Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
197 Almahyra Mahfuzhah


Suasana pagi yang masih terlalu dingin, tampak sepasang suami istri sedang bercengkrama di tepi kolam renang. Liona masih merasa sedih karena meninggalnya salah satu sahabatnya. Bani masih menemani istrinya. Hal yang biasa mereka lakukan pasca rujuk adalah menghabiskan waktu berdua.


Liona masih memiliki keinginan untuk membantu anak shela. Walau sekedar biaya untuk operasi.


“Mas, boleh ya kita bantu biaya untuk operasi bayi Shela. Kasihan mas.”


Sungguh hati Liona telah bermetamorfosis menjadi sebuah hati yang begitu lembut. Jika dulu ia akan senang melihat orang disekitar nya terlebih teman satu profesinya mendapatkan musibah atau masalah. Maka sekarang, istri dari Beni itu merasa sakit dan sedih saat Shela yang merupakan teman dan sahabatnya mendapatkan musibah. Kondisi anak yang sekarang sedang membutuhkan uluran tangan orang-orang.


Gaya hidup Shela selama hidupnya ternyata meninggalkan banyak hutang. Bahkan beberapa mobil, rumah, apartemen juga masih di cicil. Sehingga ketika ia meninggal dunia. Yang ada hanya tinggal cicilan yang belum terbayarkan. Hutang yang belum dibayar. Hanya tinggal deposito dan asuransi yang dapat diandalkan Yazmin untuk merawat buah hati Shela. Namun mencairkan deposito bukan perkara mudah. Butuh waktu sedangkan proses operasi buah hati Shela harus segera dilakukan.


Hanya Liona yang bisa Yazmin ajak bercerita sebagai teman karena ia tak tahu kemana lagi harus bercerita.


Beni yang melihat kesedihan di wajah sang istri menanyakan alasan istrinya.


“Kenapa kamu ingin sekali membantu anak Shela?”


“Selama di tempat Umi Laila kemarin. Aku banyak belajar. Kemarin mungkin aku ingin membantu Shela sebagai sahabat. Tapi hari ini, aku ingin membantu, melindungi anak piatu dari sahabat ku mas.”


“Anak piatu?”


“Ya, meninggalnya Shela menjadikan bayi itu piatu mas. Umi Laila pernah menjelaskan salah satu jaminan ketika kita menyantuni anak piatu bukan hanya Rezki kita yang dijamin, bukan hanya surga, atau doa yang diijabah oleh Allah. Tetapi kita akan diringankan juga dari adzab kubur. Aku yang dulu-“


“Kita kerumah sakit hari ini. Kita akan membantu anak Shela. Oke?”


Liona menatap Beni tak percaya. Nada suara suaminya begitu tegas dan pasti. Ia melihat kesungguhan dari ucapan suaminya.


“Mas.....”


“Jika kamu bisa berubah menjadi lebih baik. Jika hati mu mampu begitu lembut kenapa aku tidak mencoba belajar dari apa yang kamu contohkan. Tapi untuk mengadopsi nya. Aku tidak bisa Sayang. Aku tidak ingin nanti dia seperti orang tuanya.”


“Astaghfirullah mas.... Bayi itu ga bersalah.”


“Tapi orang bilang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya Li.”


“Mas, anak itu tidak menanggung dosa perzinaan yang dilakukan kedua orang tuanya.”


“Begini saja, kita tanyakan dengan Orang tuanya Ayra dulu. Nah nanti jawaban dari beliau aku akan memutuskan apa yang akan kita ambil. Kita adopsi bayi itu atau tidak.”


Akhirnya suami istri tersebut berangkat ke rumah sakit setelah menghubungi Yazmin yang juga telah menunggu kedatangan mereka. Kabar dari Liona membuat Yazmin sedikit lega. Ia yang baru beberapa hari menjaga bayi tersebut walau hanya melihat di balik kaca. Mampu menumbuhkan rasa cintanya pada anak dari Shela tersebut.


Tak lama Liona dan Beni tiba di Lobby rumah sakit. Ternyata disana ia bertemu Ayra dan Bram. Liona yang kemarin mendapatkan kabar dari grub keluarga jika iparnya sedang mengandung bayi kembar cepat memeluk Ayra.


“Pantas kamu terlihat makin sering lelah sekarang. Udah tahu lelaki atau perempuan?”


“Dokter bilang insyaallah satu pasang.”


“Masyaallah.... Jadi ikut senang. Kalian mau kontrol?”


“Tidak, aku ingin menemui Yazmin.”


Beni dan Liona seakan tak percaya.


“Ada perlu apa?”


Ayra menceritakan perihal surat yang ditinggalkan oleh almarhumah Shela untuk dirinya.


“Sungguh terbuat dari apa hati mu Ay. Bagaimana pahitnya awal pernikahan kamu dan Bram dan kamu mampu menelan pil pahit itu. Sekarang kami malah memaafkan pada dia yang duku menyakiti kamu.”


Ayra mengusap lengan Liona. Ia ikut senang karena adik iparnya tersebut telah jauh berubah. Bukan hanya penampilannya. Tetapi tutur kata dan cara berpikir dari iparnya ikut ia rubah menjadi lebih baik. Karena kadang beberapa orang sibuk agar terlihat islami atau berpenampilan agar terlihat alim namun lupa memperbaiki lidah dan bibir saat berbicara.


Lupa memperbaiki hati agar tak selalu mengatur Allah akar mewujudkan setiap lantunan doanya. Lupa memperbaiki akhlak yang juga harus diperbaiki di ikuti ilmu yang harus terus di cari. Sungguh fenomena zaman sekarang, penampilan lahiriah kadang terlalu diperhatikan dibandingkan bathin yang menjadi pondasi utama saat kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.


