Terjebak Pernikahan Tuan Arogan

Terjebak Pernikahan Tuan Arogan
Memeyku, keren!


Semenjak ditinggal Arsen, perasaan Amey menjadi sangat gelisah. Bukannya Amey tidak percaya dengan janji Arsen, namun ia juga paham bagaimana sifat suaminya itu. Jika Arsen terbawa emosi pastilah ia akan benar-benar menghabisi nyawa seseorang yang berbuat salah padanya, itulah yang ada di benak Amey.


Amey memutuskan untuk menghampiri Arsen dan Mark di perusahaan Alganda Group. Meski Terasa berat bertemu dengan Lauren dan menginjakkan kakinya di gedung yang seharusnya menjadi miliknya, namun bagi Amey, Arsenlah yang terpenting.


Rasa sakit hati yang teramat dalam mengkungkung batin Amey setelah ia tiba di depan gedung yang tak kalah tinggi dari perusahaan lain yang berjejer di tengah kota. Amey menarik napasnya dan menghembuskan secara perlahan. Ia melakukannya itu berulang-ulang agar perasaannya tenang.


Amey memasuki gedung itu dengan langkah yang berat. Hanya wajah Arsenlah yang terngiang di benaknya sehingga rasa sakit hati itu seolah-olah lenyap. Amey berjalan terus tanpa menoleh sekitarnya yang ternyata sedari tadi memandanginya.


Siapa yang tidak kenal dengan Nyonya Muda Winston dari WS Group? Hanya orang-orang kurang update yang tidak mengenal istri Arsen. Tidak ada yang menghalangi jalannya, satpam pun tidak. Amey masuk ke dalam lift dan menekan tombol yang dikhususkan untuk direktur utama.


Sesampainya di ruangan Lauren, ia mendapati Sekretaris wanita sedang berdiri di depan pintu ruangan direktur. Amey berkerut dahi dan berjalan mendekat ke arah wanita itu. Terlihat wajah Sekretaris itu menjadi panik dan ketakutan.


"Di mana Arsen?" tanya Amey.


"Nyo--nyonya Muda?" Wanita itu terperanjat.


"Panggil aku Amey."


"Tidak Nyonya, saya lebih nyaman memanggil Anda dengan sebutan Nyonya."


"Baiklah, terserah kau saja. Ohya apa Arsen di dalam?"


"I--iya Nyonya." Sekretaris itu tiba-tiba memegang tangan Amey. "Nyonya Winston, tolong selamatkan direktur kami. Sepertinya Tuan Arsen sangat emosi dan ingin melukai direktur kami," mohon wanita itu.


Amey yang mendengar itu terperanjat. Ia langsung membuka pintu itu dengan kasar. Dan benar saja, pemandangan yang paling pertama ia lihat saat berada di ruangan itu adalah Arsen yang sedang mencekik leher Lauren.


"Suamiku! Hentikan!"


Ketiga orang yang ada di ruangan itu menoleh ke sumber suara. Lauren tersenyum saat melihat Amey yang muncul dan menghentikan tingkah gila suaminya.


"To--tolong saya, A--Amey!" teriak Lauren dengan tersengal-sengal.


Arsen menjadi lebih emosi saat Lauren meminta Amey untuk menolongnya. Kancingan itu semakin kuat sehingga membuat Lauren hampir kehabisan napas.


"Suamiku, ku mohon lepaskan dia!" pinta Amey memelas.


Melihat mata Amey yang menatapnya nanar, maka ia pun segera melepaskan cekaman tangannya di leher Lauren dengan terpaksa. Wanita licik itu terbatuk-batuk sembari mengusap lehernya yang memerah.


Amey langsung memeluk Arsen dengan erat. Ia bermaksud untuk menenangkan emosi sang suami yang sudah berada di ubun-ubun. Arsen masih terpaku membisu saat Amey memeluknya. Ia memejamkan mata dan menarik napas berat.


"Kenapa kau kemari?" tanya Arsen datar.


"Aku tidak akan membiarkanmu menjadi seorang pembunuh, Suamiku," lirih Amey.


"Aku sudah berjanji padamu bahwa aku tidak akan membunuhnya! Tapi akan menyiksanya dengan perlahan. Ini baru pembukaan!"


Amey melepaskan pelukannya dan menatap wajah Arsen yang penuh amarah. "Baiklah, aku percaya padamu," mencium pipi Arsen.


Untuk pertama kalinya Amey mendaratkan kecupan di wajah Arsen. Selama ini yang selalu menciumnya duluan adalah Arsen. Menerima ciuman dari istrinya membuat hati Arsen lembek dan luluh. Ia mengelus puncak kepala Amey. "Kau tidak apa-apa datang ke sini?" tanya Arsen lembut.


"Tidak, Sayang. Aku tidak apa-apa. Aku datang kemari karena mengingatmu."


Arsen kembali memeluk Amey. "Kalau begitu ijinkan aku memberinya pelajaran."


"Baiklah. Tapi jangan membunuhnya."


Arsen mendorong pelan bahu Amey, dan menatap ke arah Mark. Segera Mark bergegas mendekati Arsen.


"Bawa Memeyku keluar dari ruangan ini. Aku harus menyelesaikan urusanku dengan j*lang ini!"


"Baik, Tuan."


"Sebentar!" tukas Amey. "Sebelum aku keluar, aku juga ingin memberi pelajaran pada wanita ini," menunjuk Lauren dengan telunjuknya.


Mark menatap Arsen, dan dibalas anggukkan kecil dari Arsen. Melihat respon Arsen yang memberinya kesempatan untuk memberikan pelajaran pada Lauren, membuat langkah kaki Amey reflek berjalan ke arah Lauren yang masih membisu di lantai sambil bersandar pada tembok.


"A--Amey, ini aku, Bibimu. Mendekatlah Sayang," lirih Lauren.


"Bi--Bibi?" ulangi Amey dengan mengernyitkan dahi.


"I--iya Sayang. Aku Bibimu, adik dari almarhum ayahmu."


"Iya Bi, aku tahu, dan aku sudah mengingat semuanya," tutur Amey.


"Kalau begitu, apakah kau mau menolong Bibi?"


"Menolong? Menolong apa Bi?"


"Tolong Bibi, selamatkan perusahaan ini dari tangan Suamimu. Dan katakan pada suamimu untuk jangan membunuh Bibi."


"Baiklah, Bibi. Aku akan menolongmu."


"Kau tidak berubah Amey. Dari kecil kau memang sudah sangat baik. Tak heran kebaikan hatimu ini terpelihara sampai sekarang," ucap Lauren dengan tersenyum kecil.


"Apa ...? Apa kau mengira aku akan berkata seperti tadi? Dengan entengnya mengatakan, 'baiklah aku akan menolongmu Bibi' dan dengan mudahnya melupakan kesalahan fatal yang pernah kau perbuat padaku dulu, Bi--Bibi gadunganku?"


Deg!


Lauren terperanjat. Wajahnya yang semringah tiba-tiba menjadi masam. Ia menatap Amey dengan penuh kebencian. Wanita sialan! Berani-beraninya dia berkata seperti itu padaku! Aku akan membalasmu Amey! batin Lauren.


"HAHA!" Amey terbahak dengan sinis. "Siapa namamu? Ehm, Lauren ya? Ohya benar aku ingat namamu adalah Lauren Anjaya. Dengar baik-baik perkataanku ini! Kau bukan keluargaku dan aku tidak sudi mempunyai Bibi sepertimu! Memang benar, kalau kita harus hidup saling memaafkan, tapi menurutku, wanita iblis sepertimu tidak pantas untuk dimaafkan! Tempatmu di neraka, kau pantas untuk tinggal di sana!"


Arsen tersenyum kecil saat mendengar ucapan tajam istrinya pada Lauren. Kau sangat keren Memeyku! Itu yang aku inginkan. Jangan cepat terpengaruh pada rayuan Iblis! Mereka memang penuh tipu daya, tapi kau juga harus cerdik menanggapinya. Aku padamu Memeyku!


Setelah mendengar ucapan Amey, Lauren pun memasang raut pias dan mulai berakting menangis di depannya. "Amey, apakah kau tidak memiliki pengampunan lagi untukku? Apa kau tidak memiliki hati nurani padaku?"


"Pengampunan? Hati nurani? Cuihhh! Kalau begitu aku tanya padamu sekarang! Apa saat kau membuangku, merebut semua aset yang diberikan orangtuaku dan berusaha melenyapkan nyawaku, apa itu yang kau sebut hati nurani? Apa itu yang kau sebut keluarga dengan membanggakan dirimu sebagai seorang bibi? Hahahaha! Miris sekali!"


Lauren memerah. Perkataan Amey sungguh merobek harga dirinya yang selama ini ia junjung tinggi. Dan baru Ameylah yang berani merendahkan Lauren. Sebelum-sebelumnya, wanita itu paling disegani dan dihormati karena terkenal dengan keanggunannya.


Lauren tidak kuasa lagi menahan amarahnya, ia mengangkat tangannya dan hendak menampar Amey. "Wanita sialan!"


"Mau menamparku?" Amey menangkis pukulan Lauren.


Lauren berusaha melepaskan tangan Amey, namun tidak bisa karena cengkeraman tangan Amey pada pergelangan tangannya begitu kuat. Melihat Lauren yang kesulitan, akhirnya Amey melepaskan tangannya. Tiba-tiba ...


Plakkkkk!


Tamparan yang sangat kuat mendarat di pipi Lauren sehingga membuat wajah itu terbuang ke samping dengan kasar.


"Sebenarnya tamparan itu masih kurang. Tapi aku merasa kasihan dengan Suamiku yang begitu mendambakanmu! Setelah aku keluar dari ruangan ini, entah apa yang akan terjadi padamu. Kau tahu 'kan seberapa beringasnya Suamiku saat dia marah? Ouh, apalagi saat melihatmu hampir menamparku tadi!" Amey menggeliang sembari menggeleng kepalanya. "Itu sangat mengerikan!"


Amey berdiri dan menegakkan tubuhnya. Ia menatap Lauren dengan tajam. Kaki dan tangan Amey sebenarnya bergetar hebat namun ia menyembunyikannya. Biar bagaimana pun juga, ia masih satu darah dengan Lauren. Tapi dengan begitulah Amey bisa melampiaskan kekesalan dan kesakithatiannya pada Bibinya itu.


"Aku rasa aku sudah selesai dengan wanita ini. Selanjutnya aku serahkan padamu, Suamiku."


Arsen tersenyum sinis, ia segera memberi kode pada Mark untuk membawa Amey keluar ruangan. "Tunggulah aku di luar, Memey."


Amey mengangguk dan berjalan keluar bersama dengan Mark. Kakinya hampir terkilir karena merasakan lemas. Untung ada Mark di sampingnya yang segera membantu Amey berjalan.


Mark menoleh ke arah Arsen dengan maksud meminta ijin padanya untuk membantu Amey berjalan. Namun Mark hanya menerima tatapan membunuh dari Tuannya, artinya bahwa Mark tidak boleh menyentuh Memeynya Arsen. Menyentuh sama dengan menyerahkan nyawanya yang berharga secara cuma-cuma pada malaikat maut.


Arsen kembali menatap Lauren. "Kali ini, tidak ada yang bisa menghentikanku untuk menghabisimu!"


Deg!


To be continued ...


Kuyyy berikan Like, Komen, Vote dan Rate, kalian untuk Author 😘


(Follow ig : @stivaniquinzel)