
Pagi itu cuaca tampak mendung. Kabut gelap menutupi cakrawala, matahari pun tertutupi oleh awan tebal sehingga tidak memantulkan cahaya di bumi. Suara burung yang biasanya bersiul merdu di pagi hari pun tak terdengar. Hanya suara rintikan hujan yang memecah keheningan di pagi buta.
Karena hujan mengakibatkan seorang wanita yang biasanya bangun lebih awal, kini masih menutup rapat kedua matanya. Ia tampak nyaman dan tidak ingin membuka matanya untuk bangun dan beraktivitas. Ya! Dialah Amey.
Di sebelah wanita itu terbaring seorang pria tampan yang sedang memeluknya erat. Pria itu adalah suaminya, Arsen Winston. Tanpa Amey sadari jika Arsen sudah kembali. Mungkin saja ketika ia bangun, ia akan terkejut karena mendapati suaminya telah berada di sampingnya dan sementara mendekapnya.
Arsen mulai tersadar dari tidurnya. Ia membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama kali yang ia lihat yaitu wajah istrinya yang sudah tiga hari ia rindukan. Betapa bahagianya hati Arsen karena bisa memandangi bahkan menyentuh belahan jiwanya. Dengan senyuman mengembang di wajah Arsen, ia mengusap dengan lembut pipi Amey.
"Akhirnya aku bisa melihatmu secara langsung dan bisa menyentuhmu, Sayang," gumam Arsen.
Setelah lama memandangi Amey, ia kemudian kembali membawa wanita itu ke dalam dekapannya. Ia menyandarkan wajah Amey di dada liat miliknya dan mengelus pelan belakang kepala Amey. Dan hal itu menbuat Amey mulai terbangun dari tidurnya. Perlakuan lembut Arsen sampai masuk ke dalam mimpi Amey.
"Aku merindukanmu, Ars," racau Amey.
"Aku di sini, Sayang."
Merasa nyata dengan suara Arsen, akhirnya Amey membuka matanya perlahan. Ia mengendus di dada bidang suaminya. Dan benar saja, aroma wangi yang tidak asing bagi hidungnya mampu menyadarkan Amey sepenuhnya.
"Arsen? Kau kembali?" tanyanya lirih.
"Ya! Aku kembali, Memey. Aku sangat merindukanmu," ucap Arsen masih mendekap tubuh Amey.
Wanita itu tersenyum dan membalas pelukan Arsen. Ia menutup matanya kembali di dada bidang itu dan menciumnya berulang kali. "Aku suka wangi ini! Selama tiga hari aku tidak bisa mencium wangi suamiku, dan akhirnya sekarang aku bisa mencium lagi aroma tubuhmu."
Tangan yang tadinya mengelus lembut di kepala, kini berpindah ke belakang punggung Amey. Setelah itu tangan nakal Arsen mulai menjalar masuk ke dalam pakaian tidur berbentuk daster yang transparan. Wanita itu pun tersadar jika pakainnya sudah diganti.
"Ars, apa kau yang mengganti baju tidurku?" tanya Amey.
"Hmm. Aku lebih suka kau memakai lingerie."
Amey tersenyum licik. Ia tiba-tiba mendorong tubuh Arsen sehingga membuat pria itu terkejut. Melihat ekspresi sang suami yang telah berubah menjadi buas, ia pun langsung cepat-cepat naik di atas tubuh suaminya sebelum amarah Arsen menggebu.
Dengan heran Arsen mengikuti permainan Amey. Wanita itu menjadi liar dan mulai menyapu bersih bibir Arsen dengan rakus. Arsen pun tak mau kalah dengan permainan Amey. Ia juga membalas ciuman itu dengan panas.
Beberapa saat kemudian ciuman Amey berpindah di leher suaminya. Tak hanya mencium, ia juga menggigit di sana seperti biasanya yang ia lakukan saat memulai pergulatan. Menerima perlakuan panas dari Amey, membuat perangkat lunak di bawah sana ikut menegang dan membesar.
Tak kuasa menahan permainan Amey di lehernya, kini ia membalikan posisi Amey, sehingga tubuh kekarnya yang berada di atas Amey. Dengan beringas Arsen merobek lingerie itu dan mulai meremas tempurung kembar milik Amey.
"Ahhhh ... ehm, Sayang!" Erangan berapi-api mulai keluar dari bibir Amey.
Tak hanya bibir yang beraktivitas. Tangan Arsen pun menuju ke daerah sensitif Amey. Ia menggesek di bawah sana sehingga napas Amey menjadi tidak beraturan. "Auhhh! Sayang ... aku ..."
"Bersiaplah Sayang, adik kecilku sedikit lagi akan memasuki guamu. Sudah tiga hari ia tidak bertamu di sana. Jadi aku rasa, durasi ini akan sedikit lama dari biasanya," tutur Asen menyeringai.
Amey tidak dapat mengelak. Saat itu rasa yang diberikan Arsen memanglah teramat nikmat. Mana sempat ia berpikir tentang berapa lama belut itu akan bermain naik turun di dalam guanya. Justru yang ada di dalam benaknya, kapan belut itu akan bersemayam di sana?!
Tak lama kemudian tubuh Amey menggeliang hebat. Bagaimana tidak, tanpa aba-aba, Arsen langsung memasukan belutnya ke dalam terowongan gelap Amey. Erangan dahsyat dari keduanya pun menggema di ruangan itu.
"Yaaa! Kau yang terbaik, Sayang!" celutuk Amey.
Hentakan yang awalnya pelan kini menjadi semakin cepat. Suara yang paling di tunggu-tunggu Arsen akhirnya keluar. Suara Seriosa yang di anggapnya begitu merdu dan indah dibandingkan penyanyi-penyanyi papan atas mulai menggema di gendang telinganya dan itu membuat Arsen semakin bersemangat.
"Memey, apa perutmu sakit?" tanya Arsen.
"Arghh, ehmm ... ti--dak Sayang," jawab Amey terengah-engah.
Arsen semakin melajukan tempo hentakannya. Keringat Arsen mulai menetes di tubuh Amey. Di mata Amey pria itu tetaplah terlihat seksi dan menggiurkan. Kemacoannya sangat terlihat saat peluh menyucur deras di tubuh suaminya yang kekar dan berotot.
***
Dor ... dor ... dor!
Suara gedoran pintu itu menganggu seorang wanita yang sedang berada di alam bawah sadarnya. Ia menutup telinganya dengan bantal, namun suara itu tak kunjung mengecil. Malahan semakin lama ia tidak membuka pintu, maka suara gedoran itu semakin menjadi.
"Hey, gadis tengik! Keluar kau dari dalam sana!" teriak seseorang dari balik pintu.
Mendengar suara harimau mengaung di luar sana membuat, Jen langsung membuka matanya lebar. Ia menghapus ilernya dan segera menuju ke arah pintu. Ia mengatur napas dan menenangkan jantungnya yang berdetak tak karuan.
"Astaga! Apa aku membuat kesalahan?" gumam Jen panik.
Wanita tua yang sementara menggedor pintu kamar Jen adalah Ibu kosnya yang sekaligus juga merupakan Neneknya yang bernama Doris. Meski ia tinggal di kosan milik Neneknya, tapi tetap saja ia membayar uang sewa, layaknya anak kos lainnya.
"Dor ... dor ... dor!"
"I--iya, Nek sebentar," ucap Jen dari dalam kamar.
Jen menutup rapat telinganya. Jika tidak gendang telinganya bisa pecah. Ia pun segera membuka pintu itu.
Brukkkk!
Seorang wanita berumur enam puluh tujuh tahun itu menyenggol pundak Jen dengan kasar.
"Di mana ... di mana, hah?!"
Jen kebingungan. "Di mana? Apanya, Nek?"
"Di mana kau sembunyikan laki-laki tak berakhlak itu?!"
"Hah? Si--siapa? Hanya aku seorang diri yang ada di kamar ini, Nek."
"Apa benar yang kamu katakan?" tanya Nenek itu.
"Benar Nek. Lagian mana mungkin aku membawa masuk seorang pria di kamarku."
"Nenek, mendapat telpon dari Andra. Katanya kau sudah putus dengannya dan kau sekarang berpacaran dengan lelaki kurang ajar dan bahkan menyimpannya di kamarmu?! Apa betul, Jenifer?!"
"Benar, Nek."
"Apa?!"
"Eh, maksudnya, aku sudah putus dengan Andra. Tapi sekarang aku jomblo, Nek. Dan pria kurang ajar sebenarnya adalah Andra. Dia telah selingkuh dan aku memutuskannya."
"Si permen karet itu selingkuh? Dasar tak tau malu! Sudah menjadi parasit bagimu dan sekarang dia selingkuh?! Nenek harus memberinya pelajaran!" ketus Doris berapi-api.
"Iya, Nek. Nenek harus menghukumnya. Dia sangat jahat padaku, Nek. Kalau perlu buat badannya menjadi daging cencang!"
"Kau benar! Sudah bersalah, masih saja memfitnah orang! Tidak akan Nenek biarkan!"
"Aku setuju Nek!" tambah Jen.
"Heh gadis tengik! Kenapa kau tidak bekerja? Jangan bilang kau telah di pecat?!" Sorot mata Doris begitu tajam seolah ingin menerkam Jen.
"Tidak Nek! Malahan aku telah dipromosikan menjadi Manajer Umum."
"Itu artinya kau telah naik jabatan?" tanya Doris dengan mata yang berbinar.
"Iya Nek."
Doris memeluk cucunya itu dengan erat sehingga membuat Jen sulit bernapas. Apalagi badan Doris yang hampir lima kali lipat lebih besar dari Jenifer.
"Nek, a--aku tidak bisa ber--napas!"
Menyadari itu, Doris langsung melepaskan pelukannya dan tersenyum manis menatap Jenifer. Meski mulutnya bagai letusan gunung berapi, tapi sebenarnya niat Nenek Doris sangat baik. Ia bahkan melatih Jenifer untuk hidup mandiri di kota. Ia tidak ingin Jen menjadi seperti ibunya yang baru kelas dua SMA sudah menikah lantaran sudah hamil. dan akhirnya menjadi pengangguran.
"Nenek, bangga padamu. Nice! Jangan tiru sifat ibumu dulu. Kau harus berhasil Jen, agar para lelaki tidak mengganggap dirimu enteng. Kau harus menjadi wanita karier,dengan begitu jodoh terbaik dari Tuhan pasti akan menghampirimu dengan sendirinya!"
Jen memeluk Doris. "Trima kasih Nek. Aku janji akan menjadi wanita sukses dan membanggakan Nenek, Ibu dan Ayah."
"Jangan sebut-sebut lagi Ayahmu! Dia tidak pantas disebut Ayah karena dia pria yang tidak bertanggung jawab!"
"Baiklah Nek."
"Bersiaplah ke kantor. Jangan lupa untuk sarapan."
"Baik, Nek."
Doris menuju ke arah pintu. Ia keluar dari kamar itu dan meninggalkan Jen yang baru saja merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Ceklek!
Jen terperanjat saat mendengar gagang pintu itu mengeluarkan bunyi.
"Heh cucu gak ada akhlak! Jangan lupa bayar uang sewa kamarmu yang sudah empat bulan! Kalau tidak siap-siap di tendang dari sini!" melebarkan matanya.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*