
Terik matahari yang menembus permukaan kulit tidak lagi dirasakan seorang gadis yang sedang mengendarai motor metiknya. Dalam perjalanan, Jenifer meracau tak jelas. Ia sangat kesal dengan Mark, asisten dingin bos besarnya.
Tepat hari itu juga merupakan hari spesial dirinya dengan sang kekasih. Di mana hubungan Jen dan pacarnya sudah menginjak satu tahun. Keduanya berjanji akan saling memberi hadiah namun bajetnya tak lewat dari dua puluh lima ribu.
Dari jauh hari, Jen memang telah berniat untuk membelikan pacarnya sebuah dasi berwarna merah. Karena kekasihnya itu paling suka dengan warna merah. Dari semua tokoh pinggir jalan yang Jen kunjungi, hanya satu ruko yang menjual dasi merah itu, dan kebetulan juga tinggal satu-satunya.
Betapa kesalnya Jenifer saat benda yang sudah diambil lebih dulu olehnya, tiba-tiba dirampas oleh pria elit yang merupakan atasannya. Apalagi Mark berlaku kasar dan seenaknya pada Jen. Hari itu merupakan hari yang sial bagi Jen.
Jenifer memarkirkan motor metiknya di tempat parkir depan kost miliknya. Dengan langkah yang berat, Jen menaiki anak tangga menuju kamar kostnya yang berada di lantai empat. Gedung itu berjumlah lima lantai, sudah tua dan terlihat usang.
Sesampainya di depan kamar ia segera membuka pintu dengan kunci yang ia gantungkan bersamaan dengan kunci motornya. Jen menghela napas panjang dan menghembuskan kasar sembari melempar tubuhnya di atas ranjang.
Kamar kost itu tidak terlalu besar. Namun semua barangnya muat di ruangan itu. Makanya tempat Jen terlihat begitu sempit dan padat. Jen juga termasuk manusia yang super irit. Bukan hanya irit tapi juga pelit. Semua biaya hidupnya diperhitungkannya dengan baik-baik.
Mulai dari makan, minum, pakai, bensin dan lain-lain, ia memperhitungkannya. Meski Jen telah mendapat pekerjaan yang layak, namun gaji sebulannya, enam puluh persen diserahkan kepada emaknya yang ada di kampung. Ia memiliki adik laki-laki yang sedang duduk di bangku kelas satu SMA. Jenifer juga yang membantu membayar uang sekolah dan kebutuhan lain adik satu-satunya itu.
"Ahhhhh! Sialnya aku hari ini. Gimana dong? Sebentar malam Andra bakal menjemputku, dan aku belum menyiapkan hadiah untuknya. Hik hik hik! Apes banget aku!"
***
Di gedung yang sama tempat Arsen dan Amey mengucapkan janji suci mereka untuk pertama kali, di tempat itu pula kedua kalinya mereka menikah. Tapi kali ini Arsen menganggap pernikahan mereka benar-benar telah sah karena telah memakai namanya di akta pernikahan.
Pernikahan mereka pun terjalin atas dasar saling mencintai. Tidak seperti sebelumnya, menikah karena paksa! Arsen dan Amey tersenyum semringah saat keduanya telah usai mengucapkan sumpah janji di hadapan Tuhan, dan para hadirin sebagai saksi.
Tak banyak yang menghadiri pernikahan itu. Hanya Soffy, Zoey, Mark dan Pak Pendeta yang meneguhkan pernikahan mereka. Sesuai dengan permintaan sang istri.
Usai peneguhan nikah, mereka memilih untuk kembali ke mansion. Amey merapikan tata letak dasi Arsen yang agak miring ke samping. Arsen yang melihat tingkah istrinya pun tersenyum kecil. Ia sangat bahagia karena memiliki Amey sebagai pendamping hidupnya.
"Suamiku?"
"Iya, Istriku?"
"Aku baru kali ini melihat dasi yang kau pakai. Milik siapa?"
"Sayang, kau tidak berpikir jika aku meminjamnya, bukan?"
"Tidak! Tidak sama sekali. Tapi tumben saja kau memakai dasi seperti ini," masih mengatur tata letak dasi itu.
"Memangnya ada apa dengan dasi ini? Aku baru saja membelinya tadi."
"Mem--membeli? Kau beli di mana?"
"Aku menyuruh Mark."
Amey menggeleng kepala. Astaga Mark! Kau sangat hobby mencari masalah dengan harimau ini!
"Why?" Arsen mengernyitkan dahi.
Mark yang telah paham maksud Amey hanya mematung sembari menunggu jemari Arsen menari ria di wajahnya. Ia kembali teringat jika sebelum dasi itu berada di tangan Arsen, ia sempat berdebat dengan seorang gadis yang bernama Jen. Bukan hanya berdebat, namun mereka juga saling memperebutkan dasi itu.
