Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Empat Ed Berkumpul


Untuk membujuk keempat Ed agar mereka mau mandi dan bersiap ke sekolah, akhirnya Amey menyetujui keinginan anak-anaknya untuk berkunjung ke tempat paman-paman mereka. Amey sebenarnya hanya pura-pura mengiyakan, karena ia juga merasa tak enak hati, jika anak-anaknya yang super aktif itu, mengganggu aktivitas paman-paman mereka.


Namun janji tetaplah sebuah janji. Sejak keempat Winston Junior berangkat ke sekolah, mereka tak henti-hentinya memastikan perkataan Amey mengenai perkunjungan mereka ke tempat Mark, Kaisar dan Jayden. Dalam perjalanan Amey dan Arsen ke kantor, ibu keempat anak itu, tampak banyak berpikir, mempertimbangkan kembali ucapannya.


"Sayang, tumben sekali Mark tidak menjemputmu?" tanya Amey.


"Hari ini Mark sangat sibuk. Ku tau 'kan bagaimana sibuknya calon pengantin pria."


Amey mengangguk paham.


"Ada apa Sayang. Kelihatannya kau tidak begitu senang hari ini?"


"Hmm," mengangguk. "Sebenarnya aku punya sedikit masalah."


"Apa itu?"


"Aku terlanjur berjanji pada anak-anak kita kalau aku akan mengijinkan mereka ke tempat Mark, Kaisar dan Jayden."


"Lalu? Apa masalahnya, Sayang?" tanya Arsen, mengerutkan kening.


"Kau macam tak tau saja sifat anak-anakmu. Sedangkan di sekolah mereka tak bisa dikendalikan, apalagi sama Mark, Kaisar dan Jayden! 'Kan kasihan juga teman-temanmu itu, jika kita menitipkan anak-anak kita. Yang ada mereka cepat masuk rumah sakit jiwa karena menghadapi sifat empat Ed."


"Hahahah!" Arsen terbahak. "Memey, Sayang. Itu 'kan hanya pikiranmu saja. Kita tidak tau bagaimana pikiran Mark, Kaisar dan Jayden. Bagaimana kalau pikiran mereka berbalikkan denganmu. Siapa tau saja mereka sangat ingin anak-anak kita menemani hari-hari mereka. Hahaha!"


Amey berdiam sejenak. Ia mencerna ucapan Arsen. Sebenarnya tanpa disadari Amey, Arsen telah berencana licik. Ia sangat senang jika anak-anaknya merepotkan ketiga sahabatnya itu. Bukan ketiganya, lebih tepatnya hanya Mark dan Kaisar. Kalau Jayden, mungkin ia sangat senang jika kesehariannya di temani si kecil Edhan.


"Baiklah, Ars. Kau hubungi saja, Mark dan lain-lain. Supaya mereka tak terkejut dengan kedatangan anak-anak kita."


"Kau tenang saja, Memey. Serahkan semuanya padaku. Jika perlu, aku sendiri yang akan mengantarkan mereka pada Mark, Kaisar dan Jayden."


Amey mengangguk. Ia terlihat tenang dari sebelumnya. Amey tak tahu jika suaminya itu telah memikirkan rencana gila yang akan membuat heboh sejagat raya.


Aku rasa, kalian tidak akan menolak anak-anakku, jika aku sendiri yang mengantarnya. Haha! Tunggulah, uncle-uncle sialan!


"Oh iya, Ars, bukankah kau bilang Mark sedang sibuk?"


"Yuppp!"


"Apa tidak apa-apa kita membiarkan Edgar padanya?"


"Aku rasa tidak. Malahan Mark akan sangat senang, jika kencannya dengan Jen tak menjadi garing karena kehadiran si Edgar, duplikatnya sendiri."


Amey mengangguk kembali. "Baiklah, aku serahkan padamu saja."


Arsen menyunggingkan bibirnya.


Tak lama setelah perbincangan itu, mereka sampai ke perusahaan induk WS Group. Seperti biasanya, mereka disambut seluruh karyawan dengan penuh hormat. Sesampainya mereka di lantai terakhir gedung itu, Arsen melihat Mark yang sedang menyusun beberapa dokumen di atas meja kerjanya.


