Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Hukuman untuk Mark


Setelah mendengar telepon dari pengawal Arsen, Mark langsung mengurungkan niatnya untuk membuat adonan bersama Jen. Di kepala Mark hanya terngiang-ngiang Tuan Muda dan Nyonya Muda keluarga Winston.


"Sayang, apa kau mau aku temani?" tanya Jenifer.


"Tidak perlu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpamu. Kau harus berada di apartemen dan jangan ke mana-mana sampai aku kembali. Mengerti?"


"Iya, Sayang. Kalau begitu kau hati-hati di jalan."


Mark mendekat ke arah Jen dan mengecup bibir istrinya dengan lembut secara berulang-ulang. "Sayang, aku tinggal sebentar."


Jen mengangguk dengan mimik yang tak kalah panik. "Ya Tuhan, tolong selamatkan Amey bersama suaminya. Dan tolong jagalah suamiku dalam perjalanan."


"Amin," sambung Mark.


Mark berjalan meninggalkan Jen di atas ranjang. Dengan berat hati ia harus meninggalkan Jen sendirian karena sesuatu yang sangat penting dan bahkan menurut Mark lebih penting dari nyawanya.


Kabar buruk telah beredar di keluarga Winston. Bahkan seisi mansion sangat panik luar biasa. Tak hanya penghuni mansion saja, melainkan orangtua Arsen di New York telah mendengar kabar piluh ini. Ayah Arsen, Michael menyuruh semua orang yang telah mengetahui kejadian ini, untuk merahasiakannya dari publik. Ia tidak ingin media meliput berita kecelakaan Arsen dan Amey. Karena menurutnya itu akan merugikan perusahaan mereka dan juga ia tahu kalau Arsen tidak suka publik tahu jika dirinya lemah apalagi sampai tak berdaya di rumah sakit.


***


Perjalanan panjang di tempuh Mark. Setelah beberapa jam, Mark kemudian tiba di rumah sakit tempat Arsen dan Amey di rawat. Rumah sakit itu terletak di pedalaman. Perlengkapan operasi pun terbatas. Maka dari itu sebelum Mark tiba di tempat itu, ia telah menelepon para medis terbaik di keluarga Winston untuk memindahkan Arsen dan Amey.


Tak lama setelah Mark tiba, terdengar suara yang sangat nyaring. Suara itu berasal dari atap rumah sakit. Suara itu menggelegar sehingga membuat tempat itu menjadi gempar. Semua orang bertanya-tanya apa yang terjadi.


"Tuan, Mark silahkan ikut dengan saya," ucap seorang dokter yang menangani Arsen dan Amey.


Mark tiba di sebuah ruangan kecil. Ruangan itu merupakan tempat di mana Amey di rawat. Dengan panik Mark berlari menuju ranjang Amey. "Bagaimana keadaan Nyonya?" tanyanya.


"Tuan, Mark, apa anda tau jika Nyonya Amey sedang mengandung?"


Seketika Mark terperanjat. "La-lalu bagaimana kondisi kandungannya?"


Wanita yang mengenakan jubah putih itu tersenyum kecil. "Untunglah bayi dalam kandungannya tidak apa-apa."


"Hufthhhh!" Mark mengeluarkan napas lega sejak lehernya terasa tercekik saat mendengar kabar buruk Amey. "Sudah berapa minggu kandungannya?"


"Sepertinya sudah memasuki usia empat minggu."


"Baiklah kalau begitu. Di mana Tuan Arsen di rawat?"


"Di sebelah sana," menunjuk ruang sebelah yang merupakan ruang operasi.


"Helikopter sudah tiba. Tolong bantu saya memindahkan Tuan dan Nyonya. Mereka harus di rawat di rumah sakit besar yang perlengkapan medisnya lengkap."


"Baik Tuan."


Mark mengurus segala sesuatu. Di bantu dengan beberapa para medis, Mark akhirnya berhasil memindahkan Amey dan Arsen di rumah sakit besar.


Sesampainya mereka di kota, seluruh keluarga Winston beserta dengan kedua sahabatnya telah sampai lebih dulu di rumah sakit.


"Cucuku!" tutur Soffy dengan bibir gemetar.


"Nenek, kakak bersama dengan kakak ipar pasti akan baik-baik saja," bujuk Zoey menenangkan wanita tua itu.


Mark mengumpulkan semua orang yang berkunjung menjenguk Arsen dan Amey. "Saat ini kita semua tahu jika Tuan dan Nyonya sedang dalam masa kritis. Untuk itu kita hanya boleh bantu dengan mendoakan mereka agar bisa melewati masa kritis."


"Cucu-cucuku sayang," lirih Soffy sembari meneteskan air mata.


"Ada informasi penting yang ingin aku sampaikan pada kalian semua. Menurut informasi yang aku dapatkan dari dokter di desa, dia mengatakan jika Nyonya Muda sedang mengandung."


Deggg!


Semua orang terperanjat.


"Kakak ipar hamil?" gumam Zoey.


Air mata Soffy semakin mengalir dengan deras. "Cucuku yang malang."


