Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
59 Pentingnya Menjaga Hati sebelum Menikah


Ayra masih duduk diatas sajadahnya. Ia memilih menghabiskan waktu nya untuk memohon ampunan Rabb nya karena dosa yang ia buat hari ini.


Dosa merasa lebih baik dari orang lain. Dosa menyakiti sesama muslim. Dan sebuah sikap yang ia ambil dengan menampar Shela karena menghina agama nya. Namun ia bersedih karena bagaimana umat nabi yang mengajarkan lemah lembut saat dakwahnya, tetapi umat yang mengaku cinta pada nya malah melakukan perbuatan kasar bahkan menyakiti sesama muslim.


"Ya Rabb, jika memang dengan masalah ini maka kami akan lebih dekat dengan mu. Maka kami akan bersabar menjalani nya. Sungguh kami tempat nya luput dan lalai. Maka kami mengetuk pintu ampunan mu Rabb. Ampunilah setiap khilaf dan dosa kami."


Ayra menutup doanya dengan menghadiahkan bacaan surat Al-fatihah untuk orang tuanya yang telah tiada. Untuk yang masih ada dan juga untuk dirinya sendiri.


Ayra melihat Bram bergerak dari tempat tidurnya. Ia cepat menghampiri suaminya.


"Mas butuh sesuatu?"


"Kamu tidak tidur?"


"Aku terbangun pukul 12 dan tak bisa tidur lagi."


Arya melirik jam dinding menunjukkan pukul 4 dini hari. Bram yang merasa kering pada tenggorokan nya meminta Ayra mengambil air mineral.


Ayra menuangkan air putih kedalam gelas dan menyerahkan ke Bram.


"Tidurlah lagi mas jika masih mengantuk. Pak polisi didepan mengatakan pukul 7 mas akan segera kembali ke dalam sel tahanan."


Bram tak bergeming ia memilih bersandar pada Ranjang rumah sakit yang berukuran 160 x 200 itu.


Ia menatap Ayra. Tatapan penuh rasa penasaran.


"Wajahnya lebih cantik saat tak mengenakan make up."


"Duduklah disini sebentar."


Bram melirik kursi yang ada disebelah tempat tidurnya. Ayra mematuhi kemauan suaminya itu. Ia duduk disebelah Bram.


Bram mengambil napas dalam.


"Katakan mengapa kamu begitu cepat mencintai ku. Kita baru hitungan hari menikah. Dan baru berapa hari juga saling mengenal."


Ayra membenarkan mukenah nya yang sedikit tertarik.


"Karena aku tak pernah memendam rasa untuk lelaki mana pun sebelum menikah."


"Termasuk pada Amir?"


Ayra mengangguk kan kepalanya.


"Kang Amir adalah santri Abi. Beliau mendapat beasiswa di Kairo karena bisa menghapal Al-Qur'an. Aku tahu dengan beliau. Tapi tak memendam rasa. Karena sedari sekolah menengah pertama Abi dan umi sudah mewanti-wanti semua Santri dan santriwati nya untuk tak bermain-main dengan perasaan saat belum terikat hubungan halal.


Karena akan menjadi hambatan ketika menikah nanti. Bahkan umi dan Abi tak segan-segan memberikan hukuman pada kami yang melakukan hubungan pacaran walau hanya lewa surat-menyurat."


"Kenapa agama tak boleh pacaran? Lalu bagaimana kita akan mencintai pasangan kita? bagaimana jika sebelum menikah ada kata tidak cocok? ."


Ayra yang melihat Bram memijat pahanya yang memang ia rasakan pegal sedari semalam.


Ayra menarik kursi nya dan memijat betis Bram.


"Apa ada pacaran yang tak menyentuh pasangannya? tak memandang pasangan nya? yang tak memikirkan pasangannya siang dan malam? Ga ada namanya pacaran syar'i atau ta'aruf tapi sering berdua-duaan. Ya ada bertemu melalui walinya dan jika merasa cocok lanjut ke tahap lamaran dan menikah. Bukan ta'aruf tapi rasa pacaran. "


Bram tak menjawab. Ia malu ingat hubungan nya dengan Shela di masalalu hingga ia memilih bungkam.


"Zina tak hanya fisik mas. Tapi zina hati juga bahaya. Contoh seperti saat ini lagi maraknya Drakor. Bayangkan jika semua istri membayangkan suami nya seperti pemeran film Korea itu. apa tidak jadi masalah. Kebanyakan laki-laki itu sedikit bicara tapi banyak actionnya. Bukan kayak di Drakor yang begitu romantis. Belum lagi wajah tampan pemeran Drakor tadi.


Mas bayangin deh kalau lagi mendaki bersama eh tiba-tiba si istri membayang kan bintang Drakor tadi apa tidak menjadi berkurangnya minat untuk mendaki bersama suami karena imajinasi nya sama opa-opa.