Arsen menjadi penasaran. Ia kemudian membuka dasi itu dan menatapnya dengan seksama. Mata Arsen melebar saat melihat dasi yang sedari tadi ia kenakan ternyata memiliki sobekan di pinggir. Meski kecil, namun Arsen tetaplah Arsen. Pria perfeksionis yang menuntut segala sesuatu harus sempurna.
"MARK!" geram Arsen. "Ikut aku!"
Ia terlihat menahan amarahnya karena mereka masih berada di dalam Gereja. Cepat-cepat Arsen berjalan keluar gedung itu dan diikuti dengan langkah Mark yang tak kalah kencang dari Arsen. Amey pun segera menyusul karena ia tahu apa yang akan dilakukan Arsen pada Mark.
"Bocil, capat Ngana! Torang molia dulu pertunjukkan!" (Bocil, ayo cepat! Kita akan melihat pertunjukkan!) tutur Soffy mengajak Zoey untuk keluar.
Zoey menerka-nerka maksud ucapan Soffy. "Pertunjukkan?"
"Adodoeh! Laju jo, somo ta tinggal torang dua. Molia leh Arsen deng Mark mo manyabung!" (Aduh! Cepat, kita berdua akan ketinggalan pertarungan antara Arsen dan Mark!)
Zoey semakin tidak mengerti. Ia berkerut dahi seraya mengikuti langkah Soffy yang sangat cepat. Tak lupa juga di tangan Soffy telah tersedia sebuah tongsis dan ponsel yang menggantung di sana. Tentu saja Nenek Rempong itu akan melakukan siaran langsung.
Seketika Arsen menghentikan layangan tangannya dan menurunkannya kembali. Ia kembali terpikir akan perjanjian yang telah dibuat dirinya dan Amey.
Arsen tampak kesal karena tidak bisa melampiaskan emosinya. Namun apalah daya Arsen yang tidak bisa bertarung selama dua belas ronde jika ia melanggar janjinya pada Amey untuk tidak memukul Mark.
"Gimana Sayang?" goda Amey.
"Baiklah!" Arsen segera menuju mobil. Napasnya begitu memburu.
"Mark, berterima kasihlah padaku yang telah menyelamatkanmu," mengedipkan mata kirinya dan berlalu.
Mark terdiam. Dalam hatinya penasaran dengan perjanjian apa yang dibuat Tuan dan Nyonyanya, sampai-sampai Nyonya mudanya itu bisa menaklukkan emosi Arsen yang labil.
"Perjanjian? Ahh entahlah! Yang pasti wajahku ini selamat dari cakaran setan!" gumam Mark.
Ketika Mark hendak berlalu dan meninggalkan tempat itu menuju ke mobil, Soffy dan Zoey baru saja tiba. Soffy melempar kepalanya ke kiri dan ke kanan mencari sosok Arsen. Setelahnya ia menatap wajah Mark yang masih bersih tak bercela.
"Apa pertarungan kalian sudah selesai?" tanya Soffy.
Mark memilih diam. Ia kemudian melanjutkan langkahnya menuju mobil.
"Ya dragon! Padahal 'kan aku baru menyiapkan kamera untuk siaran langsung di pacebook!"
"Nek, janganlah! Gimana kalau kak Arsen tau? Bisa-bisa hukuman kita diperpanjang satu abad!"
Soffy berpikir sejenak. "Ya amsyonggg! Nenek hampir lupa," menepuk jidatnya.
"Nensi?" teriak Arsen dari dalam mobil.
Soffy menoleh.
"Lekas naik ke mobil. Ingat! Kalian belum dibebaskan dari hukuman."
"Siap delapan enam komdan!" tukas Soffy tak kalah nyaring dengan suara Arsen.
Soffy dan Zoey naik ke dalam mobil. Mereka memang membawa kendaraan sendiri. Itu pun penuh perjuangan membujuk Amey agar ia mau membujuk suaminya supaya bisa mengijinkan Soffy dan Zoey ikut ke Gereja menggunakan kendaraan terpisah.
"Bocil, gimana adem 'kan?"
"Amazing! Aku sudah lama tidak keluar rumah. Akhirnya bisa menghirup udara segar, Nek!"
"Kau benar, Nenek juga. Eh bocil, Nenek punya rencana," lirih Soffy sembari menarik kaca mata hitam andalannya.
"Apa tuh Nek?
"Gimana kalau kita jalan-jalan sebentar," goda Soffy, memainkan kening kiri dan kanannya.
"Aku suka gaya Nenek," melekukkan bibirnya.
"Haha. Baiklah, tidak sampai dua puluh menit," gumamnya. "Bocil! Eratkan seat belt-mu!"
"Done."
Soffy menancapkan gas dan melaju. Ia mengemudi dengan sangat cepat dan melambung Mark. "Yuhuuuuuu," teriaknya.
Mark, Arsen dan Amey, sama-sama menggeleng kepala saat melihat tingkah gila Soffy.
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE 😘
follow ig : @stivaniquinzel