Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Memasak untuk Amey


Sementara orang-orang di rumah sibuk mencari sosok misterius yang menyusup ke dalam kediaman keluarga Winston, terlihat Arsen dan Amey sedang menikmati perjalanan mereka menuju sebuah tempat yang terletak di puncak gunung yang kira-kira memakan waktu sekitar tiga jam dari pusat kota.


Amey masih penasaran ke mana Arsen akan membawa dirinya. Ia memandangi sekeliling dengan seksama. Tempat itu begitu asing baginya karena tak pernah didatangi Amey sebelumnya. Ia pun terperangah saat melihat pemandangan yang begitu indah.


Pohon-pohon yang rindang berjejer rapi di samping jalan, kabut putih yang samar-samar diikuti dengan hempasan udara dingin yang sejuk membuat Amey membuka kaca jendela mobil dan menikmati hawa segar yang diberikan alam sambil memejamkan matanya. Arsen pun yang melihatnya bahagia, ikut melebarkan senyumnya.


Hari pun sudah mulai gelap, sang mentari telah bersembunyi di ufuk barat. Kendaraan mereka berhenti di sebuah Vila yang sangat besar yang terletak di puncak gunung. Setelah memarkirkan mobil, Arsen segera turun dan membukakan pintu untuk Amey.


"Apakah ini tempatnya?" tanya Amey.


"Ya."


Amey berjalan perlahan dengan langkah kaki yang masih terseok-seok. Ia memejamkan matanya sembari merentangkan tangan. Wanita itu tersenyum kecil dan menarik napasnya. Amey terlihat sangat senang dibawa Arsen ke tempat yang senyaman itu.


"Ars, apa tempat ini milikmu?"


"Bukan."


"Oh aku kirain tempat ini punyamu."


"Memangnya kenapa?"


"Tidak. Aku hanya menyukai tempat seperti ini."


"Ini milikmu, Mey."


Amey menatap Arsen lekat kemudian ia terkekeh pelan seolah mengejek ucapan Arsen. "Haha, apa kau juga akan bilang kalau kau memberikan tempat ini untukku, karena aku menyukainya wahai Mr. Winston yang kayahhhh?"


"Bukan! Tempat ini dibuatkan Arka untukmu. Arka memberikanmu hadiah atas hari ulang tahunmu dan ..." Arsen menjeda ucapannya.


Suasana kembali hening. Amey yang awalnya ceria kini memasang wajah garang. Tatapannya lurus ke depan, tatapan itu kosong. Mimik wajahnya menunjukkan jika wanita itu tidak baik-baik saja.


"Dan ... atas pernikahanmu," lanjut Arsen.


Deg!


Amey mengalihkan tatapannya ke wajah Arsen. "Bagaimana kau tau?"


"Aku menemukan sebuah DVD di kamar Arka. DVD itu berisikan video Arka. Dalam videonya, ada banyak hal yang dia sampaikan, salah satunya mengenai tempat ini. Aku mengetahui tempat ini karena Arka yang memberitahu."


"Arka memang sangat hebat! Dia bahkan sudah memprediksikan hari kematiannya. Ia sudah menyiapkan semuanya, surat itu, video itu ... se--seolah dia tahu jika hidupnya akan berakhir dan aku memang tidak akan bisa bersamanya." Amey tampak bersedih.


"Jangan menangis. Arka membencimu mengeluarkan air mata."


"Aku tidak menangis," membasuh matanya yang telah meneteskan cairan.


"Arka menghadiahkan ini untukmu agar kau bahagia, bukan bersedih. Arka telah bahagia di sana, jadi jangan kawatirkan dia. Setidaknya hiduplah dengan baik, agar Arka bisa tersenyum dan tenang melihat kau bahagia."


Amey mengangguk. Ia langsung memeluk Arsen dengan erat. Tampaknya wanita itu menangis di dada liat Arsen. Ia memang tidak ingin menunjukkan tangisannya pada Arka dan Arsen sehingga ia memilih menyembunyikan wajahnya di balik dada Arsen.


Arka, entah bagaimana aku harus mengekspresikan perasaanku padamu. Aku marah namun juga berterima kasih. Marah karena kau pergi tanpa pamit padaku, dan berterima kasih karena kau memberikan seseorang penggantimu yang bisa menghiburku. Salahkah aku jika aku menaruh perasaanku padanya?


Arsen membalas pelukan Amey, ia mengecup puncak kepala Amey berulang-ulang agar wanita itu merasa baikan, dan merasa kalau ia tidak sendirian, ada Arsen pengganti Arka yang akan melindunginya, menyayanginya dan mencintainya dengan tulus.


Arka, Aku pasti akan menepati janjiku padamu. Aku akan menjaga, melindungi, menyayangi dan akan memberikan cintaku pada wanita pujaanmu. Kau sangat beruntung memiliki Amey, wanita yang baik dan tegar. Namun, maafkan aku jika aku pun sudah mulai mencintainya lebih dari janjiku.


