
"Jika aku mengakui perasaanku padamu, apa kau tetap akan tinggal dan menetap?"
Deg!
Pengakuan Jen membuat Mark tak bergeming dari posisinya. Ia mencengkeram erat jemarinya yang tertutup balutan kain. Tak lama kemudian Mark menarik tangannya dari dalam saku dan menggaruk tengkuknya dengan mata yang masih terpejam.
"Tuan ... apa kau tertidur?"
Melihat tak ada sahutan dari Mark, ia pun mengatur napasnya dan kembali memandangi dokumen-dokumen itu. "Haha! Aku terlalu banyak berharap!" gumamnya.
Jenifer melanjutkan pekerjaannya. Tanpa disadari gadis itu, jam dinding telah menunjukkan pukul tiga dini hari. Merasa tak bisa menahan rasa kantuknya, ia pun tertidur dengan kepala yang bersandar di atas meja.
Mark membuka matanya dan menatap jam tangannya. Sebenarnya pria itu tidak tertidur. Pengakuan Jenifer terngiang-ngiang di kepalanya. Ia pun berusaha menyiapkan jawaban atas pertanyaan Jen, namun bibirnya masih tertutup rapat karena hatinya benar-benar belum pulih seratus persen.
Melihat Jenifer yang terlelap, membuat Mark membuka setelan jasnya dan membaluti sebagian tubuh Jenifer. "Jangan mengulangi pertanyaanmu! Karena mungkin suatu saat nanti, aku yang akan bertanya padamu!" gumam Mark.
***
Keesokan harinya, Mark mendapat tugas untuk mengamati posedur kerja karyawan yang berada di Paradise Hotel. Saat melewati kantin karyawan, Mark tak sengaja berpapasan dengan Jenifer, namun karena Jen sibuk berbincang dengan rekan kerjanya, ia tak memperhatikan Mark yang baru saja melewati dirinya.
"Apa dia tidak melihatku?" lirih Mark.
Jen terlihat asik berbincang dengan seorang pria yang tak asing di matanya. Dialah Gio, teman satu divisi dengan Amey dan Jen dulu. Kedua orang itu tampak akrab di mata Mark. Tanpa disadari pria itu, ia mengepalkan tangan dengan erat.
"Jen, sepulang kerja, ikut aku yuk!" ajak Gio.
"Ke mana?"
"Udah ikut aja. Ada yang ingin aku sampaikan padamu."
"Sekarang aja. Mumpung lagi free."
"Nggak ahh, nanti aja. Aku juga mau nunjukkin sesuatu. Aku harap kau mau memberi waktumu."
"Hmm, aku nggak jamin ya. Soalnya masih banyak yang harus aku tinjau. Kau tau 'kan kalau aku bekerja di dua tempat. Hufthhh!" desah Jenifer.
"Iya aku tau. Tapi ini juga sangat penting. Mau ya? Plisssss!" mohon Gio dengan wajah memelas.
"Bwahahah! Wajahmu aneh tau nggak! Aku nggak suka liat kamu memelas kayak gitu. Jijwikkk!"
"Jadi gimana? Mau 'kan?"
"Baiklah. Tapi nggak bakal lama ya!"
"Sihappppp buk Bos," goda Gio.
Sementara di tempat lain, seorang pria sedang mengawasi mereka. Bukan sekedar mengawasi, tapi sekaligus mendengar pembicaraan keduanya. Tiba-tiba gebrakan meja terdengar.
Brakkkk!
Semua orang yang ada di kantin terkejut bukan kepalang. Tentu saja karena mereka melihat amarah Tuan Mark yang memuncak. Semuanya tak berani menatap pria yang berjalan itu. Sedangkan Jen dan Gio masih bertanya-tanya siapa pria yang membuat kegaduhan itu.
"Sepertinya aku mengenali belakang punggung pria itu!" lirih Jen menyipitkan matanya.
"Mungkin manajer dari divisi lain. Kelihatannya dia sedang marah pada bawahannya. Biasalah ... tempramen bos-bos hahah!" kilah Gio.
"Ya kali, aku mah nggak gitu!"
"Haha, kau tersinggung? Upsss aku lupa, kau 'kan sekarang Manajer Umum. Maafkan aku Bu Bos."
