Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Harapan Arsen


Kondisi Amey perlahan mulai pulih. Beberapa menit yang lalu para perawat telah memindahkan Amey di ruangan yang ia tempati sebelum operasi. Walaupun tubuhnya masih sedikit lemah, namun saat melihat kehadiran keempat bayi laki-laki kembarnya, membuat ia merasa telah pulih seratus persen.


Sesudah diberi ASI, ketiga Winston junior berbaring tepat di sebelah Amey. Senyum kebahagiaan terpancar di wajah keluarga Winston. Apalagi Arsen, ia tak henti-hentinya mencium tangan ketiga Winston junior itu.


"Sayang, trima kasih telah melahirkan keempat anakku," mengecup kening Amey.


Amey tersenyum dan mengangguk pelan. "Ars, apa kau sudah memiliki nama untuk anak-anak kita?" tanyanya.


"Aku sudah memiliki dua nama. Yang sulung namanya Edward Winston, dan yang kedua Edhan Winston. Sisanya kau yang namakan."


"Ehem!" Mark berdehem.


Arsen dan Amey menatap Mark dengan heran.


"Ehem!" Mark berdehem untuk kedua kalinya.


"Aku tau apa maksudmu, Mark," tutur Arsen memutar bola matanya. "Sebenarnya nama Edward dan Edhan adalah saran dari Mark."


Mark mengangguk sembari melemparkan senyum kecil pada ketiga bayi mungil itu.


"Apa kau sudah puas?!" celutuk Arsen.


"Sangat puas Tuan," ucap Mark.


"Dasar Jodi sinting!"


Amey terkekeh mendengar pertengkaran singkat Arsen dan Mark. "Jangan galak-galak Sayang. Nanti anak-anakmu tertular, haha!"


Mendengar itu, ketiga bayi yang memejamkan mata itu melebarkan senyum.


"Kau lihat itu, Sayang? Mereka tersenyum," tutur Amey.


"Ya! Aku melihatnya."


"Aku akan menamakan bayi yang ketiga Edgar Winston dan yang bungsu Edzel Winston. Bagaimana menurutmu?"


"Aku setuju!" ketus Arsen.


"Edward, Edhan, Edgar dan Edzel selamat datang di keluarga Winston. Daddy dan Mommy menyambut kalian dengan penuh bahagia."


Semua yang ada di ruangan itu tersenyum bahagia.


"Ya amsyonggg! Sulit sekali nama-namanya," lirih Soffy.


"Enggak kok, Nek. Namanya sangat bagus. Cocok sekali dengan keempatnya," kilah Zoey.


"Hufthhh! Bakal salah kipra kalau begini. Mana wajah keempatnya gak ada beda lagi."


Zoey terkekeh pelan.


"Welcome, keempat Tuan Muda. Semoga kalian tidak mewarisi sifat ayah kalian," ucap Mark.


"Aku mendengarnya, Mark!" tukas Arsen.


Mark menuduk kepala.


"Kau jangan dulu mati. Kau harus membantuku mengurus anak kembarku!"


"Aku mengerti Tuan."


"Arsen, jangan galak-galak. Kau 'kan sudah jadi menjadi seorang Daddy," ucap Michael.


"Papa kamu benar, Nak," tambah Helen.


Arsen berdiam.


"Bakal ada Tuan-tuan Arogan junior nih, haha!" tutur Kaisar.


"Aku penasaran, bagaimana nanti sifat mereka. Apakah akan mengikuti sifat Arsen yang dingin atau mengikuti sifat Amey yang keras kepala," sambung Jayden.


"Jay, kau membuatku ngeri membayangkannya. Perpaduan yang sangat unik, haha!"


"SHUT UP!!" teriak Arsen.


"Oekkk ... oekkk!"


Suara besar Arsen membuat ketiga bayi yang masih berumur beberapa jam itu menangis. Mereka seolah sudah mengerti jika Ayah mereka sedang marah.


"Sayang! Kau membuat mereka ketakutan!"


"Maafkan Daddy, Sayang. Cup ... cup .. cup. Jangan menangis lagi. Daddy akan memukul kedua paman sialan kalian, karena sudah membuat anak-abak Daddy menangis."


"Lohh, kok jadi kita yang disalahkan?!" ucap Kaisar.


"Diamlah kalau tidak ingin wajah pas-pasan kalian babak belur!"


Kaisar dan Jayden terpaksa menutup mulut mereka dengan rapat.


