Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Pertemuan Kembali


Layaknya mengikuti ajang pemilihan putri Indonesia, semua mata tertuju pada Soffy dan Zoey. Bagaimana tidak, penampilan Nenek Rempong itu berhasil menarik perhatian para mahasiswa bahkan pun dosen yang ada di gedung itu.Dengan penuh percaya diri Soffy membuka kacamata hitamnya, melebarkan senyum dan mengikuti Zoey dari belakang.


Beginilah rasanya jadi horang kayahhh! Haha, tuh 'kan semuanya pada liatin aku. Tuhan itu memang adil, kalau sampai aku jadi artis, bisa-bisa Syahrini memiliki saingan. Makanya Tuhan tidak mengijinkanku jadi artis karena bakal menjadi miss world dan menyayingi artis-artis tripleks atas, eh papan atas maksudnya hihihi.


"Eh, Nenek? Kenapa ikut ke kelas?" tanya Zoey terkejut melihat Soffy yang berada di belakangnya.


"Memangnya kampus ini melarang nenek-nenek masuk ke kelas juga?"


"Ya nggak sih. Tapi 'kan ... "


"Sudah diamlah!"


Soffy memang sengaja mengantar Zoey sampai ke kelasnya. Karena banyak sekali laki-laki yang mengganggu Zoey. Jelas saja karena perawakan gadis itu yang sangat cantik. Tak hanya laki-laki, perempuan pun sering menjaili Zoey karena iri dengan kecantikannya, apalagi senior perempuan yang galaknya minta ampun.


Tapi selama Zoey bersama Soffy tidak ada yang berani mengusik ketenangannya. Pasalnya Soffy pernah menghajar seorang laki-laki yang menggoda Zoey saat pulang kampus. Mulai dari situ tidak ada lagi yang berani merayu Zoey apalagi sampai menyentuhnya. Dan dari situlah mereka mulai tahu identitas Zoey yang ternyata berasal dari keluarga Winston.


Memang siapa yang berani mengusik keluarga Winston? Menganggu anggota keluarga, berarti sama halnya dengan mengibarkan bendera perang dengan Arsen si Tuan Arogan yang kejamnya minta ampun. Jika sudah berhadapan dengan pria itu, dijamin malaikat maut pasti sudah berjarak satu senti dengan si pengusik itu.


"Selamat pagi Zoey," sapa seoarang senior laki-laki.


"Pagi Kak," menundukkan kepala sembari tersenyum ramah.


"Oy! Ada orang tua di sini! Tidak sopan sekali!" sindir Soffy menatap lelaki itu dengan tajam.


"Se--selamat pagi Nek," sapanya terpaksa.


"Kerrrr!" Soffy menggeram sembari menunjukkan cakar kuku layaknya kucing yang sedang memasang kuda-kuda untuk berkelahi.


"Seremmm!" gumam pria itu yang langsung berlalu meninggalkan kedua orang itu.


Soffy dan Zoey saling menatap dan terbahak bersama. "Hahaha! Nenek kau berhasil membuat ketua BEM lari pontang-panting."


"Dia pikir aku ini setan apa? Haha!"


"Iyalah Nek. Ngapain juga Nenek pakai lipstik hitam? 'Kan terlihat seperti setan, Nek. Haha!"


"Setan setan! Ini namanya pesionnn!"


"Fasion Nek."


"Iya itu maksudku."


"Haha, ya sudah Nek, aku masuk ke kelas dulu."


"Baiklah. Nenek akan menjemputmu setelah selesai Jangan lupa kabarin Nenek."


"Siap ketua!"


Ketika Soffy hendak berjalan meninggalkan Zoey, tiba-tiba seorang pria tinggi, tampan, kekar yang memiliki wajah mirip aktor korea selatan tampak berjalan menuju ke arah mereka dengan membawa beberapa buku di tangannya. Mata Soffy langsung mengeluarkan binar bening berlian.


"Ododoehh, Leeminho oppa!" gumam Soffy yang masih menatap pria itu dengan tatapan mengingini.


"Astaga dragon! Nek, itu dosen sejarahku. Aku masuk kelas dulu. Dah Nenek!"


Langkah Zoey tiba-tiba berhenti karena tangan Soffy menarik kerah baju Zoey. "Bocil! Tunggu dulu!"


"Ada apa Nek? Aku keburu nih, mana dosennya killer lagi!"


Pria tampan yang menggunakan kemeja putih itu berhenti tepat di depan mereka berdua. "Zoey, kenapa masih diluar?" tanya pria itu yang tak lain adalah dosen Zoey.


Suaranya begitu seksi. Oh dragon! Kau salah satu dari banyak ciptaan Tuhan yang seksi! batin Soffy sembari menelan salivanya.


Mata Soffy tak berhenti memandangi jakun pria itu. Sesekali ia menjulurkan lidahnya karena tak kuasa menahan gejolak asmara yang merontah-rontah.


"Pak, maafkan aku," tutur Zoey.


"Oppa ... " lirih Soffy.


"Oppa? Siapa Oppa?" tanya pria itu bingung.


"Kamu mirip Leeminhoku, hehe."


"Apa Anda Neneknya Zoey?"


"Iya benar," jawabnya centil.


"Saya Zain, dosen sejarah Zoey," menyodorkan tangannya.


Secepat kilat Soffy menerima tangan putih nan mulus itu. "Aku Soffy, si cantik yang selalu awet mudah dan tak pernah tua," ucapnya sembari mengedip-ngedipkan matanya.


"Nenek ..." bisik Zoey tak enak hati pada Zain.


"Bocil, tolongin Nenek dong. Ambilkan gambar Nenek bersama Zain Oppa," pinta Soffy.


