
Mulai malam itu rumah sakit yang di bawah naungan WS Group menjadi berwarna dengan kehadiran empat pria tampan. Para tenaga medis khususnya wanita mencuri kesempatan dalam kesempitan untuk sekali-kali menjenguk keempat pria itu dengan alasan pengobatan.
Bahkan baru beberapa jam mereka di rawat, masing-masing ruangan keempat pria itu telah dipenuhi segala macam buket bunga dan secarik kertas berisikan ucapan doa agar mereka cepat sembuh. Entah itu buket dari para tenaga medis wanita, ataupun dari para pasien wanita.
"Panggilkan Pedro," ucap Arsen pada seorang perawat wanita yang sedang menata bunga-bunga itu.
"Baik, Tuan."
Perawat itu pun segera memanggil dokter Pedro yang merupakan dokter keluarga Winston. Beberapa menit kemudian sosok yang dipanggil pun muncul dari balik pintu.
"Kau memanggilku, Tuan?"
"Kemari kau!"
Pedro mendekat.
Plakkkk!
Arsen melempar majalah yang sedang ia baca ke wajah Pedro. "Sialan! Dari mana saja kau?!"
"Maafkan aku Tuan. Aku baru selesai melakukan oprasi," tutur Pedro menunduk.
"Sudah jam berapa sekarang?"
Pedro menatap jam yang melekat di tangannya. "Jam setengah depalan pagi, Tuan."
"Berapa jam kau melaksanakan oprasi?"
"Sebelas jam setengah untuk dua pasien, Tuan."
"Aku tak peduli apa yang kau lakukan! Tapi yang ku tau tugasmu adalah merawatku dan keluargaku".
Ada apa dengannya? batin Pedro. "Apa Tuan merindukanku?" katanya sembari tersenyum tipis.
Mendengar itu, pria arogan yang tadinya sedang duduk bersandar di kepala ranjang, tiba-tiba langsung melonjak dan ingin memukul wajah Pedro. "Mau mati muda kau?!"
"Maaf, Tuan. Aku hanya bercanda."
"Candaanmu garing!"
"Aku tau, Tuan."
"Cukup! Jangan di sambung lagi kalau aku bicara," celutuk Arsen geram.
"Baik, Tuan."
"Tidak bisakah kau menyuruh dokter lain saja untuk menangani oprasi itu?! Jelas-jelas tadi malam Zoey hampir mati! Kau tau 'kan kalau hanya kau saja yang bisa mengobati keluarga Winston!"
"Maafkan saya Tuan."
"Berhenti meminta maaf!'
"Baik, Tuan."
"Mulai sekarang, jangan ada lagi tenaga medis yang masuk keluar ruanganku dengan sembarangan. Aku tidak suka itu! Bagaimana kalau Memeyku cemburu melihat wanita-wanita jelek itu?! Apa kau mau tanggung jawab jika Memey mengamuk?!"
"Tidak, Tuan."
"Hanya kau yang boleh memasuki ruanganku!"
"Aku paham, Tuan."
"Pergilah."
"Tidak sekarang Tuan. Aku harus mengambil darahmu untuk diperiksa."
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Aku sehat! Hanya saja aku harus menuruti perintah istriku untuk menginap di sini."
"Baik Tuan. Jika Tuan membutuhkan sesuatu bisa menekan tombol merah itu. Aku pasti akan segera datang."
Arsen menghempaskan jemarinya di udara, tandanya bahwa ia sudah selesai berbicara dengan Pedro dan mengusirnya keluar.
Pedro menundukkan kepalanya dan berjalan keluar menuju pintu.
Kringgggg ...
Alarm peringatan berbunyi. Pedro segera menatap Arsen dengan tatapan panik.
"Aku hanya memastikan kalau benda ini berfungsi atau tidak. Dan ternyata berfungsi! Pergilah!"
Pedro membuang napasnya berat. "Hufttt, baiklah Tuan."
Di ruangan vvip yang lain, tampak Amey yang sedang menemani Zoey. Wanita itu belum pulang ke rumah sejak tadi malam. Ia menyuruh Eggie untuk mengambilkan pakaian untuknya di mansion.
