
Flashback ON
Kejadian malam itu, saat Mark dan Jen resmi pacaran
Mark dan Jen berciuman cukup lama. Sentuhan yang awalnya lembut kini mulai memanas. Perlahan langkah tubuh Mark mulai mendorong tubuh Jen, sehingga tubuh wanita itu mentok bersandar di dinding. Deru napas Jen semakin tak karuan akibat menerima sentuhan demi sentuhan yang Mark berikan.
Mark tak bisa menghentikan aksinya karena ia pun telah terbawa suasana. Sedangkan Jen terlihat menikmati permainan bibir Mark, meski napasnya merontah. Tangan Mark yang awalnya berada di pipi Jen, kini mulai berkeliling menjelajahi belakang punggung Jen.
"Tu--tuan," desis Jen.
Mark tak menggubris. Ia mengangkat tubuh Jen dan melemparnya di sofa. Ia pun menindih tubuh kecil itu dan mulai menyapu bagian leher Jen dengan alat perasanya.
Merasakan sentuhan panas dari Mark, badan Jen langsung menggeliang hebat. Tangannya pun mulai mencakar belakang punggung Mark sehingga hasrat pria itu semakin memuncak untuk memiliki Jen seutuhnya.
"Apa kau telah siap?" bisik Mark.
Jen memejamkan matanya. Tetesan air mata dari Jen membuat Mark tak tegah meneruskan aksinya. Ia pun melepas pelukannya dan menjauhkan tubuhnya dari permukaan tubuh Jen. Seketika ia tersadar dengan perbuatannya.
"Aku akan kembali ke apartemenku dan membuatkanmu makanan," ucap Mark meninggalkan Jen.
Jen mengangguk. Ia memandangi bahu lebar Mark dengan tatapan kagum. "Astaga! Belakang punggungnya pun terlihat seksi!" gumamnya.
Jen tersadar dengan pikirannya yang mulai kotor. Ia memukul pelan kepalanya. Setelah melihat tubuh Mark telah menghilang di balik pintu, Jen langsung berdiri di atas sofa dan berjingrak-jingrak kegirangan.
"Aku pacaran sama Tuan Mark?!" Ahhhhhhhhh! Aku masih belum percaya!! Jangan-jangan ini hanya mimpi!" mencubit lengannya. "Awwww, sakit sekali g*blokkk!" pekiknya.
Menyadari kalau itu bukan mimpi, ia pun kembali berjoget ria di atas sofa. Sesekali ia menggoyang bokongnya dan menyebut nama Mark. Kalau ada orang yang menyaksikan tingkah Jenifer, pastilah mereka akan menganggap kalau Jen pasien rumah sakit jiwa yang kabur dari sana.
Flashback OFF
***
Seorang wanita berperawakan cantik dengan kacamata yang menghias matanya, memiliki kaki jenjang mengenakan baju berwarna cokelat, rok mini berwarna hitam dan alas kaki thigh high boots senada dengan warna roknya. Dialah Zoey Winston, adik sepupu Arsen Winston. Sedari tadi ia menunggu seseorang yang akan menjemputnya di bandara.
"Hmm, kak Arsen tampaknya sibuk," melirik ponselnya.
Tak lama setelah itu ponsel Zoey bergetar. Ia memandangi nama yang tertera di layar ponselnya yang ternyata adalah Arsen.
(Percakapan di telepon)
"Apa kau sudah tiba?" tanya Arsen dari seberang.
"Baru saja. Kalau Kakak sibuk, aku naik taksi saja," ucap Zoey.
"Tidak boleh. Kau tunggulah di sana. Seseorang akan menjemputmu."
"Siapa?"
"Lihat saja nanti."
Tut ... tut ... tut
"Halo! Halo ... Kakak?! Ya diputusin sambungannya. Hadehh kebiasaan nih Kak Arsen, selalu saja buat orang penasaran!" gerutu Zoey.
Gadis itu duduk di atas kopernya sambil menunggu seseorang yang akan menjemputnya. Karena merasa bosan, ia pun mulai memotret dirinya. Tiba-tiba, ia teringat akan Soffy yang selalu mengajaknya berfoto bersama. "Nenek, aku kangen," gumamnya.
Zoey sengaja tak memberitahu Soffy jika ia akan kembali ke Indonesia. Ia ingin memberi kejutan kepada Nenek Rempong itu. Sudah empat tahun lamanya Zoey tidak bertemu dengan Soffy, dan itu membuat dirinya sangat merindukan sosok wanita beruban yang selalu menghiburnya dengan kekonyolan-kekonyolan tiada tara.
Zoey saat ini sudah menjadi wanita dewasa yang sangat anggun dan feminim. Penampilannya pun sangat glamour. Bagaimana tidak, selain kaya raya, ia juga seorang lulusan Fashion Design alias perancang busana. Setelah lulus dari sekolah desainer, ia pun menjadi seorang pengusaha muda yang sukses. Makanya ia sangat teliti mengenai penampilan.
Atas kerja kerasnya dan bantuan dana dari Arsen, Zoey bisa membangun perusahaannya sendiri di London. Ia juga berencana untuk membangun cabang perusahaan fashionnya di Jakarta. Karya-karya Zoey telah dikenal di belahan dunia. Para selebriti papan atas sering menyuruh Zoey untuk merancang busana mereka. Tentunya perusahaan fashion milik Zoey, dibawa naungan WS Group.
"Zoey?" panggil seorang pria yang tak lain adalah Kaisar.
