Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
What's wrong with u, Memey?


Sesampainya di rumah, mereka mendapati Soffy sedang bersantai di taman belakang, ditemani secangkir kopi hitam. Amey pun bernapas lega karena melihat Soffy yang baik-baik saja.


"Nenek!" teriak Amey dari kejauhan.


Soffy mengadah ke sumber suara. "Halo semua. Sudah pulang?" tanyanya dengan senyum semringah.


Arsen, Amey, Zoey dan Mark mendekat ke arah Soffy dengan tatapan garang. Wanita tua itu menjadi heran. Senyumnya yang lebar, perlahan memudar. Ia menerka-nerka, ada apakah gerangan sampai keempat orang itu menatapnya dengan tatapan serius.


"Nenek, kenapa Nenek kabur dari rumah sakit?! Nenek membuat kami semua menjadi panik, Nek!" celutuk Zoey.


Astaga! Jadi karena itu mereka sampai menatapku seperti itu? batin Soffy.


"Benar, Nek! Aku sangat kawatir saat mendengar kabar, jika Nenek masuk rumah sakit karena jatuh dari pohon mangga!" kata Amey lagi.


"Gara-gara Nensi, aku hanya mendapat jatah tiga ronde!" tambah Arsen sinis.


Semua orang tiba-tiba memandangi Arsen dengan heran. Amey segera menyenggol lengan Arsen karena ia paham dengan maksud suaminya.


"Ihh Sayang apaain sih! Kamu 'kan sendiri yang menyudahinya! Bukan salah Nenek?!"


Tatapan heran berpindah ke arah Amey. Mark dan Soffy hanya menggeleng kecil saat pasangan suami istri itu tidak mengontrol ucapan mereka. Sedangkan Zoey, gadis delapan belas tahun itu hanya menyimak.


"Ehem!" Mark berdehem. Ia menjadi tidak nyaman dengan sikap kedua majikannya itu.


"Hahahah!" Soffy terbahak. "Sekarang, kau 'kan yang ketagihan, Amey?!" godanya memainkan mata.


Menyadari ucapannya, Amey langsung melebarkan mata. Wajahnya memerah. Tak dapat disangkal ucapan Nensi, karena memang benar kenyataannya. Kini Amey yang sangat agresif kalau mengenai ranjang.


"Kenapa kita jadi bahas ini? Kamu sih, Sayang! 'Kan aku jadi lupa kata-kataku untuk memarahi Nenek!"


"Aku lagi yang disalahkan," memijat keningnya.


"Memangnya siapa lagi? ... Mark? ... Zoey? Yahh kamulah!"


Soffy terkekeh pelan. Asikkkk mereka tidak jadi marah. Trima kasih menantu gila. Berkat kau Amey lupa dengan ucapannya. Hahahah!


"Baiklah Sayang. Aku yang salah, kamu memang selalu benar," tersenyum paksa.


Amey diam. Ia menjadi emosian hanya dengan masalah-masalah kecil. Ya! Itu karena efek usia kehamilannya yang masih dua minggu. Untunglah si Tuan Arogan sudah bucin. Jadi siap mengalah demi istri tercinta.


***


Malam itu, keadaan mansion kembali sepi. Sudah pukul sebelas malam tapi Arsen masih dengan laptopnya. Sebagai pemimpin perusahaan ia tidak boleh lalai menjalankan kewajibannya untuk memeriksa setiap perkembangan-perkembangan bisnisnya. Apalagi ada dua perusahaan yang harus ia handle secara bersamaan.


Meski tatapan Arsen terlihat serius menatap layar laptop, tapi ia selalu memperhatikan istrinya. Arsen merasa lebih nyaman dengan posisi yang duduk bersandar di kepala ranjang karena bisa dekat dengan Amey.


Merasa kepanasan, Amey sesekali menendang selimutnya dan itu membuat Arsen beberapa kali menarik kembali selimut itu dan menutupi tubuh istrinya yang hanya menggunakan lingerie berwarna merah.


"Memey, kau kenapa? Kau terlihat tidak nyaman," gumam Arsen mencium kening istrinya.


Merasakan sentuhan lembut Arsen, wanita itu membuka matanya yang masih sayu. "Sayang, kau belum tidur? Ini sudah jam berapa?" lirih Amey.


"Belum. Ini sudah jam sebelas lewat tujuh menit," menatap jam dinding. "Ayo tidur lagi."


"Baiklah." Amey memeluk lengan kekar Arsen dan menutup matanya kembali.


Pria itu kembali memandangi layar laptopnya. Tiba-tiba satu pesan masuk melalui emailnya. "George?" gumamnya.


Arsen membaca isi email itu. Rautnya berubah menjadi datar. Ia menatap Amey yang terlelap, lalu kembali menatap layar monitor itu. "Satu minggu? Itu sangat lama!"


Pria itu merasa keberatan dengan perjalanan bisinisnya yang mendadak. Tapi mau bagaimana lagi, mau tidak mau Arsen harus melakukannya, karena itu memiliki keterkaitan dengan kerja sama antara Diamond Group dan WS Group.


"Sayang, aku tidak bisa tidur," rengek Amey tiba-tiba.


"Ada apa? Kau ingin sesuatu?"


"Hmm, aku ingin kau tidur!"


"Sebentar lagi ya, aku harus membalas email dari George. Setelah itu aku akan tidur."


Amey memasamg wajah memelas. Ia memanyunkan bibir tipisnya sehingga membuat Arsen terpaksa melepas laptopnya dan berbaring di samping Amey.


"Baiklah Sayang, aku akan tidur. Jangan cemberut lagi," memeluk istrinya dan mencium puncak kepala Amey.


Amey tersenyum. Sebenarnya ia ingin sekali dipeluk Arsen. Karena itu membuatnya hangat dan nyaman. Suhu tubuh Arsen benar-benar disukai Amey. Apalagi aroma wangi yang melekat di kulit suaminya itu.


"Memey, jangan memancingku lagi. Aku harus bekerja besok," ucap Arsen.


Arsen merasa risih saat tangan Amey mulai menyelinap masuk di bawah sana. Biasanya tangan Arsen yang nakal, tapi kali ini berbeda. Tangan Amey yang sudah mulai liar mencari perangkat lunak Arsen.


Suhu tubuh Arsen kini memanas. Erangan kecil mulai terdengar di mulut Arsen. Ia berusaha menahan gejolak belutnya, karena jika belutnya mengamuk, pasti durasi lima jam tak akan cukup memuaskan si joki di bawah sana.


"Ahhh, shhhh, Memey, jangan malam ini. A--aku, akan melakukan perjalanan bisnis besok pagi."


Jemari Amey kini sampai pada tujuannya. Ia menyentuh benda sensitif Arsen yang mulai berdenyut mengembang, dan itu membuat suaminya menggeliang, ingin segera menyantap Amey. Namun karena mengingat besok pagi ia harus pergi ke Jerman bersama George, maka ia mengurungkan niatnya.


Jika pergulatan terjadi malam ini, maka besok pagi ia tidak bisa mengadakan perjalanan bisnis karena pastilah ia akan bangun kesiangan. Apalagi belut ajaib itu selalu meminta lebih dan seringkali melewati batas yang telah disepakati keduanya.


"Kau mau ke mana besok?" tanya Amey menghentikan permainan tangannya.


"Aku dan George akan ke Jerman untuk mengamati proyek pembangunan hotel yang waktu lalu telah di tanda tangani Mr. Dusley."


"Berapa lama?"


"Satu minggu."


"Lama sekali."


"Iya aku tahu. Aku pasti akan sangat merindukanmu dan anak kita."


Amey kembali memasang raut piasnya. Tidak mungkin baginya untuk menahan suaminya bekerja, karena itu suatu hal yang pamali, menurut kebudayaan keluarga Winston.


"Kalau kamu tidak mengijinkanku pergi, maka aku tidak akan pergi."


"Tidak Sayang. Aku menyetujuinya."


"Baiklah."


Dalam hati Amey terasa berat untuk melepaskan kepergian suaminya selama satu minggu. Tapi ia juga berpikir bahwa dirinya tidak boleh egois. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus mengijinkan Arsen untuk pergi.


"Kalau begitu, aku mau menagi jatahku untuk seminggu!" ketus Amey.


Deg!


Arsen menelan saliva. Ia tidak bisa menolak lagi jika Amey secara terus terang memintanya lagi. Olahraga tadi siang merupakan pergulatan yang pendek selama kedua orang itu bertarung. Maka dari itu Amey memintanya lagi buat jatah seminggunya.


"Baiklah, Sayang!" langsung menindih tubuh Amey.


***


Seperti biasanya, setiap pagi Mark menyempatkan diri untuk berolahraga agar tubuhnya tetap bugar. Pagi itu Mark memilih untuk berolahraga di apartemennya saja karena cuaca pagi itu tidak bersahabat.


Mark berlari di Treadmill selama satu jam tiga puluh menit tanpa henti. Dan itu membuat keringat hebat menyucur di seluruh tubuh kekar milik Mark. Deru napasnya yang tak karuan membuat pria itu lebih tambah seksi dan gagah.


Door bell apartemen berbunyi. Mark menghentikan aktivitasnya dan segera melihat siapa yang datang. Ia merasa heran karena ada orang yang datang ke tempatnya pagi-pagi buta. Ia juga tidak pernah menerima tamu selain Arsen. Itu pun sangat jarang.


Ia menatap sebuah benda segi empat yang menempel di dinding dekat pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.


"Gosshhh!" melonjak kaget. "Kenapa dia bisa tahu tempat tinggalku!"


Cukup lama Mark memandangi gadis yang sedari tadi berdiri di depan pintunya. Pakaiannya sedikit basah karena terkena hujan. Bibirnya telah berganti warna menjadi sangat pucat. Ia menggigil karena kedinginan.


Dengan penuh keterpaksaan, akhirnya Mark membuka pintu. Jen tersenyum kaku menatapnya. Sedangkan Mark masih dengan wajah datarnya.


"Tuan dasi merah, bolehkah aku masuk?" pintanya menggigil.


"Tidak boleh!"


Brukkkkk!


Jen menyambar pundak Mark dan menerobos masuk ke dalam. Ia tidak kuasa menahan rasa dinginnya. "Maafkan aku Tuan dasi merah. Aku sangat kedinginan di luar sana. Kau sangat lama membukakan aku pintu!"


Mark menganga tak percaya. Bisa-bisanya Jen menerobos masuk di rumah pria dingin itu tanpa diberi ijin oleh sang pemilik.


"Se--setan apa yang membawanya kemari?!" gumam Mark naik pitam.


To be continued ...


LIKE, KOMEN, RATE, VOTE !! :*


Follow ig : @stivaniquinzel