
Jam telah menunjukkan pukul delapan tiga puluh. Mark mencoba menghubungi nomor telepon Arsen, namun sedari tadi tidak dapat terhubung. Jenifer pun memutuskan untuk membawa Edgar ke apartemennya.
Setelah seharian bermain, Edgar pun mulai kelelahan. Ia tampak mengantuk dan tak memiliki tenaga lagi untuk beraktivitas. Mark menggendong Edgar dan membawanya masuk ke kamar Jenifer.
"Uncle?" lirih si kecil Edgar.
"Ada apa Tuan Muda Kecil?" tanya Mark.
"Aku mau minum susu. Sebelum tidur, Mommy sering membuatkan kami susu."
"Baiklah, akan kubuatkan," meletakkan tubuh mungil Edgar di atas tempat tidur.
"Sektetaris Jen, sepertinya aku harus ke supermarket membelikannya susu."
"Biar aku saja, Mark," tawar Jen.
"Tidak. Aku tidak akan mengizinkan kau pergi keluar sendirian. Sebaiknya kau turuti perintahku, dan tetap bersama Tuan Muda Kecil di sini."
Jen mengangguk pelan. "Hmm, baiklah, calon suamiku," tersenyum kecil.
Mendengar ucapan Jen, Mark langsung tersipu malu. Bagaimana tidak, kalimat Jen sangat membuat pria dingin itu terkejut. Jantungnya pun semakin berdetak tak karuan.
"A--aku pergi dulu," tutur Mark dengan kaku dan langsung berjalan menuju pintu.
Jen yang melihat tingkah Mark pun menggelengkan kepala sembari tersenyum lebar. "Masih saja salah tingkah," gumamnya pelan.
"Aunty, sepertinya aku ingin kau memiliki seorang bayi perempuan."
Deg!
Jen tiba-tiba tersedak dengan liurnya saat mendengar ucapan Edgar.
"Ba--bayi perempuan?"
"Ya! Aku ingin kau dan Uncle memiliki anak perempuan. Supaya aku bisa bermain dengannya. Aku sudah cukup memiliki ketiga saudara laki-laki, dan sekarang aku menginginkan adik perempuan."
"Kenapa kau memintanya padaku? Kenapa kau tidak memintanya saja pada Mommy kamu?"
"Sudah kuminta. Kata Mommy, adik perempuan sementara diproses."
"Uhuk ... uhuk ..."
"Aunty, bolehkah aku bertanya?"
"Silahkan." Jen memegang tengkuk lehernya. "Tapi jangan yang aneh-aneh, IQ ku tak'kan mampu menjawab pertanyaan dari anak gaib sepertimu," lirih Jen sembari menghadapkan wajahnya ke samping.
"Bagaimana cara membuat bayi perempuan?"
Deg!
"Cukup, cukup Edgar. Kau mungkin sangat lelah, makanya ucapanmu mulai ngelantur," tutur Jen.
"Aku ingin membuat bayi, Aunty! Katakan padaku caranya!"
Jen terkejut bukan kepalang. Astaga! Apa dia serius? Bisa-bisanya anak sekecil ini menanyakan cara membuat bayi?! Jangankan hanya menanyakan caranya, Dia pun ingin langsung membuatnya! Luar biasa titisan Tuan Arsen Winston! Sampai hal yang tak pernah terpikirkan oleh orang dewasa, mampu di pikirkan anak peranggang ini!
"Aunty? Apa kau mendengarku?"
"Ya! Tidurlah, Edgar. Pamanmu akan tiba sedikit lagi. Pertanyaanmu tadi, kau simpan dulu dan kau tanyakan saja pada Mommy dan Daddymu," ucap Jen tersenyum kaku.
Bagaimana bisa aku menjelaskan prosesnya?! Aku saja tak tau dan tak mau tau, dan kau ...? Ahhh, sumpah ini sungguh gila! Menikah saja belum, apalagi sudah mau punya anak. Ada-ada saja bocil ini, hahaha!
Lagi-lagi Edgar hampir membuat Jenifer terkena serangan jantung dengan ucapannya yang polos.
***
Tak lama kemudian Mark tiba di supermarket terdekat. Ia tampak bingung saat melihat ada berbagai macam merk susu yang terpajang rapi di rak. Mulai dari susu bayi sampai kepada susu orang dewasa. Sebenarnya Mark tidak tahu susu apa yang biasa diminum Edgar. Mark mengeluarkan gawainya dan menghubungi seseorang.
(Percakapan di telepon)
"Selamat malam Nyonya Muda," ucap Mark.
"Selamat malam Mark. Ada apa? Apa Edgar berbuat masalah?" tanya seorang wanita dari balik telepon. Wanita itu ialah ibu dari keempat bayi kembar.
"Tidak Nyonya. Hanya saja Tuan Muda Kecil mengiginkan susu. Aku sedikit bingung susu apa yang biasa di minum Tuan Muda Kecil."
"Tidak usah repot-repot Mark, aku dan Arsen sedang di perjalanan menuju apartemenmu. Kami akan menjemput Edgar. Kau tak perlu membelikannya susu."
"Baik Nyonya."
"Sedikit lagi kami sampai. Kau kembalilah ke apartemen."
"Baik Nyonya."
Panggilan pun berakhir. Mark keluar dari supermarket dan menuju ke mobilnya. Jarak antara apartemen dan supermarket tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih sepuluh menit, Mark sudah tiba di apartemen. Ia memarkirkan mobilnya di basement dan berjalan menuju lift.
Saat hendak turun dari lift, Mark melihat Amey dan Arsen sedang menuju kamarnya. Ia pun berjalan dengan cepat dan menghampiri pasangan suami istri itu.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Muda," sapa Mark.
