Pesona Ayra Khairunnisa

Pesona Ayra Khairunnisa
222 Ulah Bram


Siang itu Ayra mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit namun ponselnya berdering. Ia yang menggunakan headset bluetooth menerima panggilan yang ternyata dari Intan.


"Assalamu'alaikum Bu."


"Wa'alaikumussallam. Ada pa Ntan?"


"Bu. Kami sekarang ada di kediaman Bu Yazmin. Alma sudah pulang. Tadi kami tiba dirumah sakit tapi ternyata Alma baru saja pulang Bu."


"Oh baiklah. Saya masih di jalan tol. Saya kesana sekarang ya."


Ayra pun memilih jalan menuju ke kediaman Yazmin. Sebuah kompleks perumahan minimalis. Sungguh sebuah kehati-hatian dari Yazmin. Ia yang setelah mencairkan deposito segera menyimpan uang itu ke rekening yang ia siapkan. Ia tak ingin menggunakan uang tersebut untuk keperluan dirinya sehari-hari. Karena baginya uang itu akan berguna untuk masa depan Alma. Atau kebutuhan Alma.


Ayra yang sudah memasuki komplek perumahan minimalis melihat ke beberapa rumah dan saat menemukan rumah dengan nomor 9 ia berhenti di depan rumah tersebut. Ia bisa melihat sopir rumahnya yang sedang duduk di teras sambil menikmati secangkir kopi.


Lelaki paruh baya itu cepat berdiri dan memberikan salam pada majikannya. Saat masuk kedalam ia disambut Yazmin. Ayra menyerahkan sebuah buket buah-buahan kepada Yazmin. Sambil dudu di sofa berwarna pink yang berada di ruangan itu.


"Bagaimana kondisi Alma?"


"Dokter bilang lebamnya itu tidak sampai ke tulang. Alma menangis minta pulang Ay. Siang tadi dokter memeriksa kondisinya dan memperbolehkan nya pulang."


"Lalu apa hasil kamu dari sekolah?"


"Pak Mimo mau menang sendiri Bu. Bahkan pemilik yayasan yang merupakan nenek Riki ikut membela putra dan cucunya. Saya sepertinya akan memindahkan Alma ke sekolah lain."


"Alamnya mau?"


"Saya belum berbicara dengan dirinya Bu."


"Ada baiknya komunikasikan dengan Alma terlebih dahulu Yaz. Jangan terburu-buru Membuat keputusan dan tidak melibatkan anak. Alma memang masih kecil tetapi dia punya hati. Ia punya kemauan kenyamanan. Lagipula sekolah itu mereka yang menjalani. Tetapi kita juga harus memberikan alternatif pilihan sekolah yang baik buat mereka. Jangan hanya karena favoritnya sekolah tersebut."


"Ya Bu. Nanti setelah Alma betul-betul baik saya akan berbicara dengan nya."


"Boleh saya lihat Alma?"


"Silahkan Bu. Ammar dan Qiya sedang di dalam. Mereka sedang asyik bercerita dari tadi."


Saat masuk d satu kamar. Ayra melihat kamar yang di penuhi boneka Doraemon. Alma terlihat duduk bersama Qiya diatas kasur sedangkan Ammar sedang asyik di meja belajar Alma mewarnai sebuah pesawat. Saat melihat kehadiran Ayra, kedua buah hatinya cepat menghampiri.


Setelah berbincang dan melihat perkembangan Alma. Ayra dan kedua anaknya pamit. Saat pulang Ammar dan Qiya tak ingin pulang diantar oleh sopir. Ia ingin ikut bersama Ayra. sehingga pak sopir harus pulang sendiri. Setibanya dirumah. Ayra yang melihat mobil suaminya telah berada di dalam garasi. Sopir yang biasa mengantar Bram baru saja keluar dari pagar menggunakan motor matic miliknya.


"Papa sudah pulang Ma."


"Iya. Mungkin pekerjaannya sudah selesai. Bersihkan diri dulu siap-siap sebentar lagi shalat Ashar."


"Siap Mama."


Saat memasuki Rumah. Ayra tak melihat suaminya di ruang tengah. Asisten rumah tangganya memberi tahu jika Bram ada kolam renang. Ayra cepat pergi ke halaman belakang. Ia tak melihat Bram. Namun saat akan berbalik. Suaminya itu muncul dari dalam arah kolam renang. Ayra tersenyum melihat suaminya yang terlihat mengusap wajah dan mengibaskan kepalanya untuk mengeringkan kepalanya dari air.