"Selamat pagi, Tuan dan Nyonya," sapa Mark, menunduk kepala.


Arsen mengangguk pelan.


"Pagi, Mark. Aku kira kau tidak akan ke kantor," tutur Amey.


"Aku hanya sebentar, Nyonya. Ada beberapa agenda yang harus di kerjakan Tuan Muda hari ini. Jadi aku menyusunnya sesuai urutan."


"Kau benar-benar asisten pribadi yang handal, Mark," puji Amey.


"Trima kasih, Nyonya."


Amey tersenyum.


"Aku permisi," pamit Mark.


"Mark!" panggil Arsen.


Mark menengok ke belakang. "Ada apa Tuan?"


"Kirim lokasimu lewat WhatsApp sekitar jam dua belas siang."


"Baik, Tuan."


"Aku ada kejutan untukmu," menyunggingkan bibir.


Mark yang melihat lekukan kecil di bibir Arsen, mulai memiliki firasat buruk. Ia tahu jika bosnya itu memiliki rencana licik. Dari mimik Tuan, tergambar jelas, kalau Tuan sedang merancanakan sesuatu. Semoga saja, hanya perasaanku saja! Batin Mark.


"Pergilah, dan jangan lupa shareloc!"


"Baik, Tuan." Mark menunduk dan segera melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Arsen.


Sebelum Mark mengecek segala persiapan pernikahannya dan Jenifer, ia terlebih dahulu mengatur segala yang diperlukan Arsen. Meski ia telah diijinkan Arsen untuk libur satu hari, namun Mark juga tak melupakan tugas dan tanggung jawabnya sebagai tangan kanan Arsen.


"Aku penasaran, kejutan apalagi yang akan diberikan Tuan? Perasaanku semakin tidak enak," gerutu Mark sembari menarik gagang pintu.


***


Drt ... drt ... drt !!


(Percakapan di telepon)


"Bagaimana, Kai? Apa kau sudah memastikannya?" tanya Jayden dari seberang.


"Hmmm! Itu memang tempat tinggal seorang gadis bernama Miley," ucap Kaisar.


"Yeah!!" teriak Jayden penuh semangat.


"Apa yang akan kau lakukan, Jay! Jangan bilang kalau kau akan membuntuti gadis itu?!" ketus Kaisar.


"Enggaklah Kai! Aku hanya ingin berkenalan dengannya saja. Siapa tau kita cocok, terus jadian, terus menikah, hahaha!"


"Jangan macam-macam kau! Bisa-bisa kau kena undang-undang!"


"Tenang, Kai. Aku sudah memikirkan cara agar gadis itu mau berkenalan denganku. Lagian, wanita mana sih yang nggak mau sama cowok tampan, tajir dan mempesona seperti diriku ini?!"


"Jangan besar kepala kau! Tidak semua gadis sama! Ingat itu baik-baik!"


"Apaan sih! Sirik banget deh!" rengek Jayden.


"Terserah kau saja. Aku sudah membantumu, jadi sisanya kau yang urus!"


"Okeyyy, thank you my friend! Ohya, apa kau akan keluar hari ini?"


"Baiklah. Kau istirahat yang nyenyak saja. Aku mau melanjutkan misiku yang tertunda. Hahaha!"


"Misi apaan?"


"Misi mencari calon istri yang tertunda, hahah!"


"Sialan kau! Aku pikir misi apaan?! Ya sudah, semoga berhasil dan semoga tidak diseret ke penjara karena menguntit!"


tut ... tut ...tut


Kaisar mematikan sambungan teleponnya. Ia pun merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang kerjanya dan memutar tv.


Tok ... tok ... tok


"Masuk!"


"Permisi, Pak. Ini makanan yang Bapak pesan," menyodorkan sebuah benda segi empat yang berisi makanan.


"Trima kasih."


Alexa mengangguk. "Saya permisi, Pak."


"Tunggu! Apa aku masih memiliki jadwal hari ini?" tanya Kai.


"Sudah tidak ada lagi," jawab Alexa.


