
Sekian lama meratap akan nasibnya, Kaisar mengatur napasnya. Ia menlihat si kecil Edzel yang sedang menatapnya dengan senyuman semringah. Rasa tak tega untuk mengacuhkan anak itu, Kaisar pun membalas senyuman Edzel dengan kaku.
"Kali ini bukan keinginanku, tapi mereka yang meminta untuk diasuh olehmu," tutur Arsen.
"Lahh, kenapa aku dari sekian banyak manusia di bumi?" tukas Kaisar dengan mata terbelalak.
"Mana ku tau?! Kau bisa tanyakan saja pada mereka!"
"Uncle, bolehkah aku bermain bersamamu?" tanya Edzel.
Kai menatap Edzel, tak lama kemudian ia mengalihkan pandangannya menatap ketiga kembar Edzel. Kai kembali mengeluarkan senyum paksa. "Bi--bisa, tapi ... Jangan jadikan Uncle permainan kalian."
Keempat Ed menatap Kaisar dengan bingung.
"Bwahahhaha!" gelak tawa Arsen tiba-tiba meledak. "Kai, apa kau takut dijadikan permainan sama mereka?" ledeknya.
"Sialan kau, Ars!" bisik Kaisar dengan manik melebar.
"Daddy, aku mau ikut sama Daddy saja," timpal Edward.
Mendengar itu, Kaisar langsung tersenyum semringah, tampa paksaan. "Ide yang bagus Edward. Haha, kau bisa ikut Daddymu sekarang."
"Edward, apa kau tidak mau tinggal bersamaku dan Uncle Kaisar?" tanya Edzel.
"Tidak! Itu sangat membosankan!" telak Edward.
"Ya, kau benar Edward! Bermain bersama Uncle sangatlah membosankan. Kau sangat pintar memilih teman bermain. Haha! Uncle sangat setuju dengan keputusanmu," ucap Kaisar antusias.
"Baiklah. Aku akan tetap bersama Uncle." Edzel berjalan ke arah Kaisar dan memegang telunjuk Kaisar.
Tak apalah, toh anak ini terlihat manis saat sendiri. Hahaha! Batin Kaisar.
"Daddy, ayo! Antar aku ke tempat Uncle Mark!" rengek Edgar.
"Aku juga! Antar aku ke tempat Uncle Jayden! Aku harus menyelesaikan misi dengannya!" tukas Edhan.
"Kau dengarkan, Ars? Anak-anakmu ingin segera ke tempat Mark dan Jayden, jadi segeralah antar mereka sebelum mereka mengamuk di sini."
"Kau mengusirku?!"
Deg!
"Tidak tidak! Bagaimana mungkin aku mengusirmu. Maksudku, kau harus segera mengantar mereka. Hehe." Kaisar tampak begitu senang saat anak-anak Arsen menyuruh Arsen untuk mengantar mereka dengan segera.
"Baiklah. Aku titip Edzel," tutur Arsen.
"Okayyyy!"
"Bye, Daddy. Bye Edward, Edhan, Edgar," ucap Edzel seraya melambaikan tangannya.
"Bye, Edzel!" ucap ketiga Ed lainnya seraya melambaikan tangan mereka dengan serentak.
"Edzel, Daddy pamit. Jangan terlalu merepotkan Kaisar. Tapi kalau sekali-kali tak apalah," pesan Arsen.
Pesan macam apa itu? Sama saja Arsen menyuruh Edzel untuk menyulitkan keseharianku. Hadehhhh!
Arsen dan ketiga Ed berjalan menuju pintu.
"Uncle?" panggil Edzel.
"Ya?"
"Di mana Tante Montok?"
Kaisar melonjak kaget. "Ta--tante Montok?" lirihnya.
"Iyaaa."
Kaisar menepuk jidatnya. "Maksudmu, Alexa?"
"Oh jadi nama Tante Montok itu adalah Alexa?"
"Hmm," mengangguk. "Edzel jangan panggil Tante Montok lagi. Panggil saja Tante Alexa ya?"
"Nanti aku pikirkan," berlari menuju jendela kaca.
"Jawaban yang mengesankan," lirih Kaisar.
***
Sementara di tempat lain, tampak Mark dan Jen baru saja selesai mengadakan pertemuan dengan Wedding Organizer yang akan menangani acara pernikahan mereka.Tiba-tiba telepon genggam Mark bergetar. Ia pun meraih gawainya dari dalam saku celananya.
(Percakapan di telepon)
"Kirim lokasimu," tutur seseorang dari seberang.
"Baik, Tuan."
Tut ... tut ... tut
"Tuan Arsen?" tanya Jen.
"Apa kau tidak jadi libur?"
"Bukan. Tuan Muda menyuruhku mengirim lokasi."
