
Bram dan Ayra telah bertolak ke kali bening sedangkan pak Erlangga dan Nyonya Lukis berangkat ke kediaman nenek Indira. Karena jika ke kediaman nenek Indira butuh waktu 3 jam perjalanan sert jauh dari bandara. Bram yang berniat ingin memulai rumah tangganya dengan benar dan baik, berniat memohon maaf pada kyai Rohim sebelum ia berangkat ke Bali.
Rasa bersalah muncul di hati Bram ketika hati yang dulu terselip rasa jengkel pada mertua lelaki nya itu. Berapa lama mobil yang dikemudikan sopir kepercayaan Bram di perusahaannya telah tiba di sebuah pondok pesantren.
Bram membukakan pintu untuk Ayra dan membuka bagasi. Sebuah oleh-oleh yang sengaja Ayra beli saat dalam perjalanan menuju rumah kedua orang tuanya itu. Suasana tampak sepi mungkin karena masih waktu sekolah. Sehingga pondok cukup sepi.
Saat mereka memasuki pekarangan pondok terdapat sebuah rumah kecil di dekat pintu masuk pondok. Seorang lelaki yang sedang menggendong anak kecil menggunakan kain gendongan cepat menghampiri Ayra dan Bram.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Hana."
"Cup."
Ayra menentukan cubitan lembut pada pipi keponakannya itu. Yang membuat Furqon ternganga adalah ketika Bram juga mengucapkan salam dan mengulurkan tangannya. Furqon refleks memberikan tangannya. Makin dibuat heran Bram pun melakukan apa yang Ayra lakukan tadi.
Bram mencium punggung tangan Furqon.
"Sudah Jatuh rupanya lelaki ini pada adikku. Alhamdulilah musibah membuat mu menerima setiap takdir yang ada di kehidupan mu Bram."
"Mbak Siti mana kang?"
"Lagi mengantar santriwati ke puskemas. Ada yang sakit pagi ini Ra."
"Umi ada kang?"
"Umi dan Abi ada. Kamu menginap Ra?"
Furqon melihat ke cover kecil yang berada ditangan Bram.
"Tidak kang. Lain waktu mungkin. Hanan dimana?"
"Keponakan mu masih sekolah. Mampirlah ke rumah nanti sebenta."
"Iya kang. Ayra dan mas Bram ke dalam dulu ya."
Furqon mengangguk. Ia melirik Bram yang tak lagi bermuka masam tapi masih sedikit dingin walau terlihat sedikit senyum yang ia berikan pada Furqon.
Ayra berjalan menggandeng tangan sang suami karena melihat pondok sedang sepi karena masih waktunya anak-anak sekolah. Sampai di sebuah bangunan yang tak terlalu besar. Namun terlihat bersih serta ada sebuah papan tulis di teras rumah itu yang cukup besar. Tempat mengaji para santriwati jika Umi Laila yang memberikan materi.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Suara Umi Laila dan Kyai Rohim bersamaan dari dalam ruangan. Sang ibu cepat keluar ketika mendengar suara yang ia kenal.
"Ayra... "
"Ayra cepat mencium tangan ibu yang telah membesarkannya dengan kasih sayang, dan tak pernah membedakan ia dan saudaranya yang lain walau ia bukan anak kandung Umi Laila. Bahkan Ayra mendapatkan lebih kasih sayang dari Umi Laila saat ia berusia dibawah 15 tahun. Karena saat itu Ayra masih masuk kedalam kategori anak Yatim.
Maka Umi Laila yang kepada setiap santrinya yang yatim piatu ketika telah berusia 15 tahun keatas akan sangat cerewet jika sang anak tak ingin belajar survive. Umi Laila akan membekali santri yang yatim piatu dengan kursus-kursus, agar kelak mereka bisa survive. Berbanding terbalik ketika sang anak yatim piatu tadi berusia dibawah 15 tahun.
Untuk marah pun Umi Laila sangat hati-hati. Karena anjuran untuk mengasihi anak yatim yang dicontohkan Rasulullah untuk umatnya agar selalu menyantuni dan mengasihi anak yatim.
Umi Laila yang mendapatkan ekspresi sama saat sang menantu mencium punggung tangannya.
"Waduh maaf ya Bram ini tangannya basah. Umi masih mencuci piring. Ayo Ra masuk."
Ayra mencari sosok ayah yang telah mengasuhnya sedari kecil. Umi Laila yang melihat sang anak bungsu nya itu sedang mencari lelaki yang tak ada di ruangan itu cepat mengatakan keberadaan Kyai Rohim.
"Abi di dapur. Lagi bantu umi. Mumpung mbak-mbak santri tidak ada. Katanya lagi ingin makan sambal kencur Ra. Ayo sekalian makan siang Ra, Bram."
