
Sore hari di kediaman keluarga Pradipta. Tampak dua orang perempuan sedang mencoba menahan perempuan berkerudung untuk berkemas. perempuan itu adalah Ayra. Ayra sedang berkemas, email yang masuk ke ponsel Bram membuat ia tak bisa menunda keberangkatan nya ke Kota Palembang provinsi Sumatera Selatan.
Hari ini demo besar-besaran telah terjadi di salah satu anak perusahaan pengolahan sawit dan karet MIKEL group itu. ada ribuan karyawan yang mogok bekerja. Mau tidak mau Ayra yang sudah meminta beberapa pimpinan cabang yang berada di kota empek-empek itu menangani nya.
Namun tak berhasil. Para karyawan dan buruh pabrik menginginkan untuk bertemu langsung pimpinan pusat. Terkait berita yang beredar akan kebijakan baru yang diambil oleh pimpinan yang baru. Orang yang mereka maksud tidak lain adalah Ayra. Hingga Ayra telah meminta Aisha agar memesan tiket keberangkatannya ke Palembang malam ini juga.
Pak Erlangga akan menyusul esok pagi karena masih harus menemui pengacara Bram terkait untuk pembebasan bersyarat Bram.
Melihat kondisi Ayra yang belum terlalu sehat, membuat Nyonya Lukis dan Rani tidak setuju dengan kepergian Ayra ke kota Wong Kito itu. Ayra masih baru sehat, mereka mengkhawatirkan kondisi Menantu dan iparnya itu.
"Ay, biar Rafi dan papa saja. Kamu belum sehat betul Nak."
"Iya Ay, Atau biar Bams saja."
Ayra menghentikan kegiatannya. Ia menutup koper kecilnya itu dan duduk di tempat tidur, tepat disebelah ibu mertuanya.
"Ma, Mas Bram lagi tidak disini. Mas Bram juga memberikan tanggungjawab pada Ayra untuk sementara mengurus perusahaannya. Saat ini banyak pihak yang memanfaatkan kondisi mas bram. Termasuk perusahaan nya diterpa banyak Hoaks.
Ayra yakin para pekerja itu ada yang menungganginya. Percaya sama Ayra, Ayra ga akan mendzolimi diri Ayra. Ayra juga punya tanggungjawab pada diri Ayra. Untuk tetap sehat, karena aset mas Bram bukan hanya perusahaannya tapi juga Ayra."
Senyum manis terukir dari bibir mungil Ayra. Ayra tak menyangka ipar dan ibu mertuanya itu akan sangat mengkhawatirkan dirinya.
Nyonya Lukis memandangi Ayra.
"Mama ikut kalau begitu, cepat telpon Aisha untuk tambah tiketnya untuk mama."
"Ma.... "
"Suami mu tidak ada, maka kamu harus mendengarkan Mama. Kamu boleh pergi tapi tidak tanpa Mama."
Ayra melihat Rani. Rani mengacungkan satu jempol ke arah Ayra.
"Baiklah Mama. Ayra mengalah, Ayra hanya khawatir mama lelah."
"Mama sudah lama tidak jalan-jalan. Biar papa besok menyusul kita, mama bisa jalan-jalan sama papa."
Ayra tersenyum manis. Ia tahu itu hanyalah alasan Mama mertuanya. Rani pun bermonolog dalam hatinya.
"Kamu beruntung Ay, mama sangat menyayangi kamu. Aku tahu itu, aku bisa melihat lewat tatapan mama pada mu. Tapi aku tak iri Ay. Kamu memang paket komplit yang Tuhan kirimkan. Aku berharap bisa seperti kamu, tidak hanya cantik wajah tapi juga Hati. Cerdas tapi tak pernah merendahkan."
Akhirnya Ayra menelpon Aisha untuk memesan tiga tiket pesawat ke Palembang.
Ayra dan nyonya Lukis diantar oleh Bams ke bandara Soekarno Hatta. Selama perjalanan menuju Bandara, Bambang memandangi Ayra dari kaca spion mobil. Ia bermonolog dalam hati.
"Sungguh cantik cara Tuhan mempertemukan kalian. Sungguh beruntung kamu Bram mendapatkan Ayra. Mungkin ketulusan hati mu yang membuat mu mendapatkan jodoh Ayra Bram. Hati memang tak bisa dibohongi."
Rani yang duduk disebelah sambil memangku Raka, Ia melihat Bambang bahwa sang suami sesekali mencuri pandang pada kakak iparnya itu.
"Tidak mungkin Rani. Buang pikiran negatif mu, Bams tidak pernah main hati. Apalagi sama Ayra, Tetapi selama ini dia tidak pernah mencuri pandang pada perempuan lain. Apa Bams menyukai Penampilan Ayra?"
Setelah Ayra tiba di bandara. Aisha telah menanti. Bambang dan Rani tak menunggu Ayra dan Nyonya Rani Sampai berangkat. Selama perjalanan pulang dari bandara, Bambang melihat mimik wajah istrinya itu seperti ada yang ia pikirkan.
"Ada apa Yank? ada yang kamu pikirkan?"
Rani menoleh ke arah Bambang. Ia menarik napas dalam. Ia amati wajah suaminya itu dengan penuh rasa cinta. Bambang yang bingung pun menggoda istrinya itu.
"Apa yang semalam kurang?"
"Apa menurut mu Ayra lebih cantik dari ku?"
