion mulai bermain di bawah sana, sehingga membuat tubuh wanita itu menggeliang hebat. Erangan panjang keluar dari mulut gadis itu. Alat perasa Rion pun bermain di celah kangkang gadis itu.
Cukup lama bibir Rion berada di bawah sana sehingga membuat napas wanita itu terengah-engah karena merasakan kenikmatan yang diberikan Rion.
Tibalah giliran wanita itu untuk memanjakan belut Rion. Ia melahap habis belut itu sampai tak tersisa. Rion memejamkan matanya dan menikmati permainan liar lawan mainnya.
Setelah itu, Rion mulai memasukkan belutnya ke dalam hutan lebat gadis itu. Rion membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya karena teriakan gadis itu sangat kuat.
Badan kedua orang itu mengeluarkan peluh yang tak sedikit. Masing-masing dari mereka merasakan kepuasan yang tak terbantahkan. Karena merasa tak bertenaga lagi, gadis itu akhirnya membaringkan tubuhnya di ranjang dan membiarkan Rion melanjutkan aksinya.
***
"Trima kasih sudah datang," tutur Kinan.
Dua jam telah berlalu. Para tamu satu persatu mulai minta diri untuk pamit. Sedari tadi, Kinan subuk meladeni para tamu. Ia melempar kakinya ke samping untuk merenggangkan otot kakinya yang tampak kaku karena berdiri lama.
"Di mana Rion?" tanya Amey tiba-tiba.
"Aku juga sedang mencarinya. Terakhir kali aku melihat Rion saat kita sedang bercakap."
"Oh begitu. Mungkin dia sedang rapat mendadak."
"Aku pikir juga begitu. Ohya, Tuan Arsen juga tidak kelihatan. Apa Rion bersama Tuan Arsen?"
"Suamiku sedang berbincang dengan Kaisar dan Jayden," menunjuk dengan ujung matanya. "Aku tidak melihat Rion bersama Arsen."
Ekspresi Kinan mulai kusut. Seharusnya Rion menemani Kinan di saat penting seperti itu. Namun Kinan tidak tahu jika suaminya sedang rapat liar bersama seorang wanita simpanannya.
"Apa kau sudah menghubungi Rion?"
"Tidak. Karena ponselnya ada padaku."
Amey mengangguk paham. "Aku ke toilet sebentar."
"Silahkan, Nyonya Winston."
Amey berjalan meninggalkan Kinan. Sesampainya di sana, ia melihat seorang wanita yang sedang merapikan rambutnya.
"Di sini kau rupanya? Aku mencarimu dari tadi," tutur Amey.
"Maafkan saya, Nyonya. Tadi gaun saya tertumpah anggur, jadi saya kembali ke apartemen dan menggantinya."
"Oh pantesan. Gaun hitam ini lebih baik dari pada gaun merah yang kau kenakan tadi. Terlihat lebih elegan," puji Amey.
"Trima kasih, Nyonya."
Amey mengangguk dan membasuh tangannya. Tidak sengaja matanya tertuju di bagian dada wanita itu.
"Nyonya, saya duluan."
"Ehm, baiklah."
Wanita itu berlajan meninggalkan Amey.
"Eggie, tunggu!"
Langkah Eggie terhenti. Ia segera membalikkan badannya dan memandangi Amey. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Aku punya salep yang bisa menghilangkan memarnya," ucap Amey.
"Maaf, Nyonya?" Eggie tak paham dengan maksud Bosnya.
"Kau harus mengobati bagian dadamu dengan salep. Kalau di perhatikan itu bukan gigitan nyamuk biasa. Rupanya itu gigitan binatang kecil yang berbahaya."
Eggie menelan liurnya saat menatap bagian atas dadanya. "Trima kasih, Nyonya. Aku akan mengobatinya nanti."
"Baguslah."
Gigitan binatang kecil yang berbahaya? Haha. Nyonya, kau sangat menggemaskan. Tapi kau salah. Ini bukan gigitan binatang kecil, tapi gigitan binatang buas yang sangat mematikan! ucap Eggie dalam hati.