"Di mana Edgar?" kilah Arsen, tanpa menyapa salam dari Mark.
"Tuan Muda Kecil ada di kamar Sekretaris Jenifer," ucap Mark sambil membuka pintu kamar Jenifer.
"Kau bahkan sudah mengetahui sandi pintunya," tutur Amey terkekeh pelan.
Mark menjadi sangat malu, dan ia pun hanya bisa menundukkan kepala.
"Bagaimana rasanya jatuh cinta? Enak bukan?" ledek Arsen.
"Silahkan masuk Tuan dan Nyonya," timpal Mark, mencari cela supaya Arsen tidak meledeknya lagi.
"Maafkan aku, Tuan. Jangan keras-keras nanti Tuan Muda Kecil bangun."
Deg!
Arsen menjadi geram. ia langsung menarik kerah Mark dengan kuat. "Dasar Jodi Sinting! Mentang-mentang kau sudah menemukan cintamu, kau sudah mulai melawan padaku!"
"Maafkan aku Tuan. Aku tidak berani melawanmu."
"Sayang! Hentikan. Mark benar! Apa kau mau membuat Edgar bangun akibat keributanmu?" sambung Amey.
Arsen pun melepaskan cengkeraman tangannya. "Kali ini kau selamat Mark. Lihat saja nanti aku akan menghukummu nanti. Aku akan menitipkan keempat anakku sekaligus untuk kau asuh! Awas saja jika kau menolak!"
Deg!
Apaaaa?! E--empat anak kembarnya? Tidak tidak! Jangan sampai aku menerima hukuman mengerikan seperti itu. Lebih baik aku diasingkan di pulau dan hanya sendirian saja, daripada aku harus menjaga keempat anak gaibnya. Rip Mark!
"Apa lagi yang kau katakan dalam hatimu?! Kau pikir aku tidak tau pikiran licikmu itu?" geram Arsen.
"Tidak ada, Tuan." Yayaya, seperti biasanya, kekuatan supranaturalnya telah diganti ke dalam mode aktif.
"Cukup, Mark!"
"Baik, Tuan."
Amey menggeleng kepala dengan keanehan kedua pria yang ada di depannya. "Bukan Arsen dan Mark namanya, jika mereka tidak kekanak-kanakan seperti ini! Maafkan aku anak-anakku, kalian memiliki seorang Ayah dan Paman yang punya kelainan dan keanehan," gumam Amey.
Arsen dan Mark yang mendengar itu langsung menatap Amey dengan manik lebar.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa aku berbuat kesalahan?" tanya Amey dengan pura-pura polos.
"Mommy, Daddy," teriak seorang anak kecil.
"Sayang, kau pasti terbangun akibat mendengar suara berisik Daddy dan Unclemu, sini peluk Mommy."
Edgar berlari memeluk Amey sambil mengucek matanya yang tampak sayu.
"Anak Daddy, sudah bangun ya? Uhh sayang." Arsen memeluk Edgar dan Amey.
"Jen, makasih ya, kau telah menyempatkan waktu untuk mengasuh anakku."
"Sama-sama Nyonya Muda," tutur Jenifer mengedipkan mata.
"Santai kali Jen Hahah!"
"Ayo Edgar, kita pulang," ajak Arsen sembari memeluk anaknya.
Saat Arsen hendak melewati Mark, ia berbisik di telinga Mark. "Sekarang kau bisa melakukan scooby doo papap dengan Garfield!"
"Apa yang kau maksudkan, Tuan?" tanya Mark, tak paham dengan ucapan Arsen.
"Maksudku, kau bisa mantap-mantap dengan Kucing Liarmu!"
"Uhuk ... uhukk!" Mark seketika tersedak mendengar ucapan nakal Arsen.
Arsen dan Amey berjalan meninggalkan mereka. Sedangkan kedua orang itu hanya bisa saling menatap dan bersikap seperti biasanya. Saling canggung satu sama lain.
"Mark?" lirih Jen.
"Ada apa Sekretaris Jen?"
"Jangan memanggilku seperti itu. Kau membuatku canggung saja," tukas Jen.
"Maafkan aku Jen."
Deg!
Mendengar ucapan Mark, Jenifer langsung mabuk kepayang. Jelas saja karena suara seksi Mark yang berat sangat indah saat terdengar di telinga Jenifer, apalagi saat memanggil namanya tanpa memakai bahasa baku dan formal.
Suaranya sangat indah ... Ya Tuhan, ingin rasanya aku memiliki ciptaanMu ini, sekarang juga! Setelah aku pikir-pikir satu minggu lebih sangat lama! Ahhhhh, pengen tidur bareng, pengen cium, pengen peluk sepuasnya, tapi ... kalau belum nikah, nanti berujung dosa!
"Ada apa Jen? Kau seperti memikirkan sesuatu?" tanya Mark.
"Ti--tidak ada, Mark. Aku hanya ... "
"Tidurlah, Jen. Kau tampak sangat lelah menjaga Tuan Muda Kecil."
Jen mengangguk.
Mark memajukan langkahnya dan meraih kening Jen dengan bibirnya. "Selamat tidur, sayang."
Deg!
Sa--sayang? Aku tidak salah dengarkan? Pria dingin ini memanggilku dengan sebutan sayang?! Sungguh gila!
Suhu tubuh Jen tiba-tiba mulai naik. Ia terasa sangat panas. Pipinya mulai mengeluarkan rona merah. Mark yang melihat itu hanya melemparkan senyum manisnya dan langsung ******* bibir Jenifer.
"Sayang, aku mencintaimu," ucap Mark dengan lembut.
Tuan, kau mulai romantis!
To be continued ...
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani