Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
234 Kediaman Pak Erlangga


Tiba di kediaman Nyonya Lukis. Ammar dan Qiya disambut Nyonya Lukis. Ia merindukan kedua anak Bram. Setelah menyalami kedua orang tuanya, Bram dan Ayra mengikuti kedua orang tua mereka. Beni masih di dapur menemani Liona.


"Tante Liona mana Eyang?"


"Ada di dapur. Masih kasih toping brownies."


"Qiya mau request."


Putri Ayra itu cepat berlari ke arah dapur. Ammar pun mengikuti adiknya ke dapur. Saat tiba diruang keluarga, Nyonya Lukis menanyakan kabar kedua orang tua Ayra.


"Umi dan Abi sehat Ay?"


"Alhamdulilah sehat Umi. Abi biasa paru-parunya lagi kambuh."


"Tidak diajak kontrol saja Bram?" Ujar Pak Erlangga.


"Abi tidak mau Pa. Katanya penyakit orang tua."


"Mertua mu itu sangat luar biasa. Papa melihat di usia beliau begitu masih sibuk mengurus santri dan Umat."


Pak Erlangga begitu kagum dengan Kyai Rohim yang sudah tak lagi muda namun masih aktif di kegiatan agama. Saat ada undangan untuknya maka ia akan hadir. Tak melihat jauhnya daerah, namun ia akan berusaha tetap hadir.


"Abi merasa kalau itu adalah tanggungjawab beliau Pa. Papa bagaimana kondisinya?"


"Alhamdulilah Ay. Tapi sekarang shalatnya harus sambil duduk. Tidak tahu kenapa ketika sujud atau rukuk itu pada bagian dada sakit sekali."


"Sudah kontrol lagi Pa? atau berobat keluar negeri?" Tanya Bram pada Pak Erlangga.


"Tidak perlu, Papa sehat kok. Yang penting jaga pola makan dan hidup. Hhhh... menyesal dulu waktu muda tidak mau giat ibadah. Sekarang sudah tua mau ikut pengajian kesana kemari tubuh sudah tak kuat. Bahkan untuk shalat lima waktu saja tak kuat berdiri sekarang ini. Ini pesan buat Mu Bram. Mumpung masih gagah, muda, banyak-banyak buat ibadah, buat belajar masalah agama. Agar tak menyesal seperti Papa." Suara pak Erlangga terdengar lirih.


Bram yang duduk di sebelah Pak Erlangga memijat lengan Papanya.


"Insyaallah Bram akan ingat pesan Papa. Papa sehat terus ya Pa."


Ayra merasa bersyukur karena keluarga suaminya satu persatu mulai rajin beribadah. Bahkan Pak Erlangga mengadakan sebuah pengajian untuk keluarga besarnya satu bulan sekali di kediamannya. Namun karena faktor kesehatan. Hampir tiga bulan pengajian itu tidak dilangsungkan karena beliau harus keluar masuk rumah sakit.


Nyonya Lukis menurunkan cangkir yang berada di atas nampan yang dibawah oleh art di rumahnya. Jika dulu Bik Asih yang biasa membawanya, kini asisten rumah tangga yang bernama Asih itu hanya menjadi pengawas art di kediamannya.


Nyonya Lukis mempersilahkan anak dan menantunya yang baru tiba untuk menikmati teh yang telah di buatkan untuk mereka.


"Ayo Ay, Bram. Minum dulu."


Bram melihat Papa dan Mamanya. Ia yakin jika kedua orang tuanya tak tahu masalah Liona dan Beni. Tak lama sepasang suami istri itu pun hadir di ruang itu. Liona sekarang telah menggunakan kaki palsu. Sehingga ia tak lagi berjalan menggunakan bantuan tongkat.


Qiya dan Ammar pun terlihat sedang menikmati brownies sambil berjalan ke arah Ayra.


"Ammar, Qiya... Ayo... Makannya kok sambil berjalan dan berdiri begitu."


