
"Apa yang kau lakukan pada Olin, Mark?" tanya Amey.
"Tidak banyak."
"Kau memukulnya?"
Mark berdiam.
"Kalau ditanya ya dijawab! Jangan diam! Apa kau bisu?" ucap Amey jengkel.
"Maaf Nyonya. Nyonya tidak perlu kawatir masalah itu, aku sudah mengurusnya."
"Apa kau ... benar-benar memukulnya, Mark?"
"Benar Nyonya."
"Kau sama saja dengan Arsen!"
"Tidak Nyonya. Aku berbeda dengan Tuan Muda. Tuan sudah menikah dan aku belum menikah."
"Ya ampun. Maksudku, sifatmu dan sifat suamiku sama! Tukang emosian dan suka memukul seenak hati!"
"Kalau itu saya akui, Nyonya."
"Apa? Dasar tak punya hati."
"Punya Nyonya."
"Markkkkkk! Diam!"
"Maaf Nyonya. Tadi Nyonya menyuruhku untuk menjawab semua pertanyaan Nyonya. Sudah ku lakukan." Mark menundukkan kepala.
Amey dibuat Mark frustasi. Wanita itu hanya bisa menghela napasnya dengan berat dan menghembuskannya dengan kasar. "Ohya Mark, aku penasaran dengan hidupmu."
"Maksud Nyonya?"
"Tadi aku dengar jika kau belum menikah. Terus apa kau punya kekasih?"
"Ehem!" Mark menjadi salah tingkah. Ia langsung memalingkan tatapannya ke arah pintu dan tidak lagi memandangi Amey yang sedari tadi banyak bicara.
"Tuh 'kan diam lagi."
"Tidak Nyonya. Saya tidak memiliki kekasih."
"Ahhh beneran? Masa sih? Kok aku tidak percaya! Jangan-jangan kau fuckboy?"
"Tidak Nyonya. Aku bukan Tuan Arsen." Mark langsung mengatupkan bibirnya. Ia tidak sengaja keceplosan di depan Amey.
Amey mengernyitkan dahi, perasaan Amey tiba-tiba menjadi tidak enak. "Arsen Playboy?" tanyanya.
"Bu--bukan begitu, Nyonya. Tuan Muda tidak pernah memiliki pacar. Aku salah bicara. Maafkan aku Nyonya," tutur Mark berkeringat dingin.
Amey terdiam sejenak. Ia kembali mengingat ucapan Mark yang mengatakan kalau Mark bukan fuckboy seperti Arsen. Kalimat itu mengganggu pikirannya. Tapi Amey terlalu ragu bertanya lagi karena disangkanya jawaban Mark tidak sesuai harapannya.
"Mark, aku ragu untuk menanyakan ini. Tapi kau sudah terlanjur membuatku penasaran. Aku ingin kau menjawab pertanyaanku ini dengan jujur!"
Mark menelan saliva. "Baik Nyonya."
"Apa benar Arsen memang belum pernah memiliki pacar?"
"Aku dan Tuan Muda sudah bersama sejak Tuan Muda kelas tiga smp. Selama aku dan Tuan Muda bersama, aku tidak pernah melihat Tuan membawa wanita ke rumah ataupun keluar bersama wanita. Kalau pun demikian, berarti Tuan Muda hanya menggunakannya satu malam saja atau hanya sebagai pemuas nafsu." Mark menyadari ucapannya. Lagi-lagi matanya terbelalak karena ia kembali keceplosan.
"MARKKKKK!" teriak Arsen yang tiba-tiba keluar dari ruangan direktur utama.
"Tuan?!" Mark lebih melebarkan matanya saat mendengar suara harimau mengaum.
"Apa yang kau bicarakan pada Memeyku, Hah? Kau menjelek-jelekkan aku?!"
Amey kembali bingung. Entah apalagi yang harus ia lakukan untuk menenangkan peliharaannya yang buas itu. Seharusnya Amey yang emosi, tapi dalam hal ini berbeda, Arsen yang terbawa emosi, karena ia takut jika Amey membencinya dan meminta cerai dengannya.
"Kemari kau keparat!"
