Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
187 Rafi Menerima Kekurangan Aisha Karena Cinta di Hatinya


Saat proses ijab selesai, beberapa orang bersiap dengan untuk pembacaan Yasin dan Tahlil. Di rumah juga telah disiapkan beberapa hidangan untuk para saksi dan keluarga yang menghadiri dan menyaksikan proses ijab qobul Aisha.


Rafi di awal acara proses ijab qobul ingin memberi tahu beberapa tokoh agama bahwa kenapa Aisha tak mau menikah dengan Luki. Namun karena Aisha mengatakan pada Rafi. Ayra yang mengatakan pada Aisah bahwa ketika kita menutup aib orang lain, satu keutamaannya yaitu akan menutup aib kita di dunia dan akhirat.


Maka Rafi dan Aisha akhirnya tidak menceritakan alasan sebenarnya. Maka hanya mereka berempat yang tahu aib Luki. Aisha dan Rafi mengatakan jika mereka saling mencintai. Ketika para tokoh sesepuh bertanya jika Rafi tidak keberatan dikarenakan foto yang telah beredar membuat Rafi juga menjawab mantap ia tak keberatan. Ia meyakinkan para Tokoh adat tersebut. Didalam foto tersebut hanya terlihat Aisha di atas tempat tidur. Dan tidak terjadi apapun. Kebenaran yang tak bisa di pertanggungjawabkan.


Sebuah foto yang Luki screenshot dari hasil cctv-nya.


Ayra yang berencana untuk pulang sore ini juga harus menenangkan Aisha yang tiba-tiba menangis tersedu-sedu di kamarnya. Ayra yang baru selesai mengenakan jilbab nya harus memeluk dan mengusap lembut punggung Aisha.


"Kenapa Aish?"


"Aku rindu pada Ibu. Entah kenapa sedih rasanya. Harusnya hari ini ibu yang paling menanti. Tetapi Ibu tak bisa menyaksikan nya. Sedih terlambat berbakti pada Ibu untuk mewujudkan harapan ibu untuk segera menikah."


Ayra membimbing Aisha untuk duduk di atas kasur. Ia mengusap lengan Aisha berkali-kali.


"Aish, pada zaman Rasulullah. Ada seorang sahabat bertanya bertanya bagaimana caranya berbakti kepada orang tua yang telah meninggal. Rasulullah menjawab ada dengan 5 cara. Pertama, mendoakan kedua orang. Kedua, memohon ampunan untuk kedua orang tua kita yang telah meninggal. Ketiga, melestarikan kebaikan kedua orang tua. Keempat, yang dapat dilakukan anak sebagai bukti berbakti adalah melestarikan silaturahmi kekerabatan. Dan terakhir, muliakan teman kedua orang tua."


Aisha menghapus airmata nya.


"Termasuk sama Buk Lek yang begitu? Kadang Buk Lek nya yang sering mulai duluan."


"Melestarikan silahturahmi kekerabatan ya termasuk dengan saudara ibu mu walau ternyata memang hubungan tidak baik. Maka tugas kita tetap menghormati mereka terlebih mereka punya kekurangan. Kita pun punya kekurangan yang mungkin masih Allah tutup dari orang lain sampai detik ini."


"Hhhhh.... Berat jadi orang baik ya Bu. Apalagi disaat kita harus tetap baik sama orang yang tidak berbuat baik sama kita."


"Harus dilatih Aish. Nanti kalau sudah sering di latih. Hati kita ini akan kuat sendiri. Dan jangan membandingkan hidup kita dengan mereka yang punya cobaan dari versi yang lain dengan memandang diri kita dengan masalah yang sedang kita hadapi. Akan berbeda pula rasanya."


"Mudah-mudahan bisa berbakti sama Ibu. Ternyata lebih gampang berbakti kalau orang tua masih ada ya Bu."