Gadis itu termangu dengan kepala yang mendongak ke arah Kaisar. "Kak, Kai?!"
"Ternyata benar. Aku pikir aku salah orang," membuka kacamata hitamnya. "Aku hampir tidak mengenalimu, Zoey. Kau telah banyak mengalami perubahan."
Zoey masih terdiam. Jelas saja karena pria yang sedang berdiri di depannya adalah pria yang sangat didambakannya dari dulu. Zoey tampak gugup dan salah tingkah. Ia masih berpikir jika Kaisar masih menganggapnya bocah ingusan seperti dulu.
"Aku akan mengantarmu ke mansion," tutur Kaisar.
Zoey mengangguk pelan dengan mata yang tak berpaling dari wajah Mark. Ia membenarkan kacamatanya yang hampir jatuh. Ia beranjak dari duduknya dan membiarkan Mark membawa kopernya. Oh My God! Untuk kedua kalinya Kak Kaisar menjemputku di bandara. Tapi kok kali ini rasanya beda yahh? Batin Zoey.
Setibanya di mobil, Kaisar menaruh koper Zoey di bagasi dan kemudian membukakannya pintu. Zoey pun memegang dadanya yang sedari tadi tak berhenti berdebar kencang.
"Apa kau sudah makan?"
Zoey tak menggubris.
Kenapa dengannya? Mungkinkah dia marah padaku? Ucap Kaisar dalam hati. "Zoey?" panggilnya lagi.
Gadis itu buyar dari lamunannya. "Eh, maaf Kak. Kak Kaisar tadi bicara apa?"
"Apa yang mengganggu pikiranmu? Aku perhatikan sedari tadi kau tidak fokus," ucap Kai.
"Tidak apa-apa kak," tutur Zoey canggung.
"Jika kau lapar, kita akan mampir ke restoran sebentar."
"Baiklah kalau begitu." Kaisar melajukan kendaraannya.
***
Hari semakin siang. Udara pun semakin panas sehingga membuat seorang wanita tua menjadi gerah dan gelisa saat berbaring di sofa. "Enaknya ngapain yah?" gumam wanita tua itu yang tak lain adalah Soffy.
Soffy beranjak dari rebahannya. Ketika hendak menuju ke kamarnya, mata Soffy tak sengaja melirik ke arah kolam berenang. Ia pun langsung menuju ruangan ganti baju dengan senyuman semringah. "Siapa bilang nenek-nenek tidak bisa menjadi atlet renang, hahah!"
Setelah selesai mengganti pakaian renang, Soffy pun dengan hati-hati menyeburkan tubuhnya di genangan air jernih itu. "Uhhh, adem!" memercikkan air itu ke tubuhnya. "Coba saja kalau ada Bocil, pasti aku tidak akan kesepian seperti ini!"
"Nenek!!!!" teriak seseorang.
"Kayak suara Bocil! Tidak mungkin dia di sini. Bocil 'kan di London!"
Prangggg!
Soffy melonjak saat mendengar suara benturan keras dari arah ruang tamu. "Astaga dragon! Apa itu?" Soffy menatap sekitarnya yang tampak sepi. Penghuni mansion sedang sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing. Sedangkan para pelayan sedang berada di dapur dan sibuk juga dengan aktivitas mereka.
Brukkkk!
"Eee kodokkkk! Aku mendengarnya lagi!" ucap Soffy mulai ketakutan. "Kenapa istana ini tiba-tiba menjadi horror!"
"Nenek, kau di mana?" teriak seseorang lagi.
Soffy melonjak. Ia pun segera mengangkat badannya dari dalam kolam dan meraih handuk dari gantungan. "Setan jenis apa yang bertamu di siang bolong begini?!"
Zoey tiba-tiba muncul dari balik gorden. "Haaaaaa!" ketusnya mengejutkan Soffy.
"Se--setannnnn janda bolong!" teriak Soffy lantang. Ia pun hampir terjun ke kolam saking kagetnya. Untunglah kakinya dengan cepat mengimbangi tubuhnya.
"Nenek, ini aku Zoey!"
Soffy mengelus dadanya. Tiba-tiba ...
Pletakkk!
"Awwww!" pekik Zoey saat telunjuk Soffy mendarat tepat di dahinya.
"Ternyata jenis setan ini bisa merasakan sakit juga! Ya amsyonggg!"
"Ishhh Nenek! Apaan sih! Ini aku, Zoey! Si Bocil yang udah gede!"
Soffy kembali terkejut. Ia melebarkan mata dan menguceknya. "Bo--bocil?!" lirihnya.
Zoey tersenyum semringah.
"Jadi kau memang benar Zoey si Bocil? Dan bukan setan janda bolong?"
Gadis itu mengangguk.
Soffy langsung memeluk Zoey dengan erat. "Asikkkk Si Bocil sudah pulang! Hulala! Senangnya dalam hati!"
Soffy dan Zoey pun saling berpelukan dan menari-nari, layaknya Nenek dan Cucu yang terpisah selama berabad-abad lamanya.
"Aduhhh ... aduhhh ... !"
"Ada apa Nek?"
"Sepertinya tulang Nenek berpindah tempat lagi!" memegang pinggangnya.
"Nenek sihh terlalu banyak bergerak. Sudah tua tapi masih saja lincah!" tukas Zoey.
"Ododo ehh pandang enteng Ngana pa mantan personil Blackpink!" (Aduh! Kau jangan meremehkan mantan personil Blackpink!)
Tbc ...
*LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani
Visual by pinterest ๐๐**
(Zoey Winston)