Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Acara Pembukaan Vila


Mark menurunkan Jen tepat di depan Vila, kemudian ia memarkirkan mobil di tempat parkir samping Vila.


Jen mengambil cermin kecil dan berkaca di sana. Rambutnya sudah berantakan akibat ia tertidur dalam perjalanan. Ia pun merapikan rambutnya dan kemudian mempertajam warna bibirnya dengan lipstik natural. "Nahh kalau begini sudah cantik," gumamnya tersenyum memandangi wajahnya di cermin.


"Jangan memaksakan dirimu untuk terlihat cantik, karena pada dasarnya kau memang jelek!" tutur Mark sembari melewati Jen yang sedang berdiri di depannya.


Jen memasang wajah masam saat mendengar ucapan pedas Mark. Ia pun tak menggubris dan mengikuti Mark dari belakang. Kedua orang itu memasuki Vila George. Para tamu penting tampaknya sudah berada di dalam Vila.


"Hey Mark!" panggil George.


Mark menunduk kepala. "Halo Mr. George!"


"Siapa yang kau bawa? Cantik sekali," puji George.


"Mr. George perkenalkan, dia adalah Sekretaris Nyonya Muda sekaligus Manajer Umum di Paradise Hotel," ucap Mark memperkenalkan.


"Wah luar biasa. Kau memiliki dua jabatan penting. Kau sangat hebat. Siapa namamu?"


"Nama saya, Jenifer Tuan."


"Saya George!"


Jen menunduk kepala. "Senang bertemu dengan Anda."


"Hahah. Trima kasih. Kalian pasangan yang cocok," ucap George.


Jen tersenyum kecil. Sedangkan Mark tampak canggung. "Mr. George saya permisi sebentar," tutur Mark meninggalkan Jen dan George.


"Oh baiklah."


Mata Jen berkeliling memandangi tempat yang mewah itu. Ia merasa asing karena tak ada satu pun orang yang dikenalnya.


"Nona Jenifer, ini anggur untukmu," menyodorkan sebuah gelas.


"Trima kasih Mr. George." Jen menerima anggur itu dengan terpaksa. Padahal ia tidak suka minum anggur bersama orang asing. Namun karena sebelumnya Mark sudah mengajarkannya tatakrama agar orang tidak tersinggung, makanya ia menerima anggur itu walaupun hanya menjadi hiasan tangannya saja.


"Aku sudah mendengar dari Mr. Winston kalau beliau tidak bisa hadir karena istrinya sedang mengandung. Dan aku sangat bertrima kasih padamu dan Mark karena telah menyempatkan diri untuk hadir di pesta pembukaan Vila ini."


"Sama-sama Mr. George. Saya sangat senang bisa menghadiri pesta Anda sebagai perwakilan dari Tuan dan Nyonya Winston."


George tersenyum dan meneguk anggurnya. "Kalau begitu selamat bersenang-senang, Nona," meninggalkan Jen.


Jen berjalan menyusuri tempat yang luas itu. Ia duduk di kursi yang terletak di pinggir kolam sembari memandangi langit yang bertabur bintang. "Tempat ini sangat indah," menenggak anggurnya.


Tak sengaja mata Jen menatap ke arah Mark yang sedang berbicara dengan seorang wanita. Mark tersenyum cerah saat berbincang dengan wanita itu. Tanpa disadari Jen, ia mulai jengkel. Apalagi wanita itu sangat cantik dan lebih tinggi darinya.


"Sebahagia itukah Tuan Mark saat mengobrol dengan gadis cantik?" gumamnya.


"Hey, Nona. Kita bertemu lagi!" ketus seorang pria yang tak lain adalah Mr. Dusley.


"Kakek Sugiono?" lirihnya terbelalak.


"Maaf Nona? Apa yang kau ucapkan? Aku tidak mendengarnya."


"Ehm, tidak Mr. Dusley," tutur Jen.


"Kau datang sendirian?"


Jen menatap Mark kembali. Rasa kesalnya semakin bertambah saat melihat Mark bersulang dengan gadis itu. "Saya datang sendirian."


