
Sekitar pukul dua belas tengah malam, Arsen dan Amey tiba di Jakarta. Sebelum mereka kembali ke mansion, mereka mampir ke apartemen Mark untuk menjemput Edgar. Pasangan suami istri itu berdiri tepat di depan pintu apartemen dan menunggu pintu di buka.
Sudah berapa kali Arsen menekan door bell, namun pintu itu tak kunjung terbuka. Arsen menjadi sangat kesal. Ia pun menggebrak-gebrak pintu Mark dengan kuat agar Mark membukakan mereka pintu.
"Sialan, kau Mark!" umpat Ars, jengkel.
"Sayang, sabar dong. Mungkin saja Mark sedang berjalan kemari."
"Lama sekali!"
"Maklumkan saja. Mungkin Mark kelelahan menjaga Edgar seharian. Jadi langkahnya lambat."
"Memey, kau selalu saja membela si Jodi Sinting itu!"
"Bukan bela, tapi lebih ke pengertian. Seharusnya kita bersyukur karena Mark mau meluangkan waktunya menjaga anak kita."
Arsen terdiam dan mengeratkan rahangnya. Tak lama setelah itu pintu apartemen Mark terbuka.
"Maaf Tuan, aku tertidur," tutur Mark.
"Sialan kau!" hendak memukul wajah Mark, namun dengan cepat Mark menghindarinya. "Sudah pandai menghindar ternyata!"
"Maaf Tuan. Badanku reflek bergerak."
"Shut up! Apa kau melawak?!
" Maaf, Tuan"
"Arsen!" ketus Amey meninggikan nadanya.
Arsen terdiam kembali. Ia menatap Mark dengan tajam.
Untung saja Nyonya ada di sini. Kalau tidak, bisa-bisa wajah tampanku benyok lagi! Nanti Sekretaris Jen ilfil padaku!
"Jangan mengumpat!" teriak Arsen menyambar bahu Mark dan menuju ke dalam apartemen.
"Mark, maafkan suamiku. Dia begitu lelah makanya sangat sensitif," tutur Amey.
"Tidak apa-apa Nyonya. Sudah biasa," menunduk kepala. Tidak lelah pun Tuan sangat sensitif. Batin Mark.
"Ohya di mana Edgar?"
"Tuan Muda Kecil sedang tidur. Silahkan masuk Nyonya."
Amey pun menyusul Arsen ke dalam. Ia menuju ranjang Mark dan mendapatkan Edgar yang sedang terlelap. Dengkurannya terdengar nyaring sehingga Amey langsung mengetahui keberadaan Edgar.
"Arsen, kau gendong saja."
Arsen mengangguk. Ia pun mengangkat tubuh Edgar dari ranjang dan menggendongnya. "Anak Daddy sayang. Tidurmu nyenyak sekali," mengecup kepala Edgar.
Edgar merasakan sentuhan Arsen. Ia membuka matanya yang sayu dan menatap sekelilingnya. "Daddy, Mommy," racaunya.
"Iya Sayang. Ayo kita pulang," tutur Amey.
"Di mana Uncle?" tanya Edgar dengan kepala yang bersandar di bahu Arsen.
"Unclemu ada di sana," ucap Arsen.
"Uncle oh Uncle!" lirih Edgar, lemas.
"Ada apa Tuan Muda Kecil?" tanya Mark.
"Uncle, aku pulang ya. Besok aku akan kembali."
"Jangan!" Mark keceplosan.
Amey menatap Mark dengan heran, sedangkan Arsen memandanginya dengan tatapan membunuh.
"Maksudku, jangan ragu-ragu," tersenyum paksa. "Tuan Muda Edgar bisa datang kapan saja yang Tuan inginkan." Dasar mulut sundal! Keceplosan terus! Tapi ... Itu 'kan memang berasal dari lubuk hatiku yang paling dalam. Ucap Mark dalam hati.
"Baiklah, Mark. Kami pamit dulu. Trima kasih telah menjaga Edgar," ujar Amey.
"Sama-sama Nyonya."
"Mark?" panggil Arsen.
"Ada apa Tuan?"
