Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Hari sibuk Arsen


Kali ini seharian di kamar tidak membuat kedua manusia itu jenuh. Hari itu juga merupakan hari melelahkan bagi Arsen. Di mana ia harus mengurus istrinya, mulai dari menyiapkan air mandi, memandikan, memakaikan baju, mengeringkan rambut, membersihkan ranjang akibat ulahnya.


Awalnya Arsen ingin memanggil pelayan hotel untuk membersihkan tempat tidur, namun karena Amey melarangnya maka terpaksa ia yang membersihkan ranjang yang bernoda merah itu.


Arsen juga harus memenuhi permintaan istrinya yang aneh-aneh. Belum juga hamil tapi Amey sudah sangat manja. Tapi begitulah sifat Amey yang sebenarnya, manja dan keras kepala. Tapi ia baru menujukkannya pada Arsen. Sebelumnya hanya Arka yang tahu sifat manja Amey.


"Ars?" panggil Amey.


"Apa?"


"Aku ... "


"Katakan kau mau apa?"


"Aku ingin buang hajat," ucap Amey dengan wajah memerah.


Arsen langsung menggendong Amey dan membawanya ke toilet. Ia dengan senang hati melucurkan balutan tipis yang menutup terowongan gelap Amey.


"Biar aku saja, Ars." Amey menjadi malu.


"Diamlah."


"Apa kau akan berdiri terus di depanku?"


"Tentu saja."


"Apa? Bagaimana aku bisa pup jika kau memandangiku terus!"


Arsen membalikkan badannya namun posisinya tidak bergeming dari depan Amey. Wanita itu menepuk jidatnya melihat tingkah Arsen yang aneh. "Maksudku, kau tunggu di luar!"


"Tidak! Nanti kau kenapa-kenapa lagi."


"Astaga Arsen! Aku tidak apa-apa. Aku akan memanggilmu setelah aku selesai."


"Bagaimana kalau kau terjatuh dan kepalamu terbentur, terus jadi gila! Aku tidak mau mempunyai istri yang tidak waras."


"Kau menyumpahi ku!"


"Tidak! Aku hanya menebak kemungkinan yang akan terjadi. Aku 'kan sudah bilang kalau aku ..."


"Sudah sudah! Jangan diteruskan lagi. Aku bosan mendengar celotehmu mengenai kekuatan supranatural yang hanya ada dicerita dongeng saja!"


Arsen terseyum kecil.


Owalah! Kenapa dia bisa segila ini! Bagaimana kalau dia pingsan karena mencium kotoranku? Bisa lebih merepotkan!


"Jangan banyak berpikir dan buanglah hajatmu!"


"Cihh, masih berpikir kalau dia mengetahui isi pikiranku!" gumam Amey.


Selama hampir lima belas menit, Amey duduk di kloset itu namun tidak juga mengeluarkan hajatnya. Pria yang sudah lama berdiri itu merasa gelisah. "Sampai kapan kau akan duduk di sana?" ketus Arsen.


"Aku menahannya! Bagaimana bisa aku pup jika kau terus mematung di depanku?"


"Oh goshhh! Jadi kau menahannya? Kenapa tidak katakan dari tadi jika kau tidak bisa membuang hajat jika ada aku yang berdiri di sini, hah?"


"Aku 'kan sudah mengatakannya tadi!"


"Aku tidak mendengarnya!"


"Sumpah demi apa pun, lama-lama aku bisa gila berbicara denganmu," tukas Amey.


"Panggil aku jika sudah selesai. Aku tidak akan ke mana-mana, aku hanya akan berdiri di depan pintu saja." Arsen berlalu dan meninggalkan Amey.


"Hufthh ... Dari tadi kek!" Amey mendengus kesal.


Akhirnya selama lima belas menit di tahan, kotoran Amey pun keluar. "Apa aku harus memanggilnya? Apa dia sanggup membersihkan kotoranku? Nggak ahh, aku masih bisa sendiri."


Amey pun membersihkannya. Setelah selasai ia hendak berdiri namun tidak bisa karena badannya terlalu sakit jika dipaksakan bergerak lebih. Cara satu-satunya keluar dari tempat itu adalah memanggil Arsen.


"Ars?"


Secepat kilat pria itu berlari menuju Amey.


"Sudah?"


"Iya."


"Kau yakin telah membersihkan kotoranmu di pantat?"


"Apa sih! Iya dong. Bisa tidak, kau jangan terlalu frontal mengatakan ucapanmu itu!"


"Bacot!" memakaikan celana dalam Amey kemudian menggendong wanita itu.


***


Di tempat lain, Mark menjadi panik karena tidak mendapatkan kabar dari Arsen. Menghampirinya langsung? Tidak! itu mungkin bukan ide yang baik. Setelah semalam menerima pukulan maut dari Arsen, kini Mark memilih untuk tidak mengetuk pintu kamar tuannya.


"Kenapa tuan tidak mengabariku? Apa yang dia lakukan bersama nyonya keras kepala? Tidak mungkin jika tuan sudah melakukannya bersama nyonya? Secara ia tidak pernah melanggar janjinya. Tapi bagaimana kalau ia melanggarnya? Tidak ada pria yang bisa menahan nafsu jika memiliki peluang untuk menerkam."


Mark mengacak rambutnya sembari bercakap dengan diri sendiri.


Drt ... drt ...


Segera Mark menerima panggilan itu yang ternyata dari Arsen. "Halo Tuan?"


"Kemarilah."


"Baik Tuan."


Sambungan telepon terputus.


"Akhirnya si tuan galak itu menghubungiku. Semoga saja ia sudah tidak emosi."


