Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Baku Tembak


Amarah seorang pria yang sibuk memutar kemudi terlihat memuncak. Ia bahkan membenturkan ponselnya beberapa kali di stir mobil dan berharap ponselnya akan mendapat jaringan. Hati Arsen semakin tak tenang apalagi saat ia mendengar suara Amey yang panik. Walau tak lebih dari beberapa detik ia mendengar suara Amey, itu sudah cukup membuat jantung Arsen memompa kencang.


Arsen mencoba menghubungi pengawalnya lewat telepon, namun hasilnya pun nihil. Pria itu semakin emosi. Ia bahkan tidak mempedulikan kendaraan lain yang lalu lalang. Jalan raya itu serasa milik dirinya sendiri.


"Memey, apa yang terjadi padamu, Sayang? Tunggulah aku! Aku akan menyusulmu!" gumam Arsen panik bukan kepalang.


Setelah beberapa menit ia mengemudi, ia mendapati beberapa mobil yang berhenti di tengah jalan. Ia langsung menepikan mobilnya dan segera turun memastikan apa yang terjadi di depan. Jantungnya semakin berdegup kencang. Di pikirannya hanya bayangan Amey yang terlintas.


Door!!


Bunyi itu membuat Arsen terperanjat. Ia berlari menuju mobil yang ada di depannya. Matanya membesar saat ia melihat mobil-mobil yang berjejer itu. Jelas saja ia terkejut. Mobil-mobil itu milik para pengawalnya yang ia tugaskan untuk mengawal istrinya.


Arsen berhenti saat ia melihat seorang pengawal yang telah mengeluarkan benda berwarna hitam dari saku celananya. Ia pun segera mengeluarkan pistolnya dan bersiaga.


"Apa yang terjadi?" tanya Arsen dengan sorot mata yang tajam.


Pengawal itu seketika menjadi tegang. "Tuan Muda?"


"Di mana Istriku?"


"Nyonya Muda ada di dalam mobil," ungkap pengawal itu dengan kaki yang gemetar.


Mendengar itu hati Arsen langsung sedikit tenang. Ia langsung membuka pintu mobil dan mendapati Amey yang sedang membungkuk sembari menutup kedua telinga dengan tangannya.


"Sayang? Maafkan aku. Aku terlambat," ucap Arsen yang langsung memeluk Amey.


Merasakan pelukan hangat yang tak asing, membuat Amey menatap pria itu. "Ar--Arsen. Kaukah ini?" tanyanya dengan suara lemas.


"Jangan takut, Sayang. Ini aku, Suamimu," mengecup bibir Amey.


"Sayang, untunglah kau di sini. Aku sangat ketakutan. Sepertinya di depan terjadi baku tembak. Aku mendengar suara tembakan beberapa kali," tutur Amey penuh keringat dingin.


"Aku juga mendengarnya Sayang. Tunggu sebentar. Aku akan pergi mengeceknya."


Saat Arsen hendak turun dari dalam mobil, Amey dengan segera menarik lengan Arsen. "Tidak, Sayang. Jangan ke sana. Aku mohon! Aku tidak ingin kau terluka!"


"Memey, percaya padaku. Aku tidak akan terluka! Jika mereka macam-macam padaku, aku sendiri yang akan menghabisi mereka!" ucap Arsen meyakinkan Amey.


Wajah Amey semakin pucat. Peluh berjatuhan di dahinya. Rasa takut dan cemas menggerogoti benaknya. "Cepatlah kembali. Aku menunggumu di sini!"


"Baik."


Arsen keluar dari dalam mobil.


"Tuan jangan mendekat ke sana, itu berbahaya!" ucap pengawal itu.


"Jangan menghalangiku!"


"Ada beberapa pria bertopeng menghalangi mobil kami. Tapi Tuan tenang saja. Beberapa pengawal telah menuju ke sana!"


"B*engsek! Siapa b*jingan-b*jingan itu yang berani mengganggu keluarga Winston!" geram Arsen naik pitam.


Tak menunggu lama Arsen menuju ke tempat kejadian. Dan benar saja ia melihat ada sekitar puluhan orang bertopeng yang sedang berkelahi melawan tiga pengawal Arsen. Terlihat pengawal Arsen kewalahan karena mereka kalah jumlah. Meski hanya tiga orang saja, mereka mampu mengalahkan beberapa pria bertopeng lainnya.


Door!!


Door!!


Door!!


Gencatan senjata dilakukan Arsen sehingga menghentikan perkelahian pengawalnya melawan pria bertopeng.


"Mengganggu keluargaku sama dengan menyerahkan nyawa secara cuma-cuma untuk dilenyapkan!" tegas Arsen.


Pria-pria bertopeng itu seketika tertegun saat mendengar ucapan ganas dari Arsen. Siapa yang tak mengenal kekejaman Arsen Winston? Pembunuh berdarah dingin itu pensiun dari kejahatannya karena menikah dengan Amey. Namun siapa yang dapat menyangka jika pria-pria itu membangkitkan jiwa pembunuhnya.


"Bendera perang telah berkibar. Sampaikan ucapan terakhir untukku. Aku ingin mendengarnya!" tukas Arsen dengan seringai licik.


"Kau pikir kami takut padamu? Hahah! Jangan mimpi!" ucap salah satu pria bertopeng itu.


Door!!


"Arghh!"


Semua orang terkejut.


"Ucapan terakhirmu tidak estetik!" tutur Arsen.