"Kalau begitu, ayo kita bersulang. Aku akan menemanimu di sini."


Ishhhhh! Berharap ada pria tampan yang menghampiriku, ehh malah kakek-kakek mesum! Batin Jen.


"Saya tidak apa-apa di sini Tuan."


"Wanita cantik tidak boleh sendirian. Sini aku temani," merangkul bahu Jen.


Gadis itu merasa risih dengan sikap Dusley padanya. Ia menggoyangkan bahunya dengan kaku agar tangan pria tua itu terlepas dari bahunya.


"Maaf mengganggu waktu Anda Mr. Dusley. Tapi saya harus membawa Nona Jenifer. Ada sesuatu yang harus Nona Jenifer lakukan."


Jen dan Dusley terkejut dengan suara dingin yang berasal dari belakang punggung mereka.


Tuan Mark!


"Mark kau juga datang? Apa Mr. Winston tidak menghadri acara ini?"


"Tidak Mr. Dusley." Mark menyodorkan tangannya untuk di raih Jenifer. Dengan sigap Jen menerima tangan besar Mark dan beranjak dari duduknya.


"Saya permisi Mr. Dusley," ucap Mark membawa Jen. Sedangkan gadis itu hanya menunduk kaku.


Debaran jatung Jen semakin menjadi. Ia menatap tangannya yang digenggam Mark. Ia seolah tak percaya jika seorang Mark menggenggam tangannya dan menyelamatkannya dari pria tua genit.


Lekukan kecil terbentuk di bibir Jen. Perasaan kesalnya berubah menjadi berbunga-bunga. Beberapa saat kemudian Jen tersadar. Ia langsung menarik tangannya.


"Jangan besar kepala! Aku menyeretmu dari situ karena aku tak suka dengan pria tua genit seperti Mr. Dusley."


"Cihhh, siapa juga yang besar kepala!" lirih Jen dengan memanyunkan bibirnya.


"Duduklah di sini dan jangan ke mana-mana," berjalan meninggalkan Jen.


Mengetahui jika pria dingin itu akan meninggalkannya, Jen dengan reflek memegang lengan Mark. "Tu--tuan mau ke mana?" ucap Jen pelan.


Mark menatap wajah memelas Jen. Tanpa bersuara Mark melepaskan tangan Jen dengan perlahan dan melangkahkan kakinya menjauh dari pandangan Jen.


Jen! Apa yang kau harapkan? Mana mungkin di akan menemanimu! Batin Jen.


"Permisi. Bolehkan aku duduk di sini?" ucap seorang wanita dengan ramah.


Jen memandangi wanita itu dari ujung kaki sampai ujung kepala. Ya Tuhan! Cantik sekali! Apa dia melakukan operasi plastik?


"Kalau tidak boleh juga tak apa-apa," tutur gadis berambut cokelat itu.


Jen buyar dari lamunannya. "Eh tidak-tidak. Kau boleh duduk di sini."


"Aku Hyuna. Siapa namamu?"


"Aku Jenifer." Ohh namanya Hyuna. Dia 'kan wanita yang berbicara dengan Tuan Mark tadi.


"Apa kau dan Mark sangat dekat?"


Deg!


Kenapa dia tiba-tiba berbicara seperti itu?!


"Maaf jika aku terlalu blak-blakan, heheh. Sebenarnya aku di suruh Mark menemanimu di sini."


Jen terbelalak. "Memangnya Tuan Mark ke mana?"


"Mark sedang mengurus sesuatu dengan Mr. Dusley. Jadi dia memintaku untuk menemanimu duduk di sini."


Oh begitu. Ehh tapi kenapa tiba-tiba Tuan Mark memiliki urusan dengan Mr. Dusley? Tauu ahhh! Bodo amat.


"Baru kali ini Mark memperlakukan wanita dengan baik. Biasanya tidak peduli dengan wanita," menggoyang gelasnya dan meneguk anggur. "Hehe, maaf sudah curhat."


"Ti--tidak apa-apa Hyuna. Tapi kenapa kau berkata seperti itu?"


