Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Jebol


Arsen tidak dapat lagi mengontrol suhu tubuhnya yang begitu panas. Ia membuka jubah mandi berwarna putih itu dan melemparnya disembarang arah. Melihat Arsen yang menanggalkan baju, wanita itu memalingkan wajahnya.


“Sepertinya ini bukan alergi,” gumam Arsen sembari menekan tombol remot ac.


Jelaslah bukan alergi, itu ‘kan ramuan racikan nenek yang berfungsi untuk memperkokoh kejantanan! Batin Amey.


Melihat belakang punggung Amey membuat pria itu semakin tidak dapat mengendalikan nafsunya. Ia mendekat dan tiba-tiba memeluk tubuh Amey. Wanita itu sontak kaget dengan perlakuan Arsen. Astaga! Apa dia meminta untuk melanjutkannya?


Tanpa bertanya, Arsen membalikkan tubuh Amey menghadap ke arahnya. Dengan mata yang terbelalak Amey memandangi wajah Arsen yang terlihat lebih mengerikan dari yang sebelumnya. Arsen menyapu leher Amey dengan alat perasa di dalam mulutnya.


Wanita itu hanya bisa pasrah dan tidak melakukan perlawanan sehingga membuat Arsen lebih leluasa menyicip lehernya. Ciuman itu tidak hanya berdiam di suatu tempat melainkan mulai menjalar ke daerah sensitif Amey.


“Arghhh … Ars … shhh.”


“Entah apa yang membuat aku bisa sepanas ini, yang pasti aku hanya ingin melampiaskan nafsuku saat ini juga,” ucap Arsen.


Amey memejamkan matanya saat Arsen mulai melepaskan jubah mandi istrinya. Untuk kedua kalinya Arsen melihat tubuh telanjang Amey. Dengan perlahan Arsen mulai membuka celah kangkang istrinya.


Tusukan yang cukup kuat membuat Amey harus menggigit lengan berotot suaminya. Belut Arsen mulai menerobos masuk ke dalam terowongan gelap. Merasakan remasan kuat Amey pada lengannya membuat ia harus melambatkan tusukan itu.


Arsen paham jika Amey merasakan sakit yang teramat dalam. Tusukan perlahan tiba-tiba mulai menjadi sedikit cepat. Beberapa hentakan dibuat Arsen agar belutnya dapat masuk sepenuhnya ke dalam gua karena baru setengah yang mendapat akses masuk ke dalam.


“Ars, sakit! Arghh.” Amey mengerang kesakitan.


“Sabar Sayang. Setelah ini aku janji tidak akan sakit lagi.”


Dengan susah payah Arsen menyusuri terowongan gelap itu. Peluh kini menyucur di dahi Arsen, rasa panas dan nikmat yang tidak ada duanya hinggap di tubuh Arsen. Beberapa saat kemudian badan Amey menggeliang hebat.


Jlebbbb …


Terowongan gelap itu pun jebol. Arsen tersenyum semringah, namun tidak dengan Amey. Wanita itu meremas punggung Arsen sembari menggigit lengan kekar suaminya karena menahan sakit dan juga merasakan suatu rasa yang aneh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


Tanpa disadari Amey, ia mulai mengeluarkan suara desahan yang cukup kuat. Gendang telinga Arsen seolah mendengarkan suara yang begitu indah dan merdu. Sudah lama ia tidak mendengarkan wanita bernyanyi saat ia bermain.


Akhirnya, Arsen berhasil menjebol terowongan gelap milik Amey. Terowongan itu sekarang telah memiliki penghuni, dan penghuni itu adalah belut besar milik Arsen. Ia menekan belutnya semakin ganas. Hentakan pinggulnya yang sangat cepat memang memberikan sensasi yang benar-benar nikmat bagi Amey.


Suara desahan liar Amey dan suara peraduan antara belut dan gua kini memecah keheningan ruangan itu. Hasrat Arsen kini terobati dengan memasuki terowongan Amey yang sudah lama didambakannya.


Permainan masih berlanjut, jam sudah menunjukkan pukul lima dini hari. Sudah Sekitar enam jam setengah mereka bergulat, namun Arsen belum merasakan lelah. Bagaimana dengan Amey? Ya wanita itu sudah kehabisan tenaga.


Namun karena Arsen masih sangat bersemangat menikmati tubuh Amey, ia pun hanya pasrah dan berharap Arsen segera menghentikan pertempuran mereka. Nafas Amey memburu. Ia terlihat ngos-ngosan seperti baru habis lari mengelilingi Kota Paris.


"Sayang apa kau lelah?" tanya Arsen.


Amey mengangguk. "Aku sudah tujuh kali pipis Ars," lirih Amey tak berenergi.


"Itu bukan pipis, Sayang."


"Lalu itu apa?"


"Vla puding."


"Vla puding? Bukannya itu makanan?"


"Hmmm."