"Zoey, kau mau makan apa?"
"Hmm, aku pengen makan masakan Nenek."
"Baiklah. Nanti aku WA ke Nenek saja," meraih ponselnya di dalam tas dan menulis pesan untuk Soffy.
"Kakak ipar, apa kakak dan teman-temannya baik-baik saja?"
"Ya. Mereka baik-baik saja. Aku sengaja membuat mereka menginap di rumah sakit agar mereka tidak berbuat ulah selama kamu di sini."
"Memangnya mereka mau berbuat apa lagi, Kak?"
"Kau macam tidak tau kakakmu saja. Haha."
"Apa mereka akan menemui Mr. Collin dan menghajarnya lagi?"
"Lebih tepatnya semua keluarga Collin dan para pengikutnya. Rion 'kan sudah di penjara."
"Oh begitu. Memangnya Mr. Collin memiliki keluarga lagi?"
"Aku kurang tau juga. Tapi sepertinya ada. Aku sempat mendengar pembicaraan Mark dan Arsen saat di mobil. Katanya mereka akan menghancurkan keluarga Collin tanpa sisa."
"Huaaa kejamnya."
"Tapi kau tenang saja. Aku tidak akan membuat Arsen menjadi seorang pembunuh. Mungkin saat ini emosinya masih meluap. Tapi setelah beberapa hari, pasti emosinya akan surut kembali."
"Kau benar Kakak Ipar."
"Kata Nenek, dia akan membuatkanmu makanan paling enak sedunia untuk menebus kesalahannya," tutur Amey membaca pesan singkat yang dikirim Soffy.
"Hmmm, jadi tidak sabar, heheh," terkekeh pelan.
Ceklekkk
Seseorang muncul dari balik pintu.
"Oh, masuklah Jen."
Jen mengunci pintu dan berjalan menuju ke arah Zoey dan Amey. "Aku hampir tersesat karena mencari ruangan ini. Untunglah ada beberapa pria berotot di luar sana yang memberitauku."
"Syukurlah mereka mengijinimu masuk. Banyak sekali pengawal Arsen yang menjaga area ini."
"Hampir aku tidak diijini masuk. Meski aku sudah mengatakan kalau aku teman dekatmu. Aku juga sudah menunjukkan foto kita berdua. Tapi tetap saja mereka tidak percaya."
"Lahh, terus?! Ini kau bisa masuk? Bagaimana ceritanya?!" tanya Amey heran.
"Untunglah ada dua orang pengawal yang sempat mengenali wajahku. Jadi aku diijinkan masuk."
"Ohyaya baguslah. Ohya, apa kau mau mengunjungi Mark?"
Jen terdiam sejenak. Ia kemudian menatap Zoey. "Hay Zoey, aku Jenifer. Bagaimana kabarmu?" Jen sengaja mengalihkan perhatian agar Amey tidak membahas soal Mark.
"Halo kak. Lumayan baik. Jika kakak mau bertemu Mark, temui saja. Aku tak apa kok. Mungkin Mark lebih membutuhkan kakak."
Owalahhh menghindar dari badai, eh malah di sambar petir! Batin Jenifer.
Amey tersenyum kecil dan meledek Jen. "Sudah, jangan pura-pura jual mahal deh. Hahah. Kelihatan sekali di wajahmu kalau kau mengkhawatirkan Mark."
"Hah? Apa benar? Ahhh masa sih?" tutur Jen tanpa sadar meraba pipinya yang memerah dengan kedua tangannya.
Zoey terkekeh. "Sangat jelas kok Kak."
Ahhhh malunya aku!
"Apa perlu aku antarkan?" tawar Amey.
"Gimana ya? Kalau di antar Amey 'kan berasa aneh! Tapi kalau gak di antar Amey lebih aneh lagi. Hujatan apa lagi yang akan di keluarkan mulut pedas si Tuan Dasi Merah itu saat melihatku datang sendirian?!" gumamnya lirih.
"Jen, kau bicara apa sih?"
"Eh tidak ... tidak," tersadar dari lamunannya.
"Yasudah ayooo!" ajak Amey.
Dengan berat hati Jen berdiri dari duduknya. Ia juga merasa tak enak jika Eggie mendapati dirinya berada di ruangan Mark karena ia sudah tau masa lalu Eggy dan Mark.
"Btw, siapa yang memberitaumu kalau kita semua di rumah sakit," tanya Amey sambil berjalan menuju ruangan Mark.
"Sekretaris Eggie yang menelponku tadi pagi. Makanya aku tidak langsung ke kantor dan mampir ke sini."
"Oh begitu. Ohya ini ruangan Mark," menunjuk pintu di depannya. "Kau masuklah sendiri. Aku hanya bisa menemanimu sampai di sini. Karena aku harus menemui suamiku."
"Lohh kok gitu!" tukas Jen terkejut.
"Maaf ya Jen aku tak bisa. Sejak tadi malam aku tidak mengunjungi suamiku. Kau tau 'kan kalau si singa itu marah? Bisa ambruk rumah sakit ini," canda Amey.
"Kau sengaja 'kan? Ayo ngaku?!"
Amey tersenyum licik. "Semoga berhasil menaklukan hati pria es balok itu. Hwaitingggg!" Amey langsung berlari meninggalkan Jen. Namun tangannya sudah terlebih dulu nenekan tombol kecil yang menenpel dinding sehingga pintu telah terbuka dengan sendirinya.
"Amey!!" gerutunya pelan. Melihat Amey yang sudah tidak ada lagi di sekitarnya, membuat Jen memutar bola matanya malas, serta mengatur napasnya.
Perlahan Jen mulai memasuki ruangan itu. Matanya berkeliling menatapi ruangan yang tak kalah besar dengan ruangan Zoey. "Tempat ini cocok disebut apartemen. Semuanya lengkap!" gumamnya pelan.
Jen terus berjalan mengendap. Ia tak sadar jika satu pasang mata telah memperhatikannya sejak tadi.
"Kau lagi!" ketus Mark datar.
Jen melonjak kaget. Matanya terbelalak saat melihat pria di depannya yang sedang bertelanjang dada. "Ohhh goshhhhh!" serunya.
Mark melanjutkan membuka kain putih kecil yang menutupi punggungnya. Ia tampak kesulitan membuka perban yang menempel itu karena tangannya hampir tak sampai.
"Tunggu sebentar. Aku akan panggilkan perawat," ucap Jen.
"Tidak usah. Mendekatlah kemari."
Jen pun menuruti perintah Mark.
"Apa kau lupa jika kau berhutang sesuatu padaku?"
Ya Tuhan. Tatapan macam apa itu?! Mengerikan sekali! "Apa itu?"
"Jangan bilang jika kau sudah lupa kalau aku pernah membantumu membalut luka dilututmu!"
Sesaat kemudian Jen teringat akan kejadian itu. "Ya aku ingat. Lalu apa yang harus aku lakukan untuk membalas itu?"
"Buka benda ini!" menunjuk perban kecil di belakang punggungnya.
"Baiklah." Jen duduk di atas ranjang tempat Mark berbaring. Sedangkan pria itu duduk membelakangi Jen. "Tuan dasi merah?"
"Hmmm?"
"Kenapa kau tidak menyuruh perawat saja yang mengganti perban ini?"
"Aku tak suka di sentuh orang asing!"
Sesaat Jen terdiam. Ia mencoba mencerna kembali apa yang baru saja dikatakan Mark. "Bukankah aku termasuk orang asing?" tanyanya lagi.
Mark tersadar dengan ucapannya. "Ehem!" Mark berdehem karena merasa canggung dengan situasi saat itu. Ahhh sial! Ada apa denganku!
"Tuan, kau mendengarku?"
"Jangan banyak tanya dan diamlah! Aku tak suka gadis cerewet!"
"Kalau aku tidak cerewat, apa kau akan menyukaiku?"
Deg!
Dasar wanita gilaaa!
To be continued ...
LIKE, KOMEN, VOTE, RATE :*
.
.
.
Follow akun ig asli Author : @syutrikastivani
Agar readers bisa mengetahui pemberitahuan-pemberitahuan menganai Novel ini ✨