"Baiklah. Kalau begitu, kau boleh pulang."


Alexa terperanjat. "Benarkah, Pak?"


"Ya! Buat apa kau di sini? Karena jadwalku sudah tidak ada, maka kau juga sudah boleh pulang."


"Trima kasih, Pak," menunduk dan meninggalkan ruangan Kaisar.


Kaisar melirik jam tangannya. Ia melihat jika jam telah menunjukkan pukul dua belas lewat sepuluh menit. Masih terlalu dini memulangkan sekretarisnya itu. Namun apa boleh buat, tugasnya telah selesai, dan sekarang waktu mereka untuk beristirahat.


Kaisar menikmati makanannya sambil menonton televisi. Tiba-tiba suara gebrakan pintu terdengar begitu nyaring.


Tok ... tok ... tok


"Sialan! Siapa itu? Berani-beraninya mengetuk pintu dengan kasar!" gumam Kai.


Ia berpikir tidak mungkin jika Alexa pelakunya. Karena Alexa adalah wanita kalem dan lembut. Tidak mungkin juga kalau Jayden. Pasalnya ia baru saja teleponan dengan Jay. Satu-satunya kemungkinan yang tersisa adalah Arsen. Kalau Mark tak mungkin ia mengetuk pintu dengan kasar.


Brakkkk!


Kaisar memutar bola matanya saat melihat Arsen yang muncul dari balik pintu itu. "Ya! sudah kutebak jika itu kau!"


"Kelihatannya kau sedang bersantai," ucap Arsen.


"Ya! Hari ini aku sudah tidak memiliki jadwal lagi. Saatnya bagiku untuk beristirahat."


"Bagaimana kalau aku memberikanmu pekerjaan tambahan?" tersenyum kecut.


"Apa itu? Aku harap itu tidak sulit."


"Ohh tidak. Malahan kau akan menjadi rilex saat menerima tawaran pekerjaan ini," tutur Arsen menyakinkan.


"Apakah ini berkaitan dengan Zoey?" tanya Kai dengan binar bening berlian di maniknya.


"Hmm, lebih tepatnya ponakan Zoey."


Seketika Kaisar memutar otaknya. Awalnya ia tampak senang jika ada nama Zoey di sana. Namun setelah ia mencerna lebih teliti ucapan Arsen, Kai langsung berpikir, siapa keponakan Zoey.


Kaisar melonjak. Ia beranjak dari duduknya dengan mata yang terbuka lebar. "Shitttt! Jangan-jangan ..." menjeda ucapannya.


Arsen menepuk tangannya. Dan muncullah tunas-tunas arogan dari balik pintu.


"Halo, Uncle!" sapa Edward, yang pertama masuk ke dalam ruangan Kaisar.


"Halo, Uncle," ucap Edhan dengan tersenyum.


"Ka--kalian?" lirih Kaisar tak bertenaga.


"Uncle!!" teriak Edgar, memasuki ruangan Kai.


Kaisar semakin kacau saat tiga tunas arogan yang suka usil masuk ke dalam ruangannya.


"How aru you, Uncle jelek! Lama tidak bertemu, hahaha!" tukas si bungsu Edzel yang terakhir masuk ke dalam.


Deg!


Jantung Kaisar rasanya ingin melompat keluar dari tempatnya. Nafsu makannya menghilang saat melihat keempat Winston junior berbaris rapi di hadapannya.


"Ars, apa maksud dari semua ini?" lirih Kai tak bertenaga.


"Entahlah ... Yang pasti ini semua keinginan mereka," tersenyum licik.


"Kalau kau dendam padaku, bilang Ars. Jangan kau siksa aku secara frontal seperti ini!"


"Mana lebih baik, menyiksa perlahan atau berterus terang seperti ini?"


Deg!


"Kedua-duanya tak ada yang baik!"


Tbc ...


*LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :


.


.


.


Follow ig @syutrikastivani


(Note: Maaf karena dua hari tak bisa update. Author lagi tidak enak badan. Tapi puji Tuhan, sekarang sudah mendingan. Harap pemaklumannya, Readerssss 🙏🏼**)