"Tapi tenang saja, kata dokter, bayi dalam kandungan Nyonya, baik-baik saja. Hanya Nyonya Muda sedikit mengalami trauma sehingga memicu dirinya tidak sadarkan diri."


"Syukurlah!" ucap Zoey dan Soffy serentak.


"Sebentar lagi keempat Ed akan memiliki adik," tutur Kaisar.


"Lalu bagaimana kabar Kak Arsen?"


"Tuan Muda sedang di operasi. Tuan terkena luka tembak. Dan itu cukup parah. Semoga saja Tuan Arsen dapat melewati masa kritisnya," ucap Mark.


***


Keesokan harinya, Zoey mengajak keempat Ed untuk menjenguk Arsen dan Amey. Tentu saja dengan membawa Dinnar dan Candy sebagai pengasuh keempat anak kembar itu.


"Uncle, kau terlihat berantakan," ucap si sulung Edward kepada seorang pria yang sedari malam tidak beranjak dari tempat itu.


"Ehm, kalian sudah tiba rupanya," ucap Mark.


"Aunty, apa Mommy dan Daddy baik-baik saja?" tanya si bungsu Edzel.


"Iya Sayang. Mommy Daddy kalian baik-baik saja," tutur Zoey mengusap pundak Edzel.


"Selamat pagi," sapa dokter Pedro.


"Halo Kak Pedro," balas Zoey.


"Nyonya muda dan Tuan muda sudah siuman. Mari saya antarkan ke ruangan," ucap Pedro.


"Trima kasih Uncle," ucap keempat Ed bersamaan.


Dengan perasaan gembira, Zoey, Mark dan keempat Ed menuju ruangan Amey dan Arsen.Tak lupa juga Dinnar dan Candy mengikuti mereka dari belakang. Setelah selesai di operasi, Arsen langsung di bawah para medis ke ruangan Amey, sehingga keduanya saling berbagi atap.


"Mommy, Daddy!" teriak Edzel.


Keempat anak itu berlari mendapati ayah dan ibu mereka. Senyuman kebahagiaan Arsen dan Amey langsung terpancar di wajah mereka ketika melihat penyemangat mereka datang mengunjungi mereka.


"Kalian di sini?" lirih Amey sembari memaksakan dirinya untuk duduk di ranjang. Sedangkan Arsen belum dapat menggerakkan tubuhnya.


"Sayang, jangan memaksakan dirimu," ucap Arsen.


"Tidak apa-apa Ars, aku sudah baikan."


"Daddy, apa kau kesakitan?" tanya Edward.


"Tidak Ed. Daddy tidak akan pernah sakit," tutur Arsen dengan lemas.


"Tapi kenapa Daddy di rawat di rumah sakit?" sambung Edzel.


"Ehm, Daddy and Mommy sedang liburan di rumah sakit," berusaha meyakinkan keempat Ed.


"Benarkah?" kilah Edhan.


"Baiklah. Ayo kita semua berlibur di rumah sakit!" teriak Edgar dengan polos.


Arsen terkejut. "Ti--tidak. Kalian tidak boleh berlibur di sini. Lagi pula Daddy dan Mommy akan pulang sebentar."


"Daddy, kita berempat itu sudah besar. Daddy tidak dapat membohongi kami lagi! Kau kesakitan, bukan? Dari perban di badanmu menunjukkan jika Daddy mengalami luka berat, seperti luka tembakan!" jelas Edward dengan nada tinggi.


"Edward benar!" kilah Ed yang lainnya kecuali Edgar.


"Apa hanya aku saja yang tidak tahu?" lirih Edgar sembari menggaruk kepalanya.


Amey terkekeh pelan. "Ars, kau tak bisa lagi membohongi mereka."


"Ehm, begitu ya. Maafkan Daddy," tampak malu karena kalah telak dengan Edward.


Melihat tingkah Arsen, Mark sempat tertawa pelan.


"Woyy! Aku melihatnya! Kau pasti mengejekku 'kan?" teriak Arsen saat mendapati ekspresi Mark.


"Tidak, Tuan. Aku tidak menertawakanmu."


"Jangan mengelak, Jodi sialan!"


"Tapi aku sudah menikah, Tuan."


"SHUT UP!! awhhh!" jerit Arsen.


"Tuan, kau jangan banyak bicara dulu. Supaya kau cepat sembuh. Saat ini kau masih sangat lemah!"


Deg!!


Lemah! ... Lemah! ... Lemah!


Kata-kata itu terngiang-ngiang di benak Arsen. Baru kali itu seseorang mengatakannya lemah. Terlebih lagi Mark yang mengatakan itu.


Aku lemah? le--lemah? Batin Arsen seolah menginjak harga dirinya.


Menatap wajah Arsen yang tampak ganas, membuat Mark menelan salivanya dengan kasar. Singa mengamuk!


"MARKKKKKK!"


"Maafkan aku, Tuan."


"Kau di hukum! Temani aku sampai sembuh di rumah sakit! Kau tidak boleh bertemu Garfield sampai aku sembuh! Tidak ada berduaan, tidak ada keromantisan, dan tidak boleh membuat adonan!"


"Ta--tapi Tuan."


.


.


.


To be continued ...


**Jangan lupa like dan komen 🥰


follow ig @syutrikastivani**