
Hari pernikahan Mark dan Jen tiba. Semua orang yang berada di mansion tampak sibuk berbenah untuk menghadiri acara sakral itu. Di kamar utama, Amey bersama dengan Dinar dan Candy sementara mengurus keempat Ed. Seperti biasanya, harus penuh dengan perjuangan untuk memandikan bahkan mengatur anak-anak itu. Pasalnya mereka terlalu lincah sehingga Dinar dan Candy sering kehabisan daya untuk mengendalikan mereka. Maka dari itu, Amey yang secara langsung turun tangan agar keempat anak itu menurut.
"Edward, Edhan, Edgar, Edzel! Kalian harus mandi sekarang juga!" perintah Amey, berkacak pinggang.
"Yes, Mommy," ucap keempat anak itu serentak.
Mereka melepaskan semua mainan mereka ke tempat mainan, dan kemudian berjalan menuju kamar mandi dengan raut wajah murung.
"Dinar Candy, kalian tolong siapkan pakaian mereka. Aku meletakkannya di lemari," pinta Amey.
"Baik Nyonya."
Amey berjalan menyusul keempat anak kembarnya. Ia menggeleng kepala saat mendapati keempat anaknya telah masuk ke dalam bak mandi dan menumpahkan seluruh sabun cair yang ada ke dalam bak mandi.
"Ayo kita mandi!" teriak Edzel sembari menumpahkan sabun cair.
"Edzel, kenapa kau menumpahkan semuanya? Jika Mommy tau kau pasti akan dimarahi," tutur Edward, si sulung.
"Bukankah kita harus mandi dengan memakai sabun yang banyak biar bersih dan wangi?" tanya Edzel.
"Memakai sabun yang banyak belum tentu mandimu akan bersih. Maka dari itu kau hanya perlu sabun secukupnya."
Edzel mengangguk paham.
"Ulah siapa ini?" tanya Amey tiba-tiba.
Keempat Ed terkejut saat mendengar suara Amey. Mereka tidak menyadari jika Amey telah memperhatikan mereka sedari tadi.
Seperti biasanya, tidak ada yang mau mengaku atau saling menuduh. Keempat anak itu menunduk sembari memainkan busa yang sudah menutupi setengah badan mereka.
"Edward, Edhan, Edgar, Edzel, keluar dari sana!" perintah Amey.
Secepat kilat mereka semua beranjak keluar. Ketika semuanya telah berbaris rapi, Amey langsung menghidupkan sebuah tombol sehingga tetesan air hangat dari atas dengan cepat terun ke lantai layaknya hujan.
"Edward, kau duluan," ucap Amey.
Wanita itu langsung memandikan keempat anaknya satu persatu mulai dari anak yang sulung sampai kepada yang bungsu. Sesudah memandikan mereka, Amey langsung memakaikan mereka masing-masing handuk dan membawa mereka ke walk in closet untuk berganti pakaian.
"Dinar, Candy, tolong untuk memakaikan mereka pakaian. Aku harus menyiapkan pakaian untuk suamiku," ucap Amey.
"Baik, Nyonya," ucap Dinar dan Candy.
Sementara Amey menyiapkan pakaian Arsen, tiba-tiba doorbell berbunyi.
"Masuk," ucap Amey.
"Selamat pagi Nyonya Muda," sapa Elis.
"Pagi Elis. Ada apa?" tanya Amey.
"Mr. George membawa ini," menyodorkan sebuah kotak kecil yang telah di bungkus rapi."
"Ohiya, kau letakkan saja di atas nakas. Itu adalah cincin pernikahan Mark dan Jen."
"Baik Nyonya."
"Apa George masih di bawah?"
"Tidak Nyonya, Mr. George telah pergi dan hanya membawa benda ini. Katanya masih ada urusan mendadak."
"Oh baiklah kalau begitu," tutur Amey.
"Kalau begitu saya permisi Nyonya," menunduk kepala.
Saat Elis hendak berjalan keluar, tiba-tiba Amey teringat akan sesuatu.
"Elis ..." panggil Amey.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Apa Arsen sudah kembali?"
"Belum Nyonya. Tuan Muda sepertinya sangat sibuk mengurus pernikahan Asisten Mark."
