Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Arsen yang Manis


Sudah dua jam lamanya Mark menunggu Arsen, namun batang hidungnya tak kunjung kelihatan. Ia tahu jika bosnya terlambat bangun berarti bosnya baru selesai bertempur dan tidak bisa diganggu. Mark pun berjalan menuju taman belakang untuk menghilangkan rasa jenuh.


Saat melewati dapur, Mark mendengar suara wanita dan suara pria yang sedang bertengkar di taman belakang. Ia menghentikan langkahnya. Mark mengerutkan dahi setahunya di rumah itu hanya ada tiga penghuni laki-laki. Arsen yang sedang tidur, satpam yang menjaga gerbang dan tukang kebun yang irit bicara.


Pikir Mark sangat tidak mungkin jika Pak Kenan pemilik suara itu, pasalnya tukang kebun keluarga Winston hampir tidak pernah bicara apalagi berdebat. Mark kembali berjalan dengan mengendap. Ia mendapati seorang pelayan wanita sedang bertengkar dengan pria bertopi hitam.


Pria bertopi hitam itu melihat ke arah Mark dan segera berlari meninggalkan pelayan wanita itu. Mark hanya bisa melihat wanita itu dari belakang punggungnya saja, namun ia tidak terlalu memperdulikan. Ia segera berlari menyusul pria misterius itu.


Mark merasa tidak nyaman saat mengangkat kakinya untuk berlari. Ia segera berhenti dan mengikat kembali tali sepatunya yang lepas. Mata Mark tidak terlepas dari pria misterius itu yang masih berlari dengan sekuat tenaga. Mark sedikit membiarkan pria itu karena ia tahu jika Muklis pasti mengatasinya.


Ketika Mark hendak berdiri tiba-tiba sebuah benda keras yang tak lain adalah panci jatuh tepat di puncak kepalanya dan di susul oleh pukulan-pukulan kencang yang ternyata benda itu adalah spatula.


Brukkkkk! Plak plak plak.


"Mati Ngana mati Ngana mati Ngana," umpat Soffy berulang-ulang dengan penuh amarah.


"Aduhhh sakit! Aww, uhhhh hentikan Nek, hentikan!"


Seketika Soffy menghentikan pukulannya. Ia mentap ke arah bawah dan mendapati seorang pria yang tidak asing di matanya. "Mayyyy Braderrrr!" teriak Soffy terkejut.


Tiba-tiba Mark mendengar suara gubrakan keras dari dalam, namun ia tidak lagi memperdulikannya karena kepalanya pun terasa nyeri. Tanpa disadari Mark, cairan merah yang kental menyucur di dahinya.


"Mark! Kau berdarah!" ketus Zoey yang sudah lebih dulu tiba dari Nensi.


Mark mengusap keningnya dan mendapati noda merah di telapak tangannya. "Ohh goshhh!"


Soffy pun tiba. Ia terperanjat saat melihat kening Mark yang berdarah. "Astaga dragon! Keningmu ..."


Mark mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Matanya tidak berhenti menatap gerbang depan. "Permisi Nensi dan Nona Muda. Bisakah kalian menepi? Aku harus mengejar seorang penyusup," tutur Mark.


"Hah penyusup? Di mana? Di mana penyusup itu?" tanya Soffy tiba-tiba sembari mencari-cari sosok penyusup itu dengan matanya.


"Siapa penyusup itu Mark?" tambah Zoey.


"Kita akan tau, setelah aku menangkapnya." Mark menundukkan kepala dan segera berlari mengejar pria misterius itu.


Soffy memandangi belakang punggung lebar milik Mark yang berlenggang kesana kemari. "Braderrr! Obati lukamu, setelah kau menangkap penyusup itu," teriak Soffy dengan nyaring.


Mark berhenti tepat di depan gerbang. Ia mendapati Muklis yang sedang siaga. Melihat kedatangan Mark, Pak Muklis menundukkan kepalanya. "Selamat siang Tuan Mark," sapa Muklis.


"Siang. Pak Muklis, apa kau melihat seorang pria bertopi hitam yang lewat di sini?" tanya Mark.


"Tidak Tuan. Saya dari tadi berdiri di sini tanpa berkedip. Memangnya siapa pria bertopi hitam itu?"


"Aku tidak tahu. Ayo Pak Muklis, bantu aku mencari pria itu. Kemungkinan dia belum keluar dari rumah ini karena pintu keluarnya hanya satu," menunjuk gerbang besar bercat gold di depannya.


"Baik Tuan. Mari kita cari."


***


Matahari bersinar semakin terik, namun tidak membuat pria yang masih bertelanjang itu terbangun. Ia masih terlalu lelah untuk membuka matanya. Tiba-tiba seseorang membuka gorden jendela. Sontak cahaya yang begitu terang menyilaukan mata Arsen sehingga membuat ia harus bergerak dan mencari posisi yang nyaman.


