
Masih ingat dengan Alganda Group? Pemimpin dari perusahaan itu adalah Lauren Anjaya. Ia adalah orang yang pernah bersitegang dengan Amey beberapa waktu yang lalu. Berkat Amey yang tegas saat melawan Lauren, sehingga saham perusahaan WS Group naik, sedangkan saham Alganda Group turun drastis.
Hal itulah yang membuat Lauren menyimpan dendam yang teramat sangat pada Amey. Mulai dari situ Lauren mulai menggali latar belakang kehidupan Amey. Dan betapa terkejutnya Lauren saat mengetahui jika Amey adalah keponakannya yang sempat ia musnahkan waktu kecil.
Akar pahit Lauren merambat dengan cepat setelah mengetahui jika Amey adalah orang yang sama dengan keponakannya. Apalagi ponakannya itu menikah dengan pemilik WS Group yang merupakan juga musuh terbesar dari perusahannya. Dendamnya meluap berkali-kali lipat.
Hubungan Soffy dan Lauren dulu sangatlah dekat. Antara Majikan dan bawahan. Soffy sempat bekerja menjadi pelayan di rumah orangtua Amey. Namun saat Ibu Amey sakit parah dan meninggal dunia maka kurang lebih satu bulan setelah kematian Ibu Amey, Ayah Amey pun menyusul.
Saat itulah hak asuh Amey diberikan pada Lauren, Bibinya. Lauren merupakan adik dari Ayah Amey. Namun Lauren sangatlah picik dan egois. Saat mengetahui jika seluruh warisan akan diberikan kepada Amey, maka Lauren membuat rencana untuk membunuh gadis kecil itu.
Lauren menyuruh Soffy untuk membunuh Amey. Tapi Soffy tak sampai hati untuk melenyapkan anak majikannya. Apalagi Soffy sangat menyayangi Amey. Sehingga Soffy memutuskan untuk menyembunyikan Amey di panti asuhan. Mengetahui bahwa Amey telah lenyap, maka Lauren sangat bahagia dan menjadi pemilik Alganda Group.
Soffy kemudian berhenti dari pekerjaannya sebagai pelayan rumah itu. Akhirnya ia bekerja di panti asuhan menjadi ibu asuh anak-anak yatim piatu. Sebenarnya ia ingin menjaga Amey dari majikannya yang kejam. Tapi sayangnya seseorang mengetahui keberadaan Amey dan mencelakakannya.
Lauren membuat Amey koma kurang lebih satu bulan. Amey kecil ditabrak oleh orang suruhan Lauren sehingga Amey lupa ingatan. Soffy tidak tinggal diam. Ia pun melakukan apa saja untuk melindungi Amey. Soffy membawa Amey pulang ke Manado, supaya Lauren tidak menyakitinya lagi.
Selama beberapa tahun, hidup Amey akhirnya menjadi tenang. Setelah dua puluh tahun berada di kampung halaman Soffy, akhirnya Amey dan Soffy kembali ke Jakarta untuk merantau. Amey berkuliah dengan baik dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Masa lalu Amey memang disembunyikan rapat-rapat oleh Soffy. Ia tidak ingin Amey merasakan sakit hati mengingat kejahatan yang dilakukan Bibi Amey. Masalah harta dan warisan, dibiarkan Soffy didapatkan Laurren, yang terpenting nyawa Amey selamat.
Hingga dua puluh tiga tahun berlalu, akhirnya Lauren menemukan keberadaan Amey. Lauren pastinya tidak akan tinggal diam saat mengetahui jika Amey masih hidup. Nyawannya, popularitasnya, kekayaannya pasti akan terancam jika sang pemilik asli masih hidup.
***
Ketegangan masih berlanjut. Amey melemas saat mendengarkan penjelasan Soffy dan Olin. Soffy yang meceritakan mengenai masa lalu pahitnya, dan Olin yang menceritakan seluruh kejahatan Lauren untuk menyakiti Amey, bahkan menyuruh Olin mengacaukan rumah tangganya dengan Arsen.
Melihat Amey termangu, membuat Arsen panik dan segera menggendong tubuh istrinya. "Mark! Urus semuanya. Berikan pelajaran yang setimpal untuk wanita itu! Masalah Lauren nanti aku yang urus setelah istriku baikan," tutur Arsen.
"Baik Tuan."
"Sayang, kau tidak apa-apa?"
"Aku ... aku hanya tidak mengerti dengan semua ini!"
Arsen mempercepat langkahnya. Ia tiba di kamar dan meletakkan tubuh Amey di atas ranjang. Ia sungguh merasa iba dengan kondisi Amey. Tentu saja, karena wanita itu syok setelah mengetahui bahwa ia masih memiliki keluarga, tapi sayang, keluarganya itu tidak mengingini kehadirannya.
"Sayang? Aku janji akan menghukum Lauren. Dia sudah keterlaluan."
"Arsen, kau boleh menghukumnya, tapi jangan sampai kau menyakiti fisiknya. Biar bagaimana pun juga, dia adalah bibiku. Adik kandung Ayahku," pintah Amey memelas.
Arsen berdiam. Bibirnya terasa berat untuk mengiyakan permintaan Amey. Baginya tidak ada ampun buat Lauren. Apalagi telah menyakiti istrinya. Arsen mengepalkan tangannya seraya menatap lurus ke arah dinding.
"Ars, apa kau mau berjanji padaku?"
"Maaf. Kali ini aku tidak akan menuruti keinginanmu." Arsen beranjak dari duduknya dan melangkahkan kaki keluar dari kamar.
Amey mengejar Arsen dan memeluknya dari belakang sehingga membuat Arsen menghentikan langkahnya. "Suamiku, aku tahu kau sangat marah pada Bibi ..."
