
Sejak pertemuan tadi siang, raut Mark berubah. Sikap dinginnya bertambah dua kali lipat dari sebelumnya. Arsen paham dengan kondisi Mark saat itu, meski pun sebelum-sebelumnya pria arogan itu suka melakukan seenaknya pada Mark. Tapi kali ini ia membiarkan Mark.
Sore itu Arsen tidak banyak bicara, memerintah Mark untuk melakukan hal-hal yang sering ia kerjakan. Malahan Arsen yang menyelesaikan tugas kantornya dengan sempurna tanpa bantuan Mark. Biasanya jika Arsen merindukan Amey, kapan pun dan di mana pun ia ingin, pastilah pria itu akan pulang ke mansion lebih dulu, dan membiarkan Mark yang mengurus sisanya.
"Kau boleh pulang," ucap Arsen.
"Maaf, Tuan?"
"Sekian untuk hari ini. Kau antarkan aku ke mansion, dan baru setelah itu kau bisa kembali ke apartemenmu."
"Baik Tuan."
Mark tidak banyak bertanya lagi. Meski dalam benaknya timbul berbagai pertanyaan mengenai sikap bosnya. Tidak biasa Arsen mengijinkan Mark pulang sebelum ia menyelesaikan segala pekerjaan kantor maupun urusan pribadi sang bos. Dan terlebih lagi, suasana hati Mark sedang buruk karena baru saja ia mengupas masa lalunya yang selama ini ia tutup rapat. Arsen pun tidak pernah membahasnya!
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita tampak melamun di depan cermin sembari menyisir rambutnya. Amey merasa tidak enak karena ia harus mendengar semua cerita masa lalu Mark yang menyedihkan. Rasa tak enak hati telah mengorek masalah pribadi Mark kini hinggap di pikiran wanita itu. Namun apa mau di kata, nasi sudah menjadi bubur!
"Ternyata kisah cinta Mark, lebih pahit dibanandingkan diriku! Mark kau memanglah pria yang baik. Kau memiliki cinta yang luar biasa besar untuk Eggie. Sangking cintanya, kau rela menikahi adik tirinya yang penyakitan itu. Miris sekali nasibmu, Mark!"
Flashback ON
(Dua belas tahun lalu di New York)
Seperti biasanya, sebelum Mark pulang ke rumahnya dari kantor, ia selalu mampir di tempat tinggal Eggie yang merupakan calon istrinya. Mark sering membeli buket bunga lily untuk diberikan pada Rachel, adik tiri Eggie yang sakit-sakitan.
Hubungan Eggie dengan keluarga tirinya sangat baik. Ia sangat menyayangi Rachel dan sudah menganggap gadis itu sebagai adik kandungnya sendiri. Ibu tiri Eggie juga sangat baik padanya. Maka dari itu, Eggie sangat bahagia memiliki keluarga tiri yang selalu memperhatikannya.
Menjelang pernikahan Mark dan Eggie, penyakit Rachel kambuh. Gadis itu mengidap sakit leukemia akut yang tergolong parah. Ia sudah banyak kali melakukan kemoterapi namun hasilnya nihil. Ia tidak mengalami perubahan.
"Mark, pernikahan kita ditunda dulu dua minggu."
"Lagi? Kenapa?" tanya Mark berkerut dahi.
"Penyakit Rachel kambuh! Tadi Mama meneleponku jika mereka sedang berada di rumah sakit."
"Baiklah. Ayo kita ke rumah sakit dulu," ucap Mark melajukan kendaraan.
Mark paham dengam situasi Eggie. Ia tidak pernah memaksa dan tidak pernah marah jika pernikahan mereka di tunda bahkan sampai beberapa kali. Tidak mungkin bagi mereka untuk menikah sedangkan di rumah sakit terbaring kaku orang yang sangat disayangi Eggie. Karena bagi Eggie, pernikahan adalah soal bahagia. Namun saat itu, keluarganya sedang bersedih karena harus menyaksikan penderitaan Rachel.
"Rachel?!" teriak Eggie dari kejauhan.
"Eggie?" lirih Rachel dengan senyuman.
Eggie berlari dan memeluk adiknya itu. Eggie menangis saat melihat kondisi Rachel yang semakin memburuk. Semakin hari berat badan Rachel menurun, badannya pun dipenuhi memar. Sehelai rambut pun tak tersisa di kepala Rachel. Wajahnya begitu pucat dan sayu.
"Rachel, aku membawakanmu hadiah. Semoga cepat sembuh," menyodorkan buket lily itu pada Rachel.
"Terima kasih, Mark," tersenyum sembari mengendus, mencium aroma wangi bunga itu.
"Rachel, di mana Mama?" tanya Eggie.
"Tadi dokter memanggil Mama. Mungkin mereka sedang membahas mengenai sisa kehidupanku, Haha!" tutur Rachel terbahak miris.
"Rachel! Aku tidak suka dengan ucapanmu kali ini! Apa kau sudah putus asa?!"
"Tadi aku sempat mendengar bisikan dokter pada Mama. Katanya umurku tidak akan lama lagi. Mungkin tinggal beberapa minggu saja."
Eggie dan Mark terperanjat. Ia tidak menyangka jika dokter telah memvonis umur Rachel. Mata Eggie mulai berkaca-kaca. Namun ia tidak ingin menangis. Ia tidak ingin membuat adiknya itu bersedih.
"Dokter bukan Tuhan yang seenaknya menentukan mati hidupnya seseorang! Jadi jangan dengarkan ucapan dokter sialan itu, dan tetaplah hidup! Aku akan selalu berdoa untukmu," tutur Eggie dengan bibir gemetar.
"Hentikan! Kau akan sembuh, Rachel. Jadi jangan berpikiran seperti itu."
"Selama ini laki-laki yang baik dan mau menengokku hanyalah kau," menunjuk Mark dengan ujung matanya. "Sebelum aku mati, aku ingin bilang, jika sebenarnya aku menyukaimu, Mark. Hahah!"
Eggie dan Mark saling menatap. Mereka terkejut dengan pengakuan Rachel. Eggie pun tak dapat berkata-kata lagi. Ia mengepalkan tangannya dan hanya bisa menggeram di dalam hatinya.
"Santai Eggie. Aku tidak akan merebut Mark darimu. Haha! Kau adalah kakakku, dan sebentar lagi Mark juga akan menjadi kakak iparku," tersenyum lebar, namun maniknya mulai berkaca-kaca menahan tangis.
Aku telah berbagi Papa denganmu. Dan mungkinkah aku juga akan berbagi kekasih denganmu, Rachel? Kau dan Mama sangat baik padaku. Kalian mengisi hidupku dengan kebahagiaan. Tapi ... benarkah tindakanku jika aku harus melepaskan Mark demi dirimu?
"Eggie, aku ingin menikah!" ketus Rachel lantang.
"Me--menikah?"
"Aku ingin menikah sebelum aku mati. Bisakah kau mencarikanku pria yang baik seperti tunanganmu ini?"
Eggie membisu. Kali ini ia tidak yakin dengan jawabannya. Ia menatap Mark yang juga sendang menatapnya dengan penuh tanda tanya.
"Eggie? Kau mendengarku?"
"Iya aku mendengarmu, Rachel. Aku akan berusaha mencarikanmu pria yang baik," memeluk Rachel.
Eggie tak kuasa lagi menahan tangisnya. Saat memeluk tubuh Rachel, air matanya langsung berjatuhan membasahi pipinya. Begitu juga dengan Rachel. Gadis itu tersenyum namun cairan bening terus mengalir di pipinya.
***
Tiga hari menjelang pernikahan.
"Apa kau bilang?" tanya Mark menaikan nada.
"Menikahlah dengan Rachel, Mark. Aku mohon padamu," pinta Eggie memelas.
"Tidak ... tidak! Aku mencintaimu, Eggie. Dan hari pernikahan kita tiga hari lagi! Persiapannya pun sudah matang, dan kau mau menikahkan aku dengan orang lain?"
"Mark, hentikan! Rachel bukan orang lain bagiku! Meski aku dan dia tidak satu darah, namun dia tetaplah Rachel, adik yang aku sayangi, Mark! Kau tidak paham dengan posisiku saat ini! Jika boleh, aku ingin bertukar posisi dengan Rachel. Biar saja aku yang menderita, dibandingkan harus tersiksa melihat kondisi Rachel saat ini!" Eggie mulai menangis tersedu-sedu.
"Sayang," memeluk Eggie.
"Mark, kalau kau mencintaiku, nikahi Rachel! Aku ingin melihatnya bahagia di hari-hari terakhirnya. Meski aku masih belum bisa menerima waktu kematiannya."
Mark terdiam. Ia juga tak bisa menahan lagi air matanya. Ia menangis sambil memeluk Eggie. Tak bisa membayangkan jika ia harus menikahi wanita yang tidak dicintainya. Terlebih lagi wanita itu adalah adik dari tunangannya sendiri.
"Eggie, aku sangat mencintaimu. Teramat sangat mencitaimu! Aku akan menuruti permintaanmu."
"Aku juga mencintaimu, Mark. Jika kau menikah nanti, aku mohon jangan menemuiku lagi. Berjanjilah jika kau akan merahasiakan hubungan kita kepada siapa pun. Anggap saja kita tidak pernah bertemu dan tidak pernah bertungangan. Aku juga akan menjauh darimu dan mencari kebahagiaanku."
Mark mengepalkan tangannya. Matanya memerah menahan emosi. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia mengeratkan rahangya karena mendengar ucapan Eggie.
"Baiklah. Aku akan membuktikan bagaimana besarnya cintaku padamu, Eggie. Meski dengan cara harus menikahi wanita lain. Tapi ... "
Eggie melepas pelukannya. "Tapi apa Mark?"
"Aku bersumpah dan bernazar, setelah menikah dengan Rachel, aku tidak akan membuka hati untuk wanita lain! Aku akan hidup tanpa mengenal cinta! Detik ini juga, hatiku sudah beku dan tak bisa dicairkan oleh siapa pun!"
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*