Arsen Winston, pria yang dikenal kejam dan tidak memiliki cinta. Sebelum bersama Amey, ia memang sama sekali tidak penah memiliki teman perempuan makanya ia tidak pernah berpacaran. Yang di kenal Arsen hanya keluarga, bisnis dan kesenangan belaka.


Namun semenjak Amey hadir dalam hidupnya, membuat pria itu sangat kacau. Kacau dalam arti tidak bisa mengontrol emosinya, tidak bisa berpikir jernih dan bahkan melupakan pekerjaannya. Orang yang awalnya dingin dan angkuh, akhirnya ditaklukan oleh wanita keras kepala tapi juga periang dan baik.


***


Setelah keduanya selesai membersihkan diri, mereka pun menuju teras depan dan melihat pemandangan malam yang sangat indah. Kedua orang itu duduk di sebuah kursi ayunan sembari menatap langit yang ditaburi benda-benda penerang yang terlihat sangat kecil.


"Kalau kau mau, kita akan tinggal di sini unuk beberapa hari," tutur Arsen menatap mata Amey.


"Aku sangat ingin, tapi aku juga tidak mau menganggu pekerjaanmu. Aku juga harus kembali bekerja."


"Kau tidak usah memikirkan pekerjaanku. Aku bisa mengatasi semuanya."


"Baiklah. Tapi bagaimana kalau setelah menemukan pelaku penyebar berita kematian Arka?"


"Setuju."


Arsen dan Amey saling memandang dan tersenyum.


"Ohya, apa kau lapar? Aku akan membuatkanmu makanan."


"Tidak. Aku yang akan memasakkan makanan untukmu," ucap Arsen.


"Wah wah wah! Baiklah. Aku juga penasaran bagaimana rasanya masakanmu." Amey tersenyum dan menggoda Arsen.


Setiba di dapur, Arsen terlihat kebingungan. Ia tidak tahu dari mana harus memulainya dan masakan apa yang harus ia buat. Pria itu memang sama sekali tidak tahu memasak, tapi karena ingin menunjukkan kehebatannya pada Amey, maka ia menawarkan diri untuk membuatkan makanan.


"Jangan menatapku seperti itu!" ketus Arsen tiba-tiba


"Baiklah. Aku tunggu di sana sambil menonton," tunjuk Amey dengan ujung matanya.


Setelah Amey berlalu dari hadapannya, ia pun segera meraih ponselnya yang ada di saku celana dan kemudian membuka aplikasi youtube. Ia tersenyum kecil saat menemukan makanan apa yang harus ia buat.


Arsen mulai menyiapkan pisau. Tak lupa juga ia menggunakan celemek berwarna putih agar bajunya tidak terkontaminasi noda apa pun. Arsen mengeluarkan semua bahan yang ia butuhkan dari dalam kulkas. Tentunya atas arahan video yang ada di youtube.


"Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup, aku memasak dan untuk seorang wanita. Ahhh sial! Apa aku sudah terlihat bu ... bu ... ahhh! Aku lupa istilah itu!" Arsen menggerutu dengan kesal.


Amey mengenduskan hidungnya. Penciumannya begitu tidak enak. Ia menengok ke arah dapur dan mendapati Arsen yang tengah membasuh keringatnya di dahi. Amey terkekeh saat memandangi Arsen yang dengan susah payah memasakkan makanan untuknya.


"Kira-kira apa ya yang dia masak? Tidak! Bukan itu pertanyaan yang tepat," menggeleng kepalanya. "Apa dia bisa memasak? Nah itu pertanyaan yang tepat. Ehh, kenapa baunya semakin tidak enak dicium?" Amey menggerutu dan menerka apa yang dilakukan pria arogan itu.


(Dua jam kemudian)


Amey dan Arsen menatap semua makanan yang ada di atas meja. Ekspersi keduanya datar. Setelah cukup lama menatap makanan aneh yang dibuat Arsen, keduanya pun saling menatap. Amey ragu untuk mengatakan pendapatnya mengenai masakan Arsen.


"Mey? Apa kau hanya akan memandanginya saja? Ayo dimakan!"


Amey kembali menatap makanan yang ada di atas meja. Beberapa paha ayam yang berwana gelap, sayur aneh berwarna gelap, spicy tuna roll yang sama sekali tidak berbentuk dan terakhir rosemary chicken yang memiliki warna yang sama dengan paha ayam.


"Ars?"


"Ya?"


"Apa kau bisa memasak?"


"Tentu saja. Jelas-jelas kau sudah melihat makanan yang aku masak ini," menunjuk beberapa makanan yang berjejer di atas meja.


"Tapi ..."


"Tapi apa?"


"Semua masakan ini gosong, Ars."


To be continued ...


Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