
Malam semakin larut. Jalanan pun mulai sepi, tinggal beberapa kendaraan saja yang lalu lalang menyisikan kebisingan di tengah kota. Mark baru saja tiba di kosan Jen untuk menurunkan gadis itu.
"Trima kasih Tuan," tutur Jen yang baru turun dari mobil.
Mark mengangguk dan kembali fokus dalam kemudinya. Tiba-tiba seorang wanita tua berbadan besar muncul di depan mobil Mark. "Setan raksasa!" teriak Mark terkejut.
"Hey, Bule Semangka! Enak saja main pergi!" ketus Nenek itu.
"Goshhhhh! Nensi Part Dua!" Mark terpaksa menginjak rem dan menghentikan mobilnya.
"Keluar kau Bule Semangka!" celutuk Doris dari luar.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Mark keluar dari dalam mobil. "Apalagi yang akan dilakukan Nensi Part Dua ini!"
Jen yang melihat tingkah Neneknya, segera berlari ke arah Doris dengan menahan malu. "Nenek! Apa yang kau lakukan pada Tuan Dasi Merah?!"
"Jeni, masuk ke dalam! Nenek punya urusan dengan Bule Semangka ini."
Tak ada pilihan lain lagi bagi Jen. Ia terpaksa menuruti perintah Doris sebelum Nensi Part Dua itu mengamuk. "Semoga saja Nenek tidak bicara yang aneh-aneh," gumam Jen memasuki gerbang.
"Nensi Part Dua, aku harus pulang. Aku memiliki banyak pekerjaan," tutur Mark.
"Tidak bisa. Kau harus mampir dulu," menarik tangan Mark.
Mark pun akhirnya tidak dapat menolak lagi. Ia pun mengikuti Doris dari belakang dan menuju tempat tinggal Doris yang ada di lantai terakhir gedung itu.
Apa semua Nensi menyeramkan seperti ini?! Batin Mark.
***
Malam itu di depan Vila milik keluarga Winston terjadi kebisingan. Arsen dan Amey yang sudah tertidur akhirnya bangun karena penasaran dengan keributan yang terjadi di depan Vila.
"Sayang, kau dengar itu?" ucap Amey.
"Kau juga mendengarnya? Aku pikir aku bermimpi!"
"Sebentar, biar aku lihat."
"Aku saja. Kau tunggulah di sini Memey," ucap Arsen.
"Aku ikut."
"Baiklah."
Amey dan Arsen keluar dari kamar dan menuju ke teras depan Vila.
"Sialan! Siapa yang membuat keributan di tengah malam begini?!" gumam Arsen geram.
Amey dan Arsen terkejut saat mendapati kedua pengawal mereka sedang bertengkar dengan seseorang di depan gerbang.
"Sepertinya aku mengenal suara itu!" gumam Amey.
"Siapa pun itu aku pastikan tidak akan lolos malam ini! Berani-beraninya mengganggu tidur nyenyak seorang Arsen Winston!" tukas Arsen sembari mempercepat langkahnya menuju gerbang.
Sementara di tempat kejadian perkara, tampak dua orang pria kekar dengan seseorang yang mengenakan hoodie berwarna merah muda dengan topi yang membungkus kepala, celana hitam panjang dan masker merah muda yang menutupi wajahnya. Tak lupa juga kacamata hitam andalannya.
"Jangan membantah! Anda tidak boleh masuk karena ini area terbatas!" tutur pria kekar yang memakai kacamata hitam.
"Enak saja!" celutuk wanita ber-hoodie dengan berkacak pinggang. "Apa kau tidak mengenaliku?!" tanyanya lagi.
"Kami tidak kenal siapa Anda! Tuan dan Nyonya Muda, tidak mengizinkan siapa pun masuk ke area ini! Jadi kami sarankan, Anda segera meninggalkan tempat ini sebelum kami menyeret Anda dengan paksa! Kami tidak segan-segan melakukan kekerasan fisik, demi kenyamanan Tuan dan Nyonya Muda!"
