
Sebuah mobil berwarna merah mendekat dari arah barat ke mobil yang sedang terparkir di sebuah masjid. Saat mobil berwarna merah itu berhenti seseorang lelaki yang mengenakan sarung dan baju batik Koko berwarna hijau keluar dari balik pintu.
Lelaki itu mencari seseorang yang mengirim pesan bahwa ia sedang menunggu di depan masjid itu.
"Kang Furqon."
Suara Ayra terdengar ditelinga Furqon. Adik nya yang sekarang telah menjadi istri dari seorang CEO itu sedang duduk di depan masjid. Furqon cepat menghampiri Ayra.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Ayra mencium punggung tangan kakaknya. Ia kembali duduk dilantai dan kembali fokus menatap layar ponselnya.
"Kamu sudah dengar berita terbaru Ra? sepertinya banyak Buzzer yang ikut andil di kasus suami Ra."
Ayra meletakan ponsel barunya yang diberikan Rafi beberapa hari lalu atas perintah Bram. Furqon menatap wajah adiknya. Terlihat mata panda sang adik. Namun wajah itu masih menunjukkan ketenangan, tak ada gurat kesedihan.
Furqon dapat melihat jelas senyum yang Ayra berikan padanya bukan senyum palsu untuk menutupi rasa sedih.
"Kamu tidak bersedih dengan musibah ini Ra?"
"Insyaallah tidak kang,"
"Apa yang membuat senyum adik kang Furqon begitu bahagia. Tak mau kah kamu berbagi pada kang Furqon sekarang? Apa karena kamu sudah menikah hingga kang Furqon bukan lagi tempat untuk mu bercerita suka duka mu Ra?"
"Alhamdulilah, Ayra bahagia disaat musibah datang kang."
Furqon mengangkat peci hitamnya dan mengurai rambut ikalnya lalu mengembalikan posisi peci itu kembali ketempat semula.
"Katakan apa kebahagiaan itu. Kebahagiaan macam apa yang membuat adik ku tersenyum saat semua fitnah mengarah padanya. Semua cemoohan mengarah padanya."
Ayra malu untuk bercerita pada Furqon. Ia menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat merona.
"Cinta kami sedang merekah disaat biduk rumah tangga kami sedang diterjang badai kang."
"Maksudmu? Suami mu yang sombong itu sekarang Mencintai mu?"
Ayra tidak menjawab. Ia masih menundukkan kepalanya karena malu. Selama ini selain Umi Laila, Furqon adalah tempatnya berbagi cerita. Karena ke tiga anak Kyai Rohim yang lain sekolah di pondok lain maka hubungannya tak sedekat dengan Furqon yang sedari kecil tak di pondokan di pesantren lain.
"Alhamdulilah, semoga suami mu diberikan Hidayah. Kang Furqon tidak rela jika kamu disakiti apalagi disia-siakan Ra."
Tiba-tiba wajah Ayra berubah sedikit sedih
"Ada apa Ra? tadi katanya lagi bahagia?"
"Ayra jadi teringat sesuatu kang. Ayra takut.... Bagaimana jika..."
Cepat Furqon mengangkat jari telunjuknya.
"Stop. Tidak baik berandai-andai Ra. Jika kamu bisa menerima masalalu Bram, maka Bram pun harus menerima masalalu kamu. Jangan bersedih dengan hal yang belum terjadi. Nikmati masa-masa jatuh cinta bersama suami mu. Karena moment itu tak akan terulang kembali."
"Hehehe... Tersiksa tapi kang. Hihihi.... "
"Karena terpisah jarak dan waktu?"
Ayra menganggukkan kepalanya.
"Anggap saja kalian sedang di takzir. Kamu beruntung karena mampu menjaga hati sampai menikah. Kamu tahu bagaimana kang Furqon mendapatkan hati Kak Siti mu karena ia terlanjur suka pada lelaki lain dan harus menerima perjodohan dengan diriku."
"Tapi sekarang udah ada Furqon kecil dan Siti kecil."
Mereka tertawa bersama. Karena hanya Ayra tempat Furqon mencurahkan sesak di dadanya saat tahun-tahun pertama ia menikah dengan Siti.
Saat adik dan kakak itu sedang bernostalgia tentang masalalu mereka. Lain halnya dengan dua perempuan cantik yang sama-sama menggeluti dunia model. Shela dan Liona tampak sedang berada di Bali.
