Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Rebutan Nensi


Di tempat favorit ruletam alias rukun bule tampan, terlihat Jay yang lagi asik menggoyangkan kepalanya mengikuti irama musik yang berdentum sangat keras. Dari arah kejauhan ia telah melihat Kai yang baru usai mantap-mantapan sama Lady Rose bayarannya.


Kai menepuk bahu Jayden membuat pria yang sedang asik memainkan ponselnya menatap Kai menyeringai. "Tumben nggak lama seperti biasanya." tutur Jayden.


"Nggak mood." jawab Kai singkat.


"Why?"


"Bosan sih menyantap lobang yang udah melar! Maunya yang sempit-sempit gimana gitu." mengisap rokok.


"Wah gila kau Kai! Seleramu berpindah ama bocil-bocil yang susunya belum keluar? HAHA!" ejek Jayden.


"Yang penting masih perawan!" celutuk Kai agak kesal.


"Dasar cabul. Haha."


"Ehh, btw mana sih King of the night? sudah dua jam nunggu belum nongol-nongol tuh anak." timpal Kai.


"Entahlah. Mungkin dia sedang enak-enakan sama istrinya. Secara the best couple Haha."


"Mana mungkin? Kau tidak lihat jika Arsen sering berlaku kasar terhadap Amey? Aku pernah dengar dia ngomong kalau tuh anak nggak bakalan nyentuh si Amey karena secara wanita itu milik Arka." jelas Kai.


"Siapa yang tahu?" mengangkat bahunya.


Percakapan mereka terhenti saat melihat Arsen yang tiba-tiba bergabung dan merebahkan tubuhnya di sofa. "Apa yang kalian bicarakan tentangku, Hah?" tukas Arsen menatap keduanya dengan tajam.


"Nggak ada. Kenapa kau lama sekali?" tanya Kai dengan kepo.


"Aku mengendap keluar."


"Hah? Kenapa? Memangnya siapa yang tidak mengijinimu keluar?" tanya Jay kaget.


"Apa Amey melarangmu?" tambah Kai.


"Ngapain juga dia melarangku! Dia tidak perduli dengan kehidupan pribadiku, begitu juga sebaliknya."


"Terus, kenapa kau mengendap seperti maling?"


"Kau tahu kan di rumahku ada Nensi?"


Kedua sahabat Arsen mengerutkan kening sembari memutar otak mereka. Setahu keduanya di rumah keluarga Winston tidak ada yang namanya Nensi.


"Nensi? Siapa dia?" tanya Jay.


"Siapa pun wanita itu pasti dia sangat hebat dan perkasa. Haha, buktinya seorang Arsen Winston tunduk kepadanya." Kai terbahak membuat Arsen mengepalkan tangannya.


Ide gila muncul di benak Arsen. "Kalian mau berkenalan dengan Nensi?" tanya Arsen menyunggingkan bibir.


"Boleh juga tuh. Aku sih sangat yakin jika rekomendasimu pasti tidak akan mengecewakan. Haha." Giliran Jay yang terbahak.


"Jadi siapa yang duluan mau kenalan sama Nensi?"


"Ya Akulah." tutur Jay.


"Jangan mimpi kau Jay, Nensi santapanku." ucap Kai memutar bola matanya.


"Ehh Kai, kau jangan serakah dong. Kan kamu tadi baru selesai main kuda-kudaan. Giliran juniorku kaleee!"


Arsen yang melihat tingkah sahabatnya yang memperebutkan Nensi hanya terbahak dalam batinnya. Seandainya kalian tahu siapa Nensi, pasti kalian nggak bakalan rebut-rebutan kayak gini. Haha. Jadi nggak sabar menyaksikan pertunjukkan. ucap Arsen dalam hati.


"Ars, pokoknya aku nggak mau tahu ya Nensi itu punyaku. Aku yang lebih dulu dari Kai."


"Enak saja." ucap Kai menendang kaki meja.


"Atau begini saja, aku bakalan kasih nomor Nensi ke kalian berdua. Jadi siapa pun yang dipilih Nensi harus ada yang mengalah dengan iklas." ucap Arsen menengahi.


"Maksud kau, aku dan Kai dekatin Nensi gitu?" tanya Jayden.


"Yup! Tapi dengan satu syarat. Selama seminggu kalian belum boleh video call ataupun bertemu Nensi secara langsung. Cukup chattingan doang."


"Loh kok gitu. Gimana Nensi bakal milih kalau kita tidak bisa ajak wanita itu jalan-jalan." tukas Kaisar.


"Okeee siapa takut. Deal!" ucap Jayden.


"Deal!"


"Deal!"


Kaisar dan Jayden kena tipuan Arsen. Sesungguhnya Nensi yang di maksud adalah Nenek Sihir alias Nenek Soffy. Kali ini Arsen berhasil mengerjai kedua sahabatnya yang haus akan wanita.


"Wah gila! Aku makin penasaran sama Nensi. Secara dia mampu menaklukan seorang Arsen." gumam Kai sembari membayangkan perawakan Nensi, apalagi tubuhnya yang montok dan menggoda.


"Aku bakalan kirim nomor Nensi besok." ucap Arsen.