"Kalau sudah tiada memang baru terasa Aish. Intinya kita sebagai anak berusaha secara sungguh-sungguh untuk semakin menjadi pribadi yang saleh, semakin saleh, dan semakin saleh. Terlebih ketika yang sudah berstatus istri. Ketika kita menjadi istri shalehah, maka Insyaallah orang tua kita pun akan ikut merasakan kebahagiaan karena kita bisa menjadi istri yang shalehah."


Perbincangan mereka harus terhenti ketika Lilis membuka pintu dan masuk.


"Kak Ayra, Pak Bram nya sudah menunggu."


Aisha dan ketiga adiknya beserta Pak Lek Aisha mengantarkan kepulangan Ayra dan Bram juga Bu Lina. Pemilik panti asuhan itu tak tega jika harus menambah satu hari lagi di kampung Aisha karena meninggalnya panti. Sebelum naik kedalam mobil, Buk Lina memeluk Aisha. Ia ikut bahagia akhirnya anak asuhnya menikah. Dan ia merasa Aisha bukan gadis yang melihat karier Rafi melainkan memang niat ingin membina rumah tangga.


Dua orang yang memiliki jiwa tanggungjawab yang sama. Dan memiliki hati yang lembut pada mereka yang lemah walau dari keseharian sifat mereka terlihat cuek.


"Ibu Pulang dulu. Nanti kalau sudah ke kota. Menginap lah sehari atau dua hari di rumah. Anak-anak pasti senang sekali kalau kamu kesana. Ibu titip Rafi, jalani saja pernikahan dengan sabar. Karena ini baru dimulai. Karena menikah bukan mengakhiri satu masalah. Melainkan menggenggam tangan untuk mengahadapi banyak masalah yang menunggu kalian untuk tetap bersama dan bersabar."


Rafi pun memeluk Ibu Lina. Ia menahan butiran air matanya.


"Terima kasih Bu untuk bimbingannya dan doa ibu selama ini."


"Jadilah suami yang baik Rafi. Aisha cuma manusia biasa. Jangan sekali-kali kamu marah dengan memukulnya."


Bram yang paling terakhir naik ke dalam mobil juga memberikan pesan untuk asistennya itu.


"Fokus dulu disini. Ambil saja cuti kamu. Nanti aku minta orang menjemput kamu jika kalian akan pulang ke Jakarta. Satu lagi, belajar dari pengalaman Beni. Jangan pernah ngucapin kata cerai Bro. Daripada nyesel."


Rafi mengangguk tanda paham akan maksud Bram. Ia mendengar cerita dari Bram bahwa Liona bercerai dengan Beni karena ucapan Beni. Ia juga langsung mencari di google tentang kenapa bisa bercerai itu Liona dan Beni.


Satu mesin pencari di ponsel memang bisa digunakan namun andai kita punya satu kunci yang bisa kita gunakan maka akan memudahkan. Sebagaimana contoh Bram yang merasa geram pada Rafi karena asisten nya ini tak juga mengerti istilah mendaki. Maka ia mengirimkan satu link buku online yang ada di google play store berjudul 'Adab jimak'.


Rafi yang selepas kepergian suami istri itu duduk di teras. Penasaran, ia membuka link tadi dan mendownload. Saat aplikasi tersebut terinstal. Ia mencoba membacanya. Kedua bola matanya terbuka sempurna. Namun hal yang sama juga terjadi pada Aisha saat ia membuka link tersebut dan penasaran ia juga mendownload apk tersebut.


Aisha yang di dapur mengigit ujung ponselnya setelah membaca bab satu.


"Aduh... kok Tiba-tiba deg deg kan ya. Nanti malam klo itu Jotan minta macam-macam? Aduuuh.... "


Rafi yang diteras pun merasakan hal yang sama.


"Apa maksud pak Bram mendaki itu Ya ini. Malam Pertama kata orang-orang? Ah.... Aduh kok rasanya panas ya. Kok malam tambah gemetar. Kan jones ga disini.


