Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
141 Dua Rasa dari Sepasang Suami Istri


Saat bel tanda jam besuk akan berganti dengan no urut selanjutnya. Ayra berpamitan pada Bram. Sang suami yang masih merasakan rindu pada istrinya hanya mampu memeluk istrinya sejenak memegang dagu istrinya sebelum sang istri pergi meninggalkan dirinya.


"Hati-hati, jaga kesehatan, jangan terlalu lelah, jangan memikirkan hal tadi. Dia akan ikut stress."


"Iya masss.... Ayra akan jaga kesehatan. Ayra tahu ada tanggungjawab di sini "


Satu tangan yang Ayra mengusap perutnya. Selepas kepergian Ayra dari ruangan itu. Bram kembali menuju kamar nya. ia meletakkan barang yang dibawa sang istri terdapat beberapa buku untuk ia baca selama satu Minggu kedepan.


Bram melihat Pak Uban berjalan memasuki ruangan itu. Bram yang masih kesal karena Pak Uban membuat istri mungilnya harus meneteskan air mata, hingga ia tak memperdulikan pertanyaan Pak Uban.


"Amalan apa yang kamu lakukan bocah tengil. Hingga kamu mendapatkan jodoh Ayra? Kulihat dia begitu nyaris sempurna. Ia mampu mengontrol emosinya disaat mungkin ia begitu marah tadi."


Bram diam. Ia sibuk menyusun bukunya di sebelah tempat ia tidur.


"Heh Bocah apa kamu lupa kalau tadi mertua mu berpesan kalau usia ku lebih tua dari mu."


"Anda yang tua apakah pantas untuk dihormati? dari kemarin anda memanggil ku bocah tengil terus. Nama ku Bramantyo atau Bram. Kalau mau dihormati ya anda itu harus bisa diguguh dan ditiru.... "


"Kamu tahu sopan santun? Itu adalah bahwa orang yang berusia muda sudah seharusnya menghormati yang lebih tua."


Gerutu pak Uban sambil menyisir rambutnya.


"Iya yang tua juga harusnya menyayangi yang muda. Jadi berimbang!"


"Hihihi.... Apa yang membuat Allah menjodohkan dirimu dengan Ayra itu. Lah kalau dulu Munir itu tak salah ia akhlaknya cukup baik walau terlalu posesif dan cemburu nya itu sangat besar."


"Katakan Bagaimana Pak Bagas itu begitu nekat sampai ingin menghabisi mertua ku?"


"Aku tidak tahu tapi sepertinya ia itu punya penyakit. Kamu tahu sampai kalau dia rindu pada Nuaima ia sanggup berada di dalam ruangan kerja Nuaima sampai pagi tiba. Hihihi.... Sekarang ia baru menyesal setelah istrinya tiada. Karena ternyata istrinya itu mengetahui kelakuannya itu. Buku harian istrinya membuat ia tak menikah sampai sekarang. Tapi.... "


"Tapi apa?"


"Ah. Aku berharap kamu tidak melakukan kesalahan kedua kali nya Bagas."


"Tapi beberapa hari lalu aku bertemu dengan nya dan aku menceritakan padanya tentang dirimu. Dan yang jadi kekhawatiran ku dia penasaran dengan anak Nuaima."


"Breng/sek! Apa kau menceritakan sesuatu padanya pak Uban?!"


"Hihihi....Kamu ini cepat sekali marah. Kalau istri mu pantas dan wajar. Aku bersalah padanya. Kamu?"


Bram berjalan mendekati Pak Uban yang baru saja merapikan tempat tidurnya.


"Kamu pikir aku tidak sakit saat istri ku menangis tersedu-sedu seperti tadi hah?!"


"Sabarlah. Setidaknya dengan bertemu dengan istrimu dan Kyai Rohim. Aku akan merasa tak khawatir kalau-kalau Malaikat Izrail datang menjemput. Dan kamu apakah kamu yakin jika kamu bisa melihat istri mu melahirkan dengan selamat atau kamu yakin kamu bisa keluar dari lapas ini? Kita tidak tahu aku atau kamu yang duluan mendapat panggilan itu."


Deg.


Seketika Bram merasa terenyuh dengan pertanyaan yang sangat menohok dari Pak Uban.