"Apa Tuan Arsen akan kemari?" tanya Jen.
"Ya. Katanya Tuan Muda memiliki kejutan."
"Wahhh, Tuan Arsen sangat romantis padamu. Kau selalu mendapatkan kejutan yang tak terduga darinya," puji Jen.
"Ya! Kejutannya itu sungguh sangat luar biasa. Entah kejutan itu merugikanku, atau kejutan itu malah akan membuatku beruntung." Seperti kejutan yang di hadiahkan Tuan Muda padaku, yang saat ini berdiri di sampingku! Lanjut Mark dalam hati.
Jen mengangguk paham.
Salah satu kejutan yang paling berkesan yang diberikan Arsen pada Mark adalah kehadiran Jeniver di dalam hidupnya. Walaupun awal mula pertemuan mereka berkesan aneh sehingga Mark sangat membenci Jen, namun siapa yang dapat menyangka jika kebencian berubah menjadi cinta.
Jen dan Mark menunggu kedatangan Arsen di sebuah kafe dekat perusahaan WS Group. Mereka menunggu kurang lebih tiga puluh menit. Beberapa saat kemudian, seorang pria berpakaian rapi yang tak lain adalah Arsen, muncul di depan kafe sambil membawa ketiga anak kembarnya.
Arsen dan ketiga Ed menjadi pusat perhatian para pelayan maupun pelanggan di kafe itu. Tentu saja karena ketampanan Arsen di tambah dengan anak-anaknya yang tak kalah eksis dengan sang ayah. Para pelayan dan pelanggan merasa takjub karena bisa melihat secara langsung sosok Arsen Winston dan anak-anak kembarnya yang legendaris itu.
"Selamat datang Tuan," sapa Mark yang reflek berdiri saat sosok Arsen muncul tiba-tiba di depannya.
Jen yang melihat itu pun langsung beranjak dari duduknya dan menundukkan kepala. "Selamat datang Tuan."
Arsen melepas kacamata hitamnya dan mendudukkan badannya di kursi yang telah disediakan.
"Uncle Mark!" teriak Edgar antusias.
Mark menunduk kepala saat Edgar memanggilnya. Kenapa firasatku tiba-tiba menjadi buruk. Batinnya.
"Apa kalian telah selesai mengurus persiapannya?" tanya Arsen.
"Sudah, Tuan."
"Bagus. Apa undangannya sudah dibagikan?"
"Besok akan diedarkan, Tuan."
Arsen mengangguk kecil. "Jadi ... apalagi yang akan kalian urus siang ini?"
"Kami berencana mengecek cincin di tokoh perhiasan."
"Batalkan saja pesanannya!"
Deg!
Mark dan Jen terkejut. Bagaimana tidak, mereka telah memesan cincin pernikahan sekitar dua minggu yang lalu. Kemungkinan besar cincin itu sudah selesai. Namun tiba-tiba dengan secara gamblang, Arsen menyuruh mereka untuk membatalkannya.
"Ke--kenapa harus di batalkan, Tuan?" tutur Jen.
"Ya! Karena aku sudah memesankannya untuk kalian. Anggap saja itu hadiah dariku atas pernikahan kalian," ucap Arsen, santai.
"Benarkah, Tuan?" Jen terkejut bukan kepalang.
"Tuan Muda, tidak usah repot-repot memberikan hadiah semewah itu untuk kami," sambung Mark.
"Mewah dari mananya?! Sudahlah, kalian tenang saja. Lagi pula George dari Diamond Group akan mengantarkan itu secara langsung."
Jen lagi-lagi melonjak. Apaaaa?!!! Mr. George dari D--diamond Group!!! Gila gila gila!!! Bisa miliyaran rupiah harganya jika di pesan langsung di perusahaanya Mr. George! Sungguh luar biasa cinta Tuan Arsen pada Tuan Mark!
"Trima kasih banyak, Tuan Muda," ucap Mark.
"Trima kasih yang sebesar-besarnya, Tuan Arsen," tambah Jen.
"Kalau begitu, karena kalian sudah tidak ada lagi urusan hari ini, maka aku percayakan Edgar pada kalian."
Jen tersenyum semringah. Ia sangat senang jika Edgar kembali menghiasi kencan mereka. Namun tidak untuk Mark. Wajah Mark langsung berubah menjadi pias. Ia kembali membayangkan apa yang akan terjadi dengan kencannya jika Edgar bersama mereka.
"Uncle?" panggil Edgar dengan senyuman.
"I--iya Tuan Muda Kecil?"
"Bolehkah aku ikut bersamamu?" mohon Edgar dengan wajah memelas.
Mark akhirnya luluh dengan bujukkan licik Edgar. Ia pun mengangguk kepala dan tersenyum paksa. "Baiklah Tuan Muda Kecil."
"Horeeeee!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani