Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pulang


Seorang gadis berusia delapan belas tahun tengah duduk berdiam di sofa ruangan tamu. Sambil menunduk Zoey memainkan jemarinya. Sedangkan Soffy duduk berhadapan dengannya. Soffy menatap Zoey dengan tatapan tajam.


Elis yang melihat tingkah kedua majikannya itu hanya bisa diam sembari memperhatikannya. Meski sudah dijelaskan Elis mengenai identitas Zoey tapi Soffy masih tidak percaya. Ia membuat Zoey ketakutan dengan tatapan membunuhnya.


"Apa benar kau sepupunya si kembar?"


"Elis had said it before, but Grandma still couldn't believe it!" (Elis sudah mengatakan sebelumnya, tapi Nenek masih tidak percaya!)


"Ehh busyett nih bocil ngomong apa? Kalau tidak salah tadi aku mendengar ada nama Elis." menggaruk kepalanya. "Ehem." Soffy berdehem sembari mencari kalimat untuk membalas ucapan Zoey. "Iya benar, Elis memang pelayan di rumah ini."


Zoey berkerut dahi. "Loh kok jadi nggak nyambung, Nek?"


"Sudah diam! Jelaskan yang sebenarnya pakai bahasa Indonesia yang baik dan benar!" perintah Soffy.


"Nenek, aku itu memang adik sepupunya Kak Arsen dan Kak Arka. Aku baru saja tiba dari Inggris karena Bibi Helen menyekolahkan aku di sana," jelas Zoey.


"Terus di mana orang tuamu?"


Gadis itu termangu. Ia kembali menundukkan kepalanya dan beraut pias. "Aku anak yatim piatu Nek. Sejak aku berumur lima tahun, kedua orang tuaku meninggal dunia."


Mendengar itu Soffy menjadi tidak enak hati. Ia paham bagaimana perasaan Zoey. Ia kembali terpikir akan Amey yang juga mirip dengan kisah Zoey. Soffy mendekat dan mengusap kepala gadis itu.


"Bocil, aku tahu kau lapar. Aku memasak makanan yang banyak. Ayo makan!" ajak Soffy.


Zoey tidak bergeming dan masih menunduk kepala sembari memainkan jemarinya.


"Ayo tunggu apa lagi? Kau mau mati kelaparan? Sebentar lagi Arsen dan Amey pulang, aku tidak ingin mereka memarahiku karena tidak memberimu makan."


Zoey beranjak dari duduknya dan menatap Soffy. "Nek, apa Nenek orangtuanya kakak ipar?"


"Iya. Aku Neneknya Amey istrinya Kakakmu. Jadi ayo ke dapur dan makan."


Zoey mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju dapur. "Kak Amey? Bukannya Kak Amey pacarnya Kak Arka ya?" gumam Zoey.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Zoey.


"Ehm, Nek. Aku penasaran nih, Kak Amey bukannya pacarnya Kak Arka?"


"Mantan. Sebelum Arka meninggal dia menitip pesan pada Arsen untuk menikahi Amey menggantikannya."


"Oh begitu ya. Waktu itu Bibi Helen sempat memberiku kabar kalau Kak Arka telah meninggal, tapi aku tidak mendapat kabar mengenai pernikahan Kak Arsen."


"Ya sudah, kau makanlah dulu."


"Huaaaaa!" Mata Zoey mengeluarkan binar saat melihat semua makanan yang berbaris rapi di atas meja. Sudah lama ia tidak menyicip makanan khas Indonesia. "Apa Nenek yang memasak ini?"


"Siapa lagi kalau bukan Nenek," ketus Soffy.


Melihat Zoey yang makan dengan lahap, membuat ia kembali membayangkan bagaimana Amey waktu seumuran Zoey. Ia merasa kasihan melihat anak-anak yatim piatu.


"Nek, ini sangat enak," melahap sup rumput laut.


Soffy tersenyum penuh arti.


"Nenek, sepertinya Tuan dan Nyonya sudah datang," ucap Elis.


Mendengar itu Zoey langsung meletakkan alat makannya dan langsung berlari menuju pintu depan. Tidak ketinggalan juga si Nenek Rempong itu yang berlari melambung Zoey yang sudah berada di depan.


"Astaga Nenek, larinya sangat cepat!" celutuk Zoey tidak percaya.


"Aku mantan atlet maraton!"


Zoey hanya mengangguk malas.


Sesampainya kedua orang itu di depan, mereka mendapati Mark yang telah menurunkan sebuah benda. Soffy mengerutkan kening, belum sempat ia membuka mulutnya untuk bertanya, ia langsung dikejutkan dengan pemandangan langka.


Arsen menggendong tubuh Amey dan meletakkannya di kursi roda. Soffy melonjak kaget dan mendekat. "Amey, cucuku! Ada apa denganmu?" tanyanya dengan raut kawatir.


"Halo Nek. Bagaimana keadaan Nenek?" tanya Amey tanpa menjawab pertanyaan Soffy.


Plakkk!