Mark segera menghampiri kamar Arsen dan Amey. Ia menekan door bell, dan tak membutuhkan waktu yang lama Arsen membukakannya pintu.


"Ada apa Tuan?" tanya Mark.


"Bagaimana dengan jadwalku?"


"Tuan tidak memiliki jadwal apa pun selain hari pertama tiba."


"Benarkah?"


"Iya Tuan. Tuan sendiri yang mengatakan jika jadwal selama beberapa hari dikosongkan."


Arsen mengerutkan dahi. "Aku berkata seperti itu?"


"Tidak tidak! Aku hanya memastikannya."


"Apa ada yang Tuan butuhkan?"


"Tidak pergilah."


Mark menunduk kepala, ia menjelingkan matanya mencuri pandang ke dalam ruangan.


"Apa yang kau lihat?"


"Ti--tidak ada Tuan." Semunya rapi dan bersih. Aku salah menduga! Aku kira Tuan dan Nyonya sudah wik wik. Haha!


"Jangan kepo kamu! Pergi sana," menendang bokong Mark.


Arsen mengunci pintu. Ia berpikir sejenak. "Benar juga ya. Tujuan ku kemari 'kan memang hanya untuk bulan madu. Aku pikir aku memiliki jadwal dan tanpa sadar sudah melupakannya. Haha! Aku bebas berduaan dengan Amey."


Arsen melanjutkan langkahnya berjalan menuju Amey yang terlihat sedang melakukan panggilan video.


"Siapa yang menghubungimu?"


"Nenek. Kemarilah, Nenek ingin melihatmu."


Arsen mendekat.


"Oyy menantu gila!" teriak Nensi.


Arsen melonjak. "Apa? menantu gila?"


"Pulanglah dengan cepat, aku sudah tidak sabar menghajarmu! Bisa-bisanya kau mengatakan kepada Calon-calon kakek Amey, kalau namaku adalah Nensi! Kencanku jadi batal gara-gara kau!"


Arsen tertawa dalam hati. Sedangkan Amey terlihat berusaha menahan tawanya. "Nenek, sudah jangan marah-marah nanti cepat keriput," ledek Amey.


"Hah? Keriput? Kau benar. Aku tidak boleh marah-marah nanti aku tua! Tidak boleh keriput sebelum menemukan kakek untukmu."


"Haha, iya Nek."


"Amey, ada yang ingin Nenek katakan."


"Apa Nek?"


"Nenek terjatuh di tangga dan sekarang Nenek tidak bisa berjalan, hiks."


"Hah? Kenapa bisa Nenek? Bukannya ada lift? Kenapa ***** menggunakam tangga?"


"Nenek hanya ingin olahraga naik turun tangga, tapi tiba-tiba kaki Nenek terkilir dan jatuh. Untunglah ada Elis yang merawat Nenek."


"Astaga Nenek. Baiklah besok Amey akan pulang."


Arsen melotot. Apa pulang? Kenapa buru-buru? Baru saja aku merasa senang karena tidak memiliki jadwal, tapi kenapa wanita ini ingin pulang? Ahhhh sial! Nenek tolong bantu aku. Lakukan sesuatu!


"Jangan pulang Amey. Kau 'kan sedang hanamun di sana."


"Honeymoon Nek."


"Hah itu maksudku."


Bagus Nek. Kali ini kau tidak menyebalkan. batin Arsen.


"Tidak Nek, kondisi Nenek sedang tidak baik. Aku harus pulang dan melihatnya langsung."


Dasar keras kepala!


"Amey, kau harus bersenang-senang di sana. Jangan kawatirkan Nenek. Ada Elis yang mengurusku di sini."


"Aku akan membawakan oleh-oleh yang banyak untukmu, Nek."


Soffy menelan salivanya. "Aku akan memasak yang banyak untukmu dan suamimu. Jadi jam berapa kau tiba besok?"


What! secepat itukah Nenek mengiyakan Amey pulang? Amey, kau pintar membujuk Nensi**.


"Mungkin larut malam."


"Baiklah Nenek akan menunggumu. Jangan lupa oleh-olehnya ya Sayang," ucap Soffy tersenyum lebar.


"Siap Nek."


"Tas LV, sepatu Channel jangan lupa didaftarkan."


"Baik, Nek. Aku tutup dulu ya."


"Iya Sayang. Oh tunggu dulu! Bagaimana dengan ramuannya? Berkhasiat bukan?"


"Jadi benar dugaanku, Nenek yang menaruh di dalam koper Arsen?"


"Tentu saja. Mana bisa kalian berbulan madu tanpa ramuan itu. Haha!"


"Kau berhasil Nek. Arsen meminumnya dan hampir membuat aku mati mengenaskan!" celutuk Amey.


"Hah? Yang benar kamu? Hihihi senangnya dalam hatiku." Soffy terkekeh.


"Nenek senang kalau aku meninggal karena menerima berbagai tusukan ganas dari pria ini?" tutur Amey tak mengontrol bibirnya.


Amey sadar akan ucapannya dan segera menutup mulutnya. "Ehm, maksudku ..."


"Sudah sudah, tidak apa-apa 'kan kau sudah menikah. Haha."


"Sepatu Channel, tas LV dibatalkan!"


"Pulangmu juga Nenek batalkan!"


"Ehh, kok gitu! Baiklah, aku tidak jadi membatalkannya."


"Begitu dong! Ya sudah, Nenek tutup dulu. Silahkan lanjutkan enak-enak mantap-mantap kalian. Bye maksimal!"


Amey melempar ponselnya.


"Astaga naga!" Amey terkejut saat melihat tatapan Arsen yang tajam.


"Jadi kau sudah mau pulang besok?" tanya Arsen dengan nada sinis.


To be continued ...


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