Dua bocah itu tertawa malu. Mereka cepat duduk di sisi Ayra. Beni dan Liona Duduk bersebelahan. Beni yang melihat Bram mengenakan pakaian santai sedikit penasaran. Sehingga ia bertanya apakah ia tidak bekerja.


"Ga Kerja Bang?"


"Tidak. Kebetulan lagi ngikutin bumil ke Kali Bening. Lagi ngidam buah cipukan."


"What? emang ada buah gituan?"


"Otak dikondisikan Beni. Ada anak gue."


"Mas.... Ciplukan. Ci-plu-kan."


Ayra sedikit tertawa karena kedua mata suaminya seketika melotot.


"Buah apaan itu Ay?" tanya Liona penasaran.


"Buahnya kayak tomat tapi kecil-kecil biasanya ada di sawah atau hutan. Itu sering aku maka waktu masih sekolah dulu."


"Bahagia bisa merasakan ngidam ya Ay?"


Wajah Liona terlihat sendu ketika mengucapkan kata-kata itu. Ia merasa sedih. Karena hampir lima tahun pasca ia keguguran, ia belum juga kunjung hamil. Salah satu alasan kenapa ia meminta Beni untuk menikah lagi. Ia begitu ingin memiliki anak walau bukan terlahir dari rahimnya. Beni yang mengajaknya untuk mengikuti program bayi tabung pun ditolak oleh Liona. Ia lebih meminta suaminya untuk menikah lagi.


Sepasang suami istri yang sedang ada masalah namun tak di tunjukkan pada kedua orang tuanya. Bram mengamati adik dan adik iparnya.


"Kalian pandai sekali menyimpan masalah sekarang. Bahkan bahasa tubuh kalian seperti tak memiliki masalah."




Ayra yang melihat Liona dan Ammar juga Qiya bermain di tepi kolam renang dari arah dapur. Ia yang baru saja berbincang dengan Bik Asih cepat menuju kolam renang. Ia ingin mencari tahu tanpa bertanya tentang perihal rumah tangga adiknya.



Saat melihat Ayra ke tepi Kolam, Ammar dan Qiya pun memberikan tempat duduk untuk Mamanya. Nyonya Lukis yang dari tadi mengusap lengannya ingin masuk ke dalam.



"Ayo mengobrol di dalam saja. Dingin, eyang tidak tahan cuacanya."



"Ayo eyang."



Ammar dan Qiya berjalan mengiringi Nyonya Lukis. Liona yang merasa Ayra baru bergabung untuk ngobrol, akhirnya tetap duduk di tepi kolam.



Ayra membawa secangkir teh yang ia pegang di tangannya.



Liona melirik ke arah Ayra. Ia bertanya perihal apakah orang tuanya mengatakan bahwa ia dan Beni pernah kesana beberapa waktu lalu.



"Kak Ay, apakah Umi dan Abi mu mengatakan sesuatu?" Tanya Liona pelan.



"Apakah kamu ada yang ingin diceritakan?" Ayra pun menjawab pelan sambil menatap wajah adik iparnya."



"....."



Liona menatap kolam renang. Ia men de sah pelan.



"Aku memang meminta Mas Beni untuk menikah lagi Kak."



Ayra meletakkan cangkir tehnya dan mengusap lengan Ayra.



"Aku akan mendengarkan jika kamu butuh seseorang untuk mendengarkan isi hati mu Li."



Liona menoleh dan tersenyum ke arah Ayra. Ia menatap kuku-kuku tangannya dan terlihat seperti membersihkan kukunya.




"Lalu, bagaiamana dengan Beni?"



"Mas Beni tidak mau." Ucap Liona lirih dan de sa Han napasnya terdengar oleh Ayra.



"Liona...."



Ayra menggeser posisi duduknya ke arah Liona. Satu tangannya merangkul adik iparnya. Liona yang menahan rasa ingin menangis menempelkan kepalanya di pundak Ayra.



"Hhhhh.... Hiks, hiks.... Aku hanya ingin Mas Beni bahagia Ay.... Hiks...."



