Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Sulit Dimengerti


Setibanya Arsen di mansion, tempat itu itu berubah menjadi dingin. Semua penghuni mansion menjadi takut melihat wajah Arsen yang garang. Mereka tahu jika Arsen pasti akan membuat keributan jika terjadi sesuatu yang buruk pada Amey.


Arsen mempercepat langkahnya menuju kamar. Sedangkan di depan pintu telah berbaris seluruh pelayan rumah itu. Arsen menyingkirkan mereka dengan tangannya dan menerobos masuk ke dalam.


"Memey!" teriak Arsen.


"Sayang, kau sudah pulang?"


Tak menggubris ucapan Amey, ia langsung memeluk istrinya itu dengan erat. "Memey, apa yang terjadi padamu?" tanya Arsen panik.


"Aku tak apa. Kakiku hanya terkilir karena lantainya licin."


Arsen menatap Pedro dan seorang wanita yang merupakan dokter kandungan. "Apa betul yang dikatakan Istriku?"


"Benar, Tuan. Nyonya Muda tidak apa-apa. Aku sudah membawa Dokter Paulina untuk memeriksa kandungan Nyonya."


Arsen bernapas lega saat mendengar penjelasan Pedro. Ia menatap Amey dengan tatapan tajam. "Lain kali kau harus berhati-hati, Sayang! Kau tau aku hampir tak bisa bernapas saat mendengar berita kalau kau jatuh dari kamar mandi!"


"Iya Sayang. Maaf kalau aku terlalu ceroboh."


"Aku maafkan," ucapnya dingin.


"Tuan, kalau begitu kami pamit dulu," tutur Paulina.


Arsen mengangguk pelan.


Seluruh pelayan yang ada di depan pintu menjadi tenang saat mendengar jika Amey baik-baik saja. Mereka menghembuskan napas lega dan menyapu dada mereka. Terutama Elis, dialah yang paling khawatir sejak tadi. Ia paham betul sifat Arsen jika terjadi sesuatu pada istri tercintanya.


"Sebaiknya kalian bubar dan lanjutkan aktivitas kalian masing-masing. Nyonya Muda baik-baik saja."


Semua pelayan menunduk dan melangkahkan kaki menuju tangga.


"Elis!" panggil Arsen dari dalam kamar.


Dengan sigap, Elis memasuki kamar. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan?"


"Di mana setelan jas yang pernah aku pakai saat Zoey diculik? Jangan bilang kalau kau telah membuangnya?!"


Elis hening sejenak. Ia kembali mengingat di mana ia menaruh setelan itu. "Sepertinya saya meletakkan setelan itu di lemari, Tuan."


"Saat kau mencuci setelan itu, apa kau menemukan uang kertas di sana?"


"Saya tidak ingat, Tuan."


"Kau boleh keluar."


"Baik, Tuan." Elis menunduk kepala dan berjalan keluar kamar.


Arsen menuju walk in closet dan mencari setelan itu. Amey memasang wajah bingung saat melihat tingkah suaminya.


"Sayang, ada apa dengan setelan itu?"


"Eggie pernah memberiku uang kertas saat aku menyamar menjadi tukang tisu jqlanan. Aku yakin di dalam uang itu ada suatu petunjuk mengenai dokumen penting perusahaan."


"Bukankah kau meletakkanya di lemari arsip kantorku?"


"Mark sudah mencarinya tapi tak ketemu. Aku yakin Eggie pasti menyimpannya di suatu tempat rahasia supaya Sayur Kol tidak menemukannya."


Amey mengangguk paham.


"Ini dia!!" ketus Arsen saat menemukan uang itu.


Ia membuka uang kertas itu dengan hati-hati agar tidak robek. Bagaimana tidak, setelan itu telah dicuci dan otomatis uang yang ada di dalamnya pun sudah rapuh.


"Apa ada petunjuk?" tanya Amey.


"Ada tulisan. Tapi sudah luntur."


"Kau bisa membacanya?"


"Sepertinya bisa." Arsen mencoba membaca tulisan yang hampir pudar itu. "Kantor manajer umum, paradise hotel!" ucapnya lantang.


"Apa Eggie menyimpannya di ruangan Jenifer?"


"Iya, Sayang. Itu tempat teraman kerena tempat itu jauh dari jangkauan Sayur Kol."


"Eggie sangat pintar dan terampil," puji Amey. "Aku tiba-tiba merindukan wanita itu."


"Eggie pasti kembali, Sayang. Hanya saja dia butuh waktu sendiri. Kau tau 'kan ia baru saja melewati masa pahitnya dengan Sayur Kol Amis itu!"


"Ya! Aku mengerti."