Maka boleh menyukai sesuatu tapi jangan terlalu berlebihan."


Ayra pindah memijat ke betis satunya lagi.


Diluar ekspektasi imajinasi liar pasangan kita sehingga membuat proses mendaki menjadi hambar. Juga berujung tak berminat. Jangan kan mendaki untuk berbicara pun pada teman sependaki kita itu sudah tak selera.


Semoga Allah menjauhi kita dari sifat seperti itu. Aamiin."


"Hehehe.... Kamu ini sepertinya pikiran mu itu dewasa lebih cepat dari usia mu. Lantas kenapa kamu mencintai ku dengan waktu begitu singkat. Kamu belum jawab "


Bram mengurai rambutnya dengan jari tangannya.


"Ada sebuah diksi mas, menikah dengan orang yang kita cintai adalah harapan. Bisa jadi semu bisa jadi nyata. Tetapi mencintai orang yang telah menikah dengan kita adalah sebuah kewajiban."


"Bagaimana jika aku mengecewakan mu. Ditengah perjalanan aku tak mampu mencintai mu? Apakah kamu tak kecewa?"


"Kita memang kadang lebih sering berharap pada manusia. Padahal manusia itu tempat yang sering memberikan kekecewaan.


Allah tidak pernah mengecewakan hambanya. Aku tidak akan berharap pada mu untuk mencintai ku mas. Tetapi aku berharap pada Allah agar Ia menumbuhkan rasa cinta dihati mu untuk ku. Karena aku mencintai mu karena rasa cinta ku kepada Rabb ku."


Bram menghentikan kedua tangan Ayra yang sibuk memijat betisnya. Karena ia tak menatap Bram ketika berbicara. Ia menarik satu tangan Ayra dan menggenggam nya.


"Jadi tak boleh jatuh cinta sebelum menikah?"


"Jika memang ada yang dikagumi oleh pria yang sudah baligh maka menikah adalah solusi. "


"Dan apakah agama membolehkan perempuan melamar lelaki duluan?"


"Khadijah pun melamar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dulu dan jatuh hati lebih dulu hanya lewat penuturan dari salah satu budaknya yang bernama Maisarah. Khadijah mengutus Nafisah binti Ummayya yang masih kerabat Rasulullah untuk melamar Baginda Rasul."


Sepasang suami istri ini saling pandang. Senyum manis dibibir Ayra membuat Bram menghembus napasnya dengan kasar.


"Pijatlah punggung ku Ay. Rasanya sakit Sekali kemarin pijatan mu begitu lembut."


Ayra mengulum senyum nya.


"Kamu tidak akan menggoda ku lagi mas?"


"Kamu ingin aku goda? atau kamu sudah candu dengan godaan maut ku hehehe....."


Rasa hangat merayapi hati Ayra ia sangat senang suaminya mau membuka diri. Ada senyum dan tawa walau masih terlihat kaku dari suaminya itu.


Bram berbalik dan Ayra memijat lembut tubuh suaminya itu.


"Baju nya dibuka saja mas biar lebih bisa mencari titik refleksi nya."


Bram mendengar suara lembut sang istri dan juga wangi aroma tubuh yang baru ia kenal setelah menikah dengan Ayra membuat nya menurut seperti anak kecil ia mengangkat kaosnya hingga ke pundak.


Ia rasakan tangan lembut Ayra menyentuh punggungnya


Bram yang melirik istrinya dengan sedikit menoleh pun bergerak maju ke bagian ujung kasur.


"Duduk lah diatas sini. kamu lelah kalau harus berdiri begitu."


"Kamu lagi tidak modus?"


"Kamu pikir aku akan memberikan kamu kenangan pertama kali mendaki bersama di tempat seperti ini? di ranjang kecil ini? Apa kamu yang sudah tidak sabar ingin mendaki bersama."


Sepasang suami istri itu hanya saling tertawa. Satu kebahagian yang harus dilalui cukup butuh perjuangan bagi Ayra. Hingga mereka menghabiskan waktu mereka dengan posisi Ayra duduk dibelakang Bram dan memijat punggung suami nya itu.


Bram memejamkan mata nya menikmati pijatan Ayra.


Fajar itu, ranjang dan kamar itu menjadi saksi doa orang yang baru mengenal lewat hubungan pernikahan bercerita dan berbagi pengalaman tentang kehidupan. Dengan posisi sama-sama diatas kasur kecil itu.


"Sungguh jatuh hati di saat yang halal itu sangat indah. Terima kasih Abi, Umi. Ayra paham kenapa selama ini kami diminta menjaga hati dan diri. Agar ketika menikah hati ini akan cepat berlabuh pada kekasih dalam kehidupan pernikahan."