Malam kian larut saat para tetangga telah pulang. Rafi yang dari tadi mondar mandir bingung. Ia yang tak pernah Begadang sangat mengantuk. Tidur di luar bukan hal yang biasa lakukan. Belum lagi jika harus keluar malah akan tambah bingung karena diajak ngobrol bahasa Jawa. Dia yang tak paham akan bahasa Jawa lebih banyak diam selama mendengar kerabat-kerabat Aisha berbincang.


"Kak Rafi kenapa?"


"Eh Alifah. Ga kenapa-kenapa. Lagi tidak bisa tidur. Kakak malam ini tidurnya dimana ya?"


Lilis dan Aisha yang dari tadi sibuk merapikan dapur kembali ke ruang tengah berniat ingin istirahat dan mendengar pernyataan Rafi. Adik Aisha yang sudah dewasa itu langsung nyeletuk.


"Ya dikamar kak Aish dong kak."


Jleb.


Wajah sepasang suami istri yang belum satu hari itu seketika merona.


"Lilis! Sudah katanya mau Istirahat. Lifah mau kemana?"


"Lifah ga bisa tidur. Inget Ibu. Boleh tidur sama kakak saja ya."


Baru Aisha ingin menjawab, salah satu ipar dari almarhum ayahnya yang datang dari Kalimantan menjawab pertanyaan Lifah.


"Iya Lifah. Kamu ini ada ada saja."


Lilis cepat menarik adiknya ke arah kamarnya. Sepasang suami istri yang salah tingkah itu akhirnya tinggal berdua. Rafi yang lelah cepat meminta jawaban dari sang pemilik kamar.


"Aish. Aku tidur dikamar ya. Aku tadi coba tidur di sofa. Ga bisa."


Aisha yang mencoba ingat pesan-pesan dari Ayra juga sedikit nasihat pernikahan setelah ijab qobul di langsungkan tadi.


"Ya tidur tinggal tidur. Tapi ya itu ada syaratnya."


Rafi melotot.


"Apa? Baru juga menikah udah banyak syarat."


Aisha berjalan dan ketika berada tepat di dekat Rafi ia berbisik di dekat wajah Rafi.


"Ga ada acara malam pertama dulu. Aku masih berduka."


Cepat ia berlalu meninggalkan Rafi yang terlihat geram.


"Otak Lo tu ya...."


Saat Rafi mengikuti istrinya ke kamar ia baru saja mematikan lampu. Aisha menjerit kaget. Ia tak pernah tidur dalam keadaan gelap.


"Aaaaaa.... Rafiiii!"


Seketika ia mengatupkan kedua bibirnya rapat karena ia teringat banyak orang di luar.


"Ada apa Nes?"


Aisha tidak menjawab. Ia cepat kembali menghidupkan lampu tersebut.


"Aku tidak bisa tidur klo lampunya dimatikan Jotan."


"Jotan Jotan. Gue ini sudah jadi suami mu Nes. Ga bisa apa hormat sedikit."


Aisha berdiri di sebelah Rafi tersenyum mengejek dan memberikan hormat seperti hormat ketika upacara bendera.


"Awas ya. Gue unboxing tahu rasa!"


"Berani macem-macem tanpa persetujuan aku awas!"


Aisha terlihat menyipitkan kedua matanya. Dengan satu telunjuknya ia arahkan kepada Rafi.


"Nasib. Ini bukan suami yang KDRT tapi istri yang KDRT sama suami."


Baru akan berjalan ke arah tempat tidur Rafi kembali harus melebarkan kedua pupil matanya. Aisha terlihat membuka ujung seprainya, dan terlihat perempuan itu mengoleskan minyak zaitun pada jari-jari kakinya. Belum Lagi ada dua Guling yang ia beri batas diantara dirinya.


"Nes. Elo Jorok banget sih. Ini kenapa seprai pakek dibuka. Kotor kasurnya lah."


"Udah mau tidur. Sini jangan lewat batas sebelum ada lampu hijau. Satu lagi. Awas cerita-cerita sama orang lain. Aku ga bisa tidur kalau tidak di dikasih minyak ujung jarinya. Sama klo ada seprainya. Sama satu, ini selendang kesayangan. Awas cerita-cerita sama orang."


Aisha segera menutup tubuhnya dengan selimut. Ia memejamkan matanya. Kembali Rafi dibuat kembali tak percaya istrinya itu terlihat memegang selendang dan ia gerakkan di telapak tangannya. Kaki Aisha pun terlihat bergerak-gerak.


"Ya Allah.... Dulu gue benci banget Ama temen klo ada yang model begini. Lah sekarang kok malah jadi Istri... Hhhhh.,... Tapi kata Pak Bram syukuri, jalani. Nanti bahagia pasti datang."


"Untung cinta Nes. Kalau enggak. Udah ilfil tingkat dewa aku lihat kekakuan mu untuk tidur pakai ritual begitu."


Deg.


Aisha merasakan jika jantungnya berdetak dengan kencang mendengar kalimat Rafi barusan. Ia malah tak bisa tidur, ada rasa hangat menghampiri hatinya yang memang tak pernah dapat pernyataan cinta dari lelaki manapun.


"Aduh. Ini jantung kenapa ya. Masak Iya, aku udah jatuh cinta sama Si Jotan. Ah... jangan terlalu cepat menyimpulkan Aish. Malam ini kamu jangan tidur lebih dulu."


Rafi segera tidur disebelah Aisha ia memakai selimut yang disisakan oleh Aisha sedikit untuk dirinya. Rafi yang biasa tidur sendiri penuh rasa tenang malam itu tak bisa menikmati tidur nya. Selain kebiasaan Aisha yang akan menggerakkan kakinya pada bagaian yang ia lumuri minya. Suara dengkuran Aisha membuat Rafi bangun dan menyandarkan dirinya di dashboard tempat tidurnya.


"Ya ampun Nes... Elo cantik-cantik mendengkur nya kayak bapak-bapak aja. Baru sehari ini udah banyak sekali ternyata yang harus aku maklumi."


Seketika rasa jengkel Rafi menghilang melihat Aisha yang tertidur lelap dengan mulut yang sedikit terbuka. Istrinya itu masih cantik walau posisi nya mendengkur.


"Untung cantik. Untung Cinta. Semoga Elo juga bisa nerima kekurangan gue ya Nes."


Rafi menyentuh dagu Aisha sehingga bibir istrinya itu tertutup lalu ia merapikan rambut sang istri yang terlihat menutupi sebagian wajahnya. Namun kembali suami Aisha itu harus bersabar dengan kenyataan dan satu tabir yang dibuka tentang ternyata inilah masalah pertama dalam pernikahan mereka.


Aisha yang melakukan stretching, kaki dan tangannya mengarah ke Rafi. Sehingga lelaki itu hampir jatuh. Posisi sang istri yang berputar masih dalam keadaan tidur membuat Rafi menarik napas dalam.


"Wow.... wow... wow.... Jones.... Besok kalau Jakarta aku harus beli kasur super lebar jika tidak ingin tersingkir dari tempat tidur."


Akhirnya satu malam itu berakhir dengan berkali-kali Rafi membernarkan posisi tidur istrinya dan ia mendengarkan musik melalui headset sambil membaca buku yang tadi ia download. Sesekali ia mengusap dahi Aisha. Hingga ia tertidur dalam keadaan duduk bersandar pada Dashboard dan tangan yang masih berada di atas kepala Aisha.


Usapan demi usapan yang Rafi berikan pada kepala Istrinya itu mampu membuat sang istri bisa tidur tanpa berputar-putar. Rafi pun bisa tertidur lelap walau dengan posisi duduk bersandar.