Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
239 Mengenang Kyai Rohim


Tak terasa tiga hari sudah kepergian Kyai Rohim. Kediaman Kyai Rohim masih ramai dikunjungi banyak tamu, baik dari luar kota maupun dalam kota. Ketika ia telah tiada maka banyaknya hal-hal yang diceritakan oleh teman dan orang yang mengenal beliau.


Seperti yang di ceritakan oleh Ammar pada Ayra. Pagi itu Ammar dan Qiya menjemput Ayra dari rumah sakit. Ia telah diperbolehkan pulang. Bertepatan dengan nanti malam adalah malam ke tiga pembacaan Yasin dan tahlil untuk Kyai Rohim. Ammar terlihat duduk di sofa dan menunggu Bram mengurus administrasi. Putra sulung Ayra itu bercerita pada Mamanya tentang hal-hal yang membuat ia kagum dengan sosok Kyai Rohim.


"Mama tahu kemarin sore ada orang dari Madura datang membawa satu mobil kambing dan beras. Orangnya seram Ma. Kumisnya panjang, suaranya juga besar sekali. Dia bilang semua yang dia bawa kemarin itu untuk acara kirim doa buat Mbah Kung."


Ayra yang sudah berapa hari ini menangis ingin kembali menangis mendengar cerita Ammar. Namun seolah air matanya telah kering. Ia hanya mampu menahan rasa sesak karena bahagia dari apa yang ia dengar.


"Ternyata kata Mbah Uti. Dulu ketika Mbah Uti dan Mbah Kung masih di Sumber Sari, pernah menolong orang itu Ma. Mbah Kung pernah memberikan anak kambing satu pasang sama pak Kumis itu. Lucu deh Ma kemarin pak Kumis itu menangis tersedu-sedu padahal sudah tua."


Ayra yang masih sedikit lemah membelai rambut Ammar.


"Itulah cinta, sayang. Orang tersebut tentu merasa kehilangan karena kepergian Mbah Kung."


Qiya yang duduk sambil memeluk lengan Ayra pun ikut berkomentar.


"Mbah Kung orang baik ya Ma. Kemarin banyak yang menangis Ma, dari santri sampai teman-teman Kyai Mbah Kung juga menangis."


"Maka itu, Ammar dan Qiya harus memetik hikmah dari pribadi Mbah Kung. Mbah Kung itu dimana pun berada selalu menyenangkan hati orang, melapangkan kesusahan hati orang. Selalu melibatkan Allah dalam setiap langkahnya, selalu butuh Allah kapanpun dan dimanapun. Karena itu menumbuhkan sikap cinta Mbah Kung kepada semua orang di sekitarnya dan memberlakukan mereka dengan penuh kasih sayang."


"Semoga kami anak-anak Abi bisa menjadi pribadi yang Abi harapkan."


Ayra teringat nasihat Kyai Rohim terkahir kali ia berkunjung kesana. perihal ada seseorang yang berkeluh kesah karena merasa sumpek dengan kehidupannya. Dan saat itu Ayra ada di ruang tengah bersama Umi Laila sehingga dapat mendengar pesan itu buat orang yang sedang merasa sumpek padahal ia kaya raya. Ia merasa tidak bahagia disaat banyak orang kelas menengah ke bawah ingin menjadi seperti dia.


"Kita sekarang ini, harus menjalani hidup dengan tetap berpegang teguh pada ajaran agama kita. Hidup mencari ketenangan dengan cara kita atau melalui jalan yang Allah inginkan agar kita mendapatkan rahmatnya. Ya kalau melalui jalan kita bisa jadi kita bahagia tapi belum tentu Allah memberikan Rahmatnya."


"Mama mikirin Mbah Kung?" Suara Qiya lembut karena dari tadi Ia memanggil Mamanya namun pandangan Ayra kosong. Ia mengingat kejadian saat terakhir kali ia bertemu Abi nya.


"Iya Mama ingat Mbah Kung."


Pintu di buka, Bram muncul dan mengatakan semua urusan administrasi sudah selesai.


"Ayo kita pulang."


"Dedek bayinya ga apa-apa kan Ma?"


Ammar mengusap lembut perut Ayra.


"Alhamdulilah. Kata dokter tidak apa-apa."


"Alhamdulilah. Mama jangan sedih ya. Mbah Uti bilang orang meninggal itu bukan mati tetap ia bertemu sang kekasihnya, yaitu Allah. Mbah Kung tidak sedih tetapi senang karena bertemu Allah lewat pintu kematian."


Bram menggendong Ammar. Ia tak percaya anaknya bisa berbicara layaknya orang dewasa. Inilah hasil dari didikan ia dan Ayra yang sedari kecil tak pernah menjelaskan sesuatu dengan kebohongan, tidak dengan dicedal-cedalkan. Sehingga pemikiran nya pun cepat berkembang.


"Wow. Anak papa pintar sekali. Baru dua hari tinggal di Kali Bening."


Ammar memaksa turun dari gendongan Bram. Ia berlari ke arah Ayra yang telah berdiri. Ia memegang tangan Ayra. Ia ci um lembut tangan Mamanya.


"Mama. Sekarang Ayra tahu kenapa harus mondok."


Ayra duduk berjongkok menghadap Ammar.


"Apa?"


Ayra tersenyum lebar mendengar penjelasan putranya yang baru masuk usia hampir enam tahun.


"Kata Mbah Uti, Misal Mbah kung dan Mbah Uti meninggal terus anak-anak Mbah Uti jadi anak Sholeh dan Sholehah. Mbah-mbah Ammar masih dapat pahala. Terus nanti kalau Ammar punya anak, dan anak Ammar jadi anak Sholeh nanti pahalanya juga ngalir ke Mbah Uti dan Mbah kung. teruuuuuussss Sampai ke cucu-cucu Ammar."


"Jadi kakak mau mondok?" Qiya penasaran dengan akhir penjelasan kakaknya.


"Ammar sudah bilang sama pakde Furqon dan Papa. Nanti SD, Ammar mau mondok di Kali Bening. Boleh?"


Hari Ayra bagaikan Padang pasir yang disiram hujan lebat. Orang tua mana yang tak bahagia jika ada anak yang mau menuntut ilmu bahkan mau hidup jauh dari orang tuanya. Apalagi Ammar dan Qiya yang terbiasa hidup mewah dari kecil. Ayra yang selalu berharap anaknya bisa jadi anak yang Sholeh,berilmu dan berakhlak mulia sangat senang mendengar penuturan Ammar. Ia memeluk Ammar dan Qiya.


Ditengah kesedihan karena kehilangan Kyai Rohim, Ammar memberikan ia kebahagiaan.


"Boleh nak. sangat boleh. Mama akan bantu Ammar dan Qiya agar siap untuk mondok. Karena hidup mondok Ndak sama dengan hidup dirumah. Terutama ini yang harus kuat."


Ayra memegang kedua dada buah hatinya.


"Mental. Jadi mental anak-anak Papa dan Mama harus kuat biar tidak banyak mengeluh ketika mondok nanti."


Bram merangkul kedua buah hatinya dari arah belakang.


Ayra pun memeluk ketiga orang yang ia sayangi. Dengan suara sedikit terisak ia berdoa.


"Semoga kelak kita tetap berkumpul di surganya Allah ya."


"Aaamiin.... "


Ucap ketiga orang yang sangat berarti dalam hidup Ayra itu secara bersamaan.


Saat Bram merasakan kebahagiaan di tengah duka. Pak Erlangga telah sadar dari komanya. nyonya Lukis segera memberikan kabar kepada ketiga anaknya. Pagi itu Pak Erlangga telah tidak lagi dibantu oleh selang oksigen untuk bernapas. Ia sedang duduk bersandar walau terlihat lemah.


Saat ia telah merasakan tubuhnya sedikit membaik, Ia bertanya perihal Kyai Rohim. Nyonya Lukis kaget karena ia belum menceritakan apapun pada sang suami terkait kabar meninggalnya Kyai Rohim.


"Bagaimana kondisi Kyai Rohim Ma? Apa betul kabar yang menyatakan beliau meninggal dunia?"


"Pa-Papa tahu darimana kabar meninggalnya Kyai Rohim?"


"Apa? Jadi kabar nya betul bahwa beliau meninggal ketika memimpin Khotmil Qur'an?"


"Papa tahu darimana Pa?"


Pak Erlangga menitikkan air mata. Ia yang saat berada di kamar sedang membuka grub pengajiannya dan terlihat satu teman nya melakukan live streaming dan terlihat Kyai Rohim terjatuh saat masih membaca Al Qur'an. Bahkan setelah itu tersiar kabar jika besannya meninggal ketika dalam perjalanan kerumah sakit. Hal itu membuat Pak Erlangga yang memiliki penyakit jantung langsung syok.


Kabar Pak Erlangga yang lebih dulu masuk rumah sakit. Membuat Keluarga Pak Erlangga Pradipta itu tak mendengar kabar meninggalnya Kyai Rohim yang dengan cepat menyebar dari grub ke grub, dari beranda ke beranda.


"Papa ingin ke Kali Bening Ma."


"Tunggu kata dokter Ya Pa."


Pak Erlangga hanya mampu mengingat hal-hal yang baik dari Kyai Rohim,sebuah kenangan selama ia mengenal Kyai Rohim. Lelaki yang terpandang di Kali Bening itu hampir tak pernah menyakiti orang disekitarnya. Termasuk Pak Erlangga. Ia termasuk orang yang beruntung dapat mengenal Besannya.


(Otw 15 bab terakhir Ayra 😥😥😥😭😭😭😭 Berat hati rasanya mau bikin ending novel ini. Tapi setiap pertemuan tetap ada perpisahan 🤧🤧🤧)