"Ehhh busyettttt! Untung kau tampan, kalau tidak sudah kubuat kau jadi perkedel jagung, udang rebus, soto ayam, bakso sapi, sup rumput laut dan masih banyak lagi! uhhhh pokoknya paket lengkap!" geram Wanita tua itu. "Ya amsyonggg! Aku jadi lapar!" memegang perutnya yang mengeluarkan bunyi.
"Ada apa ini ribut-ribut?!" tukas Arsen.
Kedua pengawal yang melihat kehadiran Arsen langsung menunduk kepala.
"Oh cucu lucknuttt ku sudah terbangun!"
"Astaga! Nenek? Apa itu kau?" tanya Amey terkejut.
"Nensi?!" lirih Arsen.
Kedua pengawal itu terbelalak saat Arsen dan Amey mengenali wanita ber-hoodie merah muda itu. Jelas saja mereka tidak mengenali Soffy, karena Nenek Rempong itu berpakaian layaknya seorang artis papan atas yang sedang menyembunyikan identitasnya, dan di tambah lagi kedua pengawal itu baru dipekerjakan Arsen saat mereka tiba di Vila jadi mereka tidak mengenali Soffy.
"Tak ku sangka penciuman kalian tajam seperti Doggy. Hahah! Kalian berdua langsung mengenaliku meski aku belum menunjukkan wajahku," ucap Soffy terkekeh.
"Huayemmmmm!" lirih seorang gadis yang baru saja keluar dari dalam mobil.
"Zoey?! Kau juga di sini?" tutur Amey.
"Hey, Bocil! Apa tidurmu nyenyak?" tanya Soffy.
"Nyenyak banget, Nek. Aku bahkan tidak sadar kalau kita sudah sampai," ucap Zoey sembari melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul dua dini hari.
Soffy membuka kacamata, masker dan topinya. "Lihat baik-baik wajahku yang cantik, awet muda, glowing dan tak keriput ini," ucapnya pada dua pengawal baru itu. "Sudah lihat 'kan? Jangan lupa simpan di otak kalian!" tutur Soffy sembari mengedipkan mata setengahnya.
"Maafkan kami Nyonya," ucap kedua pengawal itu sambil menundukkan kepala.
"Aku maafkan!"
"Nek, kenapa datangnya nggak besok aja sekalian?"
"Nenek sama Bocil bosan di rumah. Selesai nonton drakor, kita berdua gas kemari. Yaaaa, dari pada di mansion sepi nggak ada people, lebih baik kita otw Vila, sekaligus liburan bareng klean-klean gitu! Masa Si Elis di ajak, trus Nenek enggak?! 'Kan curang namanya!"
"Merepotkan saja!" gumam Arsen, malas.
"Ya sudah, ayo masuk ke dalam," ajak Amey. "Huhh! Aku kira ada penyusup ehh ternyata Nenek dan Zoey. Lagian kenapa sih Nenek berpakaian seperti itu?!"
"Di sini sangat dingin. Jadi Nenek berbusana ala-ala ciwi-ciwi Korea, di musim salju gitu! 'Kan biar mirip Bae Suzy dan Park Shin Hye!"
Amey yang mendengar itu hanya menarik napasnya panjang dan membuangnya dengan berat. "Risiko punya Nenek micin!"
***
Di tempat lain dengan setengah sadar Mark membuka mata sembari meraih ponselnya di atas nakas. Seketika maniknya membesar saat melihat dua puluh lima panggilan tak terjawab dari si Tuan Arogan. "Danger!!" terperanjat dari atas ranjang. "Sial! Kenapa aku bisa bangun kesiangan!" menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sembilan pagi.
Mark dengan segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun saat ia hendak memasuki kamar mandi, ia menyadari jika ada suara percikan air yang terdengar di dalam sana. "Sepertinya di dalam ada orang! Tapi ... "
Pintu tiba-tiba terbuka, seorang wanita yang hanya berlilitkan handuk di tubuhnya, muncul dari balik pintu itu. Mark terkejut bukan kepalang saat melihat sosok wanita itu. "Ke--kenapa kau di sini, Gadis Dasi Merah?!" tanya Mark dengan memasang ekspresi garang.