"betewe, nih Nensi anak siapa Ars? Kok bisa ada di rumahmu? Apa Amey nggak keberatan?" tanya Jayden.


"Nyasar!"jawab Arsen singkat.


"Hah? Kenapa bisa nyasar?" tanya Kai penasaran.


"Saat tornado, dia keselip di sela pintu rumahku. Jadi ku ajak tunggal di sana."


"HAHA!" Kedua temannya itu terkekeh mendengar candaan Arsen yang tidak masuk akal. Setelah mendengar jawaban aneh dari Arsen, mereka pun tidak lagi mementingkan dari mana asal wanita itu, yang pasti si Nensi bisa memuaskan dahaga kedua pria bule itu.


"Yuhuuu dapat lobang sempit lagi." ucap Kaisar antusias.


Arsen masih terbahak dalam hatinya. Ia mulai membayangkan bagaimana reaksi Kai dan Jay saat bertemu dengan Nensi. M*mpus kalian berdua Haha. Makanya jangan terlalu banyak bercinta.


Kaisar menumpahkan wine di gelas Arsen dan Jayden. Mereka bertiga bersulang untuk Arsen atas kesuksesan klarifisasi di media, dan juga bersulang untuk sayembara mendapatkan hati Nensi.


***


Amey sedari tadi mondar-mandir tidak jelas di depan kaca. Ia memriksa ponselnya yang tidak memiliki notifikasi apa pun. Ia menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


Ia merebahkan tubuhnya dan berguling-guling di atas ranjang sembari mencari posisi yang nyaman. Namun semuanya nihil. Amey kembali mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di sofa.


Kegelisahan kembali menggerogoti hati Amey. Ruangan yang teramat sunyi senyap, hanya detagan jarum jam yang terdengar memecah keheningan. Seketika wanita yang duduk di sofa memalingkan wajah ke arah pintu berharap ada seseorang yang masuk.


"Kenapa pria itu belum juga pulang? Aduhhh! Bagaimana kalau dia mabuk dan memperkosaku, bisa nambah masalah nih. Mabuknya nggak tertolong lagi." gumam Amey kawatir.


Amey terus berpikir dan berpikir sehingga membuatnya terlelap di sofa dengan posisi kepala bersandar di kepala sofa sedangkan kakinya masih bertumpuh di atas lantai.


Jam telah menunjukkan pukul empat dini hari. Arsen tiba di mansion dan segera berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar ia melihat istrinya sedang bersandar di kepala sofa.


Arsen berjalan perlahan menuju ke arah Amey. Ia menatap wanita itu yang sedang memejamkan mata. Wajah Amey masih tetap cantik meski tanpa make up dan dalam keadaan tertidur.


"Kenapa dia tidur di sini? Apa dia menungguku pulang?" gumam Arsen.


Pria itu tidak terlihat mabuk dan masih sadar seratus persen. Ia menyentuh pundak Amey dengan maksud membangunkannya. Namun tiba-tiba tangan Amey menariknya sehingga tubuh Arsen berada dekat di depan tubuh Amey.


Dengan sangat jelas Arsen melihat wajah Amey. Ia menatap wajah itu lumayan lama. Arsen menelan saliva sembari matanya memandangi belutnya yang mulai menjulang nyata dibalik celana.


Shit! Lagi-lagi adik kecilku bangun hanya dengan menatap wajah wanita ini! Jangan merontah Ars junior, aku sudah memperingatimu kalau wanita ini bukan santapanmu.


Arsen segera mengangkat tubuh Amey dan memindahkannya di ranjang. Wajah Arsen memerah, denyut jantungnya memompa semakin kencang. Rasa panas seolah terbakar menyelimuti badannya.


Setelah meletakkan tubuh Amey di ranjang, ia kembali memandangi wajah cantik Amey. Rasa ingin menyentuh tubuh Amey kembali muncul di benaknya. Arsen segera menyelimuti wanita itu dan bergegas menuju ke kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya yang menegang panas.


Arsen mengganti pakaian tidur. Tidak sengaja matanya menjeling ke arah Amey yang masih terlelap. Amey mengenakan terusan pendek yang merupakan piyama tidurnya.


Tiba-tiba Amey menendang selimut itu sehingga lepas dari tubuhnya dan memperlihatkan paha putih mulus milik Amey. Suatu balutan kain berwarna putih lainnya terpampang nyata di celah kangkang yang terbuka sekitar sepuluh senti.


Arsen kembali menelan saliva dengan kasar. Tubuh Amey begitu menggoda. Ars junior kembali bangkit tanpa mendengar arahan sang pemilik. Arsen mendekat ke arah Amey. Betapa terkejutnya ia ketika melihat celana dalam Amey yang kelihatan begitu jelas di matanya.


Pikiran liar Arsen kembali berdisko ria. Ia naik ke ranjang dan perlahan menyentuh bagian perut Amey. Amey mendesah pelan saat tangan nakal itu mulai menjalar ke bagian bawah Amey.


Seketika wajah Arka terlintas di benaknya dan membuat Arsen segera menghentikan aksinya. "Bodoh! hampir saja aku bermain dengan wanita milik Arka." gumam Arsen sembari menutup tubuh Amey dengan selimut.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