Ayra dan Bram mengikuti Umi Laila. Kyai Rohim cepat membasuh tangannya melihat anak dan menantunya datang berkunjung. Ayra menatap Kyai Rohim dengan satu tatapan yang Kyai Rohim hapal betul dengan binar mata sang anak. Ada sesuatu yang Ayra ingin katakan.
"Maka dulu. Abi sudah lapar, Ayo ajak suami mu makan. Hari ini Abi yang masak. Tapi itu Nak Bram cuma tempe dan tahu goreng. Kamu tidak bilang mau kemari tadi Ra."
"Ayra tidak mau merepotkan Umi. Ini tadi Ayra beli buah kesukaannya Abi dan Umi."
Ayra meletakkan buah-buahan yang ia beli tadi di atas meja yang terdapat di sebelah kulkas. Bram pun mengikuti Ayra dan kedua mertuanya duduk diatas karpet yang terdapat meja bundarnya. Kyai Rohim biasa saja melihat perubahan sikap sang menantu yang tak lagi bermuka masam dan tak lagi bernada ketus.
"Umi gorengkan ayam dulu ya Ra."
"Tidak usah Umi. ini juga sudah cukup. Ayra rindu masakan Abi."
"Umi tak memikirkan kamu. Tapi suami mu."
"Tidak perlu repot-repot Bu. Ini saja cukup."
"Umi. Panggil Umi Nak Bram."
Ayra sedikit berbisik ke arah suami. Ia hanya melihat menu sederhana di atas meja.
"Benar mas? Biar Ayra gorengkan ayam nya ya."
"Tidak usah Ay. Kamu makan apa mas akan makan hal yang sama."
Seketika rona wajah Ayra memerah. Umi Laila dan kyai Rohim yang hapal mimik wajah sang anak ikut bahagia karena suaminya telah menerima Ayra dan sepertinya mencintai putri mereka.
Kyai Rohim membubuhkan nasi pada piring Bram dan Ayra. Bram menikmati menu sederhana itu dengan sedikit kepedasan karena sambal penyet kencur kesukaan Kyai Rohim itu terlalu pedas bagi Bram. Selesai dengan makan siang, Kyai Rohim mengajak anak dan menantunya menikmati pemandangan di belakang rumah yang terdapat teras menghadap ke kolam ikan.
Saat duduk diteras mereka mengobrol sedangkan Bram hanya masih diam. Kyai Rohim pun mengajak Bram lebih dulu bercerita.
"Bagaimana perkembangan kasus mu Nak?"
"Ehm. Minggu depan sidang perdana Pak kyai."
"Hehehe.... Panggil aku Abi. Kamu suami Ayra aneh jika kamu memanggil aku dengan kyai."
"Ba-Baik Abi."
"Kamu harus bersabar atas musibah yang menimpa mu dan jadikan pelajaran Bram. Dan bimbinglah Istri mu jika ia salah."
"Saya yang sepertinya yang harus di bimbing Abi."
Kyai Rohim sedikit tertawa mendengar Bram sedikit kaku memanggilnya Abi.
"Kalian menginap?"
"Tidak Bi. Nanti malam Kami akan ke Bali."
"Ke Bali?"
"Iya liburan Umi. Minggu depan Ayra juga sudah masuk kuliah."
Umi Laila tersenyum karena melihat Ayra tersipu malu ketika sang suami mengatakan jika mereka akan ke Bali. Tak lama muncul Furqon dan istrinya. Ayra cepat menyalami Siti dan mengambil Hana dari gendongan Siti.
Hampir setengah jam mereka mengobrol hingga mereka harus menyudahi obrolan itu karena waktu hampir menunjukkan waktu Dzuhur. Kyai Rohim mengajak Bram dan Ayra ikut shalat berjamaah di masjid. Sepasang suami istri itu pun mengamini.
Hal lucu terjadi ketika dikamar yang dimiliki Ayra. Bram yang malu jika harus memakai celana ke masjid yang ada dalam lingkungan pondok pun bingung untuk memakai sarung. Ayra tersenyum dan cepat menghampiri.
"Sini Ayra bantu mas. Pakai sabuk saja dulu kalau mas belum terbiasa."
Bram hanya pasrah ketika Ayra memasangkan sarung itu pada tubuhnya. Terakhir Ayra mengikat sabuk di pinggang suaminya itu agar sarung tak melorot. Mata Ayra memotret wajah tampan suaminya.
Namun saat akan meninggalkan ruangan kamar itu. Kedua netra Bram memotret sebuah bingkai foto gadis yang bertubuh gemuk tergantung tak jauh dari pintu kamar Ayra.
Ayra yang telah siap dengan mukenah nya cepat memanggil Bram.
"Mas, Ayo. Ayra sudah siap."
"Iya Ay."
"Apa itu Ayra? Kenapa aku sepertinya tak asing dengan wajah di foto itu."
Bram hanya bermonolog dalam hatinya.