Merasakan seseorang sudah tidak ada lagi di sampingnya membuat ia dengan reflek terbangun. Ia membuka matanya dan mengucek di sana. Dengan mata yang masih sayu, ia melirik ke arah jendela dan mendapati Amey sedang berdiri di situ sembari memandangi pemandangan yang ada di bawah sana.


Arsen berjalan mendekat ke arah Amey. Ia langsung melingkarkan tangannya di pinggang Amey dan menyandarkan pipinya di atas kepala istrinya itu. Menerima perlakuan Arsen dengan tiba-tiba, membuat Amey terkejut, namun ia pun membiarkan tangan itu tetap melingkar di pinggangnya.


"Kau sudah tidak kesakitan lagi?" tanya Arsen.


"Sedikit. Tapi sudah bisa berjalan."


"Bagus. Ternyata kau bisa cepat akrab dengan adik kecilku," tutur Arsen menyeringai.


Amey memerah. Ia merasa malu saat mendengar ucapan Arsen. "Apa kau tidak ke kantor hari ini?"


"Ya bekerjalah, masa main bola."


"Tidak. Di sini lebih nyaman."


Amey terdiam.


"Permainanmu sangat hebat, untuk pemula sepertimu. Kau bisa bertahan delapan ronde," puji Arsen menyeringai.


"Apa kau tidak lelah? Bisakah kau mengurangi durasinya? Kau hampir membunuhku!"


"Nanti ku pikirkan lagi," menyunggingkan bibirnya.


Arsen mengeratkan pelukannya sembari menyapu leher Amey dengan lidahnya. Ia menggigit kecil telinga Amey yang memerah. Tangannya berpindah mengelus paha Amey. Wanita itu pun menjadi risih karena Arsen masih dengan keadaan tubuh tanpa busana. Apalagi saat merasakan benda tumpul yang mengeras, menusuk bokongnya.


"Ars, mandilah. Aku sudah menyiapkan air untukmu."


"Kalau begitu, ayo mandi bersama."


"Aku sudah mandi."


"Kau masih bau!"


"Kau yang bau. Mandilah."


"Kau menolak mandi bersamaku?" menatap Amey tajam.


Amey menelan salivanya. Ia sangat tahu jika mandi bersama akan berujung pada pergulatan. Apa dia tidak merasakan lelah? Apa dia robot? Ya ampun, aku hampir saja mati karena ulahnya, dan sekarang dia mengingininya lagi? batin Amey.


"Aku tidak akan memintanya. Aku hanya ingin mandi bersamamu. So, buang jauh-jauh pikiran negatifmu," ucap Arsen seolah tahu pikiran Amey.


"Hebat! Rupanya kekuatan supranaturalmu bertambah," ledek Amey.


"Kau baru saja mengakuinya."


***


"Berpakaianlah yang bagus, aku akan mengajakmu ke suatu tempat," tutur Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Ke mana?"


"Kau akan tau nanti."


Amey menurut dan segera menyusul Arsen yang baru saja keluar dari kamar mandi. Keduanya menuju walk in closet dan mengganti baju. Kali ini Amey sudah tidak malu lagi saat berganti pakaian dihadapan Arsen. Apa yang harus dimalukan lagi? Toh Arsen sudah melihat setiap inci tubuhnya.


"Keringkan rambutmu dulu."


"Nanti saja," tolak Amey sembari memakai pakaiannya.


Arsen yang masih berlilitkan handuk, tiba-tiba mendudukan Amey di depan cermin rias dan mulai mengeringkan rambut Amey menggunakan handuk. Amey pun terperangah setelah itu membiarkan Arsen melakukan aktivitasnya.


"Kau tidak perlu melakukan ini, Ars."


Arsen tidak menggubris. Ia kemudian mengambil pengering rambut dan mulai mengarahkannya di anak rambut Amey yang masih basah. Arsen melakukan itu dengan penuh kelembutan, membuat Amey tersenyum kecil. Jantung Amey berdebar-debar saat menatap wajah dan postur tubuh atletis Arsen melalui pantulan bayangan di cermin.


Wanita mana yang tidak akan meleleh saat melihat seorang pria tampan, mempunyai dada bidang, memiliki otot kekar yang saat ini ada didekatnya. Apalagi pria sempurna itu bersikap manis dan lembut. Di mata Amey, Arsen berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Meski emosi Arsen yang masih pasang surut, namun setidaknya pria berhati es itu sudah mulai mencair dengan perlahan.


To be continued ...


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘 Like, Komen, Vote, Rate :)