“Ketika kita hanya fokus pada yg pahitnya kehidupan. Maka hanya penderitaan berkepanjangan yg akan terus kita rasakan.”


“Sungguh cara seseorang menjalani kehidupan


Akan menampakkan seberapa kwalitas dirinya. Aku belajar dari dirimu tentang bagaimana kita menerima dengan ridlo dan bersabar juga berbesar hati menghadapi setiap ujiannya. Sehingga kita tidak merasa insecure.”


“Aku pun belajar dari dirimu bagaiamana kita menyikapi musibah dengan bersabar dan untuk memotivasi lebih baik lagi akan membawa banyak kebaikan. Salah satunya aku bisa melihat bagaimana kalian terlihat sangat bahagia.”


Ayra melirik ke arah Beni yang telah datang dengan membawa satu kursi roda untuk istrinya. Ia tak tega jika harus melihat istrinya berjalan dengan tongkat. Liona berkali-kali menolak saat Beni dan keluarganya meminta dirinya menggunakan kaki palsu.


Ia ingin merasakan dan menikmati berjalan dengan satu sakit. Satu rasa Syukur karena masih punya satu kaki untuk berjalan. Ia ingin terus tumbuh rasa cinta pada suaminya. Jika selama ini ia selalu menganggap dirinya bisa semua sendiri. Setidaknya dengan keterbatasan yang ia miliki mampu membuat interaksi suami istri itu semakin romantis.


Beni yang mencintai Liona tak pernah malu jika harus berjalan bersamaan dengan kondisi sang istri yang memakai tongkat. Ia hanya tak tega jika istrinya kesulitan atau adanya keringat yang mengalir di dahi sang istri karena lelah.


Liona naik ke atas kursi roda. Lalu dua pasang suami istri itu menuju tempat bayi Shela dirawat. Sungguh kondisi bayi tersebut mampu membuat Ayra dan Liona merasakan apa yang Yazmin rasakan.


“Yaz. Nanti biar aku suruh orang ku untuk mengurus administrasinya. Semua biayanya biar aku yang menanggungnya.”


Beni dan Liona menoleh kearah Bram.


“Bang. Kalau mau berbuat baik jangan di borong semua kenapa?”


Beni protes, karena ia tak bisa ikut andil untuk berbuat baik pada anak yang piatu tersebut.


“Yaz. Jika aku dan mas Beni mengadopsi bayi itu apakah boleh?”


Yazmin menatap Liona tak percaya.


“Tetapi Shela berpesan untuk dititipkan di panti. Namun gue ingin merawat dia.”


Beni dan Liona tak kalah kaget. Bagaimana Yazmin bisa terpikir untuk merawat bayi sedangkan dirinya masih single.


“Kamu sudah pikirkan matang-matang Yaz?”


Ayra menanyakan mengenai keputusan Yazmin. Perempuan tersebut masih mantap menjawab iya.


“Ya. Gue sudah terlanjur sayang. Belum lagi amanah Shela untuk mencairkan deposito juga asuransi buat dia. Gue malah mikir biar itu buat dia semuanya. Gue ga tega kalau bayi sekecil itu harus dirawat di panti.”


“Elo bisa bagi waktu sambil kerja?”


Liona masih menatap Yazmin dengan tatapan percaya. Liona adalah salah satu saksi bagaiamana semasa hidupnya Shela memperlakukan Asistennya. Bahkan Shela sering sekali membentak asistennya di hadapan dirinya.


Namun kini orang yang selalu ia bentak, selalu diremehkan karena merasa jika bukan karena dirinya yang memberikan pekerjaan atau gaji maka sang asisten tak akan bisa mendapatkan rezeki. Tanpa Shela sadari bahwa setiap rezeki yang mengalir deras pada dirinya terdapat rezeki orang lain.


“Gue sekarang udah punya usaha sendiri. Dan Alhamdulillah pagi ini gue udah punya dua asisten buat packing dan kirim barang jadi gue bisa sambil ngurus dedek bayi nya.”


“Kamu belum kasih nama bayi nya?”


Liona penasaran sambil menatap sang bayi dari balik kaca ruangan.


“Kemarin Shela memberi amanah agar Mbak Ayra yang memberi nama anaknya.”


“Iya. Aku tidak tahu apakah bisa sesuai harapan almarhumah. Tapi mudah-mudahan Almahyra Mahfuzhah yang berarti perempuan yang cerdas dan terjaga atau terpelihara. Entah kenapa kemarin melihat foto yang kamu kirimkan ke pada ku membuat nama itu yang aku rasakan cocok untuk si mungil itu.”


[Alhamdulilah ini udah author masukin list kisah Alma dan Yazmin ini klo udah selesai sekuel Umi Laila dan Kang Rohim besok. Author hanya bisa berencana. Allah yang memiliki kehendak. Mohon doa nya ya Readers.]


“Aamiin.”


Semua yang disana ikut senang mendengar nama yang diberikan Ayra untuk bayi mungil yang masih berjuang.


“Kamu harus panjang umur Almahyra. Tante akan menjaga kamu. Tante ga bakalan titipkan kamu dimana pun dan sama siapa pun.”


Sungguh satu kebaikan yang pernah Shela perbuat didalam hidupnya dan tanpa ia sadari memberikan balasan yang baik kepada buah hatinya yang kini seorang diri di dunia. Satu kebaikan yang tak sengaja dilakukan ibunya dulu, kini dirasakan oleh Almahyra. Ia mendapatkan kasih sayang yang tulus dari Yazmin. Dan perjuangan yang berat menanti seorang gadis yang harus merawat anak yang akan dia rawat seorang diri.