Ayra berjalan ke arah suaminya.


"Sudah pulang Ay?"


"Maaf ya mas. Ayra tidak tahu kalau mas pulang cepat."


"Tidak apa-apa. Alhamdulilah semua berjalan lancar jadi pekerjaan nya tak menumpuk. Tinggal aku minta Rafi untuk nanti disiapkan biar aku bisa tanda tangani besok saja."


"Tidak usah masak. Kita makan malam di luar Ay. Ada undangan dari rekan bisnis ku. Ia menikah."


"Masih mudah."


"Hehe.... Menikah yang kedua Ay."


"What?"


"Rekan bisnis mas Ay. Bukan Mas."


"Hehe... Ayra tidak menuduh mas."


"Tidak menuduh tapi nada suaranya kaget dan tatapan mu seperti mas ini sedang melakukan kesalahan. Ambilkan handuk. Mas hanya pakai boxer ini."


"Kalau nanti ada bibi atau Intan gimana. Ih mas sembrono deh."


"Mereka sudah tahu area terlarang dirumah ini Ay."


Ayra menepuk dahinya. Dan tertawa kecil. Ia mengambil handuk di kursi yang berada dipinggir kolam renang. Saat menyerahkan pada suaminya. Bram malah menarik tangan Ayra hingga istrinya itu terjun kedalam kolam renang tersebut. Ayra yang kaget sedikit gelagapan. Ia yang bingung karena jilbab yang mengapung ke atas, serta gamisnya pun naik ke atas. Saat kakinya sibuk bergerak agar ia tak tenggelam. Kedua tangannya cepat memegang baju bagaian bawahnya agar tak terbuka.


Ia lupa jika itu adalah kolam renang miliknya. Yang tertutup dan tak ada orang lain. Seluruh asisten rumah tangga termasuk Intan juga sudah paham aturan dirumah itu. Ketika Bram mengatakan ia akan berenang maka tak ada satupun yang akan ke kolam renang.


"Mas....!"


Ayra makin kaget ketika suaminya itu menahan tangannya. Ia sengaja menarik istrinya itu kebagian dalam kolam renang itu. Bahkan satu tangan Bram membuka jilbab istrinya itu. Sebuah kecantikan yang sempurna bagi Bram melihat wajah istrinya dan rambut panjang yang ikut tergerai di tengah air. Ayra membelalakkan kedua matanya. Dulu saat Ammar dan Qiya masih balita Bram sering sekali melakukan hal ini.


Bahkan mereka akan berlomba berenang di kolam yang sama. Namun kali ini ia betul-betul tidak siap. Saat rasa panik melanda Ayra, kepalanya sedikit terasa pusing. Baru saja Bram akan mendekatkan wajahnya ke arah istrinya. Ayra justru terlihat tak ada perlawanan dan kedua matanya terpejam. Bram yah menggerakkan kepala Ayra pun khawatir. Sehingga ia memeluk Ayra sambil berenang ke atas.


Ia membawa Ayra ke tepi dan saat ia berhasil mengangkat Ayra ke tepi kolam renang. Alangkah kagetnya ia. Ayra masih tak membuka matanya saat Pipinya berkali-kali Bram tepuk pelan.


"Ay.... Ay Sayang.... Bangun Ay....."


Bram mengenakan handuk dan membungkus tubuh Ayra dengan handuk lain yang berada di sana. Bram yang menggendong Ayra melewati kamar si kembar. membuat Ammar dan Qiya yang sedang menunggu waktu shalat yang 20 menit lagi. Cepat menghampiri Bram.


"Mama kenapa Pa?"


Ammar cepat berlari ke arah kamar Bram. Dan Qiya juga ikut berlari.


"Mama...."


"Mama pingsan tadi."


Saat tiba di kamar Bram meminta anaknya untuk keluar.


"Papa ganti baju mama dulu ya. Kalian tunggu diluar."


"Tapi..."


"Ammar Qiya!"


Suara Bram meninggi karena panik. Sungguh cintanya pada sang istri kadang melupakan jika anak-anak bukan makhluk tak berhati yang sesuka orang dewasa membentak mereka apapun alasannya.