"Ya, kau benar. Dia sangat peduli pada Mark. Meskipun terkadang ia selalu kejam memukul Mark. Hahah," ucap Amey sambil terkekeh.
"Iya Nyonya. Tuan Muda begitu menyayangi Asisten Mark. Semoga Tuan Muda Arsen sehat selalu," tutur Elis.
"Amin."
Elis tersenyum sembari menundukkan kepalanya dan berjalan meninggalkan Amey.
Beberapa saat kemudian, Dinar dan Candy telah selesai memakaikan keempat Ed pakaian. Mereka terlihat sangat rapi dan bersih. Setelan jas yang mereka kenakan lebih menambah wibawa mereka sebagai anak dari Tuan Muda Arsen Winston. Apalagi didukung dengan wajah tampan edisi terbatas buatan Arsen, sungguh-sungguh sangat sempurna.
"Anak-anakku, karena kalian sudah rapi, silahkan kalian duduk manis di sofa. Tunggu setelah Mommy selesai bersiap, kita akan menuju ruang makan untuk sarapan."
"Yes, Mommy."
"Bagus." Amey berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pemberkatan nikah Mark dan Jen akan diselenggarakan pukul sepuluh pagi. Sedangkan resepsi pernikahan mereka pukul lima sore. Maka dari itu, seisi mansion terlihat sibuk menata diri mereka masing-masing untuk menghadiri acara bergengsi itu. Tak hanya keluarga saja, namun pelayan-pelayan pun diperintahkan Arsen untuk ikut menghadiri pesta pernikahan Mark dan Jen.
"Aduhh! Berlian yang dibelikan menantuku ada di mana ya?" gumam seorang wanita tua yang tak lain adalah Nenek Soffy.
Soffy sedari tadi mengobrak-abrik meja rias beserta dengan kotak-kotak perhiasannya hanya untuk mencari keberadaan kalung berlian yang dihadiahkan Arsen dan Amey.
"Nek?" panggil Zoey yang ternyata telah masuk ke kamar Soffy sambil menyaksikan kehebohan yang terjadi.
"Eh, Bocil. Tolong bantuin Nenek dong," pinta Soffy.
"Apa yang bisa aku bantu?"
"Tolong kau carikan kalung berlian Nenek. Setau Nenek terakhir kali memakai kalung itu saat menghadiri acara tunangan Sayur Kol Amis," tutur Soffy dengan terengah-engah.
"Yayaya kau benar Bocil. Aku sudah tiga hari tiga malam menata wajah keriput tak bermerek ini agar kelihatan kencang dan awet muda demi menghadiri pernikahan cucunya Kutu Doggy!"
"Baiklah, Nek. Tunggi sebentar."
"Siap Bocil!" ucap Soffy, lantang.
Sementara Zoey mencarikan kalung berlian milik Soffy, Nenek itu sedang asik menata bulu mata yang baru saja di sambungnya beberapa hari lalu. Ia mengusap bulu mata itu dengan lembut. "Aku harus terlihat cetar membahana badai menggelegar. Meski sudah umuran tapi aku tidak mau kalah aksi sama anak-anak muda! Hahaha. Hemm, sepertinya eye shadow-ku kurang kelihatan." Soffy berjalan ke meja rias dan mengambil paletnya.
Sebenranya warna di lipatan matanya sudah sangat berwarna. Namun itulah Soffy, ia tidak akan puas sebelum wajahnya terlihat cantik di matanya. Meskipun di mata orang lain agak menor.
"Wahh, ini 'kan terlihat cantik dan berwarna seperti pelangi sehabis hujan, hahah! Soffy kau memang sangat pintar saat berdandan." Soffy melihat lipstiknya yang kurang merah, ia pun menambah ketebalan warna bibirnya. "Ahh mantap! Uhhh berasa seperti aku yang akan menikah dengan bule-bule seksiku, hahahah!"
"Nek, aku sudah menemukannya," ucap Zoey.
"Benarkah? Oh astaga! Kau sangat baik, Boc--"
"Astaga dragon!" ucap Zoey terkejut bukan kepalang.
"Ke--kenapa? Oh dragon! Apa yang salah?" tanya Soffy ikut terkejut.
"Nek, ada apa dengan wajahmu? Apa kau baru saja kena tonjokkan?" tanya Zoey masih dengan mimik bingung.
"Sembarangan saja kalau ngomong! Heh, Bocil, bagaimana riasan wajahku? Cantik sekali bukan? Ohya, kau harus melihat bibirku! Apa sudah mirip Seo Jin pemeran drakor Penthouse?"
Zoey menepuk jidatnya. "Nek, sepertinya riasanmu agak ... "
"Stop!" menghentikan ucapan Zoey. "Jangan kau teruskan Bocil! Bagaimana jika wajahku mendengar hinaanmu? Pasti mereka akan merajuk. Jadi, jangan diteruskan. Aku tau kok, kau sangat iri dengan penampilanku. Haha! Walah sudah tua, tapi aku tetap seperti anak muda."
Zoey hanya mengangguk pasrah mengiyakan semua ucapan Soffy. "Kalau begitu aku kembali ke kamarku dulu."
"Ya! Kau pergilah Bocil. Ohya, tengkyuuu zeyenkkk! muachhhh!" memanyunkan bibirnya yang seksi dan berwarna merah menyala itu.
Zoey pun meninggalkan Soffy dan menuju ke kamarnya.
"Omagahhh! Aku sangat cantik! Seharusnya aku yang menjadi pemeran utama di drakor Penthouse! Eh tidak tidak! Masa iya aku harus menikah sama Jodantae, si manusia dajal itu! Ogahh! Boro-boro gua pacaran sama kurir JNT!"
***
"Apa?! Cincin pernikahannya hilang?" teriak seseorang yang tampak sedang menelpon.
"Ada, apa Jeni?" tanya Doris.
"Sebentar Nek." Jenifer berjalan keluar dari ruangan rias dan menelepon di luar.
"Mey, yang benar saja kamu. Ke--kenapa sampai hilang?" tanya Jen yang terlihat sangat panik.
"Maafkan aku Jen. Aku tadi menyuruh Elis meletakkannya di atas nakas kamarku, tapi setelah aku selesai mandi, kotak cincin itu tiba-tiba hilang!" ucap Amey di balik telepon.
"Astaga! Mana harganya bisa bangun hotel berbintang lagi!" ucap Jen.
"Aku tak mempermasalahkan harganya. Tapi sebentar lagi pemberkatan nikahmu! Dan cincinnya tiba-tiba hilang! Kan nggak masuk akal!" tutur Amey tak kalah panik.
"Ya kau benar Mey. Coba kau periksa cctvnya."
"Nah itu dia Jen. Masalahnya aku tidak memasang cctv di kamarku! Masa iya aku dan Arsen bermain kuda-kudaan dan di nonton seisi mansion? Kan nggak lucu!"
"Benar juga. Aduhhh, trus gimana dong?" tanya Jen.
"Kau tenang saja Jen, aku akan menemukannya sebelum pemberkatan nikahmu. Ohya, kau jangan beritahu Mark, apalagi Arsen. Bisa mati semua penghuni mansion!"
"Baiklah Mey. Aku percayakan semuanya padamu."
"Kau tenang dan jangan panik. Jangan sampai riasan wajahmu menjadi jelek hanya karena kecerobohanku."
"Akan kuusahakan Mey."
"Dahh Jen."
"Dahh Mey."
Tut ... tut ... tut
Baru saja Jenifer mematikan sambungan teleponnya, tiba-tiba gawainya berdering kembali.
"Ada apa Mey? Apa kau sudah menemukan cincin pernikahanku?" tanya Jen.
"Apa yang kau bicarakan, Garfield?!"
Deg!
Jen melebarkan matanya saat mendengar suara yang tak asing itu. Suara berat dan tegas itu seolah-olah mengintimidasi Jen seketika.
Mampussss aku kali ini! Hari pernikahanku menjadi hari kematianku!
To be continued ...
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani
Note :
Gaisss? Sudah siap-siap blom? Mark dan Jen mengundang kalian semua lohh! Ohya dreskodnya warna putih dan hitam ya wkwk Katanya sih kalian bakal di jemput satu persatu oleh pengawal Tuan Arsen loh. Kalau lokasi kalian jauh kasih tau yaa, biar di jemput pake jet pribadi aja, biar cepat sampai heheh.
(halu aja dulu, siapa tau jadi kenyataan hahaha)