"Ayo sebentar lagi mau Ashar. Kita shalat berjamaah di masjid. Ajari aku niat qodho shalat. Aku harus mulai mencicilnya. Hampir puluhan tahun aku tak pernah shalat. Maka tidak banyak waktu buat ku."


Bram duduk lemas. Tubuhnya seketika tak berdaya untuk berdiri. Ia gemetar entah mengapa kata-kata Pak Uban masuk menghujam hatinya. Ada rasa kekhawatiran akan Ayra. Akankah ia selamat ketika melahirkan nanti. Ada rasa khawatir kalau-kalau umurnya hanya tinggal beberapa jam atau detik lagi. Hingga ia tak bisa bertemu Ayra lagi atau bahkan menemani Ayra melahirkan.


"Hei. Apa yang membuat mu menangis. Kamu masih merindukan Ayra?"


Bram tertunduk. Air matanya masi mengalir. Dadanya sesak sekali. Ia membayangkan jika Ayra pergi meninggalkannya lebih dulu. Atau dirinya yang lebih dulu meninggalkan Ayra.


Bram menutup wajahnya dengan satu tangan.


Pak Uban duduk disebelah Bram. Ia menoleh ke arah wajah Bram.


"Kenapa bocah ini. Baru hari ini aku lihat dia menangis.Tadi saat istrinya menangis. Dan sekarang. Bocah aneh."


"Hei."


Pak Uban menyenggol lengan Bram.


"Ayo, sebentar lagi adzan."


"Maaf Pak. Aku akan shalat disini saja. Dan jika anda ingin melakukan qodho shalat anda yang pernah anda tinggalkan itu lebih baik tidak ditempat umum. Itu yang Ayra pernah sampaikan."


"Owh.... "


"Tambah deras air matanya. Kenapa bocah ini."


"Ceritakan pada ku kenapa kamu menangis."


"......"


Bram hanya menahan gerahamnya dengan urat-urat pada pelipisnya terlihat jelas. Ia menahan suara Isak tangisnya agar tak terdengar oleh Pak Uban.


"Ha.... Ya sudah menangislah sesuka hati mu. Aku pun dulu sering menangis seperti itu tanpa sebab. Aku pinjam buku mu yang kemarin. Biar aku belajar sendiri caranya."


Bram tak menghiraukan Pak Uban. Ia malah menutup kedua wajahnya dengan telapak tangan yang juga basah karena berkeringat.


"Ya Allah.... Panjangkan Umur ku. Izinkan aku masih bisa bertemu dan berkumpul dengan Ayra. Izinkan aku dan istriku menua bersama. Izinkan aku bertaubat Ya Allah. Begitu banyak dosa ku ini. Beri hamba waktu untuk bertaubat Ya Allah.... Lindungilah istri dan calon anak ku di manapun mereka berada."


Meninggalkan Bram yang merasa tersentuh karena ucapan Pak Uban tentang maut datang bisa kapan saja dan pada siapa saja. Waktunya tak bisa ditentukan saat usia muda atau tua. Kita hanya bisa berdoa agar panjang umur dan diberikan manfaat dalam umur kita yang singkat di dunia ini.


Ayra yang telah sampai dikediaman Kyai Rohim tak seperti biasanya. Wajahnya sendu, ia memasuki rumah dengan mengucapkan salam pada Umi Laila yang juga baru pulang dari pengajian. Umi Laila melirik ke arah Kyai Rohim meminta penjelasan karena Ayra tak pernah murung seperti itu. Bahkan matanya sangat sembab. Sepanjang perjalanan pulang Ayra menangis di dalam mobil.


Kyai Rohim hanya memberikan satu kode dengan mengedipkan kedua matanya satu kali. Tanda nanti akan ia jelaskan.


"Ay, tadi ada telpon ibu mertua mu dalam perjalanan pulang. Besok sore mereka akan menjemput mu."


Ayra menoleh sebelum membuka pintu kamarnya.


"Iya Umi, tadi Mama juga sudah mengirimkan pesan pada Ayra. Ayra masih ingin disini tapi Umi. Ayra istirahat dulu Mi."


"Sebentar lagi waktu Ashar Ra?"


"Lima belas menit saja Umi. Ayra ingin istirahat. Ayra lelah Umi."


Suara Ayra terdengar parau. Lalu ia menghilang dari balik pintu.