Soffy memukul bokong Arsen. "Heh menantu gila! Kau apakan cucuku, hah?"


Arsen terkejut dengan pukulan Soffy, namun ia tidak menggubrisnya.


"Kakakkkk!" teriak Zoey histeris dan langsung memeluk tubuh Arsen, namun pria itu menahan dahi Zoey dengan telunjuknya.


"Kakak aku merindukanmu," ucap gadis itu.


"Jangan memelukku aku sudah menikah!" menatap Amey.


Arsen mengacak rambut Zoey. "Baiklah, kali ini aku ijinkan. Lain kali kau harus ijin pada istriku!"


"Hah? Yang benar saja?" gumam Zoey malas.


"Jika tidak mau, ya sudah. Jangan menyentuhku."


"Baiklah, aku akan minta ijin sama Kakak Ipar," ucap Zoey yang langsung memeluk tubuh Arsen.


"Hay, apa kau Zoey?" tanya Amey.


"Iya aku Zoey. Kakak bukannya pacarnya Kak Arka?" tanya Zoey polos.


Arsen seketika mendorong pundak Zoey. Semua orang yang ada di situ terperanjat. Mereka tak menyangka Zoey bisa berucap seperti itu di depan Arsen. Mark memasang raut pias, ia tahu jika tuannya mulai naik pitam. Nona muda, kau tahu? Ucapanmu itu bisa membunuhku!


Arsen mengepalkan tangannya. Melihat Arsen yang emosi membuat Amey berpikir keras untuk mencari cara agar situasi yang beku itu menjadi cair. Ia menatap Mark yang juga memandanginya berharap dirinya itu memiliki ide.


"Aduh perutku!" pekik Amey pura-pura kesakitan.


"Ada apa dengan perutmu?" tanya Arsen panik. "Mark, cepat hubungi Pedro!" perintah Arsen.


Wah bisa ketahuan kalau aku ngedrama! ucap Amey dalam hati. "Eh, ti--tidak usah, perutku hanya ... lapar! Iya aku tidak apa-apa. Tidak perlu memanggil dokter. Aku hanya lapar," tersenyum kecut.


"Kau benar tidak apa-apa? Suamimu benar Sayang, kau harus mengontrol ke dokter. Nenek tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu."


"Amey, aku panggilkan dokter ya?" tanya Arsen lembut.


"Tidak usah Ars, aku hanya lapar kok."


"Kalau begitu ayo masuklah, Nenek sudah masakin yang banyak buat kalian," ajak Soffy.


Semuanya pun menuju ke dalam mansion.


Huhh! Hampir saja. Kalau Tuan sampai emosi, bisa-bisa wajahku yang tampan ini babak belur lagi! batin Mark.


Zoey berjalan mendekat ke arah Mark. "Halo, Mark. Senang bertemu denganmu lagi," sapa Zoey tersenyum.


"Halo Nona Muda, senang bertemu juga denganmu. Kau cepat sekali bertumbuh," tutur Mark memandangi tubuh Zoey tingginya setara dengan bahu Mark.


Zoey tersenyum. "Thank You, Mark. Kau semakin tua."


Raut Mark berubah mendengar telak Zoey. Ia menghentikan langkahnya dan mengambil sebuah cermin minimalis di dalam saku celananya dan bercermin. "Goshh! Apa benar wajahku tua? Aku harus melakukan perawatan!" gumam Mark.


Setelah semuanya tiba di ruangan makan, para pelayan rumah itu menyambut kedatangan Tuan dan Nyonya mereka. Mereka berbaris rapi dan menundukkan kepala. "Selamat datang kembali Tuan dan Nyonya Winston," sambut Elis.


Amey tersenyum melihat Elis. Namun semua pelayan itu memasang raut bingung saat melihat Amey yang tengah duduk di kursi roda. Kecuali Elis, ia tersenyum geli. Karena ia paham jika musibah yang menimpa Amey adalah ulah Tuan Mudanya.


"Bagaimana hanamun kalian?" tanya Soffy.


"Honeymoon Nek."


"Yaya, bagaimana dengan itu?"


"Baik-baik saja Nek."


"Tidak baik-baik saja," tukas Arsen tiba-tiba.


"Loh kenapa?" tanya Soffy mengangkat alis setengahnya.


"Jika Nenek, tidak jatuh di tangga, maka aku dan Amey masih akan melanjutkan bulan madu kami."


"Oh jadi kau menyalakan Nenek?" melebarkan mata.


Arsen berdiam.


"Heh, urusan kita belum selesai! Aku masih akan menghajarmu karena telah mengataiku Nensi pada kedua calon kakek Amey!"


Arsen terkekeh dalam hati.


"Sudah, jangan ribut. Ayo makan." Amey menengahi perdebatan suminya dan neneknya.


"Jangan lupakan janjimu," bisik Arsen tersenyum licik.


Seketika Amey terkejut dan menelan saliva dengan kasar. Ya ampun! Aku hampir lupa.


To be continued ...


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