Zoey menepuk jidatnya. "Nek, Pak Zain sebentar lagi akan mengajar. Gimana kalau Pak Zain terlambat?" tutur Zoey.


"Tidak mengapa," ucap Zain.


Pria itu sebenarnya terlihat risih, namun karena ia sudah terlanjur mengiyakannya, maka ia pun harus menerima segala perlakuan Soffy.


"Satu ... dua ... tiga!"


"Lagi-lagi."


Zoey mendengus malas. "Baiklah, satu .. dua ... tiga! Sudah ya Nek."


"Hahah, oke zheyenkkkk!" mengambil ponselnya kembali. "Eh, Oppa, titip Zoey ya."


Zain mengangguk dan langsung masuk ke dalam kelas. Sementara Zoey mengikutinya dari belakang.


"Bocil, semangat!" tutur Soffy mengepalkan kedua tangannya di depan dada.


Zoey mengangguk.


***


Siang itu Arsen menyuruh Mark untuk menghandle pekerjaan kantornya karena hari itu ia tidak ingin diganggu oleh kesibukan kantornya. Tentu saja karena Arsen sedang menikmati hari bahagianya dengan Amey setelah mengetahui jika istrinya itu sedang mengandung anaknya.


Dalam perjalanan menuju ke kantor, Mark terjebak macet. Sudah kurang lebih lima belas menit ia terjebak di sana. Ia terlihat kesal dan sesekali membunyikan klakson. Kedua orang yang ada di depannya menjadi risih saat Mark membunyikan klakson.


Sebenarnya Mark kesal bukan hanya karena terjebak macet, namun karena ia harus melihat seorang pria dan wanita yang sedang asik bermesraan di depan mobil yang ia kendarai. Pasangan kekasih itu menggunakan kendaraan roda dua dan memarkan kemesraan mereka lewat berpelukan sambil cengengesan tak jelas.


Tin .. tin ... tin


Lagi-lagi gadis yang berbonceng itu melonjak. Merasa tak suka dengan sikap Mark, kini sang cowok pun turun dari motor dan menghampiri Mark. Ia mengetuk jendela kaca Mark, dan Mark pun membukanya.


"Apa Anda sengaja melakukan itu?" tanya seorang pria yang tadinya mengendarai motor.


"Klakson saya rusak," jawab Mark datar.


Plakkkkk!


Pria itu memukul atap mobil Mark dengan kuat sehingga membuat Mark menatap pria itu dengan tatapan membunuh.


"Ehh bro! Lain kali kalau mobil rusak jangan di bawa! Menganggu kenyamanan pengendara lain saja!" ketus pria itu yang terlihat seperti karyawan kantor yang menggunakan setelan.


Mark naik pitam. Ingin sekali ia memukul pria itu, namun ia menahannya. Mark bukanlah ciri-ciri pria yang suka memukul seenaknya dan membuat kegaduhan tanpa berpikir panjang.


"Cihh! Dia pikir dia siapa? Pamer kemesraan di tengah kemacetan! Dia kira jalanan ini milik buyutnya apa?" gumam Mark jengkel.


Beberapa saat kemudian akhirnya Mark bisa bernapas lega. Ia telah keluar dari tengah kemacetan. Mark melajukan kendaraannya dengan kecepatan di atas rata-rata namun masih bisa dikontrol.


Kikkkkkkkkkk!


Mark menginjak pedal remnya dengan segera saat melihat sebuah motor metik yang menghalangi jalannya. Tampaknya motor itu baru saja mengalami kecelakaan. Mark turun dan melihat si pengendara itu yang duduk di jalanan sembari menyeka darahnya di lutut.


"Nona, apa Anda tidak apa-apa?" tanya Mark hendak membantu.


"Bisakah kau meno ..." menjeda kalimatnya saat melihat wajah Mark. "Tu--tuan dasi merah?"


"Kau? Gadis dasi merah?" tutur Mark menerka.


Lama mereka bertatap dengan canggung. Mark segera tersadar dari pandangannya dan membantu Jen menepikan motornya.


"Kenapa kau bisa celaka seperti ini?" tanya Mark.


Jenifer berdiam. Ia mengalihkan pandangannya dan tidak ingin melihat Mark. "Aku tidak apa-apa."


Mark berlari menuju mobilnya dan mengambil sebuah kotak berisikan peralatan untuk mencegah luka. "Pakai ini,” menyodorkan kotak berwarna putih itu.


Jen mengambilnya tanpa bersuara. Ia terlihat menahan tangisnya. Jen membuka kotak itu dan mengambil sebuah kapas bersama alkohol untuk membersihkan lukanya.


"Hey? Sesakit itukah sampai kau menangis?"


Jen tak menggubris. Ia bahkan belum menyentuh lukanya dengan kapas dan alkohol tapi raut wajahnya begitu murung serta matanya mulai mengeluarkan cairan. "Ini ... ini begitu sakit! Hik ...hik!" mulai menangis.


"Berhenti menangis!" tutur Mark memandangi sekelilingnya. Orang-orang pun yang lewat menatap Mark dengan sinis karena membuat seorang wanita menangis.


"Aku tidak menangis, aku hanya bersedih. Hik ... hik ..."


Mark mengambil kapas itu dan berlutut mengobati luka Jenifer. Ia sangat benci menerima pandangan buruk dari orang lain terhadap dirinya meski bukan ia penyebab Jen menangis.


"Aku tidak percaya dia selingkuh! Hik ... hik ... hik!"


Apa? Siapa yang berselingkuh? Ja--jadi, gadis ini menangis bukan karena luka ini? Tapi karena diselingkuhin. Ohh goshhhh!


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘


Follow ig : @stivaniquinzel