Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Isi Hati


Club Malam


23.00


"Ahhh nggak seru nih!" celutuk seorang pria.


"Apanya yang nggak seru?" tanya pria lainnya yang sedang menghisap rokok.


"Setiap reunian yang hadir cuma kita berdua terus!"


"Memangnya kau mengharapkan siapa lagi untuk datang?!"


"Siapa pagi kalau bukan Arsen!"


"Jay, Jay! Kau macam tak tau saja dengan sahabatmu itu. Semenjak dia menikah dan jadi budak cinta, dia bukan lagi pria cassanova! Dia sudah mendapatkan kebahagiaannya sendiri," tutur Kaisar.


"Dan kau kapan?"


"Aku? Hahah! Entahlah. Mungkin kesenanganku berada di tempat ini dan bermain dengan wanita-wanita malam."


"Gila! Terus Zoey kau taruh di mana?!"


Kaisar mengeluarkan asap tebal melalui hidung dan mulutnya. Ia menyandarkan kepalanya di kepala sofa. Pertanyaan Jay membuat suasana hati Kaisar semakin buruk. "Zoey?!" gumamnya terkekeh pelan.


"Sudah lama aku tidak mendengar kabar darinya semenjak dia melanjutkan kuliahnya di London. Apa kalian sudah pacaran?"


"Tidak."


"Bukannya kalian sudah lama dekat?"


"Aku yang membatasi diri. Kau tau 'kan, kalau Arsen tidak akan menyetujuinya." Kaisar mengacak rambutnya. Ia terlihat kacau dan murung.


"Yayaya kau benar. Kalau begitu ayo kita bersenang-senang. Aku sudah menyiapkan yang segar-segar untuk disantap. Haha!" tutur Jayden terbahak.


"Nggak. Aku malas!"


"Tumben. Biasanya tiap hari minta yang enak-enak. Sepertinya ada sesuatu nih!"


Kaisar mengeluarkan gumpalan asap rokok terakhir di mulutnya dan membuang sisa batang rokok itu. Ia memejamkam matanya dan tidak mempedulikan ucapan Jayden.


Drtt ... drt ... drt!!


"Arsen?" lirih Jay menatap layar ponselnya.


(Percakapan di telepon)


"Kenapa Ars?"


"Jay, kau di mana?"


"Di tempat biasa."


"Lagi ngumpul?"


"Yupp! Kau mau kemari?"


"Sepuluh menit aku sampai!"


tut ... tut ... tut


Arsen mematikan sambungan telepon.


"Arsen mau kemari? Jangan-jangan dia ada masalah rumah tangga lagi?!" gumam Jayden.


"Tumben dia mau reunian," sambung Kaisar yang tak kalah heran dengan Jay.


"Sudah lama sekali kita tidak berkumpul seperti ini. Apalagi semenjak Arsen pindah di New York."


Kaisar mengangguk mengiyakan. Ia kembali memejamkan mata dan menaruh kedua tangannya ke dalam saku celana. Aku ingin tau keadaan bocah itu! Tapi ... sudahlah! ucap Kaisar dalam hati.


Sementara menunggu kedatangan Arsen, Jayden terlihat sedang asik melirik beberapa wanita seksi yang sedang berjoget ria di bawah sana. Ia pun beranjak dari duduknya saat matanya tak sengaja menemukan seorang gadis cantik yang belum pernah ia lihat mengunjungi club itu.


"Weisss! Ada murid baru nih!" gumamnya.


Wanita itu berperawakan cantik, memiliki tubuh yang langsing, memakai pakaian berwarna hitam yang tidak terlalu terbuka dan wajahnya terlihat polos.


"Sambar aja, Jay. Siapa tau dia memang jodohmu," ucap Kaisar.


"Gila! Sumpah dia cantik banget. Hampir mirip Bae Suzy, si artis Korea itu loh! Jarang-jarang liat cewek yang kayak dia. Kelihatannya sih dia baru pertama kali ke klub. Liat aja tuh gayanya norak, tapi imut. Haha!"


"Samperin aja."


"Kai, gimana kalau kita taruhan," usul Jayden.


"Belum taruhan aja aku udah nebak siapa yang bakal kalah!"


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan yang ngajak taruhan. Kau 'kan selalu begitu!"


"Kali ini aku yakin kalau aku bakal menang," tutur Jay antusias.


"Taruhannya apa?" tanya Kaisar.


"Yang bisa tidur dengan gadis itu malam ini, dia pemenangnya!"


"Kalau aku yang menang, apa yang akan kau berikan padaku?" tanya Kiasar membuka matanya.


"Akan aku berikan apa saja yang kau inginkan! Tapi ... kalau aku yang menang, kau harus memberikan setengah kekayaanmu padaku. Hahah!"


"Baiklah, aku setuju. Jika aku yang menang, aku akan meminta apapun yang aku inginkan darimu. Termasuk seluruh kekayaanmu!"