Amey berkerut dahi, ia memilih untuk tidak membahas mengenai vla puding. "Apa kau tidak lelah?"


"Tidak sama sekali. Waktu tempur ini masih terlalu singkat untukku."


Amey melemas mendengar ucapan Arsen. Ia menghembuskan napasnya dengan kasar saat Arsen kembali menggoyang cendol dengan sangat cepat.


"Terakhir Sayang ... ahhhh ... ehmm ... aku harus mengeluarkan vla pudingku untuk kedua kalinya," tutur Arsen terbata.


Wanita itu tersenyum. "Selamat ulang tahun, Arsen."


Kalimat yang seharusnya ia ucapkan pada Arka, namun hanya bisa ia ucapkan pada Arsen yang sudah sah menjadi suaminya.


Arsen memanglah belum puas dengan permainannya, namun ia juga merasa kasihan dengan Amey yang sudah sangat lelah. Amey wanita pertama yang dapat membuat Arsen berhenti dalam pergulatan.


Biasanya Arsen tidak memperdulikan wanita-wanita malam yang merengek kelelahan saat bermain dengan pro player. Malahan ia lebih bersemangat menghabisi para wanita itu sampai-sampai mereka harus jatuh sakit dan tidak bisa berjalan selama beberapa hari.


Berbeda dengan Amey, wanita penakluk hatinya. Melihat Amey yang sudah kehabisan tenaga, ia pun segera menghentikan aksinya. Walau masih ada keinginan untuk melakukan penelusuran lebih lanjut.


***


Mentari telah bersinar memaparkan cahaya terang di Kota Paris. cakrawala yang biru dihiasi dengan awan berwarna putih yang berkelompok di atmosfer nampak memberikan kesejukan alamiah yang begitu mempesona dipandang mata.


Seperti biasanya, aktivitas rutin yang dilakukan makhluk hidup setiap harinya. Kendaraan yang lalu lalang, pejalan kaki maupun para pedangang dan orang-orang yang sibuk dengan aktifitas masing-masing terlihat menghiasi panasnya Kota Paris.


Seorang pria tampan sedang memandangi istrinya yang masih terlelap. Arsen menyelipkan anak rambut Amey di balik telinganya yang menutupi wajah cantik istrinya. Ia kemudian mengecup kening Amey dan mengelus puncak kepalanya.


Merasakan sentuhan lembut dari sang suami, ia pun akhirnya membuka mata dengan perlahan. Hal pertama yang didapatinya ialah wajah Arsen yang sedang menatap wajahnya lekat.


"Guten morgen, Amey," sapa Arsen tersenyum kecil.


Tunggu dulu! Dia menyebut namaku? Wahhh, ini pertama kalinya ia memanggil namaku.


Amey tersenyum kaku. "Morning, Ars."


"Apa tidurmu nyenyak?"


"Ya, tentu saja." Amey mencoba menggerakan badannya namun, "Awww, shhhh! Kenapa pahaku sakit sekali," gumamnya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menahannya," tutur Arsen.


"Tidak apa-apa. Tapi sumpah, pahaku sangat sakit jika digerakan, Ars. Apalagi kemaluanku, rasanya begitu perih."


Arsen membuka selimut yang menutupi tubuh keduanya. Amey sontak kaget, ia berusaha meraih kain itu namun percuma saja, ia tidak dapat bergerak sedikit pun.


"Astaga! Apa itu darah?" tukas Amey menganga. Wajahnya memerah seperti tomat. "Ini memalukan! Sepertinya aku kedatangan tamu bulanan," ucap Amey menggigit bibir bawahnya.


"Tamu bulanan?" Arsen segera menghadap ke arah pintu. "Tamu mana yang berani bertemu denganmu, tanpa ijin dariku, hah?" Arsen tiba-tiba geram.


"Ya ampun Ars bukan tamu seperti yang kau pikirkan saat ini. Tapi maksudku, aku lagi menstruasi," jelas Amey malu-malu.


Arsen bernapas legah. "Ohya! Aku kira ... Eh, kau bukan menstruasi."


"Kau tidak paham Ars. 'Itu' aku mengeluarkan darah. Tapi kok nggak biasanya ya aku dapat di pertengahan bulan biasanya di awal bulan."


"Kau pikir aku bodoh! Kau bukan menstruasi, tapi noda merah itu karena robeknya selaput daramu."


Amey menganga, ia ingat jika terowongan gelapnya telah dimasuki belut sebesar pergelangan tangan pria dewasa. Dan sumpah! Itu sangat besar dan panjang. Melihatnya saja sudah membuat Amey sesak.


Arsen menutupi tubuh istrinya. "Jika kau butuh sesuatu, katakan padaku. Untuk beberapa hari ini kau tidak bisa bergerak dengan bebas apalagi berjalan."


To be continued ...


.


.


.


Vote yang banyak ya biar bisa masuk ranking 😘