Setelah sekian lama bayi-bayinya berbaring di ranjang. Para perawat mulai memindahkan mereka ke tempat tidur bayi supaya Amey bisa dengan nyaman beristirahat. Mengingat kondisinya yang masih belum stabil, maka Amey belum bisa bergerak lebih.


"Kalian pulanglah. Biar aku yang menjaga Memey dan keempat Winston junior," ucap Arsen.


"Kalau begitu Mama dan Papa pamit pulang. Besok kami akan ke sini lagi."


"Seharusnya Mama yang bilang begitu. Kalau ada apa-apa kabarin Mama dan Papa."


"Baiklah. Mark akan mengantar kalian."


"Tidak usah, Sayang. Mark di sini saja bersama kamu. Nanti Papa yang menyetir," tutur Michael.


"Baiklah kalau begitu."


Helen dan Michael berjalan menuju ketiga bayi mungil itu.


"Oma dan Opa pamit ya Sayang. Oma masih bingung membedakan kalian. Jadi Oma belum bisa memanggil nama kalian satu persatu. Tapi Oma akan balik lagi besok untuk berkunjung. Tidur yang nyenyak ya Sayang."


"Papa jadi teringat akan Arsen dan Arka waktu bayi," ucap Michael.


"Mama juga."


Helen dan Michael meninggalakan ruangan itu.


Soffy, Jen dan Zoey pun berpamitan kepada ketiga bayi mungil yang telah tertidur lelap itu.


"Ucok, Ungke, Utu, Nenek pamit yaa."


"Ehh, Nek, kenapa Nenek merubah panggilannya?" tanya Jen.


"Lidah Nenek sulit menyebut nama-nama mereka. Di tambah lagi wajah mereka yang sama semua, jadi Nenek berikan nama yang lebih nyaman di lidah Nenek."


"Iya sih mirip semua. Hanya tanda lahirlah yang akan membedakan mereka," timpal Zoey.


"Ya sudah ayo kita pergi," ajak Jen.


"Aunty pamit ya, Edward, Edhan dan Edgar. Dan untuk Edzel, semoga cepat pulih agar bisa bergabung dengan ketiga kembarmu," ucap Zoey.


Mereka pun keluar dari ruangan itu.


"Ars, Amey, aku dan Jayden juga pamit pulang. Kalau ada waktu luang besok kami akan ke sini lagi."


"Baiklah Kaisar. Kalian hati-hati di jalan."


"Tak ke sini juga tak apa. Kalian hanya akan membuat anak-anakku menangis."


"Ishhh Sayang. Gara-gara kau berteriak kuat, anak-anak kita jadi takut dan menangis!"


"Salah mereka!"


"Amey benar, Ars," ucap Jayden.


"Ya sudah. Kami tinggal dulu." Kaisar dan Jayden menuju tempat tidur bayi untuk berpamitan.


"Uncle pulang dulu, Ed's!" tutur Jayden.


"Ingat apa kata Uncle! Jangan meniru kelakuan Daddy kalian," bisik Kaisar.


"Bedebah gila! Memangnya mereka anak siapa? Ya wajarlah kalau sifat mereka akan mirip denganku!"


"Gila! Telinganya tajam banget!" lirih Kaisar sembari berjalan meninggalkan tempat itu.


Ruangan itu kembali sepi. Hanya Mark dan Arsen yang tertinggal di sana.


"Memey, kau beristirahatlah. Aku akan menjenguk Edzel."


"Iya Sayang."


"Mark, kau ikut denganku."


"Baik Tuan."


Arsen dan Mark keluar dari ruangan. Seperti biasa, di saat para perawat melihat Arsen telah keluar, mereka masuk ke ruangan Amey untuk menjaga Istri kesayangan Tuan Arogan.


Hati Arsen kembali sesak saat menuju ruangan anak bungsunya. Dalam hatinya terus berdoa agar bayi mungilnya selamat dari masa kritisnya. Ia ingin sekali melihat si bungsu bisa membuka mata dan melihatnya.


Saat mereka sampai di ruangan Edzel, tanpa di sadarinya ia kembali meneteskan air mata. Ia merasa tak tega melihat malaikat kecilnya dipenuhi dengan benda-benda aneh yang melekat di tubuh anaknya itu.


Sepertinya Tuan sangat sedih. Batin Mark. Ia membalikkan badannya dan membiarkan Arsen menangis sambil mendoakan bayi mungil itu.


"Sayang, cepatlah sadar. Daddy ingin sekali memelukmu dan bermain denganmu."


Hati Arsen bertambah sakit karena ia hanya bisa melihat sang buah hati dari kejauhan. Tak bisa menyentuh bahkan pun tak bisa memeluk.


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani