
Bram melerai pelukannya. Ia memandangi wajah istrinya.
"Abi mu pernah berbicara pada mas. Bahkan di beberapa kesempatan beliau menjelaskan tentang pentingnya seorang santri masih harus berkhidmat pada gurunya, organisasinya. Itu adalah saru wujud perjuangan dan sarana menuntut ilmu. Maka Mas mengizinkan kamu ikut organisasi itu dan apabila kamu terpilih menjadi ketuanya. Mas mendukung mu. Asal tidak meninggalkan tanggung dan kewajiban sebagai istri dan ibu buat Ammar dan Qiya."
"Terimakasih My Hubby. Ayra jatuh cinta berkali-kali pada mu Mas."
"Really?"
"Very Really.... "
Ayra menyunggingkan senyumnya pada sang suami. Bram meminta waktu satu Minggu untuk berpikir tentang permintaan izin istrinya itu. Dan ternyata suaminya yang bukan berasal dari pondok pesantren itu bisa mengerti arti sebuah perjuangan untuk mensyiarkan agama Islam dan menuntut ilmu masih tetap harus di lakukan sekalipun seorang perempuan sudah berumah tangga.
Bram sebenarnya lebih memikirkan kemanfaatan untuk ilmu istrinya yang ia rasakan bisa memberikan inspirasi pada teman-teman organisasi nya. Ayra yang selalu diminta mengisi seminar di beberapa kampus dan pesantren untuk mengisi tentang peran perempuan di era modern. Bram kembali memeluk istrinya.
"Mas merasakan semakin hari semakin tak ingin jauh dari kamu Ay."
Tiba-tiba perut Bram berbunyi.
"Kruuuk."
"Wah ternyata bukan hanya hati ku yang butuh protein Ay. Perut nya juga. Ayo segera siapkan makannya. Mas ganti baju dulu."
Ayra mengecup pipi suaminya sebelum meninggalkan Papa Ammar itu dikamar. Satu interaksi kecil yang membuat sepasang suami istri selalu terasa seperti pengantin baru. Satu pupuk untuk rasa cinta yaitu perhatian tidak hanya lewat kata-kata tetapi juga tindakan.
Selesai shalat isya. Bram dan kedua buah hatinya bercerita di ruang keluarga. Ayra dan dua orang asisten rumah tangga sedang sibuk menyiapkan makan menu makan malam di meja.
Bram yang tiba-tiba hadir di dapur memberikan kode pada dua asisten itu untuk pergi. Saat Ayra masih fokus menyiapkan satu menu kesukaan Ammar dan Qiya yaitu Cumi Saos tiram. Bram yang datang dengan mengendap-endap membawa satu mainan tikus milik Ammar. Ia meletakkan tikus itu di dekat istrinya. Ketika Ayra akan mengambil serbet yang ada di sisi kanan kitchen set. Kaki kanannya menginjak tikus mainan tersebut.
Sontak Ayra menjerit dan beristighfar. Bram sering sekali pada momen-momen tertentu menjahili istrinya dengan mainan tikus atau cicak milik putra sulungnya. Karena istri dari Bramantyo itu takut sekali dengan dua hewan itu. Seketika Ayra berbalik ke belakang dan berlari ke arah Bram dan memeluk suaminya itu.
"Nyyiiittt...."
"Aawwww.... Astaghfirullah.,.."
Ayra berlari dan berdiri di belakang Bram. Bram tertawa dan diikuti oleh kedua anak mereka yang ternyata ikut menanti momen Mama mereka menjerit ketakutan.
Ammar yang tertawa pun cepat berlari ke arah mainannya dan mengambil mainan itu. Ia angkat ekor mainan tikus itu dan ia tunjukkan ke arah Ayra.
"Hahaha.... Mama. Ini hanya mainan. Mama selalu berhasil di jahili oleh papa."
Ayra hendak mencubit pinggang suaminya karena merasa malu di jahili. Namun sang suami berlari menghindari Ayra dari Bali meja makan. Dan ketika berada di balik tubuh mungil Qiya. Bram pasrah dengan jari-jari Ayra yang mencubit pinggang ayah dua anak itu.
Tanpa mereka sadari interaksi mereka, suara tawa Mama dan Papa nya sedang direkam jelas oleh Ammar dan Qiya.
"Kalau aku sudah besar nanti aku akan seperti papa. Papa selalu menyayangi Mama, aku dan Qiya. Papa tidak pernah membuat Mama menangis atau menyakiti Mama."
Ammar pun duduk di kursi dan melihat kebahagiaan dari wajah kedua orang tuanya. Hampir tidak pernah Ammar melihat Bram membentak atau bermuka masam pada Mamanya. Sebuah figur yang membuat ia menjadi idola bagi Ammar. Selain para sahabat-sahabat nabi yang sering Ayra ceritakan. Maka Bram adalah sosok nyata bagi Ammar bagaiamana seorang lelaki yang hebat.
Bram yang sibuk bekerja, tak pernah ketika pulang membawa beban pekerjaannya kerumah. Ia selalu menebarkan senyumnya untuk istri dan kedua anaknya. Ia memang terlihat lelah tapi tak pernah ia sibuk dengan ponselnya sekedar 'me time' saat anak-anak mereka justru tak bermain ponsel, atau menonton TV.
Begitupun Qiya. Gadis kecil Ayra itu mulai terlihat berisi. Satu bulan ini tubuhnya mulai naik beberapa kilo. Pipinya pun terlihat cubby. Qiya yang selalu duduk di sisi Bram saat makan selalu mengamati Mamanya. Sedari berumur 3 tahun, Ia akan merasa tersaingi saat Bram memeluk Ayra. Namun karakter ibunya yang penuh dengan cinta dalam mendidiknya. Membuat putri bungsu Ayra itu ingin menjadi Seperti Mamanya.
Selesai makan malam. Saat asisten rumah tangga membereskan meja makan. Qiya yang masih menunggu isi perutnya turun, ia masih duduk di kursi meja makan. Ayra pun menemani putrinya itu. Qiya menatap kagum pada Mamanya
"Mama. Nanti kalau Qiya sudah boleh memasak. Qiya ingin belajar memasak dari Mama. Qiya ingin seperti mama. Tidak hanya cantik, pintar tetapi juga pintar masak."
"Ya. Anak perempuan harus pintar masak. Semua bisa asal sering dilakukan. Mam dulu bahkan dulu beberapa kali belajar masak nasi selalu gagal. Tapi setelah berkali-kali gagal akhirnya mama berhasil. Dulu Mbah Uti suka bilang. 'Anak perempuan harus sergep di dapur. Iya kalau jadi orang kaya. Kalau jadi orang susah terus mau masak ga bisa cetik Geni. kasihan bojonya'."
"Hehe.... Mama persis Mbah Uti kalau begitu."
"Masih sakit perutnya?"
"Tidak."
"Mama sudah ingatkan untuk berhenti sebelum kenyang."
"Tapi Mama juga pernah bilang harus dihabiskan kalau makan."
Ayra mengusap kepala Qiya pelan. Anaknya itu mengingatkan dirinya saat masih SMP. Ia suka sekali makan dalam porsi besar. Ia sering membeli coklat atau mie instan saat setelah makan karena masih merasa lapar. Karena mendapatkan jatah makan di pondok.
Saat malam kian larut, Ammar dan Qiya pun telah tertidur di kamar mereka masing-masing. Bram yang sedari tadi menanti sang istri akhirnya cepat meletakkan ponselnya ke atas meja. Ia merentangkan kedua tangannya. Ayra pun mengunci pintu, ia membuka dress piyamanya yang menutupi dress minim bahan yg ia kenakan saat akan tidur. Hingga tersisa satu dress piyama yang tanpa lengan dan panjangnya pun diatas lutut. Pakaian yang hanya ia kenakan di hadapan suaminya.
Ia tak pernah berpakaian terbuka di dalam rumah. Sekalipun dihadapan Ammar dan Qiya. Istri Bramantyo itu selalu memakai pakaian yang menutupi betisnya. Sekalipun di lantai dua memang tidak ada laki-laki lain. Ayra hanya akan membuat jilbabnya tapi tidak dengan pakaian yang terbuka.
Hingga pakaian yang yang berada di lutut atau diatasnya hanya ia kenakan di kamar untuk menyenangkan suaminya. Ammar dan Qiya memang masih kecil. Namun ibarat pohon, saat masih ranting, ia akan lebih mudah dibentuk. Namun ketika telah berubah menjadi dahan kokoh, akan sulit di arahkan atau dibentuk. Ayra yang berharap Qiya kelak juga menutup aurat tanpa di paksa, maka ia pun mencontohkan bahwa ibunya tak pernah berpakaian seksi di hadapannya.
Namun akhirnya anak lelaki Ayra itu paham ketika sang ibu menjelaskan bahwa ia masih balita, belum dewasa. Maka belum dihukumi dosa ketika menyentuh perempuan. Bahkan saat Ammar pernah melihat ayahnya memeluk Ayra. Ia meminta penjelasan. Dan Ayra tidak berbohong dalam menjelaskan sesuatu pada anaknya. Ia menjelaskan rasa ingin tahu anaknya itu dengan yang sebenarnya dan dengan bahasa yang bisa di pahami anak usia Ammar.
"Mama dan Papa boleh pegang-pegangan dan boleh berpelukan karena sudah menikah."
"Jadi nanti kalau Ammar besar. Ammar harus menikah dulu kalau mau pegang-pegang anak perempuan Ma?"
"Ya. Tapi Ammar harus selesaikan tugas Ammar. Seperti sekolah dan mengaji."
Bram memeluk Ayra erat. Aroma rambut Ayra yang wangi pun membuat ia berkali-kali menciumi rambut istrinya itu.
"Bagaimana kondisi Qiam. Interview tadi siang berjalan lancar ay?"
"Ayra tak hadir Mas."
"Kenapa?"
"Mas tak ingin istirahat?"
"Mas lagi ingin mengobrol dengan istri ku yang cantik ini. Lalu kemana istriku ini satu hari ini?"
Ayra me nge cup punggung tangan Bram yang menggenggam tangannya.
Ayra terpaksa menceritakan perihal Ammar disekolah siang tadi. Karena ia tak mungkin berbohong pada sang suami. Situasi pun memungkinkan untuk berbicara perihal Ammar. Suaminya telah makan, istirahat dan sekarang sedang rileks. Bagaimana pun ia butuh kolaborasi dengan suaminya untuk perkembangan sang anak. Maka Bram juga wajib tahu perkembangan anaknya. Tanpa Ammar tahu bahwa Bram sebenarnya selama ini mengetahui jika Mamanya telah dua kali ke sekolah, karena panggilan dari pihak sekolah akibat ia memukul temannya. Namun hal itu ia ketahui bukan istrinya mengadu melainkan ia yang meminta untuk tahu perkembangan anak-anaknya.
Ammar berpikiran bahwa Papanya tak pernah tahu perihal ia memukul temannya. Karena Bram tak pernah memarahi atau menegur anaknya untuk masalah itu. Selagi masalah itu bisa diselesaikan istrinya. Ia cukup mengamati perkembangan anak-anaknya tanpa menjadi sosok menakutkan bagi kedua buah hati mereka.
Seperti malam ini Bram mulai merasakan gelisah karena ini kali ketika Ayra ke sekolah karena Ammar.
"Apa mas harus menegurnya Ai?"
"Dia sudah menyadari kesalahannya mas. Dia juga akan minta maaf pada temannya."
"Hhhhh.... Mas tidak membayangkan jika mas tidak cepat berubah dulu Ay. Dengan karakter yang keras itu ia dapatkan dari mas. Cukup membuat kamu harus bersabar mendidiknya. Apa kita pondokan saja Ammar Ay?"
Ayra melerai pelukannya. Ia kurang sependapat dengan maksud suaminya.
"Niat mas memondokkan Ammar karena ia keras kepala?"
Bram mengangguk. Ayra mendongakkan kepalanya. Hidung mancungnya ia tempelkan pada bawah dagu bram yang sedikit memiliki godek.
"Pondok pesantren itu bukan tempat pembuangan atau tempat anak-anak yang nakal, yang susah diatur. Inilah paradigma yang salah di kalangan orang tua. Pantas jika ada anak yang mondok bertahun-tahun tetapi ilmu nya tak bermanfaat ketika lulus atau khatam. Lah niat orang tuanya pertama itu yang sudah salah."
"Loh bukannya banyak anak yang mondok itu dulunya nakal terus ketika di pondokan ia berubah jadi baik."
Ayra merasa gemas ia mencubit hidung mancung Bram.
"Suami ku sayang. Inilah yang membuat orang-orang seperti Abi dan Umi harus betul-betul memiliki ekstra sabar. Karena anak dikirim ke pondok karena sudah terlanjur nakal, sudah terlanjur salah didik. Padahal harusnya kita pernah tua itu. Menyiapkan anak-anak kita untuk mandiri dan siap mondok. Bukan tunggu anak kita sudah rusak dulu, sudah nakal dulu baru di pondokan. Nanti kalau di pondok, dihukum sedikit sudah marah-marah segala ham di bawa-bawa ham."
"Memangnya Abi dan Umi pernah menghukum kamu?"
"Alhamdulilah Umi dan Abi adalah guru yang tidak pernah melakukan hukuman fisik pada santrinya. Padahal kata Abi. Dulu saat Abi mondok ia akan mendapatkan pukulan rotan jika ketahuan merokok atau minggat dari Pondok. Tetapi Abi berbeda, setiap guru itu ada cara sendiri dalam mendidik muridnya."
"Iya. Aku ingat kata Umi. Jika saat dulu mendidik kamu. Kamu akan semangat sekali menghapal sesuatu jika ada hadiahnya. Sedangkan Kang Furqon itu disuruh menghapal sambil menimba air."
"Umi membuat Ayra banyak belajar. Bahkan Umi itu tirakatnya juga beda-beda untuk kami berlima mas. Yang paling sering Umi tirakati ya Kang Furqon. Sampai Umi itu selalu puasa di wetonnya kang Furqon. Dan Alhamdulillah sekarang kang Furqon bisa menjadi pribadi yang jauh dari karakter pemarah."
"Berarti kamu sering puasa di hari Jumat karena untuk Ammar?"
"Ya jika tidak bertepatan dengan hari yang dilarang berpuasa mas."
"Lalu malam ini apakah kita bisa tirakat untuk punya anak ke tiga?"
Tangan Bram yang sudah dari tadi telah bergerak aktif membuat Ayra paham bahwa suaminya sedang memanggilnya untuk menikmati malam bersama. Bukan makin tua makin jadi kiasan yang tepat untuk Bram. Melainkan ia selalu merasa bahwa istrinya adalah satu-satunya wanita yang memberikan ia kebahagiaan, ketenangan. Bahkan ke nik mat Tan saat bersama di balik selimut.
Sehingga tak sedikit pun ia tertarik pada perempuan di luaran sana yang mungkin beberapa mencoba menarik perhatiannya.
Hal itu bukan terjadi tanpa usaha dari Ayra. Melainkan Ayra yang telah melahirkan secara normal Qiya dan Ammar, tetap memikirkan bahwa sang suami tetap membutuhkan sesuatu pe le pa san yang menyenangkan. Sehingga Ayra selalu merawat ba Gian in timnya. Agar sang suami merasa senang dan pu as. Ia sadar bahwa itu juga salah satu kewajibannya. Apalagi di zaman modern seperti saat ini banyak cara gara masih bisa seperti pe Ra wan walau pernah melahirkan.
Sehingga saat sekalipun Bram keluar negeri. Ia tak khawatir suaminya akan jajan di luar apalagi mencari kampas rem baru hanya untuk mencari kenikmatan yang tak di dapatkan dari seorang istri. Sungguh berumahtangga akan terasa indah dan tak memberatkan ketika sepasang suami istri itu menjalankan fungsinya, tugasnya atau kewajibannya masing-masing.
To be Continued...