"Berhenti menggodaku!" ketus Jenifer lantang.
Gio membungkam mulutnya dan mulai mengunyah makanan yang sedari tadi berdiam di depannya.
Di tempat lain, Mark sangat kesal. Baru kali ini ia tak bisa menahan emosinya. Ia pun menuju basemant dan menunggu di sana. Hampir tujuh jam Mark berdiam di dalam mobil. Tak lama kemudian, dua orang muncul dari balik lift. Mark menatap kedua orang itu dengan tajam.
"Sialan! Kenapa aku menjadi penasaran dengan gadis jorok itu!"
Saat Jen memasuki mobil Gio, Mark memukul kemudi dengan kuat sehingga tak sengaja membunyikan suara klakson. "Jangan sampai aku ketahuan membuntuti mereka!" ucapnya lagi.
Saat mobil Gio mulai bergerak, Mark menyalakan mesin kendaraan dan mulai mengikuti mereka dari belakang tanpa disadari Jen dan Gio. Dalam perjalanan, Mark bertanya-tanya dalam hatinya, ke mana Gio akan membawa Jenifer. Ia sebenarnya belum menyadari kalau perbuatannya sudah melewati batas normal.
Mark selalu menentang perasaannya jika dia tidak menyukai Jen. Namun pikiran dan tindakannya berlawanan. Pria itu rela menunggu gadis cercaannya selama tujuh jam, dan bahkan mengikuti ke mana Jen akan pergi hanya untuk memastikan jika gadis itu baik-baik saja.
Mobil Gio berhenti di sebuah tempat yang sangat ramai. Rupanya itu berada di taman kota. Banyak sekali pasangan-pasangan yang mengadakan kencan di sana dan bahkan menunggu pecahnya kembang api.
Gio melihat jam tangannya. "Satu menit lagi!" ucapnya.
Jen menjadi bingung. "Apanya yang satu menit?"
"Lihat saja nanti."
Gadis itu mengangguk.
Satu menit kemudian, terdengar suara kembang api yang bergema memecah keramaian. Jen mendongak ke atas dan menatap langit malam yang dipenuhi dengan kembang api berwarna-warni. "Cantiknya!" gumam Jen tersenyum semringah.
"Jen, aku mencintaimu! Apa kau bersedia menikah denganku?"
Deg!
Senyuman Jen memudar saat mendengar ucapan Gio. Belum saja Jen memberi jawaban, Jen dikejutkan dengan kecupan mendadak yang mendarat di bibirnya.
Bukan hanya Jenifer yang terkejut, bahkan seorang pria yang sedari tadi mengikuti mereka, melonjak kaget bukan main. Mark mengeratkan rahangnya sembari mencengkeram jemarinya. Rupanya Mark juga mendengar pernyataan cinta Gio pada Jenifer.
Langkah kaki Mark dengan reflek bergerak. Ia hendak berjalan ke arah Gio dan ingin memukul wajah Gio, namun ia menahannya. Mark sadar jika ia tak memiliki hak melakukan itu dan hanya akan membuatnya terlihat bodoh di mata Jenifer. Mark memilih untuk meninggalkan tempat itu dengan perasaan kecewa dan jengkel.
"Persetan dengan cinta!" ketus Mark.
***
Hati yang mulai mencair kini kembali membeku dengan sekejap. Kejadian itu membuat Mark mengambil keputusan untuk menjauhi Jenifer. Malam itu adalah malam terakhir Mark melihat Jen. Ia bahkan tak ingin lagi melihat sosok Jen karena itu hanya akan membuat jahitan luka hatinya kembali sobek.
Dua tahun berlalu dengan cepat. Bagi Jen, Mark telah hilang bagai ditelan bumi. Jen tak lagi mendengar kabar dari Mark. Walau ia sering ke perusahaan WS Group, namun ia tak kunjung bertemu dengan pria itu. Hati Jen pun bertanya-tanya dengan lenyapnya Mark.
Hingga suatu saat Jen mendapat kabar jika, anak bungsu Amey mengidap penyakit Leukimia yang mengharuskan keluarga Winston pindah ke New York. Hati Jen menjadi kacau karena ia berpikir jika Mark pasti akan mengikuti Arsen. Jen pun memberanikan diri mendatangi apartemen Mark untuk meminta penjelasan, mengapa Mark menjauhinya dan ingin memberitahu pada Mark jika dirinya mencintai pria itu.
Dengan air mata yang berlinang di pipinya, ia berdiri bagai orang bodoh di pintu apartemen Mark. Tangannya bergetar dan tak sanggup menekan door bell. Tiba-tiba, Jen teringat akan sesuatu. Ia mengingat masa-masa indahnya saat bersama Mark, meski itu singkat tapi bagi Jen, kenangan itu telah terpatri di dalam hatinya.
Jen mengusap air mata dan meyakinkan dirinya untuk bertemu Mark. "Jen kau harus mendapatkan alasan Tuan Mark menjauhimu! Dua tahun kau memendam perasaanmu! Jadi inilah saatnya membuktikan padanya kalau kau bersungguh-sungguh dengan perasaanmu!"
Saat Jen hendak menekan tombol kecil itu, tiba-tiba pintu terbuka. Betapa terkejutnya Jen saat melihat Mark yang telah berdiri di hadapannya.
"Tu--tuan?!" gumam Jen dengan bibir gemetar.
Mark juga tak kalah terkejut dengan kedatangan Jen. Jantungnya kembali berdetak dengan kencang. Tak dapat disangkal lagi jika pria itu sangat merindukan wanita yang sedang berdiri di depannya.
"Jelaskan padaku kenapa kau menjauhiku?!" tutur Jen berterus terang.
Mark tediam sesaat dan memandangi tubuh Jen. Dia tampak kurus! Apa dia mengadakan diet?
"Dua tahun aku menunggumu, tapi kau sama sekali tak menghubungiku!"
"Tak ada alasan bagiku. Lebih baik kau pulang, aku akan kembali ke New York." Mark berjalan meninggalkan Jen sembari menarik kopernya.
"Aku mencintaimu! Aku sangat mencintaimu, Tuan! kumohon berikan alasan kenapa kau menjauhiku agar aku bisa tenang." Air mata Jen mulai menyucur deras.
Mark meremas gagang koper itu. Hatinya pedih mendengar ucapan Jenifer. Mark menarik napasnya perlahan dan membuangnya dengan kasar. Ia membalikkan badannya dan menatap Jenifer yang sedang menundukkan kepala.
Mata Mark tak sengaja beralih menatap jemari Jenifer. Sebuah cincin berlian berukuran kecil terpasang di jari manis Jen. Mark pun menganggap jika Jenifer telah menikah dengan Gio. Dengan hati yang terluka, kecewa bahkan hancur, Mark berjalan mendekat ke arah Jenifer.
"Gadis jorok, bodoh dan ceroboh! Sudah kukatakan padamu jika aku tidak memiliki alasan apapun! Dengarkan aku baik-baik! Aku tidak memiliki perasaan apa-apa padamu! Aku tidak mencintaimu! Kau bukanlah tipeku!"
Deg!
Bagai tersambar petir di malam yang syahdu. Begitulah perasaan Jen saat mendengar kenyataan yang pahit. Ia tak menyangka jika Mark akan menolaknya dengan kasar bahkan menghinanya habis-habisan.
Mark sebenarnya tak tega mengucapkan kata-kata menyakitkan itu. Namun ia terlanjur emosi saat mengingat Gio dan Jen berciuman. Emosinya menggebu saat melihat cincin berlian di jari manis Jenifer. Disangkanya jika Jen telah menikah dengan Gio.
"Baiklah aku paham sekarang," menghapus air matanya dan tersenyum menatap Mark. Sebelum meninggalkan Mark, ia menyempatkan diri untuk meremas setelan jas Mark, sebagai tanda jika ia sangat merindukan pria itu. Dengan langkah yang berat ia berjalan meninggalkan Mark.
Tangan Mark hendak meraih tubuh Jen dan ingin mendekapnya. Namun niat itu terhenti saat matanya kembali menatap jari manis Jenifer.
Kau sudah menikah. Apa gunanya menyatakan perasaanmu padaku! Kau tak berubah! Kau masih bodoh dan ceroboh!
Flashback OFF
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*