"Aku adalah sahabat dekat Eggie. Eggie yang memperkenalkan Mark denganku, terus kita jadi teman dekat. Namun semenjak peristiwa itu, Mark berubah menjadi pria berhati batu."


Jen menyimak sambil mengangguk kepala. "Oh jadi kau sahabatan dengan Sekretaris Eggie?"


"Kau kenal Eggie?"


"Ya! Sebelum aku menjadi Sekretaris sementara Alganda Group, Sekretaris Eggie-lah yang menjabat. Tapi beliau sementara cuti."


"Ohiya aku tau itu. Lagian, sudah tak ada harapan lagi untuk Eggie dan Mark balikan. Mark sudah bernazar untuk tidak membuka hati untuk wanita lain sedangkan Eggie sudah mencintai pria lain."


"Aku juga tau itu," lirih Jen.


"Ohya? Siapa yang memberitaumu?" Apakah Eggie, atau Mark?"


Jen terdiam. Sebenarnya ia tidak mengetahui masa lalu Mark dan Eggie dari keduanya. Melainkan Amey yang memberitau. Tapi jika Jen mengatakan yang sebenarnya kalau ia tahu dari orang lain, pastilah wanita yang ada di depannya akan merasa aneh.


"Tuan Mark yang memberitauku," ucap Jen berbohong.


Hyuna mengernyitkan dahi. Ia tidak menyangka jika Mark akan memberitahu hal yang menyangkut dirinya kepada orang lain.Apa terlebih masa lalu itu sangat dirahasiakan Mark dan Eggie. Hanya orang-orang terdekat Mark dan Eggie yang mengetahui kisah cinta pahit keduanya. "Kau berarti sangat dekat dengan Mark. Pantas saja ... "


"Pantas saja?" ulang Jen penasaran.


"Pantas saja Mark membawamu pergi menjauhi Mr. Dusley. Mark juga sedang mempertaruhkan kariernya ... ups! Maaf Jen, aku keceplosan lagi!"


"Maksudmu mempertarukan kariernya?"


Astaga! Aku lagi-lagi keceplosan. Bisa panjang masalahnya kalau Mark tau! "Ehm, Jen berjanjilah padaku kalau kau tidak akan mengatakannya pada Mark."


"Aku janji. Tapi kau harus menceritakan padaku semuanya," tutur Jen penasaran.


Hyuna pun menceritakan pada Jen semuanya. Kedua orang itu terlihat sangat akrab layaknya orang yang sudah bersahabat bertahun-tahun lamanya.


***


Di Vila milik keluarga Winston yang terletak di puncak gunung tampak Arsen dan Amey sedang menikmati liburan tujuh hari mereka. Namun Arsen sangat kesal karena Amey membawa pasukannya. Tentu saja Arsen marah. Ia menginginkan waktu yang berkualitas dengan Amey, namun wanita itu mengajak setengah dari pelayan mansion untuk datang bersama mereka.


"Sayang, jangan cemberut terus dong," goda Amey mencubit pipi Arsen.


"Pulangkan mereka!" ketus Arsen.


"Mana bisa begitu, Ars. Aku sangat membutuhkan mereka. Aku tak mau merepotkanmu mengerjakan semuanya di sini. Apalagi kondisiku yang seperti ini."


"Memey, kau sama sekali tidak membuatku repot. Aku malah senang kau menyuruhku untuk mengerjakan sesuatu di sini."


"Pokoknya aku tak mau memulangkan Elis dan kawan-kawan. Mereka yang akan memasak, membersihkan Vila dan menyiapkan semua kebutuhan kita. Kalau saja kau tidak mencetak bibit unggul yang banyak, aku pasti bisa mengerjakan semuanya tanpa harus berharap pada Elis dan lainnya."


Arsen tersenyun kecil. "Aku bisa menambahnya jika kau mau."


"Tidak trima kasih, Sayang. Empat sudah cukup membuatmu repot nantinya."


Mendengar itu Arsen kembali teringat akan mimpinya. "Memey, mari kita sewa pengasuh bayi sebanyak mungkin."


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow akun ig @syutrikastivani