"Dia bukan Bibimu! Dia wanita iblis!" ketus Arsen.
"Suamiku, kumohon jangan sakiti wanita itu. Kalau kau menghukumnya dengan cara membunuhnya, maka kau sama saja dengannya. Aku tidak ingin memiliki suami seorang pembunuh."
Hati Arsen serasa dicubit atas perkataan Amey. Raut wajahnya seketika berubah dari ganas menjadi pias. Ia juga tahu jika Amey sebenarnya sangat risih dengan tingkahnya yang super sensitif. Tapi begitulah Arsen. bukan Arsen namanya jika ia tidak dingin, kejam dan emosian.
"Aku tidak akan membunuhnya. Enak saja dia mati begitu saja! Aku harus menyiksanya terlebih dahulu. Dia memang sudah salah besar bermain denganku! Bisa dibilang dia menjerumuskan diri pada kematian!" tutur Arsen tajam.
Amey memeluk Arsen dengan erat, ia bahkan menangis di belakang punggung Arsen. Isak tangis Amey membuat Arsen memutar badannya dan memberikan pelukan hangat untuk istrinya.
"Jangan menangis, Sayang. Ada aku yang akan selalu melindungimu. Aku janji aku akan merebut kembali apa yang menjadi milikmu. Alganda Group adalah warisan dari ayahmu yang diberikan untukmu. Jadi bagaimana pun caranya aku akan merebutnya kembali!" Arsen mengusap punggung Amey dan memberikan ciuman lembut di puncak kepala Amey.
***
Soffy mengemudikan salah satu mobil Arsen. Tapi ia tidak berani lagi menyentuh si Purple karena ia sudah menyaksikan langsung betapa gilanya Arsen saat marah. Ia tidak ingin situasi semakin buruk karena ulahnya lagi. Dengan penuh amarah Soffy melajukan mobil itu menuju Alganda Group.
Tidak sampai empat puluh menit, Soffy tiba di gedung itu. Soffy memarkirkan mobilnya dan segera menuju lantai sembilan di mana ruang direktur utama itu berada. Sudah lama sekali Soffy tidak menginjakkan kakinya di gedung itu. Terkahir kali ia ke sana saat mengantar Amey yang masih berusia empat tahun untuk bertemu Ayah Amey.
"Saya mau bertemu dengan Nyonya Lauren!" ketus Soffy pada seorang sekretaris yang ada di depan ruangan Direktur Utama.
"Maaf, apa Anda sudah membuat janji dengan beliau?"
"Saya tidak perlu membuat janji dengannya. Katakan pada bosmu kalau saya ingin bertemu dengannya. Sekarang!"
"Maaf Nyonya. Anda siapa?" tanya Sekretaris wanita itu.
"Saya Soffy Agatha, dari perusahaan WS Group!"
Sekretaris itu melonjak saat Soffy menyebutkan nama perusahaan itu. Secepat kilat wanita itu menelepon Lauren yang ternyata ada di ruangannya.
Untung aku pintar! Sorry menantu, aku tidak punya pilihan lain selain menyebutkan nama perusahaanmu. Dengan begitu aku bisa bertemu si ular itu! batin Soffy.
"Nyonya, Anda bisa masuk," ucap Sekretaris, mempersilahkan.
Soffy berjalan dengan angkuh. Ia memang sangat menjiwai perannya sebagai Nyonya kaya raya dari WS Group. Ia membuka kacamata hitamnya saat memandangi Sekretaris itu.
"Kau sudah tahu 'kan siapa aku?" tutur Soffy menyunggingkan bibir.
Wanita itu menundukkan kepala dan memberi hormat pada Soffy.
Sementara di ruangan Direktur Utama, Lauren terlihat sedang menunggu kedatangan Soffy. Namun wajahnya sedikit pias karena, menerka maksud kedatangan Soffy.
"Nyonya Lauren!" panggil Soffy dengan menekankan nada.
"Ouh! Lihat siapa yang datang," menyunggingkan bibir.
"Tidak usah berbasa-basi! Akuilah kalau kau dalang dari semua ini!" ketus Soffy.
Lauren menegang seketika. Apa olin sudah ketahuan? Tidak mungkin! Dia sudah berjanji padaku untuk tidak menyeretku ke dalam masalah ini jika dia sudah ketahuan! Ahhhh sial! Dasar wanita j*alang!
"Jangan coba-coba menyakiti Amey! Aku bisa melaporkanmu pada polisi, terkait percobaan pembunuhanmu pada Amey dua puluh tiga tahun yang lalu! Kau pikir aku tidak tahu jika kau menyuruh seseorang untuk menabrak Amey!"
"Pelankan suaramu itu! Kau hanya pembantu, tapi gayamu selangit! Ouh apa karena kau sudah menjadi parasit pada keluarga Winston? Haha! Dasar rakyat jela..."
Plakkkkkk!
Tamparan kencang Soffy berhasil menghentikan ucapan Lauren.
"Kau bahkan berani memukulku?" Lauren memekik.
"Ini belum seberapa! Kau akan merasakan sakit yang lebih dalam lagi saat menantuku sendiri yang turun tangan secara langsung menghukummu! Jadi siapkan mentalmu itu menghadapi harimau yang mengamuk!" tegas Soffy.
Lauren terperanjat. Matanya terbelalak saat mengetahui jika Arsen sudah tahu niat jahatnya pada Amey. Bibir Lauren bergetar, ia mencoba menetralkan wajahnya yang terlihat sedang ketakutan.
To be continued ...
Dukung Author dengan cara Like, Komen, Vote dan Rate 😘