"Sayang? Kau bicara apa sih! Minggir! Aku mau lewat!" ucap Jen santai.
Pria itu lagi-lagi terkejut bukan main.Tubuhnya melemas sehingga dinding di sampingnya menjadi sandaran tubuhnya. "Sa--sayang? Aku ini bicara apa?!" gumamnya mengulangi ucapan Jen. "Makhluk apa itu yang baru lewat?! Kenapa dia mirip sekali dengan gadis jorok itu!"
"Sayang, tolong carikan pengering rambutku. Aku lupa menaruhnya di mana!" teriak Jen.
Deru napas Mark semakin tak beraturan. Ia kemudian berlari ke arah Jenifer yang sedang berganti pakaian. Langkah Mark terhenti saat mendapati tubuh Jen yang tanpa sehelai benang. Dengan sigap Mark membalikkan padannya sembari mengepal tangannya dengan erat. "Arghhhhh! Apa yang terjadi, hah?! Kenapa kau ada di apartemenku, dan bahkan dengan beraninya mengganti pakaian di depanku! Kau lagi kerasukan setan?!"
"Apa kau bilang?! Adanya kau yang di rasuki setan! Bicara yang aneh-aneh terus. Mending kamu mandi sana. Selesai ini, aku akan menyiapkan sarapan untukmu dan untuk anak-anak kita."
Deg!
"Anak-anak kita?!" gumam Mark semakin bingung tak tertolong.
"Ohiya, carikan dulu pengering rambutku!"
"Hentikannnnnn! Apa kau sudah gila?! Cukup main-mainnya! Keluar dari apartemenku sekarang!" teriak Mark tak kuasa menahan amarahnya. Matanya melotot saat melihat pajangan dinding. "Foto pernikahan?!" gumamnya.
Mark mendekat ke arah foto yang terpajang rapi di dinding. Ia mengucek matanya saat mendapati gambar dirinya dan Jenifer yang sedang berciuman menggunakan gaun pengantin.
Matanya beralih menatap pajangan lainnya yang berada di dinding sebelah. "Tidak mungkin!" Mark terjatuh di lantai saat melihat foto keluarganya. "Aku sudah punya enam orang anak kembar?! Ke--kenapa lebih banyak dari Tuan Muda!"
"Berhenti menatap itu dan mandilah! Aku sudah menemukan pengering rambutku!"
"Apa benar aku sudah menikah dan memiliki anak yang bejumlah setengah lusin?!" lirihnya tak berhenti menatap foto yang terpajang itu.
"Ya! Berkat permainan liarmu yang tiada taranya sehingga aku bisa melahirkan setengah lusin anak perempuan yang berwajah sama semuanya!"
Mark memegang kepalanya yang hampir meletus. Ia tak percaya jika dirinya bisa menikah dengan Jen dan mempunyai anak lebih banyak dari Arsen.
"Aaaahhhhhhhhhhh!"
Bruggg!
"Aduhhhh sakit sekali!" gumamnya.
Mark langsung terbangun dari tidurnya dan mendapati tubuhnya yang sudah berada di lantai. Matanya langsung berkeliling menatap sekitarnya. Pandangannya terhenti di dinding kamar. "Aku hanya mimpi! Sialan! Mimpi yang sangat menyeramkan!"
"Tuan! Ada apa berteriak?!" tanya Jen yang muncul dengan tiba-tiba. "Lohh, kenapa Tuan tidur di lantai?!"
Deg!
Mark melotot ke arah Jen. "Apa dramanya belum berakhir?! Kenapa wanita ini berada di sini? Kenapa dia selalu menghantuiku?! Benarkah dia manusia? Atau makhluk jadi-jadian!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
follow ig @syutrikastivani