
Beberapa hari berlalu, Bram hampir dua Minggu berada di dalam sel tersebut. Ia baru tahu jika lelaki tua yang berambut panjang yang biasa dipanggil Pak Uban itu sering menjadi imam shalat di lapas itu karena bagusnya suara dan bacaannya.
Siang itu saat akan masuk waktu shalat Dzuhur, Bram yang sedang tak enak badan dan suasana dingin yang ditimbulkan hujan pun masih menusuk tulang rawan Bram. Ia memutuskan mengambil wudhu di WC yang ada di dikamar tahanannya.
Bram yang mengenakan baju kaos panjang dan cukup ketat sehingga ketika ia menarik ke lengan bajunya. Ia sedikit ragu jika bagian sikunya tak terbuka sempurna. Bram yang ingat pesan Ayra tentang hati-hati di bagian dagu, wajah dan siku serta kaki karena rentan tak terkena air wudhu secara sempurna, maka membuka bajunya.
Saat itu tempat wudhu yang jadi satu dengan tempat WC membuat Bram Tak membaca Basmalah.
Pak Uban yang dari tadi memperhatikan Bram cukup aneh. Pertama Bram tak terdengar atau terlihat mengucapkan Bismillah ketika berwudhu seperti selama ini ia lakukan. Kedua, Kenapa harus sampai membuka baju.
"Bukankah ia dari tadi sedikit mengeluh dingin. Tapi di tempat yang basah dan lembab ini, ia malah membuka bajunya."
Setelah selesai Bram kembali mengenakan bajunya. Lalu ia melakukan shalat Dzuhur sendiri. Karena pak Uban baru pulang dari musholla. Pak Uban walau ia cukup nyentrik dengan penampilannya yang terkesan menyeramkan walau tanpa tato namun cukup membuat orang tak menyangka jika ia memiliki suara yang merdu dan bacaan Al Quran yang fasih.
Selesai Bram shalat. Bram cepat kembali ke tempat tidurnya. Ia mengolesi tubuhnya dengan minyak kayu putih. Pak Uban penasaran cepat bertanya.
"Hey. Shalat apa yang kamu kerjakan setelah shalat Dzuhur tadi?"
Bram yang merasa hidungnya yang hampir berair masih sibuk menuangkan minyak kayu putih itu ke tubuhnya dan ia berikan sedikit pada ujung hidungnya.
Bram tak menjawab, ia berbaring dan menarik selimutnya. Ia menutupi tubuhnya hingga menyisakan bagian kepalanya. Ia sangat kedinginan, karena dari pagi hujan tak reda-reda hingga membuat ruangan tahanan itu makin terasa dingin. Bram melipat kedua tangannya. Ia mencoba memejamkan matanya.
Ia hirup kuat aroma parfum yang ia tuangkan pada selimutnya. Satu kebiasaan barunya semenjak di sel itu. Ia merasa rindunya sedikit berkurang dengan mencium aroma wangi parfum istrinya itu.
"Hey. Jangan tidur terus. Aku penasaran maksud mu barusan."
"Ayolah pak Uban aku sangat tak enak badan. Jangan kau ganggu aku. Bukankah kamu lebih pandai. Kudengar kamu belajar agama dengan tekun semenjak kamu di lapas ini. Maka kenapa pula masalah seperti itu kamu harus bertanya pada ku."
Bram yang tak pernah nyaman dengan teman satu sel nya itu berbalik. Ia memunggungi Pak Uban.
"Dasar Bocah. Hei!"
Bram tak menghiraukan panggilan pak tua itu. Ia mencoba memejamkan matanya. Terasa disaat ia mencoba memejamkan kedua matanya. Ia meneteskan air mata. Ia rindu istrinya. Ia membayangkan bagaimana lembutnya sang istri akan memijat tubuhnya. Apalagi jika ia sedang dalam kondisi tak sehat.
Bahkan Bram yang tak pernah mengenal metode pengobatan ala masyarakat Indonesia yaitu kerokan pun menjadi candu karena tangan istrinya itu tak pernah sakit ketika mendaratkan koin itu pada tubuh atletisnya. Padahal selasai itu akan muncul banyak tanda merah. Namun Bram biasanya akan cepat Kembali pulih karena kerokan Ayra itu. Belum lagi pijatan refleksi istrinya itu. Akan membuat ia selalu berakhir dengan tertidur pulas saat ia menikmati pijatan lembut Ayra.
