
Mark telah menyiapkan semuanya. Setelah membujuk Arsen dengan susah payah, akhirnya pria itu mengabulkan permintaan Amey. Keberangkatan keduanya diatur tepat pukul tiga dini hari.
Meski wajah Arsen kusut dari tadi, namun apa pun yang Amey inginkan pasti ia penuhi. Mulai dari ingin makan coklat, es krim, burger, pizza dan yang terkahir bakso. Permintaan terakhir itu yang cukup menyulitkan Arsen.
Lebih tepatnya sih bukan Arsen, tapi Mark. Asistennya itu yang susah payah mencarikan segala keinginan Amey. Mark rela-rela menyewa seseorang untuk mengantarkannya ke tempat jualan bakso khas Indonesia. Tentu saja bayarannya tidak sedikit menyewa guide.
Amey yang telah selesai menyantap bakso itu tersenyum puas melihat Arsen yang memandanginya dengan tatapan heran. Mungkin dalam hati Arsen timbul berbagai pertanyaan mengenai tingkah Amey.
"Kau sudah kenyang?" tanya Arsen.
"Lumayan."
"Apa? Sedari tadi kerjaanmu hanya mengunyah terus."
"Ada apa memangnya? Kau tidak suka kalau aku makan banyak?" mengerucutkan bibir.
"Bukan begitu, tapi kita 'kan baru enak-enak, nggak mungkin kalau kau sudah hamil."
Amey menelan salivanya. "Ha--hamil?"
"Wanita hamil identik dengan mengidam."
"Aku tidak mengidam. Aku hanya ingin makan saja."
"Belum hamil saja sudah merepotkan bagaimana kalau dia hamil?" gumam Arsen.
"Aku mendengarnya!"
Sebenarnya niat Amey hanya untuk mengerjai suaminya, dengan menyuruh melakukan apa yang ia inginkan. Ia ingin melihat sampai di mana Arsen akan sabar menghadapi sikap rengeknya. Tapi Arsen malah menyimpulkan jika dirinya mengidam.
"Apa ada lagi yang kau inginkan?"
"Hmm, sebentar aku pikirkan dulu."
"Awas saja kalau kau sedang mengerjaiku."
Amey terkekeh pelan. "Siapa yang mengerjaimu."
Wanita itu tiba-tiba mendapatkan ide bagus untuk mengerjai Arsen. "Aduh punggungku sakit," pekik Amey.
"Ada apa dengan punggungmu?"
"Sepertinya aku butuh pijatan. Bisakah kau melakukannya untukku?" mengedipkan matanya dengan manja.
"Apa kau sakit mata?"
"Tidak!"
Arsen pun segera beranjak dari duduknya dan beralih ke belakang Amey yang tengah duduk bersandar di sofa. Sentuhan Arsen benar-benar membuat Amey keenakan. Ia tidak menyangka keahlian Arsen ternyata bukan hanya di atas ranjang saja, namun dalam bidang memijit juga.
"Apa sudah lebih baik?" tanya Arsen.
"Aduhh, kakiku juga sakit Ars."
"Maksudmu kau menyuruhku memijat kakimu juga?"
Amey mengangguk cepat.
Melihat anggukan Amey, ia pun segera berpindah posisi menuju bagian kaki Amey yang terangkat lurus di atas sofa.
"Bagian mana yang sakit?"
"Semuanya sakit, Ars."
Arsen mulai memijiti kaki Amey. Lagi-lagi Arsen harus menelan salivanya melihat kaki putih, mulus dan jenjang milik istrinya. Mini dress yang Amey kenakan kembali menghilangkan fokus pria itu.
"Apa yang kau lihat?" ketus Amey.
"Tidak ada."
"Jangan bilang kau ingin lagi enak-enakan! Aku hampir mati tau nggak!"
"Memang aku menginginkannya, tapi tidak sekarang. Awas saja kalau kau melupakan janjimu," tersenyum licik.
"Ma--mana mungkin aku lupa."
Arsen tersenyum kecut dan kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia tidak sabar untuk sampai di Jakarta karena Amey menjanjikan sesuatu yang disukai pria bule itu.
***
Kediaman keluarga Winston
Seorang pelayan wanita terlihat sedang bercakap dengan seseorang di telepon. Ia berbicara dengan berbisik-bisik.
(Percakapan di telepon)
"Tetap awasi dan laporkan semua padaku secara detai!"
"Baik, Nyonya."
"Ohya, jangan sampai penyamaranmu terbongkar! Kau tau kan seberapa kejamnya pria blasteran itu? Jadi jangan sampai ketahuan."
"Baik, Nyonya."
tut ... tut ... tut
Sambungan telepon terputus.
Wanita itu segera kembali ke dapur dan meyelesaikan tugasnya.
"All of you, get out of here!" (Semuanya, keluar dari sini!) ketus Nensi tiba-tiba.
Para pelayan itu menunduk saat mengetahui kedatangan Soffy.
"Elis? Bagaimana menurutmu, apakah aku sudah fasih berbahasa inggris?" tanya Soffy tersenyum puas.
"Lumayan, Nek."
"Kurangajar! Minta ditabok?" tukas Soffy melebarkan mata.
"Maaf Nek. Kau memang sudah hebat berbahasa inggris," puji Elis penuh keterpaksaan.
"Benarkah? Yayaya itu jawaban yang tepat!"
"Ada yang bisa saya bantu, Nek?"
"Ya. Keluarlah dari tempat ini. Biar aku yang memasak," perintah Soffy.
Semuanya pun menunduk kepala dan meninggalkan Soffy. Selama kepergian Arsen dan Amey, Soffylah yang menjadi penguasa atas rumah itu. Semua pelayan takut pada Soffy, tidak ada yang berani membantahnya.
Meski demikian, ia tetap baik kepada pelayan-pelayan itu. Hanya saja hal yang paling membuat mereka jengkel, jika Soffy membawa pasukannya dan berpesta pora sehingga memporak porandakan rumah besar itu.
Sesuai janjinya pada Amey, ia akan memasakkan makanan yang banyak untuk Amey dan Arsen. Dengan penuh semangat, wanita tua itu memainkan pisau dengan lihai. Tak lupa juga musik jaman dulu menemani kegiatan memasaknya.
Ia sengaja membawa radio bututnya dan meletakkan radio itu di atas meja. Ia bergoyang ria sambil membuat adonan. Alunan musik klasik membuat Nensi asik bekerja. Meski para pelayan merasa risih dengan musik aneh yang diputarnya, tapi tidak ada yang berani menegurnya.
"Tas Louis, sepatu Channel kam tu mama, Hahaha! Sebentar lagi aku akan memiliki barang impianku itu! Untunglah menantuku tajir melintir. Gud bay tas dan sepatu KW! Haha."
***
Tidak terasa hari sudah sore, cahaya merah mulai terbentang di ufuk barat. Selama tiga jam Soffy memasak akhirnya ia dapat menyelesaikan masakan itu. Ia segera menuju kamar mandi dan membersihkan dirinya.
Setelah selesai mandi, Soffy menonton drama Korea di TV ruangan tamu sambil menunggu kedatangan kedua cucunya. Tiba-tiba ia mendengar suara mobil yang berhenti tepat di depan mansion.
Dengan antusias, wanita tua itu berlari menuju teras. Ia berharap jika yang datang adalah Amey dan Arsen. Ia membuka pintunya dengan senyuman mengembang di bibirnya.
Soffy melonjak saat melihat mobil Kai di depan mansion. Ia berjalan mendekat mendapati Kaisar, namun langkahnya terhenti saat melihat Kai membukakan pintu untuk seorang gadis.
"Kak, ayo mampir dulu," tawar gadis itu yang tidak lain adalah Zoey sepupu Arsen.
"Tidak usah Zoey, aku masih memiliki pekerjaan," tolak Kaisar.
"Ihhh kakak kok gitu sih." Zoey bermuka masam.
Bukan begitu Zoey, tapi aku masih takut bertemu Nensi! batin Kaisar.
"Brader?" panggil Soffy.
Oh goshhh! Aku mendengar suara makhluk astral!
Kai tidak menengok dan pura-pra tidak mendengarnya.
"Maaf Zoey nanti saja aku mampir, aku pergi dulu!" tutur Kaisar sembari masuk ke dalam mobilnya dan melajukan kendaraan.
"Kakak! Ishhhh, menyebalkan!" gumam Zoey.
Soffy menghampiri Zoey yang masih berdiri di depan. "Ehh buset, anak siapa nih?" Soffy menatap Zoey dari kaki sampai ujung kepala. "Heh! Siapa kau?"
"Seharusnya aku yang nanya, Nenek siapa?"
"Songong bener luh, bocil. Eh kenapa kau diantar Kaisar?"
"Ihhh kepo deh!"
"Dasar bocah tidak sopan!" menarik telinga Zoey.
"Ahhh lepaskan, aduhh Nenek ini sakit. Tolong lepaskan!" pekik Zoey.
"Katakan kamu siapanya Kaisar, hah?"
"Aku ... aku calon istrinya kak Kaisar."
"Apa Ngana bilang?!" Soffy memperkuat tarikannya membuat gadis itu menjerit.
"Aduhhhh Nenek sakit, lepaskan aku!" rontah Zoey.
"Nona Muda?" Panggil Elis seraya terkejut melihat Soffy menarik telinga Zoey.
To be continued ...
Dukungan readers akan sangat membantu Author 😘