"Karena Edgar menyukaimu, maka aku akan selalu menitipkan dia padamu. Sepertinya kalian melewati hari yang menyenangkan. Thank you, Mark." Arsen tersenyum licik
Kata-kata Arsen menusuk hingga ke dalam hatinya yang terdalam. Ia tak mampu berucap lagi setelah mendengar telakan Arsen.
"Kau tak mungkin menolak permintaanku 'kan?" tanya Arsen dengan tatapan licik.
"Ti--tidak Tuan. Mana mungkin aku menolak permintaanmu."
"Baiklah. Sampai jumpa besok, Mark." Arsen mengedipkan mata setengahnya. Dalam ekspresi Arsen, tersimpan makna yang sangat dalam bagi Mark.
Mark menunduk kepala.
"Uncle, sampai bertemu besok, besok dan besoknya lagi dan bes--"
"Sampai jumpa Tuan Muda Kecil," ketus Mark, memotong ucapan Edgar seraya menunduk kepala sembilan puluh derajat ke bawah.
Edgar melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar menatap Mark. Melihat mimik Edgar yang polos seperti tak memiliki dosa, Mark pun dengan kaku bagai robot membalas lambaian tangan Edgar.
Perjalanan Amey dan Arsen pun masih berlanjut. Mereka sedang menuju kediaman keluarga Stoner. Jarak tempuh antara apartemen Mark dan mansion Kaisar hanya sepuluh menit saja kalau tidak macet. Karena malam semakin sunyi dan kendaraan semakin sepi, makanya tak memakakan waktu yang banyak, mereka pun tiba di mansion Kaisar.
Melihat kendaraan Arsen yang berhenti di depan gerbang, tanpa bertanya lagi seorang penjaga gerbang yang tak lain adalah satpam, langsung membukakan mereka pintu karena telah mengenali mobil itu. Pak Satpam itu menunduk memberi hormat, saat mobil Arsen melewati gerbang.
Arsen memarkirkan mobilnya di depan mansion. Ia melihat jika lampu utama telah padam. Arsen menekan door bell dan menunggu Kaisar membukanya. Tak lama kemudian seorang pria muncul dari balik pintu itu.
"Goshhhhh!" ketus Arsen, terperanjat.
"Akhirnya kau datang juga, Ars!" ucap Kaisar dengan wajah kusut.
"Apa kau baru saja berperang?!"
"Ya! Perang dunia shinobi keempat!"
Arsen menyipitkan matanya dan memperhatikan penampilan Kaisar dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kaisar masih menggunakan kemeja putih dengan kancing yang telah terbuka sampai di dada. Ia menggulung bagian tangan kemeja itu dan membiarkan bagian bawah kemeja menggantung begitu saja. Ia juga menggulung bagian bawah celananya. Di tangan kanan Kaisar memegang penyedot debu dan di tangan kirinya memegang nampan berisi dua gelas kosong dan sebuah piring yang kosong. Rambut Kaisar pun terlihat acak-acakan. Sungguh! Penampilan Kaisar layaknya orang gembel yang tak memiliki masa depan.
"Benarkah, kau Kaisar?!" tanya Arsen memastikan.
"Ya iyalah, ini aku! KAISAR STONER!"
"Apa yang kau lakukan dengan benda-benda itu?" menunjuk kedua tangan Kaisar.
"Masuklah, dan lihatlah perbuatan kedua anak gaibmu!"
Arsen pun masuk ke dalam mansion. Ia melihat pemandangan yang tak mengenakan. Mainan berserakan di mana-mana, kemasan-kemasan makanan ringan yang beredar di segala tempat di tambah juga dengan sisa-sisa makanan yang berjatuhan di lantai sehingga mengundang keluarga besar semut dan keluarga besar lalat yang sedang mengadakan reunian.
"Tempatmu sangat jorok!" ketus Arsen.
"Ya! Coba tebak siapa dalang dari semua ini?"
"Hahaha! Anak jadi-jadianku memang sangat kreatif! Aku sangat bangga pada mereka karena bisa membuat karya seni seperti ini!"
Deg!
Kaisar hanya bisa menyapu dada dan menghembuskan napasnya yang hampir kandas. "Kau bilang ini karya seni?!" lirih Kaisar, lemas.
"Tentu saja. Kita harus mendukung perkembangan anak," tersenyum lebar.
"Ars, ada yang salah dengan otakmu."
"Apa kau bilang?!" teriak Arsen geram.
"Tidak ada. Biarkan aku melanjutkan kegiatanku di tengah malam yang syahdu ini, dan bawahlah anak-anakmu pulang ke tempatmu. Mereka sangat kelelahan karena menciptakam karya seni yang LUARRRRRRR BIASAAAA ini!"
"Siapa yang kau bawa?"
"Si sulung dan si bungsu."
"Ouhhh pantas saja. Mereka berdua adalah kombinasi yang sempurna di bidang karya seni."
Kaisar mengangguk, mengiyakan ucapan Arsen agar supaya Arsen bisa cepat membawa kedua anaknya dan meninggalkan kediamannya yang bagai kapal pecah. Ia pun menunjukkan keberadaan kedua anak itu.
Sesampainya di kamar, Arsen langsung menggendong salah satu dari mereka. "Kai, kau gendong yang satunya."
Kaisar mengangguk dan menggendong Edward.
"Anak Daddy sangat pintar ya?" tutur Arsen.
"Ya! Pintar membuat kerusuhan," sambung Kaisar.
"Hahah! Namanya juga anak-anak. Baru dua saja sudah membuat kau terlihat seperti penyandang disabilitas. Bagaimana kalau aku meninggalkan keempat anakku padamu?! hmm! Kira-kira apa yang akan terjadi?" ledek Arsen.
Deg!
Kaisar menelan salivanya dengan kasar. "No! Thanks! Membayangkannya saja sudah tak mampu!"
"Gimana? Kau sudah merasakan apa yang aku rasa selama enam tahun 'kan? Satu hari saja hampir membuatmu menjadi personil rumah sakit jiwa. Apalagi aku yang bersama mereka selama enam tahun! Pahit, asam, manis semuanya telah aku rasakan."
"Aku salut padamu, Ars. Jujur aku tidak sanggup."
"Meski mereka selalu membuat onar, tapi aku selalu menyanyangi dan mencintai mereka. Tapi kau tenang saja, sebagai seorang ayah, aku mengajarkan kepada mereka untuk bersikap baik terhadap orang lain. Namun, maklumilah karena mereka masih anak-anak dan masih perlu bimbingan dari orangtua. Jadi aku harap kau mengambil sisi positif dari sifat anak-anakku ini."
"Wihhhhh! Tiba-tiba kau menjadi bijak, Ars. Hahah! Baru kali ini kau menunjukkan sisi kebapak-bapakkanmu. Benar-benar seorang ayah yang bijak!" puji Kaisar.
"Sialan kau Kai. Kau juga nantinya akan merasakan bagaimana menjadi seorang kepala keluarga, menjadi seorang suami yang bertanggung-jawab dan menjadi Ayah yang selalu dibanggakan anak-anaknya! Remember! People change!"
"Ya ya ya, kau benar. Kau telah banyak berubah. Bukan hanya umur yang berubah, tapi sifatmu yang arogan dan dingin pun telah berubah."
"Semua karena Memey. Aku belajar banyak hal darinya."
"Istrimu memang hebat! Aku juga ingin memiliki istri yang dapat merubahku ke jalan yang benar!"
"Awas saja kalau kau membuat Zoey terluka! Aku hilangkan namamu di bumi ini!" ancam Arsen.
"Nah, ini nih ... semuanya telah perfect, tinggal sifat emosianmu yang harus kau kurangkan sedikit saja!"
"Jika kau merendahkanku lagi, aku tarik kata-kataku untuk merestui hubungan kau dan Zoey!"
"Tidak tidak tidak! Jangan, Ars! Baiklah, tetaplah menjadi dirimu. Terserah mau dirimu yang dulu atau dirimu yang sekarang, aku tetap mendukungmu sebagai sahabat terbaikku. Tapi ... jangan kau tarik kata-katamu, heheh!"
Kaisar menggaruk tengkuknya. Mereka pun tiba di depan mansion dan meletakkan Edward dan Edzel di dalam mobil.
"Kaisar, trima kasih telah menjaga Edward dan Edzel," tutur Amey.
"Sama-sama."
"Uncle ... " lirih Edzel.
"Uncle di sini?" sahut Kaisar.
"Besok lagi ya! Hari ini sangat menyenangkan," ucap Edzel tersenyum lebar menatap Kaisar yang kacau.
"Ba--baiklah. Sampai jumpa," melambaikan tangannya.
"Thank you, Uncle!" ucap Edward.
Kalau melihat mereka seperti ini, rasanya adem banget. Tapi kalau melihat mereka yang super aktif, rasanya otakku akan keluar dari kepala! ucap Kaisar dalam hati.
"See you, Uncle!" ucap ketiga anak itu serentak seraya melambaikan tangan mereka.
Mobil Arsen pun meninggalkan mansion Kaisar.
"Mommy, Daddy, apa kita akan ke tempat Edhan?" tanya Edgar.
"Iya, Sayang."
"Apa masih jauh? Aku sangat mengantuk dan ingin tidur. Hari ini sangat melelahkan tapi menyenangkan."
"Tidak jauh Sayang. Kalian rupanya bersenang-senang dengan Uncle kalian ya?" tanya Amey lembut.
"Yes, Mommy," serentak.
"Kalau begitu, besok kalian harus menceritakan pada Mommy kegiatan kalian hari ini."
"Yes, Mommy."
"Kata Mark dan Kaisar, kalian berulah ya?" tanya Arsen.
Ketiga anak itu menutup bibir mereka, rapat dengan kepala tertunduk.
"Melihat dari sikap kalian, ternyata benar. Lain kali jangan seperti itu lagi. Apa kalian mengerti?"
"Yes, Daddy," ucap ketiga Ed serentak.
"Aku menyayangi kalian."
"I love you, Daddy. I love you, Mommy," ucap mereka bersama.
Arsen memegang tangan Amey dan tersenyum.
***
Di kediaman keluarga Smith, terlihat Jayden dan Edhan yang sedang menonton anime sambil bersandar di kepala ranjang. Kedua orang itu terlihat tenang sembari menikmati cemilan.
"Edhan, apa kau belum mengantuk?" tanya Jayden.
"Aku akan menunggu Mommy and Daddy menjemputku."
"Bagaimana kalau kau tidur di sini saja?" tawar Jayden sambil mengedipkan matanya.
"Aku belum terbiasa tidur bersama orang asing, Uncle!"
"O--orang asing?!" menunjuk dirinya dengan telunjuk. "Sudah seharian bersama dan kau masih menyebutku sebagai orang asing?" ketus Jayden tak percaya.
Edhan mengangguk sembari mengunyah cemilannya.
"Sakit tapi tidak berdarah," lirih Jay.
"Tapi boong! Hahaha!" terbahak.
Melihat Edhan yang terbahak, Jay pun menggelitik tubuh Edhan. "Awas kamu ya! Berani sekali mengerjai orangtua!"
"Hahahaha. Ampun, Uncle! Hahahaha!"
Kedua orang itu tertawa bersama melihat diri mereka yang serupa. Gaya rambut sama, baju tidur sama, kaus kaki pun juga sama. Jika ada orang asing yang melihat kekompakkan mereka pastilah mereka menganggap jika Jayden dan Edhan adalah ayah dan anak.
Tok ... tok ... tok
"Permisi, Tuan. Tuan Arsen sedang mencari, Tuan," ucap seorang dari balik pintu kamar Jayden.
"Katakan pada Arsen kalau aku akan ke sana," teriak Jay.
"Uncle, Daddy datang! Horeeee!"
"Hik ... hik ... hik! Jadi kau akan pergi?" ucap Jay, berpura-pura menangis.
"Iya, Uncle. Daddy telah menjemputku. Besok aku main ke sini lagi. Kita 'kan belum melanjutkan misi rahasia kita," ucap Edhan mengedipkan matanya.
"Kau benar. Ya sudah ayo kita keluar."
Edhan mengangguk.
Kedua orang itu meninggalkan kamar yang sudah berantakkan bagai gudang terbengkalai. Situasi kali ini, bukan si pengasuh yang dirugikan seperti kisah Mark dan Kaisar akibat ulah biang rusuh. Tapi kali ini konteksnya berbeda. Bukan hanya Edhan yang membuat onar, tetapi juga Jayden.