Beberapa jam berlalu Pak Uban yang dari tadi menikmati novel fiksi nya mendengar rintihan Bram. Lelaki itu menggigil dan memanggil-maggil nama istrinya.
"Ay... Ay.... Hhhhhh..... Ay...."
"Heh! Ngelindur dia."
Pak Uban mendekati Bram dan saat maksudnya untuk membenarkan selimut Bram. Tetapi tangannya tak sengaja menyentuh kulit Bram. Ia dapat merasakan suhu tubuh yang cukup panas.
"Hoho... CEO bisa demam juga rupanya. Baiklah, aku sudah berjanji dalam hati ku untuk menebus dosa ku pada mertua mu. Maka aku akan menjaga dan merawat mu selama kamu disini."
Pak Uban mencari koin yang ia sembunyikan. Ia membuka separuh baju Bram hingga tampak punggung lelaki berusia hampir 36 tahun itu. Selesai dibagian punggung Pak Uban melanjutkan di bagian tengkuk dan leher Bram namun Bram memegang tangan pak Uban.
"Jangan! sakit! Kerokan mu sangat sakit."
"Hehehe.... Kau pikir aku perempuan yang akan memperlakukan kamu dengan lemah gemulai?"
Bram yang tiba-tiba duduk, cepat dikunci oleh kedua kaki pak Uban. Kaki pak uban melingkar di perut Bram. Dan satu tangannya menahan kedua tangan Bram yang berusaha menghentikan tindakan pembega/lan itu.
"Hihihi.... Diamlah! setelah ini kau akan segera sehat!"
"Aduuuuh! Sakit! Pelan-pelan Pak Uban."
"Diamlah jangan meliuk-liuk Seperti ular kobra!"
"Aku bukan pendeta yang meniup seruling. Hihihi..."
"Aaaawwwhhh....."
Bram terus meronta-ronta. Dan cengkraman Pak Uban makin kencang begitupun kuncian pada yang melilit perut Bram berasal dari Kedua kakinya.
Setelah merasa puas melihat tanda merah di kedua sisi leher Bram serta tengkuk Bram. Pak Uban baru melepaskan kuncian kakinya pada Bram. Ia kembali ke tempatnya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha..... Kamu punya tubuh atletis tapi tak tahan sakit sedikit."
"Koin mu terlalu tajam"
"Hahaha.... Tapi tak setajam lidah mu anak muda. Hampir dua Minggu kamu berbicara ketus pada ku yang lebih tua. Dimana adab mu? apa aku harus menjadi seorang kyai dulu baru bisa kamu berlaku sopan pada ku?"
Deg.
Bram merasa tersentil. Ia jadi ingat pesan Ayra untuk menghormati siapapun yang usianya lebih tua walaupun ia bukan siapa-siapa kita.
"Terimakasih."
"Wow.... Kalau begitu baru aku percaya kamu suami dari Ayra."
Bram melirik tajam.
"Bagaimana kamu tahu nama istri ku?"
"Hihihi.... Hampir setiap malam dalam seminggu ini aku mendengar bibir mu itu memanggil nama Ayra. Maka pasti istrimu itu Ayra namanya. Mengingatkan aku tentang seorang perempuan bernama Aima."
Bram seperti tak asing dengan nama yang barusan disebut pak Uban. Ia ingat jika Ayra pernah bercerita bahwa panggilan sang ibu adalah Aima. Atau sering juga dipanggil Ai.
"Siapa dia?"
"Jelaskan dulu shalat apa yang kamu kerjakan setelah shalat Dzuhur tadi. Maka aku akan menceritakan siapa Aima itu."
"Aima. Apakah Nuaima Al-Fiyah yang anda maksud Aima binti Lukman Arifin yang kamu maksud?
Pak Uban berjalan kearah Bram dan Kembali bertanya.
"Siapa dia?"
"Dia ibu mertua ku yang telah meninggal dunia."
"Wow. Kamu menantu yang baik. Kamu bahkan tahu bin dari ibu mertua mu. Aku saja tak tahu nama ibu mertua ku. Hanya panggilannya saja."