"Wahhh curang. Aku kan hanya minta setengahnya saja. Kenapa kau minta seantero hartaku?!"


"Suka-suka aku. Tadi kau bilang apapun yang aku minta, pasti akan kau berikan! Laki-laki harus konsisten dengan ucapannya!"


Jay menggaruk tengkuknya. "Berarti aku harus menang bagaimana pun caranya! Aku tak rela semua memberikan semua hartaku padamu!"


Kaisar tersenyum sinis.


"Apa yang kalian bicarakan?" ucap Arsen yang tiba-tiba muncul.


"Ars, lama tak jumpa! Kau semakin tua saja," ejek Jayden.


"Ya kau benar. Untuk umur sepertiku yang sudah mempunyai istri dan empat anak, cocok dibilang tua. Tapi bagi pria yang sudah tua namun belum menikah, patut di pertanyakan. Apakah mereka makhluk normal atau makhluk jadi-jadian!"


Sindiran Arsen mengena di hati kedua orang itu. Mereka melotot menatap Arsen yang tampak tenang dan santai saat mengucapkan itu.


"Umur memang udah tua, tapi sifatmu awet ya bund? Hahaha!" Jayden terbahak.


"Btw, kenapa kau kemari? Memangnya istrimu ijinin?" tanya Kaisar sembari menuangkan anggur di gelas Arsen.


"Hmm," mengangguk. "Aku bilang jika aku mau reunian dengan kalian di sini. Memey ijinkan karena dia percaya kalau aku tak akan macam-macam."


"Oh gitu," ucap Jay.


"Kai, kenapa dengan wajahmu? Sepertinya kurang bersemangat," tanya Arsen.


"Tau tuh, dari tadi dia murung terus."


"Besok Zoey akan tiba di Jakarta. Kalau ada waktu kau bisa jemput Zoey. Soalnya besok aku mau keluar kota bersama Mark."


Kaisar kembali termangu. Sebenarnya karena itulah wajahnya tampak murung. Ia telah mengetahui jika Zoey akan kembali ke Indonesia. Kai khawatir jika Zoey sudah tidak memiliki perasaan lagi padanya.


"Wahh berita bagus dong. Eh btw, kau udah merestui hubungan Zoey dan Kaisar?" tanya Jay.


Arsen terdiam sejenak.


"Mustahil sih kalau kau merestuinya, haha!" ucap Jay lagi.


"Kalau Kai bisa meninggalkan julukan cassanovanya dan berubah menjadi pria baik sepertiku, aku pasti menyetujuinya. Jangankan menyetujui status berpacaran mereka, menikahkan mereka berdua sekalipun akan aku lakukan demi kebahahiaan Zoey."


Deg!


Kaisar terkejut bukan main. Ia melonjak dari duduknya dan menatap Arsen dengan manik yang membesar. "Kau serius dengan ucapanmu?!" tanyanya lantang.


"Sejak kapan aku main-main dengan ucapanku?!"


"Sudah dapat lampu hijau nih Kai. Ya sudah, besok kau nikahi saja Zoey. Ohya, taruhannya juga batal ya. Haha!"


"Taruhan?" tanya Arsen.


"Nanti aku ceritain kalau aku sudah mendapatkannya."


Arsen mengangguk pelan. Sedangkan wajah Kaisar terlihat cerah dan bahagia. Semoga saja Zoey masih memiliki perasaan padaku! Batin Kai.


***


Sementara di tempat lain, lebih tepatnya di apartemen tempat tinggal Jenifer, keheningan kembali melanda tempat itu. Pertanyaan yang dilontarkan Mark membuat Jen syok sekaligus penasaran, bagaimana Mark bisa tahu jika dirinya pernah dilamar seseorang.


"Bagaimana Tuan bisa tau kalau aku pernah dilamar?" tanya Jen menyipitkan mata.


"Aku melihat semuanya!"


"Maksudnya gimana ya? Tolong Tuan perjelas."


"Kau dilamar seorang pria di taman kota."


"Jadi ... Tuan membuntuti aku dan Gio?" tanya Jen, memastikan.


"Aku benci mengakui ini, tapi itulah yang terjadi!"


Jen kembali terkejut. Tangan kanannya reflek terangkat menutupi mulutnya yang menganga lebar. Tuan juga melihat Gio menyiumku?! Arghhhhh!


"Aku penasaran dengan jawabanmu waktu itu. Namun saat laki-laki itu mencium bibirmu, aku menjadi emosi dan meninggalkan tempat itu. Ingin sekali aku menancapkan pukulan di wajahnya tapi aku tidak berhak melakukan itu."


"Aku menolaknya dan menampar pipinya. Bisa-bisanya dia melakukan itu padaku!"