"Bibi, tolong kau benahi kamarku," ucap Jayden.
"Baik, Tuan."
"Tapi jangan kaget, jangan syok, jangan serangan jantung dadakan. Cukup benahi saja. Okey?"
"Baik, Tuan."
Saat pelayan wanita itu memasuki kamar Jayden, seketika tubuhnya melonjak. Kedua kakinya gemetar saat menopang berat tubuhnya. "Astaghfirullah! Apa yang terjadi dengan kamar Tuan?! Apa di sini baru saja terjadi tsunami?" gumamnya.
Kamar Jayden sangat berantakkan layaknya baru disambar angin ****** beliung dan disusul dengan air bah. Bantal-bantal berserakan di lantai, sofa dan meja telah jungkir balik dari posisinya, pakaian Jayden terdapat di mana-mana. Yang lebih parahnya lagi genangan air di kamar mandi telah mengalir sampai di kamar Jayden.
Musibah yang menimpa kamar itu bermula dari Jayden dan Edhan yang sedang bermain ninja-ninja seperti di anime Naruto. Mereka berlarian ke sana kemari, saling melempar bantal dan bahkan melempar pakaian yang berada di walk in closet.
"Selamat bekerja, Bibi," goda Jayden mengusap pundak wanita paruh baya itu dan berjalan meninggalkanya.
"Ampun bang jago! Sumpah demi apapun, sifat Tuan Jayden memang tidak pernah berubah," lirih Bibi itu.
"Aku mendengarmu, Bibi," teriak Jayden dari kejauhan.
Jay pun memegang tangan Edhan dan menuruni anak tangga. Ia telah melihat Arsen yang sedang duduk di ruangan tamu.
"Daddy!!!" teriak Edhan, antusias.
Arsen tersenyum menyambut Edhan. Ia memeluk anak itu dan mengecup pipinya. "Anak Daddy belum tidur?"
Edhan menggeleng kepalanya. "Daddy, aku dari tadi menunggumu."
"Alasan itukah yang membuat anak Daddy belum tidur?"
"Yeah!" celutuk Edhan.
Arsen kembali mencium pipi kanan Edhan. Namum Arsen merasakan suatu hal yang menjanggal. Ia memandangi Jayden dan kemudian memandangi Edhan.
"Jay, apa yang kau lakukan pada anakku?!"
"Aku hanya merubah gaya rambutnya sedikit agar mirip sepertiku, dan memakaikan piyama, kaus kaki bahkan sendal bebek yang sama," tutur Jayden.
"Sialan kau, Jay! Anakku menjadi aneh seperti ini!"
"Daddy, aku menyukainya. Kata Uncle, ini kekinian."
Jayden mengangguk sambil tersenyum. "Tuh dengar."
"Edhan, Sayang. Kau telah terjangkit virus abnormal dari Unclemu," ucap Arsen.
"Enak saja! Yang ada, aku yang terjangkit keabnormalannya. Tapi seru juga. Hahaha!"
"Sepertinya kalian bersenang-senang. Kau tampak bahagia menjaga Edhan seharian. Apa dia tidak berbuat rusuh?"
"Tidak."
Arsen mengernyitkan dahi. "Tumben."
"Lebih tepatnya kita berdua yang berbuat kerusuhan. Haha! Ars, ternyata aku dan Edhan satu server loh."
"Dasar sinting!"
"Cukuplah untuk hari ini. Lain kali aku tak akan menitipkan Edhan padamu lagi. Jika anakku berlama-lama denganmu, bisa-bisa mereka ikutan bengek!"
Jayden memanyunkan bibirnya.
"Daddy, aku dan Uncle memiliki misi rahasia. Jadi aku harus bekerja sama dengan Uncle."
"Misi rahasia?"
"Yupp."
"Lama-lama aku jadi bingung dengan kalian berdua. Ayo kita pulang, Ed."
"Okey Daddy."
"Edhan, jangan lupa main-main ke sini lagi."
"Iya ... papayyy Uncle!" melambaikan tangannya.
"Yahhh, pergi deh partner in crime-ku!"
Tbc ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow ig @syutrikastivani