***


Sementara di kantor Manajer Umum, Hotel Paradise. Seorang wanita yang tak lain adalah Jenifer, tampak sedang mengerjakan sesuatu di depan layar komputer.


Seorang pria dengan wajah datar masuk ke dalam ruangan itu tampa mengetuk dan itu membuat Jen mengernyitkan dahi. Ia belum melihat jika pria itu adalah Mark.


"Tolong sopan santunnya, saat masuk ke dalam ruangan ... " Jen menghentikan ucapannya saat melihat wajah Mark. "Astaga!"


Mark tidak mempedulikan Jenifer. Ia menuju sebuah brankas kecil yang terletak di sebelah tempat duduk Jen. Ia menekuk kakinya dan berjongkok tepat di sebalah kaki Jen.


Jen terkejut bukan kepalang. "Tuan, apa yang kau lakukan?!"


Mark masih berdiam dan melanjutkan aktivitasnya.


Tok ... tok ... tok


"Vena, ada apa?" tanya Jen.


"Tidak apa-apa Bu. Saya terlalu ceroboh sehingga menjatuhkan dokumen ini," ucap Vena tanpa menoleh ke arah Jen dan Mark.


Sepertinya Vena salah paham. Ia mengira jika Mark dan Jen sedang melakukan hal yang tak senonoh.


"Ketemu!" ucap Mark tiba-tiba.


"Apanya yang ketemu?" tanya Jen.


Vena yang mendengar itu langsung menatap Jen dan Mark. "Ya ampun! Apa yang kupikirkan hah?" gumam Vena dengan malu.


Mark menatap Jen. "Apa kau lembur lagi?"


"Hmmm," mengangguk. "Hey, kau belum jawab pertanyaanku!" celutuk Jen.


"Ini?" menunjuk dokumen yang ia pegang.


"Apa itu?"


"Ini adalah hidup dan mati WS Group."


"Kenapa bisa ada di brankasku?"


"Sekretaris Eggie yang menyimpannya."


"Hah? Ka--kapan Sekretaris Eggie kemari?"


"Entahlah!" Mark berjalan meninggalkan Jen. Namun langkahnya terhenti saat ia melihat Vena sedang membereskan beberapa dokumen. Gadis dasi merah itu pasti akan bekerja keras lagi meninjau dokumen-doukumen ini. Ucapnya dalam hati.


Mark membalikkan badannya dan menatap Jen. "Apa kau sibuk hari ini?"


"Seperti yang Tuan lihat. Setiap hari aku selalu sibuk."


"Ikutlah denganku!" tutur Mark dingin.


"Ke mana? Aku tidak bisa Tuan. Aku sedang sibuk."


"Jangan banyak tanya. Aku akan mengadukanmu pada Tuan Muda, kalau kau pembangkang! Kau pasti akan di pecat!" ancam Mark.


"Ehh kok gitu! Dasar tukang adu!"


Mark meninggalkan Jen. Dengan segera Jen merapikan meja kerjanya dan mengikuti Mark dari belakang. "Vena, kau taruh itu di atas meja. Aku akan kembali dan memeriksanya."


"Baik Bu. Semangat kencannya," ucap Vena dengan semringah.


Menyadari ucapan Vena, Jen tidak membantahnya malah tersenyum kecil.


"Kau senang?!" tanya Mark tiba-tiba.


Senyuman Jen langsung pudar. "Senang apanya?!"


"Senang berkencan denganku!"


Deg!


Jantung Jenifer langsung berdebar tak karuan. "Ti--tidak! Aku bahkan tak pernah berpikir untuk berkencan dengan pria dingin sepertimu, Tuan."


Mark menghentikan langkahnya. Ia menatap Jen dengan tajam.


"Kenapa Tuan menatapku seperti itu?"


"Memastikan kalau kau sudah mandi atau belum! Akan memalukan jika orang-orang tau, wanita yang berjalan bersamaku jorok! Aku tak suka itu!"


Jen terbelalak mendengar ucapan pedas Mark. "Siapa juga yang mau berjalan bersamamu?! Kau yang memaksaku untuk ikut denganmu," lirih Jen kesal.


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Mark.


Apa-apaan pria kaku ini! Selesai menghinaku, dia tiba-tiba menjadi perhatian.


"Jika belum, makan sianglah denganku!"


Deg!


Tak dapat disangkal lagi jika jantung Jen memompa dengan hebat. Mark benar-benar pria yang sangat sulit dimengerti.


"Ke--kenapa tiba-tiba begini?" gumam Jen lirih.


Mark membalikkan badannya dan melanjutkan langkahnya. Terlihat lekukkan kecil terbentuk di bibir Mark.


Kau benar-benar membuatku bingung Tuan!


Tbc ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow akun ig Author @syutrikastivani