Ia baru saja menembak pria itu di lengan kanan. Ia sengaja menyiksa pria itu. Beberapa pria bertopeng pun menodongkan senjata mereka ke arah Arsen. Para pengawal pun tak tinggal diam. Semua pengawal langsung membentuk formasi untuk melindungi Arsen.


"Bodoh kalian! Kenapa meninggalkan Istriku sendirian!"


"Sialan kau!" teriak salah seorang pria bertopeng.


"Eits! Tunggu sebentar! Belum giliranmu! Jangan terburu-buru. Aku masih memiliki urusan dengan temanmu. Hahah!" ucap Arsen.


"Cuihh!" meludah. "Dasar pria gila!" tukas pria bertopeng yang telah di tembak Arsen.


"Apa kau baru tau?! Ohya, sebelum aku membunuhmu, aku ingin bertanya satu hal. Siapa dalang dari semua ini?"


"Cuihh! Aku lebih pilih dibunuh daripada harus memberitahumu!!" ucap pria bertopeng itu.


"Baiklah! Pilihan yang bagus!"


Door!!


Seorang pria hampir menarik pelatuk pistol yang dihadapkannya di tubuh Arsen. Untunglah pengawal Arsen langsung menembak duluan sehingga pria bertopeng yang menodongkan pistol itu terjatuh ke tanah dan tak sadarkan diri.


Perkelahian semakin sengit. Baku tembak kini sedang berlangsung.


"Lindungi Tuan Muda dan Nyonya Muda!" teriak kepala pengawal.


Arsen tidak dapat menahan lagi gejolak yang menggebu di dalam dirinya. Jiwa kekejamannya kini bangkit dan merontah. Darah pembunuhnya tak dapat dibendung lagi. Dengan ganas ia langsung menembak seluruh pria bertopeng itu. Ia bahkan tak memikirkan nyawanya. Ia berdiri tegap dan mengarahkan pistolnya ke arah lawan.


Para pengawal pun melindunginya sehingga satupun tembakan tak mengenai tubuh atletis Arsen. Beberapa pria bertopeng telah terbaring tak sadarkan diri. Tinggal beberapa lagi yang masih bertahan. Mereka lari dan bersembunyi di belakang mobil yang mereka tumpangi tadi. Sedangkan Arsen memasang badannya, berdiri tegap dan membidik.


"Mundur!!" teriak salah seorang pria bertopeng.


Beberapa dari mereka telah kabur menggunakan mobil. Sedangkan yang lainnya telah jatuh ke tanah akibat terkena bidikan Arsen dan beberapa pengawalnya.


"K*parat!! Jangan biarkan mereka lolos!!" teriak Arsen.


Pengawal-pengawal Arsen mengejar beberapa pria bertopeng itu namun sayangnya mereka sudah tertinggal jauh. Mereka berusaha menembak agar mobil penjahat berhenti. Namun ada satu mobil yang lolos melarikan diri.


"Cukup! Kalian tidak usah mengejar mereka terlalu jauh. Beberapa b*jingan ini sudah lebih dari cukup untuk mengetahui dalang dari semua ini!" menatap beberapa pria yang terkapar di tanah.


Door!!


Suara tembakan kembali terdengar. Para pengawal terperanjat saat melihat seorang pria bertopeng yang telah cidera, menembak Arsen di dada kekarnya.


"Ahh shittt!!" pekik Arsen menahan rasa sakit yang teramat dalam.


Dengan b*ringas, Arsen langsung mengarahkan pistolnya ke arah pria bertopeng itu dan menekan pelatuknya berulang kali sehingga tubuh penjahat itu telah berlubang-lubang akibat tembakan balasan dari Arsen.


"Tuan Muda!" ucap kepala pengawal dengan panik.


"F*ck!!" umpat Arsen.


Ayah keempat Ed itu langsung menekan luka tembaknya dan tiba-tiba jatuh tergeletak di tanah. Semua pengawal panik. Amey pun langsung keluar dari dalam mobil dan mendapati Arsen yang sudah terjatuh di tanah.


"Arsennnnn!!" teriak Amey.


Amey berlari dengan perasaan yang berkecamuk. Tubuhnya langsung lemas sehingga kakinya tak lagi bisa menopang berat tubuhnya. Ia terjatuh tepat di sebelah Arsen. Amey mendapati jika dada Arsen telah berlumuran darah.


"Sayang? Tolong sadarlah! Hik ... hik .... hik!!" tangisan Amey mulai menjadi-jadi.


"Memey, Sayang. Kau tidak apa-apa?" tanya Arsen dengan terbata-bata.


"Jangan khawatirkan aku! Lihatlah dirimu Sayang! Kau berdarah!"


"Maaf telah membuatmu menangis. Sampaikan pada para pengawal untuk mengurus sisanya. Cari tau identitas mereka. Jika perlu siksa mereka seperti binatang agar mereka mau membuka suara! Mereka belum mati, aku tidak menembak mereka di alat vital!"


"Cukup! Jangan berbicara lagi!" tutur Amey dengan air mata yang mengalir deras di pipinya.


"Percaya padaku, aku tak akan mati!!" Ucapan terakhir Arsen menutup percakapan mereka. Mata Arsen mulai terpejam.


"ARSENNNN!!" teriak Amey dengan keras. Seketika perutnya terasa sakit. Ia memegang perutnya dengan sangat kuat. Tak lama kemudian ia pun tak sadarkan diri dan terbaring di sebelah Arsen.


"Cepat bawah Tuan dan Nyonya ke rumah sakit terdekat!" ucap kepala pengawal.


To be continued ...


.


.


.


Follow ig : @syutrikastivani