Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Akhir Yang Tak Terduga


"Dasar pengecut! Kalau kalian jantan, ayo kita berkelahi! Jangan hanya tau main keroyakan!" ketus Kaisar.


Merasa tersindir dengan ucapan tajam Kaisar, kedua orang itu saling menatap seolah memberi kode. Tak lama kemudian pria yang satu mulai melepaskan ikatan tali di tubuh Kaisar. Rupanya mereka terpancing dengan sindiran Kai.


"Bersiaplah untuk mati, Tuan Kaisar yang terhormat!" ucap salah seorang pria itu diikuti dengan pukulan kerasnya. Namun dengan gerak cepat Kaisar mampu menangkis pukulan itu.


"Cuihhh! Dasar lemah!" ledek Kaisar.


Kedua orang itu semakin panas. Mereka memukuli Kaisar dengan bringas. Beberapa pukulan lolos mengenai tubuh atletis Kai. Namun tiba-tiba wajah Zoey dan Rion Collin terlintas dipikirannya. "B*ngsatttt kaliann!"


Brakkkk!


Bugggg!


Plakkkk!


Pukulan dan tendangan bringas tertancap indah di tubuh kedua mafia itu. Sebuah meja terbelah dua akibat ditindih oleh salah satu pria. Tak dapat dielak lagi kemarahan Kaisar yang sudah di ubun-ubun.


Plakkk!


Kaisar menendang kepala mafia yang sudah tak sadarkan diri di lantai. "Hanya beginikah kemampuan kalian?! Loser! (Pecundang!)


Sesaat kemudian pintu terbuka lebar. "My friend!" teriak seorang pria yang tak lain adalah Jayden. "Kau tak apa?" tanyanya khawatir.


"Aku tak apa Jay. Di mana Zoey?"


"Zoey bersama Arsen."


"Bagaimana keadaan Zoey?"


"Belum ku lihat. Arsen dan Rion sedang berkelahi di ruangan sebelah. Arsen mengunci ruangan itu dari dalam karena dia sendiri yang akan menghabisi cecunguk itu."


Kaisar berjalan mendahului Jayden, tapi kakinya tiba-tiba terkilir. "Shittt!!" umpatnya kesal.


"My friend!" berlari mendapatkan Kaisar. "Biar ku bantu," merangkul Kaisar.


Di ruangan sebelah masih terjadi perkelahian sengit. Arsen terus menyerang Rion dengan pukulan beringasnya. Sedangkan Rion yang memiliki tenaga seimbang dengan Arsen, menangkis pukulan demi pukulan yang ditancapkan Arsen. Hingga akhirnya Rion membalas pukulan Arsen dan mengenai bahu Arsen.


Bugggg!


Arsen terpental ke lantai. Ia meringis kesakitan karena bahunya. Sebelum berkelahi dengan Rion, bahu Arsen telah kena tembakan. Namun ia menahan rasa sakit itu demi Zoey dan Kaisar.


"Sangat-sangat tidak seru! Pikirku kau sangat susah dikalahkan. Tapi ternyata hanya begini kemampuanmu. Hahaha! Benar-benar memalukan!" ucap Rion meledek Arsen.


"Kakakkk! Hik ... hik ... hik!" Zoey menangis tersedu-sedu membuat Rion kembali melangkah menuju ke arah gadis itu.


"Hey manis. Kita belum menyelesaikan permainan kita. Hmmm, bagaimana kalau kita lakukan sekarang. Kebetulan ada kakakmu di sini, pasti lebih seru!" goda Rion menyeringai.


"B*rengsek kau!" ketus Zoey.


Rion mulai melepaskan kancing baju Zoey satu persatu sehingga mulai terlihat belahan dadanya. Arsen yang menyaksikan langsung kejadian itu, bangkit berdiri. Darahnya kembali mendidih.


"Bi*dabbb kau! Jangan berani kau sentuh adikku!"


Bugggg!


Arsen melayangkan pukulan dahsyatnya ke wajah Rion sehingga pria itu terjatuh kembali ke lantai. Rion memegang dagunya. Ia merasakan jika rahangnya telah patah akibat pukulan maut Arsen.


Merasa tak puas dengan tinjunya itu ia kembali mematahkan kaki kiri Rion.


"Arghhhh!" teriak Rion.


"Satu persatu tulangmu akan berpindah tempat!" geram Arsen sembari mematahkan kaki kanan Rion.


"Arghhhh! Sialan kau! Aku tidak akan biarkan kau dan keluarga Winston yang rendahan itu menginjak-injak keluargaku lagi!"


"Sudahlah! Kau dan keluargamu telah ditakdirkan untuk diinjak keluarga Winston. Sekeras apa pun usahamu, kau takkan bisa menyayangi WS Group! Camkan itu cecunguk sialan!"


Plakkkkk


"Arghhh!" Rion menjerit hebat saat Arsen kembali mematahkan tangan kirinya.


Arsen kini berpindah tempat ke bagian kepala Rion. Ia hendak mematahkah leher Rion namun tiba-tiba ...


Gubrakkkk!


Pintu telah didobrak dari luar. Mark, Kaisar dan Jayden mendapati Arsen hendak mematahkan leher Rion.


"Kalian sebagai saksi atas kematian b*jingan ini!"


"Tunggu!" tukas Rion. "Sebelum aku mati, aku ingin melihat ekspresimu saat kehilangan seseorang yang sangat kau cintai! Hahaha!" ucap Rion.


"Apa maksudmu?!" menaikkan kening setengahnya.


Rion baru saja mendapat notifikasi. Ia seolah sudah menebak siapa yang mengirimnya pesan. Rion meraih ponselnya dari saku celana dengan tangan kanannya, karena tangan kirinya sudah dipatahkan Arsen.


"Lihatlah sendiri siapa yang mengirimiku pesan," tersenyum licik.


Arsen melebarkan matanya. "Eggie!" gumamnya dengan ekspresi garang.


"Bukalah sendiri foto yang dikirim orang kepercayaanmu!"


Dengan penuh penasaran, Arsen menekan gambar itu dan memperbesarnya. Mata Arsen semakin membesar. Rahangnya mengerat. Giginya mengeluarkan bunyi yang membuat ngilu. Ia mengepal tangan kirinya dengan erat.


"WHAT DID YOU TO DO TO MY WIFE, MOTHERFUCKER!!!" (Apa yang kau lakukan pada istriku, b*jingan!!!) Arsen menggeram murka.


Melihat tubuh Amey yang terbaring kaku di atas sofa dengan mulut yang mengeluarkan cairan putih kental, membuat Arsen mencengkeram rambutnya dengan kuat.


"Arghhhhhhhhhhhhhh!" teriak Arsen dengan nyaring. Urat-urat di leher putihnya mulai bermunculan. Wajah dan matanya memerah. Tak bisa disangkal lagi jika Arsen sudah berada di titik terlemahnya. "Memey, Sayang ... bayi kecilku yang bahkan belum lahir!!!" gerutunya dengan kesedihan tak tertahankan.


Semua orang yang ada di ruangan itu kecuali Rion, kaget melihat sisi kehancuran Arsen. Tak ada yang berani bertanya apa yang terjadi pada Amey dan kandungannya. Yang mereka tahu jika, Mr. Collin telah berhasil menyakiti bahkan membunuh orang yang sangat berharga bagi Arsen.


"Pemandangan yang sangat indah. Haha! Tak dapat ku sangka di detik-detik kematianku, aku menyaksikan pemandangan yang begitu mengenakkan dan menyejukkan hati," tutur Rion.


Arsen berdiam sejenak. Ia memandangi lantai dengan tatapan nanar. Tiba-tiba ...


"HAHAHAHAH!" gelak tawa Arsen meledak.


Rion pun terheran-heran melihat tingkah Arsen. Tak hanya Rion, Kaisar, Jayden, Zoey pun demikian.


"Secepat itukah kau gila?!" ucap Rion dengan bibir yang melekuk kecil.


"Pefff-bwahahahha!" lagi-lagi Arsen terbahak dengan kencang. Ia terlihat bahagia seperti tak ada beban lagi.


"Mark!" panggil Arsen.


Mark menunduk dan meninggalkan ruangan itu.


"Bagaimana? Kau suka hadiah dari ku, Tuan Arsen Winston?" ucap Rion tersenyum kecut.


Arsen memilih diam.


"Bukankah kau yang mengirim Eggie untuk memata-mataiku? Hmm, sayangnya wanita itu sudah menjadi simpananku! Dan dialah yang telah merencanakan ini semua! Penculikan, kehancuran keluargamu dan kematian Amey bersama anak dalam kandunganya, itu semua adalah rencana Eggie!"


Tubuh Arsen kembali menegang kaku. Jantungnya seolah berhenti berdetak. Tentu saja karena hatinya sangat hancur tak tertolong.


"Kau salah besar Mr. Collin!" tutur seorang wanita yang tiba-tiba muncul dari balik pintu. "Aku tidak pernah merencanakan hal sekejam ini!" ucap wanita itu lagi yang tak lain adalah Eggie.


Deg!


"Eggie ada di pihak ku dan Arsen!" sambung Amey.


Wajah Rion yang sebelumnya tersenyum lebar kini perlahan memudar. "Ka--kauuu tak mati?!" lirihnya lemas.


Arsen terkekeh pelan. Suaranya tiba-tiba membesar dan akhirnya ... "HAHAHAHAHA! Gelak tawa Arsen kembali pecah. Ia tak dapat lagi menahan rasa puasnya menatap wajah Rion yang bagai tikus basah. "Bagaimana, Mr. Collin? Apa balasan hadiahku terlalu berlebihan untukmu?! Oh ada lagi yang ingin aku tanyakan! Ehmm, bagaimana aktingku? Apa aku sudah cocok menjadi aktor? HAHAHAHAH!"


"KAUUUUUU!" geram Rion memandangi Arsen kemudian bergantian menatap Eggie. "Kau penghianat Sayang?! Aku sudah sangat percaya padamu tapi kau ternyata ... ?!"


"Rion seharusnya kau sadar! Tidak ada lagi orang yang akan bekerja sama dengan pria licik dan bejad sepertimu!" ketus Amey.


"Maafkan aku Mr. Collin. Aku memang memiliki perasaan padamu. Tapi aku juga harus konsisten dengan pekerjaanku. Aku melakukan ini karena Tuan Arsen telah banyak membantu saat aku kesusahan. Jadi sebagai balasan atas kebaikan beliau, aku harus mengakhiri hubunganku denganmu menggunakan cara seperti ini agar kau juga sadar dan bertobat!"


Tak disadari Rion, ia telah menitikkan air mata. "Kau benar! Tak ada seorang pun yang mengingini kehidupanku. Hanya uanglah yang membuat mereka bertahan denganku! Aku pikir setelah aku membalaskan dendamku pada keluarga Winston, aku akan hidup bebas tanpa tekanan! Dan aku juga berpikir jika semua ini telah selesai ... " menjeda ucapannya dan menatap Eggie lekat. "Kau dan aku akan pergi jauh dari sini dan hidup bahagia. Aku juga berpikir jika kau tulus mencintaiku tanpa memandang siapa diriku. Tapi aku salah ..."


"CUKUPPP!" teriak Eggie.


"Bunuh saja aku! Tak ada lagi alasan bagi ku untuk bertahan di sini," ucap Rion.


Arsen menodongkan pistol tepat di dahi Rion. Tinggal menarik pelatuknya dan isi kepala pria itu akan berserakkan di lantai!


Amey menatap Eggie yang mulai meneteskan air mata. Rasa iba dan tak tega hinggap di hati Amey. "Sayang, jangan kau lakukan itu! Jika kau membunuhnya, berarti kau juga sama sepertinya! Aku tidak ingin anakku memiliki seorang ayah pembunuh!!"


Dengan rahang yang masih mengerat, akhirnya Arsen melepaskan todongan pistol itu. "Aku ingin sekali melenyapkanmu, tapi aku juga tidak ingin menjadi kotoran anjing sepertimu!"


Dorrr!


Seorang pria yang merupakan tangan kanan Rion membuang tembakan di tubuh Arsen, namun di halau oleh Mark dengan tubuhnya. Peluru itu mengenai belakang punggung Mark. Mark membalikkan badannya dan menarik pelatuk ke arah dahi pria itu.


Panggg!!


"Berani sekali kau melukai Tuan Muda!" tutur Mark.


Semua orang terkejut. Eggie memeluk Amey agar wanita itu tidak melihat pertumpahan darah yang terjadi karena tak bagus untuk wanita hamil menyaksikan adegan seperti itu.


"Mark, kali ini kau memang telah membunuh!" bisik Arsen.


"Aku tau, Tuan. Tapi keselamatan Tuan yang terpenting."


"Baiklah, gajimu di naikan lima kali lipat!" tutur Arsen sembari berjalan menuju ke arah Zoey dan melepaskan ikatan yang melilit di tubuhnya.


"Kakakkkk!" lirih Zoey dengan air mata yang masih berlinang di pipinya.


Arsen memeluk Zoey dengan erat dan mengecup puncak kepala adik kesayangannya itu. "Apa kau terluka?"


Zoey menggeleng dan kembali memeluk Arsen. "Memar di pipi pasti akan pulih dengan cepat," ucapnya.


"Kau tidak di lecehkan 'kan?"


"Tidak kak."


"Jika itu terjadi, aku memang harus menyiksanya hingga dia tak tahan dan akan mati dengan sendirinya."


To be continued ...


LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*


.


.


.


Follow akun ig asli Author : @syutrikastivani