Amey maju satu langkah di depan Mark dan melebarkan tangannya saat melihat Arsen sedang berlari dari pintu dan siap-siap menerkam Mark.
"Suamiku! Sudah jangan marah-marah lagi, nanti kau cepat tua! Lagi pula aku yang menyuruh Mark untuk menjawab pertanyaanku dengan jujur."
"Terus kenapa kau bertanya seperti itu?"
"Aku penasaran padamu, Ars. Jangan marah-marah lagi ya Suamiku," bujuk Amey. "Ohya, bagaimana dengan wanita itu?" tanya Amey mengalihkan pembicaraan.
"Aku membunuhnya!" jawab Arsen kesal.
"Apa! Kau tidak menepati janjimu padaku?" Amey menjadi panik dan setengah emosi.
Ketika Amey hendak berlari menuju ruangan itu, Arsen menahannya dan memeluk Amey. "Jangan ke sana. Kau tidak akan sanggup melihat wanita itu. Peluk saja aku dan tenangkan diriku. Emosiku hanya bisa reda jika kau memelukku."
Amey melakukannya. Ia kembali ke dalam dekapan Arsen. Ia menyandarkan telinganya di dada bidang Arsen. Di sana terdengar bunyi detak jantung Arsen yang terasa akan meledak. Entah itu karena emosi atau karena Amey memeluknya.
"Tenang Memeyku, aku tidak membunuhnya. Ingat! Aku selalu menepati janjiku."
Amey terasa lega. Namun tetap saja ia sangat penasaran dengan apa yang dilakukan Arsen padanya. "Apa yang kau lakukan padanya?"
"Aku hanya sedikit memoles wajahnya. Kau tidak usah kawatirkan dia. Dia bukan siapa-siapa dalam hidupmu. Kawatirkan dirimu sendiri yang hampir saja dilukai wanita gila itu."
"Baiklah, Ars. Trima kasih banyak karena kau sangat peduli padaku."
"Setelah aku membereskan orang-orang br*ngsek itu, ada yang ingin aku katakan padamu."
"Apa itu? Kenapa kau tidak mengatakannya sekarang? Bukannya kau sudah memberikan pelajaran pada mereka?"
"Tunggulah."
"Memang apalagi yang akan kau lakukan pada mereka?"
"Aku akan membawa mereka ke suatu tempat yang jauh dari sini. Aku akan mengasingkan mereka di sebuah pulau terpencil dan akan menyiksa mereka dengan perlahan."
"Astaga! Kau sangat sadis."
"Kau yang lebih sadis. Aku kira kau akan mengampuni si ular itu, tapi ternyata kau malah mengatainya dan menamparnya. Kau sangat keren Memeyku."
Amey menjadi malu. Pipinya memerah, untunglah ia menyembunyikan wajahnya itu di dada liat suaminya. Apa itu? Memeyku? Ahhhh sweet banget kau Tuan Arogan. Jika kau seperti ini padaku terus, bisa-bisa jantungku meledak dengan sendirinya.
"Ehem!" Mark berdehem. Apa mereka tidak menganggap ku ada di sini? Kalau sudah saling cinta begini nih jadinya, sering lupa dunia.
"Diam kau Jodi!" tukas Arsen jengkel.
"Jodi? Siapa lagi Jodi?" tanya Amey bingung.
"Jomblo Abadi!"
"HAHAHA!" Amey terbahak.
"Tuan, kau memang memiliki hobi yang langka. Lagi-lagi kau merubah nama orang menjadi nama yang aneh," gumam Mark lirih.
"Kau bilang apa?" tanya Arsen menaikkan nada.
"Tidak Tuan, nama yang bagus." Mark dengan terpaksa memuji nama aneh yang diberikan Arsen untuk meminimalisir murka sang raja.
***
Hari yang panjang dan hari yang melelahkan bagi Amey dan Arsen karena terlalu menguras emosi mereka. Malam itu, seperti biasanya. Mansion tampak sunyi senyap seperti tak ada kehidupan.
Amey dan Arsen telah selesai membersihkan diri dan sedang menonton film sembari mengunyah cemilan. Tiba-tiba suara ponsel Arsen berbunyi. Amey yang berada dekat dengan ponsel Arsen segera memberikan ponsel itu kepadanya.
"Siapa?" tanya Arsen.
"Kaisar."
(Percakapan di telepon)
"Hmm!"
"Ars, ayo ngumpul. Aku dan Jay sudah berada di tempat biasa." tutur Kaisar.
"Aku sibuk!"
"Sibuk ngapain?"
"Kepo!"
"Betewe, di sini banyak cewek-cewek cakep abis! Kayaknya mereka pekerja baru, masih abg pula! Lumayankan gua mereka!"
"Sudah ku bilang aku sudah memiliki gua yang jauh lebih sempit dari gadis-gadis murahan itu! Jangan mengangguku bersama Memeyku!"
"Apa?! Me--Memeyku, katamu? Hahahha! Selera humormu semakin hari semakin berkembang, Ars. Haha!" Kaisar terbahak.
"Shut up!" teriak Arsen, geram.
"Baiklah baiklah. Ohya bagaimana dengan anak magang itu?"
"Sudah dikubur!"
"What? Are you crazy?"
"Ya, aku gila! Jadi berhenti berbicara dengan orang gila!"
"Kau benar-benar membunuhnya?"
Tut ... tut ... tut
Arsen mamatikan sambungannya.
"Bacot!" gumam Arsen seraya melemparkan ponselnya di atas ranjang.
"Memeyku, apa kau tidak mengantuk?"
"Belum Suamiku. Aku masih ingin menonton," tutur Amey masih memandangi tv.
"Ayo tidur, ini sudah larut," menepuk ranjang untuk Amey tempati.
"Sedikit lagi. Film ini sangat bagus."
"Memeyku!" Arsen mulai jengkel.
"Iya, Suamiku?" jawab Amey yang masih tidak mau bergeming dari sofa.
"Ayo tidur, aku ingin memelukmu!" jujur Arsen.
Kok perasaanku jadi tidak enak ya? Kenapa dia ngebet banget menyuruhku tidur? Ahh jangan-jangan mau mengajakku bergulat lagi. Bisa mati aku kalau tiap hari melayani dia, apalagi durasinya panjang bagai belutnya yang panjang! Hihihi Amey mesum.
"Memeyku? Apa yang kau pikirkan?"
"Tidak, Suamiku."
"Jangan paksa aku untuk menggendongmu kemari. Kau tau 'kan? Kalau sampai itu terjadi. Pakaianmu akan kembali robek tak karuan," tutur Arsen sinis.
Amey berdiam sesaat dan mengingat kembali tingkah Arsen yang dipenuhi nafsu. Jelas diingatannya jika belut raksasa yang menegang ganas itu hampir membunuhnya di setiap bergulat.
"I--iya, Suamiku aku datang!" Amey berlari secepat kilat menuju ranjang.
Arsen tersenyum kecut. "Jangan berpikiran mesum! Aku tidak ingin melakukan malam ini. Kau mungkin sangat lelah. Jadi tidurlah dan kumpulkan energimu sebanyak-banyaknya, karena aku akan menagihnya besok malam. Kalau itu aku pastikan kau akan memecahkan rekor baru, dua belas ronde!"
Deg!
Amey menelan liurnya kasar. "Kalau kau ingin aku cepat mati, silahkan lakukan dua belas ronde! Biar kau bisa jadi duda muda!" singgung Amey.
"Baiklah, aku rasa calon duda muda sepertiku akan banyak disegani wanita-wanita muda dan mungkin mama-mama muda yang seksi. Apalagi pria sempurna seperti diri ini!" ledek Arsen menyeringai.
"Arsennnnnnn!"
"Iya Memeyku?"
"Aku mengantuk! Mau tidur!" Amey cemberut dan terlihat jengkel.
"Baiklah. Sini Memeyku, kemari dan mendekatlah. Aku akan memelukmu dan menidurkanmu dalam dekapanku," bujuk Arsen.
To be continued ...
Halo readers! Kuyyy dukung Author dengan cara Like, Komen, Vote dan Rate 😘
(Follow ig : @stivaniquinzel)