
"Berani sekali kau mengancamku! Rasakan ini ..."
Lauren hendak membalas tamparan Soffy namun dengan secepat kilat Soffy menangkisnya. Tangan Soffy bergetar saat menangkis pukulan kuat dari Lauren. Jelas saja karena Soffy sudah tua.
"Kau bukan tandinganku, kalau berkelahi! Cakaran kuku ku dapat merobek wajahmu yang mulus itu. Jadi berhenti bertingkah!"
"Nenek sialan! Pembantu murahan! Kau pikir aku takut, hah?"
Kring ... kring ...
Lauren mengabaikan telepon itu. Ia sangat jengkel dengan perlakuan Soffy yang berani menamparnya. Soffy pun masih menatap Lauren dengan tajam, mata Soffy seakan tidak mau mengerjap. Mereka berdua beradu pandang cukup lama.
Kringgg ... kringgg ... kringggg
Telepon yang berbunyi berulang-ulang membuat Lauren menjadi risih. Akhirnya ia melepaskan pandangan matanya dan menjawab panggilan itu dengan penuh amarah. "Sialan! Ada apa menghubungiku?!" teriak Lauren naik pitam.
Mendengar suara dari balik telepon itu membuat Lauren terpaku membisu. Mata dan mulutnya terbuka lebar. Ia sangat terkejut mendengar berita dari si penelepon. Soffy pun menjadi kepo. Ia mendekat ke arah Lauren dan memasang telinganya.
Siapa yang menelponnya? Kelihatannya muka ular betina ini sangat panik! batin Soffy.
Lauren menutup teleponnya. Ia tidak lagi memperdulikan Soffy dan langsung berjalan dengan langkah yang sedikit pontang-panting karena syok. Hal itu membuat Soffy berkerut dahi. Soffy mengikuti Lauren dari belakang dengan penuh tanda tanya.
Setelah melewati pintu, Soffy mendengar teriakan keras dari luar. Sepertinya Lauren sedang memarahi sekretarisnya. Ia pun keluar dari ruangan itu dengan penuh keangkuhan. Ia menurunkan kacamatanya saat menatap Lauren dan Sekretaris wanita itu.
"Kelihatannya sesuatu yang buruk telah terjadi. Haha! Aku tidak perlu repot-repot mencakar wajahmu. Belum di cakar pun, wajahmu terlihat kusut dan berkerut! Kenapa? Apa yang terjadi dengan perusahaanmu, Nyonya Lauren si ular betina?" ledek Soffy.
Lauren tidak bisa berkata-kata lagi. Badannya melemas saat mendengar ejekan Soffy. Ia menyandarkan kedua tangannya di meja Sekretaris karena kakinya hampir tidak mampu menopang tubuhnya.
Soffy masih menatapnya dengan memasang senyuman puas. Melihat raut Lauren yang pias membuat Soffy terkekeh dalam batinnya. Akhirnya perbuatan Lauren akan segera terbayarkan. Soffy memang sempat mendengar bahwa Presdir WS Group telah membenned Alganda Group.
Itulah yang dimaksudkan Arsen. Ia berjanji akan menyiksa Lauren secara perlahan, mulai dari membuatnya jatuh miskin. Meski Amey telah bermohon pada Arsen untuk tidak membunuh Lauren, tapi tetap saja, Arsen adalah Arsen! Ia bisa melukai lawannya jika lawannya itu berani mengusik kehidupan pribadinya.
Merasa puas dengan apa yang dilihat Soffy, ia pun segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat itu. Ketika hendak memasuki lift, ia berpapasan dengan menantunya. Betapa terkejutnya Soffy saat melihat Arsen yang sedang berada tepat di depannya dengan ekspresi mengerikan.
"Dragon! Kau membuatku terkejut!" ketus Soffy.
"Nensi? Sedang apa kau di sini? Kau yang membuatku terkejut!"
"Aku ke sini untuk memperingati wanita licik itu agar tidak macam-macam dengan Amey."
"Trima kasih, Nensi. Kau sangat peduli pada Memeyku!"
Me--memeyku? Tuan baru saja menyebut Nyonya dengan sebutan Memey? Wahhh! Rupanya Tuan sudah memiliki nama panggilan kesayangan untuk istrinya! tutur Mark dalam hati.
"Sudah tugasku sebagai Neneknya untuk melindungi cucuku. Dan sekarang giliranmu untuk membuktikan rasa cintamu pada Ameyku!"
Arsen menganggukkan kepalanya. Ia segera keluar dari lift dan berjalan meninggalkan Soffy yang bergantian memasuki lift itu.
"Menantu?" panggil Soffy.
Arsen menengok ke arah Soffy.
"Boleh riquest?"
Arsen berkerut dahi. "What?"
"Hukum ular betina itu seberat-beratnya. Kalau perlu jangan memberikannya pengampunan! Aku masih dendam padanya karena pernah membuat Ameyku koma selama satu bulan di rumah sakit!"
Arsen mengepalkan tangannya. Ia memang sudah tidak sabar menghabisi Lauren. Ia geram karena Laurenlah yang mengekpos berita kematian Arka dengan menyuruh mata-mata di rumahnya. Ditambah lagi saat mendengar jika Lauren pernah berencana membunuh Amey waktu kecil.
Mendengar keributan di luar membuat jantung Lauren berdetak tak karuan. Ia telah mendengar suara Arsen yang sudah berada di luar. Lauren kembali memasuki ruangannya dengan raut yang super panik.
Ceklek!
Mark membukakan Arsen pintu dan mempersilahkan Tuan Mudanya untuk duluan masuk ke dalam. Lauren masih tidak menampakkan wajahnya. Entah apa yang dilakukan wanita itu.
"Keluarlah sebelum aku membakarmu hidup-hidup di sini!" ketus Arsen lantang.
Deg!
Lauren gugup. Dengan perlahan ia keluar dari sebuah ruangan arsip yang ada di tempat itu. Tangannya bergetar bukan main. Ia menatap belakang punggung Arsen dan Mark secara bergantian.
"Selamat datang di Alganda Group, Mr. Winston." Lauren memberanikan diri untuk menyapa kedua serigala buas itu dengan senyum kepalsuan.
Arsen menjadi geram saat mendengar suara Lauren, ia membalikkan badannya dan menatap wajah wanita paruh baya itu dengan tatapan membunuh. Kepalan tangan serta rahang yang mengerat, menunjukkan jika Arsen ingin sekali menghabisi nyawa wanita itu, namun ia menahannya demi memenuhi janji terhadap sang istri.
"Apa begitu caramu menerima tamu, Nyonya Lauren?" sindir Mark.
"Oh maafkan saya. Silahkan duduk," tawar Lauren.
Semakin Lauren bersuara, semakin rasa marah Arsen meluap. Wajah Arsen memerah, bisa dikatakan dua tanduk iblisnya telah muncul dari puncak kepalanya. Kini tidak ada lagi rasa pengasihan Arsen terhadap Lauren. Di mata Arsen, Lauren hanyalah wanita yang kurang beruntung memiliki umur yang panjang.
Arsen berjalan mendekat ke arah Lauren. Tatapannya tidak bergeming dari wajah wanita itu. Sedangkan Mark di belakang sedang was-was terhadap Arsen, jangan sampai Arsen melemparkan pukulan mautnya. Mark juga sudah terlanjur berjanji pada Amey untuk tidak melukai Lauren.
Brukkkk!
Lauren melonjak. Ia terkejut hebat saat Arsen menendang meja kaca yang ada di depannya sampai pecah. Tak hanya Lauren yang terkejut, Mark pun demikian.
Arsen semakin mendekat ke arah Lauren. Keringat basah telah membanjiri dahi Lauren. Mimiknya begitu pias. Lauren mulai mundur beberapa langkah dengan perlahan saat tubuh Arsen hampir dekat dengan tubuhnya.
"Ahhhhh!" teriak Lauren saat Arsen mulai mencekik lehernya. "Le--lepaskan saya Mr. Winston!" rontahnya.
"Berani sekali kau menyentuh Memeyku! Wanita j*lang!" ketus Arsen dengan amarah yang menggebu.
"Ma--maafkan saya, Tuan. Tolong le--lepaskan tanganmu ... dari leherku!" pekik Lauren dengan nada yang tercekal.
"Kau bilang maaf?!" Arsen menggeram hebat. Ia mengeratkan cekikannya dan mengangkat tubuh Lauren ke atas. Kini kaki Lauren hampir tidak berpijak di lantai dan merontah-rontah.
"Tu--tuan, tolong lepaskan. K--kau bisa membunuhku!"
"Memang itu tujuanku kemari!"
Mark membiarkan Arsen melancarkan aksinya, karena ia tahu jika Arsen tidak mungkin membunuhnya setelah berjanji pada orang yang sangat ia sayangi. Arsen memang hanya menggertak Lauren agar ia tahu seberapa beringasnya diri Arsen pada orang yang berani mengusik kehidupan pribadinya.
"Apa kau masih tidak tau, siapa yang kau ajak cari gara-gara, hm?" tanya Arsen dengan mata yang terbuka lebar.
"To--tolong Tuan, ma--maafkan saya yang sudah lancang ini," lirih Lauren meneteskan air mata.
"Kau bukan saja telah menyinggungku dengan menyebarkan berita kematian Arka yang sudah keluargaku tutup rapat-rapat, tapi kau juga telah menyuruh seseorang di rumahku untuk mencelakai Memeyku, wahai wanita licik! Kau memang belum mengenalku dengan baik 'kan? Baiklah! Sekarang kau telah tahu bagaimana aku memperkenalkan diriku pada wanita ular sepertimu!"
"A--ampun Tu ..."
"Tutup mulutmu! Semakin kau mengeluarkan suara, semakin bertambah gairahku untuk melenyapkanmu! Ingat baik-baik! Sebelum kau menjadi ular, aku sudah terlebih dahulu berganti kulit!"
Wajah Lauren memerah, ia hampir tidak bisa bernapas karena kancingan Arsen di lehernya. Ia menutup mulutnya rapat-rapat agar Arsen melepaskan cekaman tangannya.
"Suamiku! Hentikan!" teriak Amey yang baru saja tiba di ruangan itu.
To be continued ...
Author tunggu dukungan kalian melalui Like, Komen, Vote dan Rate 😘