Suasana pantai Kuta cukup sepi. Dua perempuan yang sedang menikmati sinar matahari dibawah payung dan tubuh mereka dimanjakan oleh pijat refleksi.
Kedua sahabat itu tampak begitu menikmati pijatan refleksi itu sambil bercengkrama tentang gosip yang sekarang begitu hangat di media sosial dan media online.
"Perempuan itu ga polos kayak penampilan nya Na. Mulutnya pedas, otaknya juga licik."
"Heh. Elo atau tuh perempuan yang licik."
"Setidaknya dia salah lawan sekarang. Gue ga Bakal mundur. Pantang buat gue mundur kalau udah maju. Pilihannya kalah atau menang."
"Termasuk Elo mau Nerima ide gila gue? Gue ga nyangka Elo mau ikutin saran gue. Secara seluruh dunia jadi bisa mendengar desah*n Elo. Hahaha.... "
"Jika gue ga bisa dapatkan Bram maka tuh perempuan lemper juga ga boleh bahagia!"
"Trus tuh anak siapa?"
"Ga penting. Yang penting sekarang para Buzzer gue berhasil bikin masyarakat emosi dengan sepasang pengantin baru itu. Sekarang tagar #SaveWilona jadi tranding topic. Berarti Gue sukses. Tinggal satu langkah lagi Gue bakal bikin tuh Lemper nangis berlutut dihadapan Gue."
"Gue penasaran. Besok Beni ngajak gue kerumah mertua gue. Gue mau lihat boneka mainan Lo itu kek apa orangnya."
"Bukan level kita lah Na. Cuma perempuan kampung, penampilan nya itu loh ketemu Bram aja klo ga mana bisa dia gaya. Tubuhnya aja tuh ya mini banget. Udah kek Mini Mouse. Hihi..."
tiba-tiba ponsel Shela berdering. Shela cepat mengangkat telepon dari salah satu Buzzer yang ia bayar untuk menggoreng kasus Bram dan fitnah yang mengarah ke Ayra.
"Halo."
"Iya ada apa. Kamu sedang mengganggu waktu santai ku!"
"Maaf Nona Shela tapi sepertinya anda harus menambah bonus buat saya. Anda akan sangat tidak menyangka jika saya baru saja mendapatkan satu video yang itu tambah membuat anda berada diatas awan."
Shela memindahkan ponselnya ke telinga kanannya.
"Apa itu? Katakan!"
"Maaf Nona saya tidak bisa memberi tahu anda. Kita bertemu saja dulu. Saya jamin anda akan senang dan saya minta untuk video ini anda bayar saya lebih 2x lipat. Dan tambahan 50% untuk menggoreng isu ini nanti."
"Ah.... Kalian para Buzzer begitu suka menaikan tarif sesuka kalian! Aku sangat sibuk. Kirim kan saja. Aku tak mau bertemu siapapun. Saat ini posisi ku harus steril."
"Saya beri clue-nya dan saya kirimkan screenshot dari cuplikan video itu nona. Jika anda tidak mau. Saya akan menghubungkan pihak lawan anda. Saya yakin mereka sanggup untuk harga yang saya tawarkan untuk video ini."
"Brengs*k! cepat kirim sekarang. Aku akan Kirim uangnya jika menguntungkan diriku!"
"Tut.... Tut... Tut.... "
Ponsel itu cepat Shela putuskan sambungannya.
"Siapa?"
Liona telah duduk dan menikmati es kelapa muda nya.
"Ah mereka yang ku bayar buat menggoreng kasus ini. Katanya ada satu video dan berita baru yang bakal aku makin diatas angin."
"Triiing."
Shela cepat membuka pesan yang masuk dari Buzzer yang ia bayar untuk menggiring berita video nya dengan Bram makin gencar hingga hampir ke setiap media sosial dan berita online.
Shela membuka kaca mata hitamnya. Senyum nya merekah lebar. Dad*nya menarik napas dalam dan hembusan napas begitu tenang karena rasa bahagia meliputi harinya ketika melihat sebuah foto yang cukup membuat ia merasa menang atas Ayra.
"Hahaha..... Dewi Fortuna selalu berada di pihak ku Lemper. Kita lihat kini mampukah kamu melindungi dirimu itu sendiri dengan ceramah-ceramah mu itu!"
"Kamu mendapatkan kartu As atau King?"
"All of it. I've got it Na."
(Semua dari itu. Aku telah mendapatkannya.)
"I am happy to hear that."
(Saya bahagia mendengar itu)