Kali ini giliran Bambang menarik kedua alisnya. Ia tak menyangka satu pertanyaan dari bibir seksi istrinya bernada cemburu.
"Ayolah Rani.... Jangan bilang kamu cemburu pada kakak ipar mu."
"Lalu apa makna dari lirikan matamu sepanjang perjalanan kita menuju bandara tadi? Tatapan adik ipar pada kakak ipar kah?"
"Hahaha.... Owh Rani sayang.... Jadi kau mengamati ku dari tadi. Kamu tambah cantik klo lagi cemburu."
Bams menepikan mobilnya dijalan yang cukup sepi.
Ia membuka sabuk pengaman yang berada ditubuhnya lalu ia berbalik menghadap istri cantik dan seksinya itu.
"Aku senang karena ini kali pertama aku melihat mu cemburu, dan cemburu mu pada perempuan yang kamu anggap bisa menyaingi mu bukan? Sehingga kamu merasa khawatir jika suami tampan mu ini akan berpaling. Kamu merasa pesona Ayra lebih bercahaya dari dirimu hingga kamu tak tenang? Sayang, apakah aku sebrengs*k itu Dimata mu?"
Bambang menarik dagu istrinya yang tak mau memandang wajahnya. Hingga akhirnya Bambang dapat melihat jelas wajah cantik istrinya. Ia selipkan rambut yang menghalangi pandangan mata sang istri di balik kuping sang istri.
"Aku yakin sekalipun kamu menyukai Ayra maka Ayra tak akan mau pada mu. Ia perempuan yang setia. Tapi cara mu melirik Ayra tadi membuat ku tak nyaman Bams. Apa karena dia menutupi dirinya dengan hijab sehingga ia bisa menarik mata mu yang tak pernah melirik wanita lain? Selama kita kenal dan menikah ada banyak wanita seksi dan cantik berada didekat mu.
Tak sekalipun kamu melirik mereka seperti kamu melirik Ayra."
"Jadi kamu cemburu?"
Rani menganggukkan kepalanya. Bambang membelai rambut istrinya dengan penuh kasih sayang. Ia beri kecupan lembut pada bibir sang istri.
"Cup"
"Aku memandangnya karena ada sesuatu yang tak bisa aku ceritakan sekarang pada mu sayang. Aku jujur, mulai saat ini Ayra adalah satu wanita diantara kamu dan Mama yang harus aku jaga. Terlebih lagi Bram tak disisinya saat ini. Aku mohon singkirkan rasa cemburu mu itu. Kamu tetap ratu di hati ku. Bantu aku menjaga kakak ipar ku Ran. Ayra terlalu baik untuk disakiti atau direndahkan oleh mereka yang berhati kotor."
Rani melihat ada kejujuran dalam bola mata suaminya.
"Pesona mu begitu besar Ay. Hingga suami ku yang baru mengenal mu pun bisa begitu simpati padamu. Sungguh aku ingin belajar dan menjadi seperti dirimu."
"Apa karena dia berjilbab?"
Bambang menggelengkan kepala.
"Mungkin salah satunya. Tapi yang jelas karena ia tak hanya menutupi fisiknya, tetapi juga hatinya. Lihat bagaimana ia hampir tak pernah mengeluh, hampir tak pernah membalas hujatan-hujatan yang mengarah kepadanya di media sosial. Padahal aku amati ia membuka medsosnya. Bahkan medsos Bambang pun ia buka, tapi tak satu pun ku temui ia membalas atau mengeluh yank.
Jadilah seorang istri seperti Ayra, yang tak pernah mengeluh di medsos. Yang tidak hanya menjaga auratnya, tetapi juga lidahnya, juga menjaga jempol nya di media sosial."
Rani termenung dengan perkataan suaminya. Ia ingat bagaimana ia membela Ayra di medsos saat banyak orang memposting dan menghina Ayra pada medsos terkait berita yang beredar. Dan Rani pun malu karena kadang ia sering mengeluh di media sosialnya, dan ketika bahagia ia pun akan memposting itu, seolah ingin seluruh dunia tahu jika ia sedang bahagia.
"Ya Tuhan, sedetail itu kah kamu mengamati Ayra Bams."
"Bram yang meminta ku. Bahkan aku baru saja menemukan bukti bahwa Bram tak bersalah dari ketenangan yang Ayra tunjukkan selama ini. Ia terlihat bodoh, terlihat lemah di mata lawannya. Namun dibalik itu ia memiliki kekuatan yang ia sengaja bangun ketika lawannya berada diatas angin."
Bams teringat kata-kata Ayra saat ia akan berangkat ke Palembang dan menyerahkan satu flashdisk.
"Kadang untuk menemukan kelemahan lawan, kita harus menjadi lemah dan seorang tawanan Bams. Belajar lah bersabar dengan setiap masalah yang datang Bams. Dan Belajar lah mengontrol emosi mu. Dimana pun, kapan pun dan menghadapi siapapun.
Seperti saat ini, kamu yang bisa diandalkan disaat mas Bram di sel, Beni masih sibuk dengan masalahnya sendiri. Terlebih lagi kamu punya Raka. Ia akan mencontoh sosok orang tuanya. Sehingga jangan heran jika dewasa nanti Raka akan sering juga meledak-ledak ketika mengahadapi masalah, karena kamu sering mempertontonkan hal seperti itu dalam kehidupannya."