Mark menatap cincin di jari manis Jen. "Karena terlalu emosi, aku memutuskan untuk menjauhimu. Tapi dua tahun kemudian kau muncul tiba-tiba di apartemenku dan menyatakan cinta."


"Kau bahkan masih mengingat itu." Jen tersenyum kecut. Ia menunduk kepala dan meremas jemarinya. Rasa sakit atas ucapan Mark kembali merobek bekas jahitan luka di hatinya.


"Bagaimana aku bisa melupakannya?! Saat aku melihat kau telah memakai cincin di jari manismu, aku berpikir jika kau telah menikah dengan laki-laki bernama Gio. Emosi ku semakin menggebu sehingga aku terpaksa berkata seperti itu padamu."


Jen terdiam. Tangannya semakin mengepal erat. Ia mencoba menahan cairan kecil di matanya yang mulai menitik. "Jadi hanya karena kau mengira aku telah menikah dan kau berkata seperti itu padaku, tanpa bertanya dan memastikan kejadian yang sebenarnya?!" suara Jen mulai berubah. Nadanya terdengar seolah ingin menangis dengan kuat, namun tertahankan karena rasa malu.


Mark mengangguk pelan.


"Kau sangat egois ya, Tuan?" tersenyum paksa. "Apa kau tau bagaimana perasaanku saat itu? Ingin rasanya aku menghukum diriku sendiri karena tak bisa memilikimu! Sakit ... sungguh! Sangat sakit!" Jen menepuk dadanya dengan kuat dan mulai menangis. "Aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku sendiri! Tapi aku berusaha tegar dan kuat karena aku masih memikirkan keluargaku! Dan selama empat tahun aku mencoba move on darimu, mencoba memperbaiki diri, mencoba menjadi yang lebih baik, agar aku bisa membuktikan padamu jika aku tidak seperti yang kau katakan!!!"


Mark mengepalkan tangannya dengan erat.


Menyadari ucapannya, Jen membalikkan badannya dan menghapus air matanya. "Maaf! Aku terbawa em---" ucapan Jen terpotong saat sebuah tangan kekar dan berotot memeluknya dari belakang.


"Jangan berbalik dan tetaplah seperti ini!"


Deg!


Jen mematung. Jantungnya berdegup tak karuan. Matanya pun ikut membesar. "Tu--tuan?!" lirihnya.


"Jangan maafkan aku. Tapi biarkan aku memelukmu seperti ini!"


Tetesan air mata berjatuhan di puncak kepala Jenifer. Mark tidak ingin Jen melihat jika dirinya menangis. Maka dari itu ia membiarkan Jen tidak membalikkan badannya dan memeluk gadis itu dengan erat.


"Tuan?! Apa kau---?" Jen langsung membalikkan badannya. Dan benar saja ia mendapati mata Mark yang mengeluarkan cairan bening namun ekspresi wajah Mark masih seperti biasanya, datar.


"Kau mena---"


Manik Jen kembali terbuka lebar saat bibir Mark tiba-tiba mendarat di atas bibir tipisnya. Sesaat kemudian Jen memejamkan mata. Perlahan bibirnya mulai terbuka kecil dan merespon ciuman itu. Jen pun akhirnya mengikuti alur yang Mark ciptakan. Ciuman Mark sangat lembut sehingga membuat Jen tehanyut.


Mark melepas bibirnya dan memegang dagu Jen. "Ini adalah respon atas ucapanmu empat tahun lalu. Tapi karena egoku yang besar, maka aku menjadi pengecut dan hanya bisa melukai hatimu dengan ucapanku yang kasar. Karena itulah, sehingga aku kehilanganmu begitu lama. Aku tak berharap kau memaafkanku. Aku berharap kau menamparku seperti yang kau lakukan pada pria itu."


"Bagaimana bisa aku melakukan itu pada pria yang sangat aku cintai?" lirih Jen dengan mata berkaca-kaca.


Melihat mata Jen yang berlinang air mata, membuat Mark menarik dagu Jen, dan kembali menciumnya dengan lembut. Kali ini durasinya lebih lama dibandingkan tadi. Dengan penuh kasih sayang, Mark melampiaskan perasaannya selama enam tahun. Rasa rindu yang tak terhingga akhirnya bisa lenyap saat ia memeluk bahkan mencium wanita yang sangat dicintainya itu.


"Jangan menjauh lagi, Tuan," bisik Jen.


"Kali ini aku akan tinggal dan menetap," ucap Mark, menyandarkan dahinya di atas dahi Jen.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani


(Oyyyy tolongin otor yang mewek ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ aku yang nulis tapi aku yang terbawa suasana. Sumpah! hampir nggak sanggup buat part Jen dan Mark. Mataku bengkak oy, siapa yang mau tanggung jawab? hik ... hik ... hik!! Yang berasa kek otor yang melow ini tolong sampaikan di kolom komentar yaaa ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜ญ)