
"Nyonya Winston, apa kau ada waktu malam ini?"
"Ya ada! Tapi waktukku untuk suamiku."
Ceklekk
"Siapa yang menyuruhmu?!" ketus Arsen tiba-tiba.
"Ehh, Sayang? Kapan kau tiba? Kenapa tidak memberitahuku kalau kau akan ke sini?"
"Aku sengaja kemari karena mendengar kau akan bertemu Eyeshadow ini!"
Mr. Shadow terbelalak. "E--eyeshadow?" gumamnya lirih.
"Hey, kau?! Aku tau jika Sayur Kol menyuruhmu kemari dan menggoda istriku! Aku tau juga kalau kau kemari hanya untuk memaksa istriku untuk makan malam bersama Sayur Kol basi itu!"
"Sayang ..." lirih Amey.
Arsen mengangkat tangan kanannya mengisyaratkan Amey untuk diam.
"Haha. Mr. Winston, kau ternyata humoris juga. Tapi sayang, apa yang kau ucapkan itu salah besar!"
"Jangan main-main denganku Shadow! Kau pikir aku bodoh, hah?!" mengepalkan tangannya.
"Sayang tenang! Jangan marah-marah. Mr. Shadow adalah klienku."
"Dia bukan klienmu, Sayang. Dia adalah orang suruhan Rion."
"Memangnya kenapa kalau Mr. Shadow suruhan Rion? Aku 'kan nggak ngapa-ngapain Ars. Aku hanya membahas mengenai bisnis."
"Memey, kau tidak tau bagaimana liciknya Keluarga Collin!"
"Astaga! Kau memang sudah keterlaluan Ars! Apa kau cemburu karena aku dan Rion teman lama, sampai-sampai kau mau mengaitkan Rion dan Mr. Shadow agar kau bisa melampiaskan amarahmu pada Mr. Shadow?!"
Arsen menarik napasnya panjang. Ia berusaha menahan emosinya yang sudah hampir meledak. Sedangkan Shadow tersenyum kecut menatap pertengkaran pasutri itu.
"Ehem!" Shadow berdehem. "Maafkan atas kelancangan saya, Tuan dan Nyonya Winston. Sebaiknya kalian selesaikan masalah kalian terlebih dahulu," beranjak dari duduknya.
"Maafkan saya, Mr. Shadow. Kita akan bertemu lagi setelah kesalahpahaman ini selesai."
"Bagaimana kalau aku punya bukti, jika kau adalah orang suruhan Rion?" tukas Arsen membuat Shadow menghentikan langkahnya.
Amey mengernyitkan keningnya. Ia tahu jika suaminya tidak main-main dengan ucapannya.
"Haha! Tuan Winston, bukti apa yang kau punya?"
Arsen terdiam. Ia menatap Mark dan memberi kode pada asistennya itu. Namun Mark menggeleng kepalanya. Arsen pun memutar bola matanya dengan malas.
"Tunjukan buktinya, Ars," desak Amey.
"Hmm, kenapa diam Mr. Winston?" tanya Shadow dengan raut mengejek.
Arsen semakin panas. Ia tak dapat lagi menahan amarahnya. Arsen berjalan ke arah Shadow dan ingin menancapkan pukulan di wajah Shadow, namun tiba-tiba Mark menahan pergelangan tangan Arsen.
"Lepaskan aku, Mark! Pria br*ngsek ini memang harus diberi pelajaran!"
"Tenanglah Tuan." Mark menatap lekat manik Arsen, seolah memberitahu sesuatu.
"Sayang! Jangan berlebihan!" teriak Amey dengan nada kesal.
Amarah Arsen kembali surut. Ia melepaskan pergelangan tangannya yang digenggam Mark. "Shittt!"
"Harap tenang Tuan. Aku akan pergi dari sini," ucap Shadow dengan lekukan kecil di bibirnya.
"Kali ini kau lolos Eyeshadow! Tapi lihat saja nanti, aku bakal buat kau menderita seumur hidupmu! Kau akan menyesal telah mengangkat bendera perang denganku! Cihh!"
Shadow membungkukkan badannya namun dibalik hormat yang diberikan Shadow, senyuman kelicikan terbentuk di pipinya. Arsen dan Mark pun melihat senyuman kecut itu.
Sabarlah Tuan Muda. Kau pasti akan segera menghancurkan Shadow dan Rion. Tapi bersabarlah, Tuan. Saatnya belum tepat. Jangan sampai rencana kita dari dulu, hancur karena emosimu. Batin Mark.
"Aku kecewa sama kamu hari ini!" tukas Amey meninggalkan Arsen.
Arsen terpaku membisu. Ia tidak bisa mengejar Amey, karena emosinya yang sudah kembali memuncak. Ia merasa harga dirinya telah diinjak oleh Shadow. Dan ditambah lagi, pria misterius itu telah membuat Amey membencinya.
"F*ckkkkkk! Ahhhhhh sialannnn!" rontah Arsen penuh emosional. Ia menendang sofa di depannya sampai jatuh ke lantai.
"Tuan, kau harus menahan diri. Tunggulah sampai waktu yang tepat tiba. Jangan sampai perjuangan kita untuk menghancurkan musuh dalam selimut akan berakhir dengan sia-sia!"
"Diam kau, Mark! Gara-gara dirimu, aku bahkan harus menahan emosi untuk menghajar si Eyeshadow itu!"
Mark terdiam. Jangan bilang Tuan mau melampiaskan amarah padaku!
"Kemari kau Mark! Kau akan menggantikan Eyeshadow!"
Baru saja Mark menebaknya dalam hati, Arsen sudah mengambil ancang-ancang untuk menjadikan Mark tempat pelampiasan emosinya pada Shadow.
Tok ... tok ...tok
"Tuan, apa saya boleh masuk?" tanya seorang perempuan dari balik pintu.
"Tuan, Mungkin Sekretaris Eggie memiliki sesuatu untuk disampaikan," tutur Mark mencoba menghondar dari pikulan Arsen.
Arsen menahan tangannya yang hendak ia lucurkan di wajah kinclong Mark.
"Masuk!" teriak Arsen.
"Permisi Tuan," menunduk
"Apa lagi yang ingin kau katakan?
"Tuan Rion, mengajak saya untuk makan malam bersamanya besok malam. Apa yang harus saya lakukan?"
"Hah?" Eggie sedikit tidak paham dengan ucapan Arsen.
"Kenapa dia mengajakmu besok malam?! Bukan sebentar malam saja?"
Apa yang Tuan bicarakan?! batin Eggie, heran.
"Mr. Collin mengajak Nyonya Muda untuk makan malam bersamanya malam ini. Dan dia juga mengajakmu makan malam pada besok harinya. Bukanlah itu aneh? Jangan-jangan Mr. Collin sudah mengetahui rencana kita."
"Tidak mungkin! Penyamaran Eggie, aku rasa sudah perfect! Kecuali ada yang membocorkan tentang ini!"
"Tapi siapa? Bukankah hanya kita bertiga yang tau?" tanya Mark menaikan alis setengahnya.
Kedua pria itu menatap Eggie dengan lekat.
"Kenapa Tuan-Tuan menatapku seperti itu?" lirih Eggie.
"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Arsen dengan melebarkan matanya.
Eggie menelan liurnya. Keringatnya mulai menyucur di dahi.
"Kenapa kau diam? Jawab aku!" desak Arsen. "Kau tau 'kan apa yang akan aku lakukan pada seseorang yang berkhianat padaku?!"
"I--iya. Saya sangat tau Tuan."
"Sejak kapan?" tanya Mark tiba-tiba.
Mata Eggie beralih menatap Mark. "Sejak kapan? Apa maksudmu, Tuan Mark?!"
"Sejak kapan kau jatuh cinta pada Sayur Kol?" kilah Arsen, dingin.
Deg!
Eggie terbelalak. Tamatlah aku!
"Kau tidak usah berbohong dan jawablah jujur apa adanya!" tambah Mark.
Eggie semakin tertekan. "Maafkan saya, Tuan Arsen. Saya memang telah jatuh cinta pada Tuan Rion. Tapi saya bersumpah demi diri saya sendiri, bahwa saya tidak pernah menceritakan rencana ini!" jelas Eggie.
Ekspresi Arsen terlihat biasa. "Sudah kuduga. Aku sangat mempercayaimu Eggie! Jangan sekali-kali kau berkhianat padaku!"
"Tidak akan Tuan. Meski saya telah jatuh ke dalam rayuan Mr. Collin, tapi saya tetap konsisten dengan tugas saya."
"Bagus!"
Sedari tadi Mark mengeratkan rahangnya. Ia memang sudah tahu jika Eggie telah memiliki perasaan suka pada Rion. Namun baginya, lebih baik ia tahu secara sembunyi-sembunyi dari pada ia harus mendengarnya langsung dari bibir Eggie.
"Saran dariku, setelah kedok Rion terbongkar, berhentilah berhubungan dengannya! Kau tidak boleh menyukai musuh kita! Jangan sampai kau terbawa egomu dan menghancurkan sesuatu yang telah dibangun dengan kokoh!" ucap Arsen mengingatkan Eggie.
"Baik Tuan. Saya pasti akan mengingat itu."
"Kembalilah bekerja. Cari tau lebih banyak lagi tentang Rion dan sampaikan padaku! Kau boleh pergi dengan Rion besok malam."
"Baik, Tuan." Eggie menundukkan kepalanya dan kembali berjalan menuju ruangannya.
"Wait!" ketus Mark.
"Ada apa, Tuan Mark?" tanya Eggie membalikkan badannya.
"Dari mana kau tau, jika Mr. Shadow adalah orang suruhan Mr. Collin?"
"Aku sering melihat pria itu mendatangi hotel Tuan Collin. Saat aku bersama dengan Mr. Collin, pria misterius itu selalu bercakap dengan Mr. Collin dengan bahasa Filipin. Makanya aku kenal suaranya."
"Apa dia tau jika, kau adalah simpanan Mr. Collin?" tanya Mark datar.
What?! Simpanan? Kau bahkan menyebutku sebagai simpanan, Mark? batin Eggie tak percaya.
Eggie menetralkan ekspresi kagetnya. "Iya, Mr. Shadow tau. Tapi ia tidak pernah bercerita denganku. Aku pun tidak pernah melihat tampang aslinya. Namun aku sangat kenal suaranya."
"Apa kau tidak berpikir jika, mungkin saja Mr. Shadow mencurigaimu sebagai mata-mata?"
"Aku rasa tidak. Karena sepertinya Tuan Collin sangat percaya padaku. Dan itu pun membuat Mr. Shadow percaya padaku."
"Apa kau mengatakan tentangku?" tanya Arsen.
"Ya! Sesuai naskah yang Tuan berikan. Aku tidak menambah ataupun menguranginya."
"Bagus!"
"Saya permisi, Tuan."
Mark memerah. Ia semakin panas berada diruangan itu.
"Mark, jangan bilang kau belum move on dengannya?!"
"Tidak, Tuan. Aku sudah lama move on.
"Jangan bohong kamu, Jodi Sinting. Mata tak bisa berbohong."
Terserah apa katamu, Tuan.
Sebelum memasuki ruangan Amey tadi, sebenarnya Eggie telah memberitahu jika Shadow bekerja sama dengan Collin. Namun Arsen dan Mark berniat, untuk belum memberitahu Shadow jika Eggie mata-mata dari Collins Group.
Karena itu juga akan menggagalkan rencana mereka dan ditambah lagi, nyawa Eggie adalah taruhannya. Maka dari itu, mereka menahannya sampai semua bukti terkumpul sebagai senjata untuk menyerang Collin.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 🤗