Tangis Liona pecah di pelukan Ayra. Ia terpaksa bercerita pada Ayra soal isi hatinya. Ia butuh tempat mencurahkan isi hatinya. Ayra masih menunggu Adi iparnya mengeluarkan isi hatinya. Hanya usapan pada lengan Liona yang ia berikan.



"Aku ingin dia bisa merasakan menjadi seorang ayah. Hiks..." Suara Liona terdengar serak dan diiringi Isak tangis.



"Kenapa tak dengan bayi tabung?" Tanya Ayra pada Liona.



"Aku ingin Mas Beni menikah dengan perempuan yang sehat." Jawa Liona.



Ayra mengerutkan dahinya. Ia bingung makna kata sehat yang diungkapkan oleh Liona. Ayra adalah perempuan yang cerdas namun memiliki rasa empati dan simpati yang tinggi hingga satu kalimat dari Liona membuat ia fokus pada kata 'sehat' yang diucapkan Liona.



"Kamu sehat, bukankah waktu itu kamu bilang dokter tak mengatakan perihal kandungan mu tak bermasalah?"



Liona hanya menangis. Ia tak menjawab pertanyaan Ayra. Air matanya semakin membasahi kedua pipinya. Ia ingin sekali bercerita namun rasa sesak di dadanya tak mampu membuat bibirnya berucap. Ayra masih sabar menanti adik iparnya itu bercerita.



"Menangislah Li. Kadang kita butuh menangis agar hati tak terasa sempit. Karena menangis bisa melembutkan hati yang keras."



Disaat Ayra menenangkan Liona. Beni dan Bram melihat interaksi istri mereka dari atas balkon rumah baca yang menghadap ke kolam renang.



Beni yang menikmati sebatang rokok menatap ke arah Ayra dan Liona. Bram ikut berdiri disisi adiknya.



"Ada masalah apa Ben? Ku harap kamu tidak kembali berpisah dengan Liona."



Beni menghembuskan asap rokok dari mulutnya dan bibir bawahnya terlihat sedikit menyembul ke depan.



"Aku mencintai Liona. Aku kenal dia. Bibirnya bisa meminta ku untuk menikah lagi. Tetapi dari kedua matanya, hatinya berkata tidak. Dia membohongi dirinya sendiri Bang."



"Apa alasannya?"



"Dia bilang ingin aku bahagia menjadi seorang ayah."



"Kenapa harus jalan itu yang ia pilih? Kalian tak ingin program bayi tabung?"



"Liona menolak." Jawab Beni singkat. Ia membuang puntung rokoknya. Saat adiknya ingin kembali menghidupkan sebatang rokok, Bram menahan tangannya.



"Kurangi rokok mu Ben."



Beni mengurai rambutnya. Ia membuka kacamatanya. Lalu ia letakkan diatas meja.



"Aku mencintai nya. Walau tak bisa memiliki keturunan aku tak mempermasalahkan. Aku berniat mengadopsi anak tetapi Liona tak ingin."



"Aneh... jika alasannya anak. Harusnya mengadopsi anak itu solusi menurut ku Ben."



"Iya. Aku juga berpikiran begitu. Terakhir saat ia meminta diantar ke rumah mertua mu. Ku pikir dia mau minta nasihat. Tapi gilanya dia meminta Mertua mu melamar Dokter Sarah untuk ku."



"What! Apa yang Liona pikirkan."



"Aku tak pernah berpikiran akan menikah lagi."



"Atau kau pernah memuji dokter sarah di hadapannya?"



"Tak pernah Bang. Asal abang tahu. Dia sudah 4 kali mengenalkan aku dengan gadis, janda hanya untuk aku pilih untuk aku nikahi. Lalu kemarin terakhir itu di kediaman Kyai Rohim membuat aku cukup marah padanya."



"Jangan sampai memukul Ben."



"Tidak. Tetapi ia sekarang banyak murung Bang. Dan yang membuat ku bingung dia masih melayani aku dengan baik. Tak ada masalah dengan kami." Ungkap Beni dengan kesal.



Bram dan Beni terdiam. Mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing.