
"Ini, air putihnya," ucap pelayan wanita itu sembari meletakkan dua gelas bening di atas meja.
"Hey kau! Berapa harga kiosmu ini?" tanya Arsen, membuat pelayan itu bingung.
"Maksud Tuan apa?"
"Katakan berapa harga kios ini, aku akan membelinya!"
"Dua miliar," ucap pelayan itu bercanda.
"Baiklah, akan aku bayar."
"Haha! Tuan kau ternyata memiliki selera humor yang tinggi."
Arsen menggeram. "Kau pikir aku bercanda, hah?" membesarkan matanya.
Pelayan itu melonjak. "Tuan bersungguh-sungguh akan membeli tempat ini dengan harga dua miliar?"
"Apa wajahku terlihat main-main?"
"Bukan begitu Tuan, masalahnya Anda hanya memesan air putih. Bagaimana saya bisa percaya jika Tuan bisa membeli tempat ini, sedangkan pesannya hanya air putih doang."
"WHAT!" Arsen terperanjat. "Jadi kau menganggap aku miskin hanya karena aku memesan air putih?" Arsen mendengus kesal. Ia menarik napas dan membuangnya dengan kasar. "Mark, keluarkan!"
Mark pun mengeluarkan sebuah cek. "Ini Tuan."
"Berikan padanya."
Pelayan wanita itu terperangah melihat nominal uang yang tertera di atas kertas persegi panjang itu.
"Aku tahu jika tempatmu ini tidak sampai ratusan juta. Tapi karena kau meragukan kekayaanku, maka aku akan menunjukkan kekayaanku dengan memberikan kau lima miliar. Kau bisa menukarnya di bank!"
"I--ini sungguh sangat banyak Tuan. Saya bisa menghidupkam tujuh turunanku menggunakan uang ini," terkagum-kagum.
"Karena tempat ini sudah menjadi milikku, maka kau harus mengusir semua pelanggan yang ada di sini!"
"Baik Tuan."
Pelayan wanita itu dengan girang berjalan menuju ke tempat kasir sembari mencium kertas persegi panjang yang di dapatnya dari Arsen. Ia menyuruh kedua anak buahnya untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Tidak lupa juga ia memberikan upah harian mereka, karena sudah bekerja keras. Pemilik kios yang sekaligus pelayan itu berdiri di tengah-tengah pelanggan yang sedang asik menyantap makanan.
"Perhatian ... perhatian!" mangacungkan kedua tangannya ke atas.
Semua orang yang ada di tempat itu segera berhenti dari aktivitas mereka dan mendengar wanita paruh baya itu yang sedang berbicara.
"Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang pelanggan rasakan saat ini, tapi kios ini akan ditutup."
Seketika kegaduhan terjadi. Para pelanggan mengamuk karena mereka belum menghabiskan makanan mereka dan tentu juga mereka merasa dirugikan.
"Hey! Jangan seenaknya menutup kiosmu! Kami di sini bukan makan gratis tapi bayar!" celutuk seorang wanita bergaun merah, yang tak lain adalah Amey.
"Tenang saudara-saudara, karena saya mendadak mengumumkan berita yang tidak enak didengar ini, maka sebagai permintaan maaf dari saya, semua yang makan di tempat ini GRATIS ... TIS ... TIS ... TIS!"
Mereka semua menggerutu sehingga suasana kembali riuh. Amey dan teman-temannya segera meninggalkan tempat itu. Melihat pergerakan dari Amey, Arsen segera menyusul dari belakang.
"Ahh nggak asik nih," tutur Jen melangkahkan kaki dengan malas.
"Pindah aja yuk," tawar Amey merangkul pundak Jen yang terlihat kesal.
"Boleh tuh mbak, tapi di mana?" tanya Melly.
"Tenang, aku punya tempat yang lebih asik dari ini," ucap Gio mengedipkan mata.
"Baiklah kita ikut Gio saja," ucap Amey sembari masuk ke dalam mobilnya.
Tidak ketinggalan juga kedua pria yang mengendap-endap di belakang terus membuntuti Amey dan teman-temannya.
"Mau ke mana mereka?" tanya Arsen.
"Aku juga tidak tahu Tuan. 'Kan ceritanya kita ikutin mereka," menunjuk mobil Amey
"Tapi Tuan, bagaimana dengan kios itu? Hmm, maksudku apa yang akan Tuan lakukan dengan kios yang baru saja dibeli Tuan?"
"Entahlah," ucap Arsen santai.
Mark menggeleng kepala. Lima miliar hanyut begitu saja dengan sekejap. Mark bertanya-tanya dalam hatinya mengenai sikap Arsen akhir-akhir ini. Apa Tuan sedang jatuh cinta? Tapi mana mungkin? Pria ini tidak mengenal cinta, bahkan tidak ada kasih dalam hidupnya. Entahlah!
***
Amey dan teman-temannya mendatangi tempat yang lebih mewah dari sebelumnya. Tempat itu memiliki hiasan-hiasan dinding yang klasik. Tata letak barang-barang pun terlihat sangat kuno. Lampu yang remang-remang, lantunan musik Mozart menciptakan suasana yang lebih menenangkan.
"Gio, kau sangat pandai memilih tempat," puji Jenifer.
"Iya dong! Gio gituloh," tersenyum lebar.
Meski tempat itu begitu ramai, namun tidak membuat ruangan klasik itu menjadi gaduh. Malahan para pelanggan merasa nyaman dan terlihat asik mendengarkan dentuman nada yang begitu halus dan lembut.
"Ada yang ingin soju?" tawar Gio dengan wajah manis dan menggoda.
"Memang di sini ada?" tanya Jen.
"Tentu saja. Salah satu alasan aku suka tempat ini karena mereka menyiapkan makanan dan minuman ala-ala Korea gitu. Haha, kan asik kalo makan sambil minum soju, kayak di pilem-pelem Korea, opa-opa dan nuna-nuna, HAHA." Gelak tawa Gio pecah memenuhi ruangan itu, sehingga para pelanggan lain merasa risih.
Para wanita itu saling menatap. Jen dan Amey tersenyum kecil saat mendengar ucapan Gio. Tentu saja karena mereka sudah lama tidak meminum minuman yang berbau alkohol. Anggur pun sangat jarang, apalagi setelah Amey menikah.
"Wah wah wah! Kau memang terbaik Gio." tutur Amey dengan semringah.
Di meja nomor dua puluh empat, tepatnya di sebelah meja Amey, terlihat seorang pria yang sedang memasang telinganya, alias menguping. Posisi Arsen membelakangi Amey, Gio dan Jen yang sedang asik berbincang dengan teman-temannya.
Sesekali Arsen merasa geram mendengar Amey dan Gio berbicara sambil tertawa lepas. Wajah Arsen seketika berubah menjadi dingin. Untunglah ada Mark yang senantiasa menahannya untuk tidak memukul Gio.
Beberapa saat kemudian pesanan datang. Delapan botol soju, dan kelima porsi sup daging sapi kesukaan Amey dan Jen. Mata Amey langsung mengeluarkan binar saat melihat makanan yang disuguhkan pelayan.
"Huaaaaa! Daebak!" teriak Amey.
"Kayaknya ada yang bakal mabuk nih," ledek Gio menatap Amey menyeringai.
"Kau pikir aku lemah, hah? Awas saja kalau kau yang nantinya akan tidur di selokan akibat mabuk, HAHA!" Amey kembali terbahak.
Mendengar kata mabuk, Arsen langsung membalikkan kepalanya bermaksud menatap Amey, namun dengan segera Mark menahan kepala Arsen sehingga lehernya tidak bergeming.
"Apa yang kau lakukan Mark?" menepis tangan Mark yang menyentuh wajah Arsen.
"Tuan, jangan menperlihatkan wajahmu, nanti Tuan ketahuan," bisik Mark.
"Aku tidak perduli, Mark!" menepuk meja itu dengan sangat keras.
Pandangan mata semua orang yang ada di ruangan itu menjurus ke arah kedua pria bule itu, tidak terkecuali Amey, Jen, Gio, Melly, Sandra dan Kenny.
Mark menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangan. Sedangkan Arsen masih dengan pandangan lurus ke depan, menatap dinding dengan gigi yang mengkertak. Betapa murkanya Arsen saat itu sehingga ia tidak dapat mengontrol dirinya.
Amey mengerutkan kening. Ia mengusap dagunya seraya berpikir dengan keras. Punggung pria itu sangat familiar baginya. Ia mencoba menerka siapa pria yang menciptakan kegaduhan itu.
Seketika bayangan Arsen melintas di benaknya. "Astaga!" melonjak dengan mulut menganga. Dengan segera Amey membungkam bibirnya dengan kedua tangannya.
"Kau kenapa Mey?" tanya Jen.
"Jen, aku rasa kita dalam bahaya!" tutur Amey tak bergeming memandangi punggung Arsen.
"Bahaya?" ketus Jen bingung. Bahaya kenapa sih?" tanyanya lagi.
"Arsen di sini," lirih Amey tak bertenaga.
"Hah? Masa? Di mana?" teriak Jen lantang.
Amey menunjuk punggung Arsen dengan telunjuknya. Jenifer melonjak kaget dari tempat duduknya. Ia terkejut bukan kepalang, pasalnya Jen sudah melihat sifat asli Arsen kalau lagi murka. "Mey ... Matilah aku!"gumam Jen masih terbelalak memandangi punggung Arsen.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